
*
*
3 bulan berlalu begitu saja, hubungan Darren dan Siska semakin hari, meski keduanya berhubungan jarak jauh, tapi masih tetap aman dan semakin lengket. Terutama Darren yang terkadang, karena saking tidak bisa menahan rindunya, satu bulan sekali dalam kurun waktu 3 bulan ini sering kali mengejutkan Siska dengan pulang dan menghampirinya di rumahnya.
Siska senang-senang saja, begitupun keluarganya yang lain, mendukung keduanya, tapi satu yang tidak senang, yakni Sapta. Setiap kali Darren datang mengunjungi rumah, satu orang ini selalu bersikap ketus pada Darren.
Meski begitu, Darren sendiri tidak ambil hati, malah ia mati-matian memenangkan hati Sapta, sampai akhirnya Sapta luluh, ketika Darren menyelamatkan Desi yang mau terserempet motor ketika mau menyebrang ke kedai.
Tanpa sepengetahuan neneknya, Desi pergi ke kedai dan hampir saja terserempet jika Darren yang saat itu baru pulang mau mengunjungi Siska yang ada di kedai tidak datang. Dan begitulah akhirnya, Sapta akhirnya melunak, perlahan, tapi pasti, ia juga menjadi biasa saja pada Darren, dan lebih mendukung keduanya bersama juga.
Alhasil, kini semua keluarga Siska sudah sangat mendukung Darren yang mau menyeriuskan hubungannya dengan Siska.
Keseharian Siska selama 3 bulan pula, meski tidak ada Darren, ia sangat menikmati kehidupannya, karena ada keluarga bahagia yang selalu ada disisinya. Terlebih, kedua anaknya juga sehat dan ceria meski Uqi masih pada sifat pendiamnya.
Ada Ergan yang semakin hari semakin dikenal banyak orang, begitupula ada Geri yang sama-sama dikenal banyak orang yang tertarik dengan dunia gaming. Kareja selain live games dan konten gamesnya, ia juga sering ikut konten Ergan karena diajak olehnya.
Sampai kini, sudah 7 bulan berlalu sejak kelahirannya kembali, Siska benar-benar merasa sangat bersyukur karena diberi kesempatan keluar dari kubangan hitam yang dulu menjeratnya sampai mati.
Ia bersyukur punya keluarga yang sayang dan sangat mendukungnya. Ia bersyukur juga karena kini hadir seseorang yang juga sangat sayang padanya.
Semua, ia mensyukuri semuanya. Tidak ada yang ia syukuri sekali selain kelahirannya kembali.
"Besok tahun baru! Kita tutup kedai, suruh Rendra dan Sapta kembali." Ucap Suherman pada Siska.
Sapta berhasil Siska usir ke kedai yang ada di kabupaten, dan seperti dugaannya, Sapta sempat kesal dan marah pada Siska, tapi meski begitu, ia tetap pergi dengan Omelan panjang yang mengalun di telinga Siska sepanjang setengah hari sebelum ia berangkat.
Kini sudah 2 bulan sejak ia pindah, tahun baru akan segera datang. Ayahnya ingin semuanya berkumpul dan merayakan tahun baru sama-sama dari rumah.
__ADS_1
"Baik, juga beli tempat barbeque, mari rayakan dengan meriah. Oh jangan lupa kembang api, ini adalah satu keharusan bukan?" Ucap Siska mengutarakan ide-idenya.
"Baiklah, kau boleh beli apapun, uangmu banyak. Sekarang hubungi dua kakakmu dulu suruh mereka kembali." Ucap Suherman lagi seraya mengibaskan tangannya.
Siska tertawa, "Baiklah, eh? Kenapa tidak bapak saja yang menghubungi dua kakak? Bukankah Siska juga sudah membelikan bapak ponsel, jadi bapak dan mama tidak rebutan lagi?" Tanya Siska memicingkan matanya.
"Hanya terlalu malas, sudahlah, pergi sana, jangan halangi bapak bermain catur." Ucap Suherman mengusir Siska. "Oh ya, ajak Darren juga. Bukankah sudah 3 bulan? Bukankah pekerjaannya seharusnya sudah selesai?", Ucap Suherman, bertanya lagi pada Siska.
"Tidak, aku tidak mau. Aku sedang kesal padanya. Dia tidak ada kabar sama sekali selama 3 hari ini. Bapak saja yang hubungi kalau memang mau." Balas Siska langsung kesal, padahal Ayahnya hanya bertanya.
Suherman lantas menggelengkan kepalanya melihat perilaku Siska. Melihat punggung putrinya yang semakin menjauh, ia lantas membuka ponsel dan menghubungi calon menantunya.
