
*
*
Begitu pulang, Siska dan Ergan langsung bertanya pada kakak keduanya mengenai nomor ponsel kakak pertamanya.
"Aku ada, tapi nomornya akhir-akhir ini sering tidak aktif. Aku merasa aneh sebetulnya, tapi aku mengabaikannya." Ucap Sapta seraya menghela nafasnya.
Kemudian ia mengeluarkan ponsel dan tetap memberikan nomornya pada Siska dan Ergan yang menatapnya dengan tatapan sulit ditolak.
"Kalian coba telfon saja nomornya, siapa tahu sedang aktif." Lanjut kakak keduanya, membuat Siska dan Ergan sama-sama menganggukkan kepalanya.
Perihal menganggukkan kepala saja, membuat Sapta gemas. Sejak kapan adik kakak ini akur begini? Pikirnya seraya tersenyum. Yang kemudian menghela nafas, karena merasa dirinya telah tertinggal banyak hal yang terjadi di rumah ini. Bahkan masalah perpisahan Siska saja, dirinya baru tahu hari ini begitu ada orang yang mengantar surat cerai milik Siska. Yah, meski begitu, ia turut senang mendengar kata pisah ini.
"Bagaimana, terhubung tidak?" Tanya Ergan begitu Siska menelfon.
Siska menggelengkan kepalanya, "Tidak aktif." Jawabnya, seraya menaruh ponsel kembali ke kedua tangannya.
Ergan menghela nafas kecewa, "Lalu bagaimana kita bisa tahu tentang kabar kakak pertama jika nomornya saja tidak aktif." Ucapnya pesimis.
"Aiya, bukankah dua hari yang lalu kita mengirim surat padanya? Jika dihitung-hitung, mungkin suratnya sudah ada ditangan kakak pertama, bukan? Tenang saja, kakak pertama akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir. Kita tunggu balasan surat dari kakak pertama 3 hari lagi. Jika tidak ada balasan, ayo kita susul kakak pertama. Mengerti?!" Jelas Siska, menenangkan Ergan yang paling sedih disini.
Ergan adalah orang yang paling dekat, dengan kakak pertama setelah Siska pergi dari rumah. Kakak pertamanya tidak ada kabar, apalagi setelah mendengar berita dari bibi Darmi tempo hari lalu, bagaimana mungkin hati dan pikirannya bisa tenang-tenang saja.
"Baik, begitu saja." Balas Ergan menurut.
Sapta memerhatikan interaksi manis keduanya, dirinya yang masih terbaring, menyampingkan tubuhnya dengan kepala yang di topang. Tersenyum melihat interaksi manis ini. Apalagi sifat Siska yang ternyata sudah dewasa. Yah, dirinya tahu mungkin juga karena sudah punya dua orang anak, jadi sifat keibuannya keluar tanpa sengaja. Padahal jika dengan dirinya, Siska ini akan menjadi sangat kekanakan. Buktinya adalah pertengkaran kecil kemarin.
"Jangan suka padaku, ingat kau sudah ada istri!" Desis Siska, menuding dengan telunjuk yang mengarah pada wajah Sapta. Dengan raut datar menatap Sapta yang kini terlihat sangat shock.
Lihat itu, baru saja dirinya membicarakan sifat kekanakannya, sudah muncul saja dalam waktu cepat. "Maksudmu?!" Tanya Sapta tidak percaya mendengar perkataan adik perempuan satu-satunya ini. "Tingkat kepercayaan dirimu naik lagi, ya?"Lanjutnya bertanya, dengan mata yang memicing.
"Cih! Habisnya matamu begitu, melihatiku terus. Terus apa-apaan senyuman menyebalkanmu itu? Jijiknyaaa aku melihat itu." Balas Siska, mencibir.
"Siapa yang melihatimu? Aku, aku, aku hanya menunggu kabar kakak pertama, kebetulan saja kan wajahmu yang terpampang di hadapanku. " Ucap Sapta beralibi.
__ADS_1
"Hmp! Siapa yang akan percaya dengan alibi jelekmu itu? Kalau cari alasan, yang bagus sedikit!" Ucap Siska, kemudian beranjak, berdiri. "Ergan, ayo kita pergi." Lanjutnya seraya mengajak Ergan untuk mengikutinya.
