
*
*
Keadaan medai yang sibuk, berlangsung hingga pukul 1 siang, Siska sampai melupakan Uqi saking sibuknya. Ia sama sekali tidak menjemput Uqi yang sudah pulang sekolah daei pukul 12.
Siska diingatkan oleh Ayahnya, yang turun ke dapur untuk mengingatkan Siska. Karena sudah satu jam berlalu Uqi masih belum sampai. Firasatnya menunjukkan jika Siska lupa akan Uqi. Dan benar saja, begitu Ayahnya tiba, Siska langsung berseru kaget.
Siska yang baru saja selesai memasak, bergegas melepas apron yang dipakainya, Mengambil tas dan pergi dengan terburu-buru keluar kedai. Rautnya terlihat khawatir dan juga panik. Untungnya keadaan kedai sudah tidak sepadat awal dibuka.
Tapi begitu ia keluar dari gerbang, Uqi sudah berdiri dengan seorang laki-laki, juga anak kecil lainnya yang tak lain adalah temannya, Zen.
Uqi diantar pulang, dan untungnya Zen yang kali ini dijemput, mengajak Uqi pulang bersama. Siska menghela nafas lega, kedua matanya berkaca-kaca, dan langsung memeluk Uqi, merasa bersalah pada anaknya.
"Uqi tidak apa-apa, nak? Maafkan ibu, ibu kupa menjemput Uqi..." Sesal Siska yang kini sudah memeluk Uqi, tidak peduli dirinya sedang diluar gerbang dan dilihati oleh laki-laki yang mengantar Uqi, serta Zen.
"Uqi baik-baik saja, bu. Tidak apa-apa, Ibu pasti sibuk. Lagipula Uqi pulang dengan Zen dan paman Randu." Ucap Uqi membalas pelukan ibunya. Ia tersenyum senang, ibunya mebgkhawatirkannya.
Siska melepaskan pelukannya, ia tersenyum lembut pada Uqi dan mengelus kepala Uqi penuh sayang. Kemudian berdiri dan beralih pada Zen juga orng yang dipanggil Uqi paman Randu.
"Terimakasih, sudah mengantar Uqi. Aku akan sangat nerasa bersalah jika saja Uqu masih di sekolah saat ini. Terimakasih banyak, tuan." Ucap Siska seraya membungkuk kecil, ia benar-benar merasa berterimakasih pada keduanya. "Zen, terimakasih sudah menemani Uqi. Maafkan aku, pasti kalian menunggu lama, ya? Lain kali, aku tidak akan melewatkannya lagi." Ucap Siska, beralih oada Zen seraya mengelus kepalanya.
"Sama-sama, ibu. Tidak lama, kok. Kami langsung pergi begitu Ayahku menjemput kami." Ucap Zen, membuat Siska terbelalak. Sedangkan Ayahnya tersenyum kecil, menyapa Siska.
Apa tadi? Ayahnya? Ah, apa dia tidak salah dengar? Bukankah Ayahnya tidak peduli padanya? Tapi, sudahlah, bukan urusannya, yang penting Uqi baik-baik saja saat ini.
"Tuan, terimakasih sekali lagi." Ucap Siska menatap Randu seraya tersenyum.
"Tidak masalah, lagipula satu arah. Kalau begitu kami pergi dulu. Uqi, kami pergi ya." Ucap Randu seraya tersenyum, kemudian mengacak rambut Uqi pelan.
__ADS_1
Uqi mengangguk semangat, kemudian ia melambaikan tangannya setelah berterimakasih pada Randu.
"Sayang, maafkan ibu, oke? Lain kali ibu tidak akan lupa lagi. Ibu akan membuat pengingat di ponsel ibu, agar ibu tidak lupa lagi. Boleh maafkan ibu?" Tanya Siska tersenyum, ia kembali berjongkok, mensejejarkan tingginya dengan Uqi.
"Aku maafkan ibu, tidak apa-apa, Ibu paling sayang padaku, mana mungkin aku narah, hm? Hanya sekali saja, lagipula aku pulang dengan selama bersama Zen dan Ayahnya." Ucap Uqi seraya memeluk leher Siska.
Siska tersenyum kebar, Uqinya memang paling pengertian. Kemudin Siska mengangkat Uqi yang masih memeluk lehernya. Menggendongnya masuk.
Uqi menolak digendong karena merasa sudah besar, tapi Siska adalah ibunya, Uqi tetap seorang anak bagi Siska, bukan? Jadilah Uqi menyerah saja dengan keinginan ibunya tersebut.
Setelah mebgantarkan Uqi ke lantai atas, dimana Ayahnya dan Uni ada disana, Siska pun kembali lagi ke bawah, tepatnya ke dapur. Pesanan kembali berdatangan, jadi ia harus kembali memasak untuk memenuhi pesanan tersebut.
