
*
*
Setelah memberikan pesanan dan uang dari penguasa Siska yang awalnya mau pergi ke bank, kini beralih tujuan ke kedai makan yang ditunjukkan oleh Baron tadi.
Dengan tas selempang sedang berisi uang, yang tersampir di depan, ia berjalan dengan senang dan santai, sama sekali tidak menunjukkan jika dirinya sedang membawa banyak uang.
7 menit kemudian, Siska sampai di depan kedai, ia tidak langsung masuk, tapi melihat-lihat kondisi kedai tersebut. Kedainya ada dua lantai, dengan design yang cukup modern. Lantai dua juga terlihat seperti rumah, cocok jadi tempat tinggal para pegawai yang mungkin nanti akan di rekrut olehnya.
Lahan parkir juga luas, sisi kiri dan kanan ada dinding sebagai pemisah dengan kedai di sebelah. Hanya saja lahan di luar terlihat sangat kosong, jadi terlihat gersang, tidak menarik.
Siska bisa menambahkan tanaman dan dekorasi nanti dinding-dindingnya. Juga nama kedai, tidak ada nama kedai disini, Siska berniat membuat papan nama kedainya sendiri nanti, seperti Restoran Adamas.
Cukup puas melihat-lihat, Siska kemudian masuk ke dalam kedai. Di dalam banyak kursi dan luas. Konter untuk pemesanan juga seperti di cafe-cafe modern.
"Selamat datang, nona, maaf kami bersiap menutup kedai nona. Jadi tidak ada bahan untuk membuat pesananmu." Ucap seorang laki-laki yang lumayan tua. Siska tebak, dia adalah pemilik kedai, karena selain dia, tidak ada orang lagi disini.
"Kau pemilik kedai ini?" Tanya Siska tanpa basa basi.
"Benar, nona." Balasnya seraya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku dengar dari kenalanku, kau mau menjual kedai ini, benar tidak?" Tanya Siska balas tersenyum.
"Oh, benar, nona. Silahkan duduk dulu disini. Aku bawakan teh dulu, setelahnya mari kita bicara." Ucap pemilik kedai dengan antusias, Siska menanyakan penjualan kedai, jika bukan untuk membeli, maka untuk apa kan?
__ADS_1
Kemudian Siska duduk dengan tenang, seraya memperhatikan sekeliling kedai. Tata letak kursi sangat tidak simetris dan terlihat berantakan, lalu dinding kedai juga terlihat sangat polos, hanya konter pemesanan saja yang terlihat cukup bagus. Membuat Siska kembali menganggukkan kepalanya. Beberapa ide dekorasi telah muncul di pikirannya.
"Silahkan, nona, diminum." Ucap pemilik kedai, kembali datang dengan dua gelas teh. Membuat Siska mengangguk, mengiyakan.
"Aku tidak akan berbasa basi, aku mau membeli kedaimu. Buka harga." Ucap Siska, langsung.
Pemilik kedai tersenyum makin lebar, pikirannya ternyata benar. Ia tidak salah menilai nona di depannya. Dia memang berniat membeli kedainya.
"Kau yakin mau membeli kedaiku nona? Aku tidak akan berbohong hanya demi mendapat uang, kedaiku ini kalah saing dengan kedai di sebelah, tempatnya memang strategis dan luas, tapi kau lihat sendiri bahkan hanya nona saja yangewat di depan kedai." Jelas pemilik kedai, membuat Siska kagum, padahal dirinya sedang kesulitan, tapi masih saja membicarakan hal-hal yang tidak menguntungkan. "Tapi jika kau mau membuat kedai ini menjadi tempat penjualan selain makanan, menurutku masih bisa." Lanjutnya, memberi saran.
"Aku memang mau menjual makanan, tapi tenang saja, aku sudah punya banyak pelanggan tetap. Aku hanya butuh pindah ke tempat yang lebih besar untuk membuat pelanggan ku nyaman. Sebelum itu, sebut dulu harga pastinya tuan, berapa?" Tanya Siska tersenyum.
"Aku beri harga murah saja, bagaimana dengan 85 juta?" Tanya Pemilik kedai, meski ragu ia tetap menyebutkannya.
Siska diam, ia menimang harga tersebut. Juga mengingat sebagian ingat di kehidupan pertamanya perihal penjualan ruko dua lantai dengan luas 8x8 ini.
Tapi begitu mendengarnya, Siska menjadi terkejut. Menjadi begitu murah? Siapa yang tidak mau membelinya. Di tahun 2020 an ke atas ruko dua lantai begini bisa mencapai 500 jutaan, itupun ruko dua lantai yang biasa, tanpa dekor rumah modern.
"Boleh aku melihat-lihat ke lantai duanya lebih dulu?" Tanya Siska tersenyum, ia tidak buru-buru menjawab untuk membeli. Kini Siska sadar, harga 60 juta ini sepadan di tahun 2010. ratusan juta itu, akan menjadi harga jual di belasan tahun ke depan.
"Lantai dua, biasanya aku jadikan sebagai tempat istirahat dan mess untuk para karyawan yang tidak bisa pulang.
