Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Ulah Sapta


__ADS_3

*


*


Di ibukota, Darren berjalan keluar dari ruang rapat. Segera, ia mencari Haris yang memegang ponselnya. Sepanjang pagi sampai siang hari, ia sibuk dan tidak sempat membuka ponselnya sama sekali. Haris asistennya, jadi Sahni lah sekretarisnya yang ikut menemani Darren rapat sedari pagi.


"Ponsel, berikan ponselku." Ucap Darren tidak sabar, ia menengadahkan tangannya pada Haris yang belum sempat bereaksi karena Darren datang dengan tiba-tiba. "Haris, ponselku mana?!" Tanya Darren lagi dengan suara geram. "Kau ini, sedang memikirkan apa sih?! Cepatlah, berikan ponselku!" Lanjut Darren kesal.


Ia sengaja tidak membawa ponsel saat rapat. Karena banyaknya rapat dan seringkali ada yang mengganggu, jadi Darren memutuskan untuk menyimpan ponsel ketika ia masuk dan memulai rapat.


Haris memutar kedua bola matanya setelah akhirnya bereaksi. Kemudian dengan cepat memberikan ponsel pada Darren yang sangat tidak sabaran sekali.


"Kau berani?!" Pekik Darren kesal, karena Haris memutar kedua bola matanya tepat di hadapannya.


"Aku sudah memalukannya, itu artinya aku berani!" Balas Haris santai.


"CK, sudahlah, aku sibuk, dan tidak akan membuat perhitungan kali ini!" Desis Darren dan memasuki ruang istirahat yang ada di kantornya.


Di perusahaan, sebagai direktur, ia punya kantor sendiri, di dalam kantor Darren membangun satu buah kamar yang biasa ia pakai istirahat jika sedang malas pulang ketika lembur sampai dini hari.


"Sibuk? Rapat sudah selesai kan, sayang? Ah aku lupa, bosmu sibuk menjadi budak cinta." Ucap Haris pada Sahni yang sedang menggelengkan kepalanya menatap punggung Darren yang hilang ditelan pintu.


Sahni menatap Haris dan tertawa. "Memangnya kau tidak, hmm?" Tanya Sahni seraya menaikkan alisnya.


"Aku kan berbeda!" Bela Haris.


"Ya, ya, baiklah. Jangan sampai Darren mendengar kata-katamu tadi." Ucap Sahni seraya mengacak rambut Haris. Membuat Haris melotot, kemudian menatap kiri dan kanan dengan waspada.


"Sayang! Ini dikantor, tolonglah." Ucap Haris.


"Hmm? Malu? Yasudah, kembali bekerja." Ucap Sahni, langsung pergi dengan raut yang tidak bisa ditebak sama sekali. Membuat Haris menatap punggungnya dengan raut sedih.


"Dia marah, kan?" Tanya Haris pada dirinya sendiri. Ingin mengejar tapi masih di perusahaan. Ia tidak bisa, tidak bisa sama sekali.


Haris tipikal laki-laki manja jika sudah dengan pasangan, Sahni pula suka memanjakannya. Memang wajar juga, Haris ini lebih muda dari Sahni. Meski hanya dua tahun. Tapi tetap saja brondongnya Sahni.


Kembali pada Darren, ia sudah merebahkan dirinya di atas kasur. Kemudian membuka ponsel, dan melihat, segera setelah membuka, rautnya menjadi masam. Tidak ada satupun notifikasi pesan dari Siska.


Darren berdecak kesal. Merasa jika dirinya saja yang menunggu kabar dari Siska sedangkan Siska tidak? Menyebalkan, tapi ia sayang. Jadi, biarlah dirinya saja sekarang yang akan menghubungi Siska.