Ergan tertawa, kemudian melambai pada kakak keduanya yang merasa malu. Setelahnya, ia mengikuti Siska, yang masuk ke kamar Ergan sendiri.
"Kak, kenapa kau masuk kemari?" Tanya Ergan bingung.
"Bawa makanan yang disisakan tadi. Juga bawa peralatan yang dibeli bersamaan tadi. Aku akan mengaturkannya untukmu, kau sudah bisa membuat konten sendiri mulai sekarang. Ayo, cepat, aku akan beri contoh dulu padamu setelah semuanya tertata agar kau paham melakukannya." Jelas Siska seraya membereskan meja belajar Ergan yang lumayan luas.
Ergan yang mendengarnya, langsung bersemangat dan dengan cepat menuruti perintah Siska. Meninggalkan Siska yang kini mulai memindahkan buku-buku miliknya ke atas kasur Ergan terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, Ergan pun datang dan Siska langsung menata barangnya. Seperti sorot lampu, piring yang diisi cireng isi dan cirambay pedas yang masing-masing menjadi 2 piring, semuanya ada 4 piring.
"Hm, ada yang kurang!" Seru Siska seraya berpikir. "Kira-kira minuman apa yang bagus disajikan dengan makanan ini?"Lanjutnya seraya berpikir. Air putih, sudah jelas pasti disajikan, tapi selain air putih menurutnya masih ada yang kurang. "Ah! Coba minta 5 buah Rosella yang sudah mulai kering, masukkan dalam gelas bening yang agak besar, dan bawa air panas juga." Lanjut Siska, kembali mengutarakan idenya.
Ergan hanya mnurut, ia langsung pergi dan kembali dengan membawa pesanan Siska.
"Bagus, simpan ini, disini dan ayo kita mulai. Aku akan menemanimu untuk pertama kali, sebagai pembukaan dan percobaan. Tapi untuk kedepannya, ingat kau harus melakukannya sendiri. Jadi, sekarang perhatikan setiap detail, tapi kau harus tetap menatap kamera nanti. Boleh menatapku, tapi sesekali saja. Paham?" Jelas Siska, menjelaskan setiap detail yang harus Ergan perhatikan.
Siska terus menjelaskan poin-poin penting untuk Ergan, yang sekiranya akan Ergan butuhkan nanti. Ergan patuh mendengarkan, dan mulai paham.
Mulai dari pembukaan konten, kemudian ke kegiatan menyeduh teh Rosella lebih dulu ditambahi dengan madu. Dan langsung ke review makanannya.
Semua kegiatan menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Konten telah selesai di buat. Siska menyimpan video ke gallery, kemudian memberitahu Segan untuk mengeditnya. Memotong bagian-bagian yang dirasa sangat lama dan membosankan, kemudian menyuruh Ergan untuk menambahkan bagian yang di rekamnya pagi ini, yaitu antrian di depan kios Siska.
"Ah, akhirnya selesai! Aku bawa semua piringnya, kau nanti bereskan buku-bukumu sendiri ya. Uqi dan Uni sepertinya sudah pulang dari menemani Bapak mengecek kebun." Ucap Siska seraya membawa keempat piring dan satu gelas sedang di tangannya. "Juga ingat edit dengan baik, jika sudah perlihatkan padaku dulu, baru nanti kau bisa mengunggahnya setelahnya" Lanjut Siska.
"Baik, kak! Aku paham, jangan khawatirkan itu. Cepat sana, Uqi dan Uni menunggumu." Ucap Ergan.
Siska mendelikkan kedua matanya, merasa di usir. "Awas saja editanmu tidak benar! Buat salinan videonya dulu, agar jika editanmu gagal, nanti ada salinannya." Peringat Siska lagi.
"Ya! Baik, kak, baik! Aku paham, astaga..." Balas Ergan seraya memutar kedua bola matanya, malas. Baru sadar, sejak kapan kakak perempuan satu-satunya ini menjadi begitu cerewet? Dan dirinya menerima begitu saja ketika dicereweti? Pikir Ergan yang kemudian menghela nafas pasrah.
Di sisi lain, Siska telah menyimpan semua piring kotor ke wastafel dan mencucinya sampai bersih. Setelah selesai, ia menghampiri ke dua anaknya yang masih bersama Ayah dan Ibunya di ruang tengah. Juga, ada kakak kedua yang menyebalkan dan kakak iparnya yang cantik.