"Ah, kenapa aku melupakan hal sepenting ini. Mari, nona, aku ajak berkeliling lebih dulu." Ucap pemilik kedai seraya mempersilahkan.
"Bangunannya kokoh? Berapa cm tebal dak lantai betonnya?" Tanya Siska seraya mengikuti dari belakang, menaiki tangga yang terbilang lumayan banyak, ada sekitar 20 an anak tangga.
__ADS_1
"Kokoh, tentu kokoh, waktu itu aku sendiri yang memantau pembangunannya. ketebalannya 14 cm, 2 cm lebih tebal dari standarnya yang 12cm. Jendela juga ada 4, di sisi kiri satu di sisi kanan satu, lalu seperti yang kau lihat di depan ada dua dengan pintu yang mengarah ke balkon. Balkonnya menang tidak besar, tapi itu sudah dibatasi dengan dinding pagar. Jadi aman." Jelas pemilik kedai, lagi, menjelaskan dengan rinci.
Siska menganggukkan kepalanya dengan perasaan puas. Penjelasannya lumayan rinci, jendela juga lumayan besar. Ia puas dengan tampilannya. Lantai di lantai dua juga sama-sama berlantaikan keramik putih. Sangat bagus.
"60 juta ini, apa sudah include dengan semua barang-barang di dalamnya?" Tanya Siska.
"Nona, aku jujur saja, kalau 60 juta harganya, masih kurang. Termasuk kursi dan meja, yang lainnya juga ada peralatan masak, lemari es satu pintu transparan, lemari es dua pintu biasa, kompor, juga sofa serta televisi di lantai dua ini. Harga awal pembangunan dan pembelian peralatan ini mencapai 200 jutaan. Tapi karena memang tempatnya sudah 3 tahunan, aku bisa menurunkannya. Bagaimana dengan 75 juta, semua barang di dalam aku berikan padamu. Aku hanya akan terima uang saja tanpa membawa apa-apa." Ucap Pemilik kedai. Ia memang menawarkan 60 juta sebelumnya, tapi sebelum tahu jika Siska mau mengambil semua barangnya juga.
"Baik, aku ambil." Ucap Siska cukup puas, masih termasuk murah untuk ukuran kedai bekas seperti ini.
"Ah baik nona, mari, tunggu di bawah dulu. Aku akan suruh orang membuatkan dokumen perjanjian jual belinya dulu." Ucap pemilik kedai. Ia mengajak Siska langsung ke bawah lagi, karena Siska juga sudah cukup melihat-lihatnya.
"Tuan, dengar, aku akan memberikanmu uang mukanya dulu sebanyak 20juta. Sisanya, dalam satu bulan aku akan melunasinya, bagaimana? Apa kau keberatan?" Tanya Siska.
"Tidak, nona, tentu tidak. Satu bulan adalah waktu yang cukup singkat. Aku setuju." Balas pemilik kedai, menganggukkan kepalanya buru-buru.
Siska mengangguk, ia lumayan suka, sifat dan perilakunya, selain jujur pemilik kedai ini juga menghormatinya sebagai perempuan. Hanya ada mereka berdua disini, membuat pemilik kedai tidak nyaman, terlihat dari gelagatnya. Siska pikir, dia orang yang setia pada istrinya.
Begitu turun, Siska kembali duduk di kursi yang tadi di dudukinya. Kemudian ia mengambil teh yang tadi dihidangkan, dan meminumnya, setelah berjalan-jalan dari kios, ke Baron, lalu ke penguasa pasar, tentu saja dirinya butuh air untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Aku sudah menelepon orang, dalam 10 menit akan datang dengan dokumen jual belinya." Ucap pemilik kedai memberitahu Siska.
Siska menganggukkan kepalanya, "Seraya menunggu, bisakah tuan ceritakan, awal mula kedai menjadi sepi pembeli?" Tanya Siska.
"Ah, itu, awalnya semuanya baik-baik saja dalam satu tahun berdirinya kedai. Tapi di tahun kedua, Kedai makan di sebelah mulai resmi dibuka. Pelangganku juga awalnya tetap ada seperti biasa, tapi meski begitu, sebagian pelanggan juga menjadi ke kedai sebelah. Bisa dikatakan jika pelanggan kami ini, imbang. Kemudian di tahun ketiga, ada yang salah dengan kedaiku, pelayan yang di rekrut menjadi sangat asal-asalan dalam melayani, membuat para pelanggan kesal dan tidak datang lagi, berakhir datang ke kedai sebelah. Tapi setelah ditelusuri, kau tahu nona? Pelayanku dibayar dua kali lipat oleh kedai sebelah untuk membuat kedaiku bangkrut. Mereka juga sengaja membuka perang harga dengan kedaiku ini. Jadi, begitulah, kau harus hati-hati nanti, nona. Mereka luicik dan jahat." Jelas pemilik kedai panjang lebar, menceritakan semua masalah inti yang membuat kedainya jatuh ke kondisi yang tidak bisa bangun lagi.
__ADS_1
*
*