"Kakak ipar kedua, Desi ada yang menjemput?" Tanya Siska seraya mengaduk bumbu seblak di wajan.
"Ada, neneknya akan menjemputnya, aku juga sudah bilang. Desi mungkin sudah ada di rumah neneknya saat ini." Balas Putri. Ia sedang membuat Cappuccino Cincau saat ini.
"Tinggal berapa pesanan lagi semuanya?" Tanya Siska.
"Tinggal 3 lagi, ini semua sudah akan selesai." Balas Putri. Santi dan Ibunya, Estika telah selesai lebih dulu. Sedangkan Siska juga tinggal satu pesanan lagi kali ini.
Belum ada pelanggan baru yang datang. Jadi semuanya menjadi lebih lega, dan santai.
"Makan sianglah lebih dulu. Pukul setengah 3 nanti pasti akan datang banyak pelanggan lagi. Jam sekolah selesai pada saat itu." Ucap Siska mengingatkan semuanya, jika mereka belum makan siang.
Siska tidak mau semua irang tumbang di hari pertama pembukaan kedai. Jadi, ia harus lebih rajin memperhatikan keluarga juga pekerjanya.
Seraya menunggu yang lain selesai makan, Siska, Rendra, dan satu pekerja yang bernama Ayu tetap di bawah, bergantian berjaga, takut-takut ada beberapa orang yang datang lagi ke kedai, juga ditakutkan ada beberapa yang mau menambah menu. Seperti saat ini, ada sekitar dua orang yang memesan Capouccino Cincau masing-masing 5 gelas, untuk dibawa pulang.
Siska kemudian membuatnya sendiri di dapur, sementara Rendra diam di kasir, bersama Ayu yang kini berkeliling membereskan beberapa meja yang sudah tidak ada orangnya.
__ADS_1
Untuk dibswa pulang, Siska sudah mengantisipasi ini sebelumnya, jadi ia menyiapkan cup gelas, juga penutup cup otomatis yang tinggal Siska tarik tuasnya ke bawah, jadi minumannya tidak akan tumpah meski disimpan miring di dalam kresek.
Setelah selesai, Siska kemudian membawa dua kresek berisi masing-masing lima cup gelas cappuccino cincau tersebut, dibantu oleh Ayu yang sudah dipanggil olehnya sebelumnya.
Setelah diberikan, kemudian bagian Rendra yang bekerja, ia mengetikkan beberapa kata di komputer yah memabg sudah ada sebelumnya, semenjak Siska membeli kedai. Jadi setelah diketik, akan muncul struk belanja. Pelanggan pun tinggal membayar sesuai harga yang tertera. Karena dibawa pulang, jadi ada tambahan untuk setiap cup gelas, per seribu. Jadi yang awalnya 40.000, selanjutnya pelanggan harus membayar 45000.
Pelanggan tidak memprotes tentunya, karena harga ini bahkan masih lebih murah dari harga-harga minuman yang ada di kedai sebelah.
30 menit berlalu, giliran Siska, Rendra dan Ayu yang makan. Ketiganya pun naik ke atas dan makan bersama.
Setelah semuanya selesai makan siang, semuanya kembali ke bawah, dan bersiap dengan baik.
"Aiya, adik, yang benar saja, perasaan apa ini? Gila, jantungku berdebar sekali, mau melayani pelanggan seperti mau berperang saja!" Seru Sapta.
"Kakak kedua, kau membual, memangnya kau sudah pernah berperang, huh?" Tanya Siska pura-pura kesal.
Membuat semua orang tertawa dibuatnya, sedangkan Sapta terdiam, merasa jika perkataan Siska sebetuknya memang benar. Sadar diri jika ia sudah melebih-lebihkan. Tapi, jantungnya memang sangat berdebar saat ini.
Tapi begini lebih baik, jadi semuanya menjadi lebih rileks. Di kedai juga masih ada 20 an meja yang masih terisi. Jadi semuanya juga bukan tidak bekerja sama sekali, hanya lebih santai.
10 menit kemudian, Sri sedikit berlari masuk ke dalam kedai. "Sudah datang, sudah datang!" Serunya terengah, bukan hanya lelah berjalan terburu, juga engap sendiri melihat anak-anak sekolah, mulai dari pakaian sekolah pertama sampai pakaian sekolah menengah atas berjalan beriringan menuju kedai Tasty Treats.
"Bersiaplah, gelombang kedua pelanggan akan segera datang!" Ucap Siska seraya tersenyum, seraya meregangkan badannya.
"Aiyooo, aku tegang sekali!" Seru Sapta gugup.
*
*
__ADS_1