__ADS_1


Darren mendial nomor ponsel Siska, menunggu, menunggu, tapi tidak ada jawaban. Membuatnya kembali berdecak. Tapi ia tidak menyerah, dan kembali mendial nomor Siska. Lagi, lagi, tidak ada jawaban. Darren mencoba terus sampai 15 kali panggilan, Siska masih tidak menjawab.


Geram. Giginya bergemeletuk menahan emosi. Tapi tatapan matanya sendu, merasa sedih.


Darren kemudian membuka fitur mengirim pesan. Dan langsung mengirimi Siska beberapa pesan sekaligus. Ceklis dua, tapi tidak dibaca, apalagi dibalas. Dan Darren kembali menelfon Siska sekali lagi, hasilnya masih sama.


Tidak menyerah, ia pun menghubungi Suherman, Ayah Siska. Untuk menanyakan keberadaan Siska. Dan bertanya tentang kenapa Siska tidak menjawab panggilan darinya.


Suherman mengangkatnya, dan langsung menjelaskan. Siska ternyata seharian pergi ke kedai, ia tidak tahu sama sekali. Lalu kemungkinan, Siska juga sedang menjemput Uqi saat ini, tapi lupa membawa ponsel?


Darren menghela nafas, kemudian menyudahi panggilan dengan Suherman. Meski sempat menegurnya beberapa kali, tapi Darren tetap calon menantu yang paling diakuinya. Jadi Segera setelah Darren menutup panggilan, Suherman menyusul Siska ke kedai.


Begitu sampai, jam sudah menunjukkan pukul 1.30, Siska juga sudah kembali ke kedai, duduk berdua dengan Uqi, makan siang bersama.


Melihat Suherman datang, Siska akhirnya melambaikan tangannya dengan senyum lebar, menyapa Ayahnya yang berjalan terburu-buru menghampiri Siska.


Siska mengernyitkan dahinya bingung. Karena Suherman terlihat tidak baik. Begitu sampai Siska pun langsung bertanya pada Suherman. "Ada apa, bapak? Kenapa bapak terlihat khawatir?" Tanya Siska bingung. "Bapak baik-baik saja?" Lanjutnya menjadi sedikit cemas. Uqi di sampingnya juga menghentikan makannya, dan menatap sang kakek dengan penuh tanya.


"Kau, apanya yang tidak apa-apa! Dimana ponselmu?" Tanya Suherman seraya melotot.


"Apa maksud Bapak? Ada apa? Ponselku ada disini, ah tidak ada, kemana perginya? Sebentar aku ingat-ingat dulu." Ucap Siska langsung terdiam dan berpikir.


"Cepat cari, kau lupa kau punya siapa di ibukota sekarang? Juga tidak menghubunginya dari pagi? Jangan sampai calon menantu bapak kabur ya!" Omel Suherman.


"Aku ingat, aku menyimpannya ke dalam tas, bapak! Tapi kenapa tidak ada?!" Ucapnya cemas.


"Cari ditempat lain, mungkin kau lupa. Sana pergi ke tempat yang kau kunjungi sebelumnya di kedai, biar Uqi bapak saja yang menemani." Ucap Suherman seraya duduk berhadapan dengan Uqi, setelah membuat Uqi kembali duduk.


Uqi tersenyum, kemudian melambaikan tangan pada Siska yang akhirnya bergerak menjauhi meja tersebut. Siska masuk ke lantai dua, dan mencari di sekelilingnya, tapi tidak ada. Kemudian ke kamar mandi, dan terakhir adalah dapur.


"Kakak ipar kedua, apa kau melihat ponselku sebelumnya? Aku lupa aku menaruhnya dimana." Ucap Siska bingung, pasrah.


"Hmm? Bukankah tadi pagi Sapta mebgembalikannya padamu? Tadi aku menemukannya disini, tapi Sapta mengambilnya, dan ia bilang akan mengembalikannya padamu. Apakah belum dikembalikan?" Tanya Putri.


"Tidak, tadi pagi ia memang menghampiriku, tapi hanya mengomel saja lalu pergi. Tidak ada mengembalikan ponsel." Balas Siska kesal.