Siska duduk di hadapan ibunya, kemudian menyodorkan ponselnya. "Ma, tadi Siska ke rumah Aldo. Tebak apa yang Siska temukan?" Ucap Siska. "Lihat ini, Siska merekamnya. Bisakah ini dijadikan sebagai bukti di pengadilan nanti?" Tanya Siska kemudian.
__ADS_1
Ibunya mengambil ponsel di tangan Siska, kemudian memutar video yang ada di sana. Pun dengan Ayah, Putri dan kakak kedua yang merasa penasaran, ketiganya ikut menonton apa yang adadi ponselnya.
"Wah, memang bajingan ini! Kalian masih belum resmi bercerai, dia sudah bersama wanita lain?! Betapa tidak berotaknya dia?!" Desis Kakak kedua, Sapta. Dengan wajah menggelap, emosi, melihat perilaku Aldo dalam video.
Putri menenangkan Sapta, "Sudah, bagus jika dia begini, jadi Siska akan lebih mudah berpisah." Ucap Putri.
"Benar kakak kedua, lagipula aku tidak merasa sedih, aku senang. Dengan begini, hak asuh Uqi dan Uni nanti juga akan jatuh ke tanganku dengan mudah." Ucap Siska seraya tersenyum lebar.
Sapta melihat senyum Siska, langsung menghela nafas pasrah. "Kau bodoh, mau-maunya menikah dengan dia dulu! Jika saja kau menikah dengan teman dari SMA mu yang begitu baik dan kaya dulu, mungkin kehidupanmu saat ini akan baik-baik saja." Ucap Sapta kesal.
"Aiyo, sudah, sudah, jangan bahas masa lalu. Siska masih kecil dulu, pikirannya masih belum terbuka. Sekarang sudah punya pikiran sendiri, waktunya kita mendukungnya." Ucap Ibunya seraya mengelus kepala Siska lembut.
"Ya! Mama betul." Seru Siska tersenyum hangat. "Bapak baik-baik saja?" Tanya Siska kemudian, sada r akan keterdiaman dari Ayahnya.
"Bapak baik-baik saja. Hanya tidak menyangka, akhirnya anak perempuan satu-satunya bapak bisa lepas dari bajingan macam Aldo. Salah bapak karena dulu tidak melarang dengan sekuat tenaga pernikahan kalian." Ucap Ayahnya, merasa bersalah atas kehidupan yang menimpa Siska.
"Bapak, ini salah Siska. Jangan salahkan dirimu sendiri, Bapak sudah melarang Siska dengan meras dulu, sampai Bapak jatuh sakit, pun, Siska tetap kekeh pada keputusan Siska. Aku minta maaf, pak, karena tidak berbakti dulu." Sesal Siska seray memegang kedua tangan Ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Benar, pak, Siska yang salah. Jangan salahkan diri bapak, lihat tuh manusia batu yang satu ini, sekarang sudah menyesal " Ucap Sapta, bukannya memperbaiki suasana, malah menambah api.
Siska menatap kakak keduanya dengan pelototan kesal. Sedangkan Putri mencubit lengan Sapta memperingati agar mulutnya tidak berulah lagi. Sedangkan Ayah dan ibunya, malah tertawa kecil melihat interaksi ini.
"Baiklah, sudah, sudah, Bapak lega kali ini. Terimakasih karena anak bapak sudah mau berpikiran terbuka." Ucap Ayahnya tersenyum tulus menatap Siska. Membuat Siska menganggukkan kepalanya dengan semangat.
"Mbuuuu!" Panggil Uni, wajahnya sudah cemberut saja.
"Ah astaga, sayang, Ibu lupa pada kalian!" Ringis Siska membuat semua orang tertawa. "Tapi Uqi pintar sekali, melihat ibu sedang mengobrol, tidak mengganggu ibu." Lanjutnya seraya mengelus kepala Uqi, dan menggendong Uni.
"Ada aapa ini? Tumben sekali semuanya berkumpul? Aku ketinggalan sesuatu?" Tanya Ergan tiba-tiba, datang dari arah kamarnya, danlangsung mendudukkan diri di samping ibunya.
"Tidak usah diberi tahu!" Seru Siska terlihat menyebalkan di mata Ergan. Membuat semuanya kembali tertawa, begitu melihay Ergan merengut kesal.
*
*
__ADS_1