Tidak menelfon, hanya mengirim pesan. Sekalian mengirim pesan pada Rendra juga Sapta. Karena ia sudah membuka ponsel, jadi sekalian saja menghubunginya.
"Yo, cepatlah, main lagi. Sibuk sekali, masih mau main tidak?" Tanya teman Suherman, yang alias tetangganya sendiri.
Tapi kesempatan kedua yang dialami Siska, kadang juga membuat dirinya sendiri bertanya-tanya. Apa maksud dari kelahirannya kembali ini? Apakah karena penyesalannya di detik terakhir kematiannya? Apakah dirinya disuruh meneruskan hidupnya yang aslinya belum selesai? Atau ia disuruh memperbaiki kehidupannya?
Mungkin ya, mungkin tidak.
Yang terpenting, setelah bersyukur, Siska juga sangat menikmati hidupnya saat ini. Apalagi kebahagiaan terus datang setelah bencana menyakitkan dulu.
"Ergan, temani kakak belanja." Ucap Siska ia mengetuk pintu kamar Ergan.
"Sedang Siaran langsung, kakak. Ajak Geri saja, boleh tidak?" Tanya Ergan berteriak dari dalam kamarnya.
"Oh tidak mau? Baik, kalau begitu nanti malam jangan ikut makan, ya!" Pekik Siska. Biasanya ia mau diajak kompromi, tapi ia sedang kesal saat ini, alhasil, ketika Ergan menolak permintaannya, seketika kekesalannya juga memuncak.
Sangat menyebalkan hari ini. Semuanya membuatnya marah.
__ADS_1
"Ibu, ayo, Uqi antar." Ajak Uqi, ia langsung meraih tangan Siska dan mendongak menatap Siska yang berwajah masam. Tapi begitu Uqi membujuknya, agar pergi dengannya, Siska langsung merubah raut wajahnya dan memberikan senyum pada anaknya.
"Memang Uqi sayang yang paling baik. Paman dan kakekmu semuanya menyebalkan! Ayo kita pergi sekarang, eh sebentar, Uni dimana?" Tanya Siska kemudian karena lupa akan anak bungsunya.
"Dengan nenek, sedang berenang." balas Uqi.
"Baiklah, Uqi tunggu sebentar di depan. Ibu mau mengambil tas dulu di kemar." Ucap Siska membuat Uqi menganggukkan kepalanya.
Uqi ke ruang tamu, dan Siska ke kamar mengambil tas dan uangnya. 5 menit kemudian, Siska turun dan menatap kesal orang yang kini ada di sebelah Uqi.
"Hehehe, ayo kakak. Aku juga akan mengantarmu." Ucap Ergan seraya tersenyum hingga matanya menyipit.
"Bukankah sedang siaran langsung?" Tanya Siska cuek.
"Tidak, aku sudah selesai. Lagipula besok tahun baru. Hari ini aku juga sekalian mau membuat vlog. Ayo cepat, pergi sekarang, sebelum macet." Ucap Ergan seraya menarik tangan Siska dan Uqi.
Alhasil kini keduanya pergi ke pusat perbelanjaan, karena Ergan mau belanja di market besar, bukan mini market. Ketiganya berkeliling dan belanja seharian, sekalian mengajak Uqi ke pusat permainan.
Siska jadi senang melihat Uqi tertawa lebar. Ia jarang tertawa begitu, meski kini ia dijadikan orang yang merekam kegiatan Ergan dengan Uqi, tapi tidak apa-apa, itu sepadan dengan tawa lebar dari Uqi.
Satu jam kemudian, pada pukul 5, ketiganya kembali dengan belanjaan yang terlihat banyak. Selain membeli bahan barbeque, Siska juga membeli baju baru untuk masing-masing orang. Sekalian dengan sepatu dan sandal.
Juga makanan ringan untuk camilan anak-anaknya di malam hari. Sekalian ia beli. Alhasil kini bagasi mobil terlihat sangat penuh oleh belanjaan Siska.
Ergan bahkan kewalahan karena ia dijadikan orang yang membawa belanjaan Siska. Bukan sedikit, tapi banyak. Kegiatan merekam juga diambil alih oleh Siska, jadi Ergan benar-benar menjinjing belanjaan Siska saja. Sesekali, Siska juga akan menyorot Ergan yang terlihat kesulitan karena membawa belanjaan sebegitu banyaknya. Tak lupa ejekan yang membuat Ergan beraut masam ia juga lontarkan. Haha.
*
*
__ADS_1