Akhirnya ia tahu siapa dalang yang menyembunyikan ponselnya. Pantas saja tadi pagi Sapta yang sedang bekerja malah keluar dari dapur hanya untuk mengomelinya. Ternyata memang berpura-pura mau mengembalikan ponsel tapi aslinya tidak!


"Astaga, kakak keduamu ini. Kekanak-kanakan sekali, sih?! Ayo, aku akan memarahinya untukmu." Ucap Putri seraya berjalan dan melepaskan apron di badannya. Kemudian keduanya keluar dari dapur dan pergi mencari Sapta.

__ADS_1


Di sisi lain, Sapta sedang duduk santai, dan mengobrol bersama teman-temannya di meja luar kedai.


"Ponselmu terus berdering, angkatlah, itu berisik." Ucap temannya.


"Benar, kalau tidak mau diangkat, mode diamkan saja ponselnya." Sahut satu temannya lagi.


Sapta kemudian memode diamkan ponsel Siska, dan mengabaikan panggilan serta pesan beruntun dari Darren. Ia bahkan terlihat malas-malasan melihat namanya.


"Tidakkah kau angkat dulu? Siapa tahu itu penting." Ucap Satu temannya lagi.


"Tidak penting, salah sambung." Ucap Sapta seraya mengibaskan tangannya. Kemudian ia kembali mengobrol dengan empat teman lainnya. Sampai suasana santai berubah menjadi mencekam kala Putri dan Siska datang.


"SAPTA!"


Glek!


Bahu Sapta seketika menegak. Ia dengan takut melihat ke belakang, dan terlihatlah Putri juga Siska yang sama-sama berwajah garang. Apalagi Putri, ia memanggil namanya, dan tidak dengan suami, itu artinya ia benar-benar marah pada Sapta.


Sapta tahu ia dalam bahaya sekarang, tapi terlambat untuk pergi dan menghindar saat ini. Putri dan Siska sudah sampai dengan cepat di hadapan Sapta. Membuat ketiga temannya langsung bubar mandiri. Tidak ingin ikut terkena masalah.


"Istriku? Ada apa? Siapa yang membuatmu marah, hmm? B-biar aku hajar orangnya!" Ucap Sapta gugup.


Putri makin memelototi Sapta. "Kau! Kau yang membuatmu marah! Hajar dirimu sendiri!" Pekik Putri marah. "Bagus kau ya! Sudah besar masih saja berikap seperti anak kecil, kemarikan ponsel Siska! Cepat!" Lanjut Putri mengomel.


"Ponsel apa? Aku sudah mengembalikannya kok." Ucap Sapta takut-takut.


"Aku belum menerimanya! Kakak kedua jangan bohong!" Pekik Siska kesal.


"Sapta!" Geram Putri makin terlihat menyeramkan rautnya di mata Sapta.


"B-baik! Baiklah! Aku akan mengembalikannya sekarang!" Balas Sapta ikut kesal. Kemudian menatap Siska sinis, karena gara-gara adiknya inilah, ia jadi dimarahi.


"Kakak! Itu tidak baik, kan untuk menyalahkan ku?! Bukankah kau yang salah?!" Tanya Siska mencibir.


Sapta mendelik, kemudian mengambil ponsel di atas meja, dan menyodorkannya pada Siska dengan tidak ikhlas juga malas. Tak lupa tatapan kesal ia tunjukkan pada Siska.


"Bersikap baik!" Tegas Putri memicingkan matanya.


"Ya, ya, ya, baiklah! Sudah, tuh sudah, aku masih banyak pekerjaan, selamat tinggal." Ucap Sapta, seraya beranjak pergi dan melarikan diri dari situasi canggung yang dialaminya barusan. Membuat Putri berdecak, dan Siska mendelik.

__ADS_1


*


*


__ADS_2