
*
*
Setelah menjemput Uni, keempatnya pun pulang dengan mobil milik paman tetangga yang sebelumnya telah ditelfon Ergan ketika sampai di kios bos Baron.
Tidak perlu menunggu lama, akhirnya keempatnya sampai di rumah. Siska yang sembab dan berantakan tentu saja menjadi fokus utama semua orang yang ada di rumah.
Tapi meski begitu, Siska hanya menggelengkan kepala saja, membuat Ergan juga tidak berani menjawab dan menjelaskan kejadian di pasar pada semua orang di rumah.
Ia hanya bisa ikut menggelengkan kepalanya, dan pergi ke kamarnya. Membuka ponsel dan melihati jumlah tayangan di konten kedua miliknya yang hampir mencapai 1 juta penyayangan. Tinggal puluhan tayangan lagi untuk mencapai 1 juta penayangan.
Meski sempat tertunda dan sempat antuasias ingin melihat perkembangan konten miliknya ini, kini setelah melihatnya Ergan menjadi tidak bersemangat sama sekali. Hilang selera, setelah mengalami kejadian tadi. Meski Ergan tahu, Siskalah yang mengalaminya, tetap saja dirinya tertular emosi sedih Siska. Apalagi dirinya adik yang suka mengikutinya kemana-mana.
Disisi lain, Siska yang sudah menidurkan kedua anaknya, terduduk di atas kursi yang ada di kamarnya, menatap kedua anaknya yang sudah tertidur lelap.
Siska jadi berpikir, untuk membeli beberapa ruko kosong sekarang. Apalagi jika ada ruko cukup besar, ia akan tempati dijadikan kedai jajan sederhana dengan berbagai jajanan. Untuk penjagaan kedai, bisa ia serahkan saja pada kedua kakak iparnya. Karena mereka sudah tahu resepnya, masakan mereka berdua juga sama enaknya.
Memikirkan ruko kosong, Siska jadi ingat di tahun 2020 an ada satu perusahaan yang selalu membeli ruko kosong dan menempatinya, dijadikan satu kedai eskrim.
Siska jadi tersenyum lebar, bukankah ini adalah peluang bisnis besar? Ia bisa mulai mencari ruko kosong tersebut mulai dari sekarang, ketika harga beli masih terbilang murah.
Meski masih lama, Siska juga bisa membuat ruko yang dibelinya sebagai ruko yang disewakan, jadi, bukankah dirinya bisa bersantai dan menerima keuntungan dari rumah saja.
Ide bagus, pikir Siska.
Tapi kemudian ia menghela nafas lagi, modal pembeliannya, akan dapat dari mana?
Siska buru-buru mengambil buku tabungannya, dilihatnya, jumlah uang di sana hampir mencapai 40 jutaan. Lumayan, pikirnya. Tapi 40 juta ini bukankah terlalu kecil. Hanya bisa membeli beberapa ruko saja, ditambah dirinya akan membuat kedai jajan.
"Ah, yang penting sekarang adalah kedai jajan dulu. Sisanya, ruko-ruko kosong itu, ini masih tahun 2010 an, sebentar lagi 2011, masih lama sekali." Ucap Siska tertawa seraya mengibas-ngibaskan tangannya, merasa diri sendiri bodoh.
"Ya, begitu saja. Besok aku akan bertanya pada bos Baron perihal ruko kosong yang lumayan besar." Ucapnya lagi, seraya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Kemudian ia mendekati kasur yang terdapat kedua anaknya. Setelahnya mencium dahi masing-masing anaknya dan pergi keluar, berniat mencari Ayahnya yang ada di rumah.
Sudah satu Minggu, ia teringat akan rosella. Sudah seharusnya Rosella ini dipacking dan mulai dijual bukan?
Siska tersenyum lebar, melupakan masalah di pasar tadi. "Bapak! Rosella sudah kering semua belum?" Tanya Siska sumringah.
"Sudah kering, mau di bungkus kapan? Bukankah katamu mau dijual? Sekarang sudah bisa, kan?" Tanya Ayahnya ikut sumringah.
Tanaman yang ditanam secara asal ini, akan menghasilkan untung untuk dirinya, siapa yang tidak senang? Terlebih harganya lumayan, bisa sampai ratusan ribu.
"Ayo, Siska lihat dulu." Ucapnya seraya menarik ayahnya ke tempat di mana Rosella di simpan. Di bagian rumah samping, tempat dimana Rosella biasa di jemur.
Kemudian keduanya melihat Rosella kering, dan setelahnya sepakat, besok swpulang Siska berjualan, Siska akan membuatkan toko di aplikasi online shope yang sudah rilis pada tahun 2009 silam, yaitu online shop dengan aplikasi hijau berlogo burung yg dijadikan tas.
Siska akan menjualnya di sana, untuk promosi, ada Ergan yang sekarang sudah menjadi sedikit populer di akun tutubnya. Bisa di bawa kembali sebagai iklan teh, lalu link pembelian produk bisa di simpan di deskripsi video. Jadi dirinya bisa santai menerima pesanan, karena beberapa orang bisa saja tertarik dengan Rosella yang memiliki banyak khasiat ini.
Begitu saja. Keesokan harinya, Siska kembali berjualan, kali ini hanya ada dirinya dan Santi. Ergan dan Geri harus menyiapkan lebih dulu keperluan untuk besok sekolah.
Meski keduanya bilang membantu jualan dulu saja, persiapan bisa ketika sore, tapi Siska menolaknya dengan keras. Ia hanya ingin persiapannya selesai lebih dulu, jadi ketika pulang berjualan nanti keduanya yang sudah lelah bisa langsung beristirahat.
Jika berjualan dulu, keduanya pulang dan kelelahan, bisa-bisa keduanya lupa menyiapkan segalanya karena saking lelahnya. Siska tidak mau hal tersebut terjadi, jadi begitulah pengaturan Siska.
Pagi ini, Siska membawa 4000 buah cireng dan 2000 bungkus cirambay, tidak termasuk pesanan penguasa pasar. Untuknya, Siska khusus memisahkannya dari awal, ada 200 buah cireng dan 100 bungkus cirambay pesanannya. Melihat keantusiasan pembeli kemarin, Siska jadi yakin semua jualannya pasti akan habis, meski akan memakan waktu sedikit lebih lama dari kemarin. Tidak apa-apa, Siska sudah seharusnya berjualan sampai sore, bukankah semua penjual begitu?
Jadilah, begitu tiba di kios, itu sudah agak siang. Jadi Siska kembali kesulitan menghadapi pembeli yang semakin ramai.
Langsung saja Siska menyuruh Santi masuk ke dalam dan menata jualannya, sedangkan Siska dengan susah payah membuka penutup kios di depan.
Kemudian, setelahnya, semua orang yang berkumpul dengan cepat membuat antrian panjang. Siska sampai menghela nafas takut, melihat antrian yang panjang tersebut. Lebih panjang dari antrian biasanya.
Siska melayani pembeli satu persatu, bersama Santi, jadi antrian sebetulnya ada dua baris. Yang satu pada Santi dan yang satu pada Siska. Sengaja Siska aturkan begini agar lebih cepat melayani. Tapi siapa sangka antrian ini malah lebih panjang meski sudah dibagi dua.
Meski begitu, keduanya tetap melayani dengan ramah tamah. Membuat pembeli senang, tapi ada pula beberapa gadis yang bertanya keberadaan Erga dan Geri. Membuat Santi dan Siska tertawa, hanya bisa menjawab keduanya akan datang lebih siang hari ini.
__ADS_1
Para gadis kecewa, tapi tahukah kalian, para gadis ini bukannya langsung pulang setelah membeli, tapi malah berdiam diri di pinggir kosong yang sepi antrian. Menunggu kedatangan Erga dan Geri. Khususnya, Ergan, yang memang sudah dikenal oleh beberapa orang di daerahnya ini.
Sampai satu jam kemudian, antrian masih panjang, Siska dan Santi sudah kewalahan melayani pembeli. Tapi untungnya ada Ergan dan Geri yang datang dengan cepat. Hendak menggantikan keduanya, tapi terhalang para gadis yang malah meminta foto dan tanda tangannya.
Siska dan Santi menghela nafas, mau tidak mau keduanya harus mengalah dan menunggu Ergan serta Geri selesai dikerubungi. Sampai satu jam kemudian, antrian sudah lebih sedikit, tapi masih terbilang banyak, hanya saja tidak sebanyak di awal.
"Kakak" "Ibu"
Ergan dan Geri memanggil secara bersamaan, "Biar kami yang gantikan, kalian istirahatlah." Ucap keduanya bersamaan.
Membuat Siska dan Santi tersenyum sumringah. Dan keduanya bergantian menjaga kios, keduanya keluar kios dan duduk di kursi di samping kios yang sudah kosong, karena para gadis sudah mulai pergi, meninggalkan kiosnya.
Satu jam berlalu lagi, semuanya telah habis terjual. Tanpa sisa. Ia tidak menyangka antusias ormg-orang di tutub semengerikan ini. Ditambah pelanggan langganannya, jadi 4000 buah Cireng isi ayam suwir dan 2000 bungkus cirambay habis dalam waktu 3 1/2 jam saja. Benar-benar gila.
Meski begitu, semuanya lebih kelelahan daripada kemarin, tapi antuasias juga karena uang yang di dapat lebih banyak hari ini. Apalagi Santi yang kedua matanya sudah melebar melihat tumpukan uang tersebut, melupakan rasa lelahnya.
"Untung saja kami menyiapkan keperluan sekolah lebih awal. Jika belum disiapkan, ah aku tidak tahu apakah aku akan menyiapkannya sepulang dari sini. Aku sangat kelelahan." Ucap Ergan yang terduduk di kursi seraya menyandarkan kepalanya ke dinding kios.
"Kau benar, paman kecil. Untung saja kita diingatkan oleh bibi Siska." Ucap Geri setuju, ia sama-sama duduk kelelahan danbersamdar pada kios.
Siska tertawa melihat keduanya yang sangat kelelahan. Karena selain melayani pembeli, keduanya malah harus melayani para fans yang sengaja datang membeli dagangannya.
"Besok kalian sekolah, jadi sepertinya tidak akan bisa ikut. Anggap saja ini jualan terakhir sebelum istirahat berjualan." Ucap Siska seraya tertawa kecil.
"Sepulang sekolah bisakah aku ikut berjualan?" Tanya Ergan.
"Bukankah kau pulang pukul 3 sore? Aku sudah pulang jam segitu. Tapi tenang, kau ingin membantu berjualan? Masih ada Rosella kering yang harus kau promosikan di kontenmu." Ucap Siska seray menepuk bahu Ergan.
"Nah, sekarang, ayo kita hitung uangnya!" Seru Santi dengan semangat empat lima. Membuat Siska mengangguk seraya tertawa, sedangkan Ergan dan Geri hanya bisa menghela nafas lelah. Semangat Santi ini, apa tidak habis terkura tadi?
*
*
__ADS_1