Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Kesepakatan


__ADS_3

*


*


"Persyaratan yang bagaimana? Aku ingin tahu lebih dulu." Ucap Ibu-ibu tersebut.


"Sebentar, sebelum ke persyaratan ayo pastikan identitas terlebih dahulu." Ucap Siska seraya tersenyum.


"Astaga, aku lupa. Haduh, benar-benar deh, sudah tua suka sekali lupa. Aku Wasilah, aku adalah bos pemilik toserba di ujung pasar sana. Pegawaiku beberapa hari ini suka jajan makanan disini, kebetulan aku juga memakannya. Kebetulan juga, bulan depan aku ada pembukaan cabang toserba yang 3, jadi maunya memesan makanan dari kiosmu. Karena selain enak, makanan ini masih belum ada di pasaran." Ucap Wasilah, menjelaskan asal muasal kenapa dirinya tiba-tiba mau memesan banyak dagangan Siska.


"Bu Wasilah, aku Siska. Kalau begitu, aku bersedia. Tapi, harus ada uang muka lebih dulu, sebagai jaminan jika kau benar-benar serius memesan daganganku." Ucap Siska penuh pertimbangan.


Pesanan banyak begini, bukan main. Sekilas, Siska bahkan takut ditipu oleh orang di depannya ini. Meski ia tahu, alasan yang diberikan oleh ibu di depannya memang nyata adanya.


"Baik, aku bayar setengahnya dulu. Tapi, aku mau packagingnya diperbagus. Jangan sampai pakai plastik seperti biasa." Jawab Wasilah menyetujui.


"Oh, tentu, itu bisa di sesuaikan, tapi jika begitu untuk harga juga hanya bisa dinaikkan. Bagaimana?" Tanya Siska.


"Sebut saja berapa banyak?" Tanya Wasilah langsung ke intinya.


"Sebentar, 3rb pesanan ini masing-masing 1rb 500 per produk? Atau bagaimana?" Tanya Siska.


"Ah benar, Cireng isi ayam suwirnya 2rb buah saja. Dan 1rb sisanya untuk bagian Cirambay." Ucap Wasilah.


Siska menulis semua pesanannya, kemudian dengan cermat memperkirakan harga. "Kira-kira 25 juta, dengan 3rb minuman yang juga akan disediakan dariku. " Ucap Siska, terlihat sedikit ragu, sebab harga ini, memang benar-benar fantastis.


"Minuman seperti apa?" Tanya Wasilah.


"Aku berencana membuat minuman sendiri, untuk jelasnya, aku akan buat testi untukmu dulu dua hari ke depan. Jika rasanya tidak sesuai, maka kau bisa menyebutkan persyaratan minumannya sesuai kemauanmu." Ucap Siska, menatap Wasilah yang tidak bereaksi, sedikit gugup karena harga ini benaran besar.


"Hey, nona." Panggil Wasilah dengan tatapan mata intens.

__ADS_1


Siska dengan gugup menjawab, "Y-ya? Bagaimana keputusanmu?"


"Boleh juga, kau! Aku setuju kalau begitu. Dua hari kemudian mari kita bertemu di tempat makan Adamas sana. Aku akan bawa uangnya, dan kau bawa minumannya." Ucap Wasilah yang awalnya terdiam beberapa saat, dengan semangat menyetujui.


Siska menghela nafas lega. Kemudian menampilkan senyum lebar penuh semangat. "Baik! Setuju kalau begitu." Ucap Siska seraya bersalaman dengan Wasilah.


Keduanya sama-sama puas.


"Ini, kartu namaku Kau simpanlah baik-baik. Aku pergi dulu, masih ada urusan. Begitu saja, jangan lupa dua hari ke depan, di tempat makan Adamas, pukul 2 siang." Ucap Wasilah kemudian pergi meninggalkan Siska yang mengangguk dengan senang.


Sedangkan Ergan terdiam, masih mencerna percakapan yang keduanya bicarakan. Apalagi begitu dirinya mendengar kata 25jt dan malah disetujui pembelinya. Benar-benar uang yang sangat besar.


Ergan tidak mampu berkata-kata.


"Hey, Siska! Hebat juga kau, langsung mendapat pelanggan besar." Ucap Baron seraya berdiri di depan kios Siska. Ia tentu saja mendengarnya, lagipula kiosnya bersebelahan. Jadi terdengar ke telinganya yang berada di kios sebelah.


"Bos! Masih belum deal betulan. Aku juga masih tidak yakin dengan identitasnya. Aku harus mencari tahu dulu." Ucap Siska.


"Bos! Kalau begitu, merepotkan mu! Terimakasih banyak!" Ucap Siska semangat.


"Ngomong-ngomong, sadarkan adikmu. Seperti orang bodoh begitu." Ucap Baron seraya tertawa lebar. "Juga ini, telah selesai aku rekam. Aku kembalikan ponselnya." Ucap Baron seraya menyodorkan ponsel milik Ergan pada Siska.


"Aiya, biarkan saja dia, masih terlalu kaget mendengar nominal uang yang ku sebut tadi, haha." Balas Siska ikut tertawa, "Oh ya, Bos! Aku dapat banyak hari ini, sekalian saja ayo lunasi utang ku dulu." Ucap Siska tersenyum.


"Astaga, masih belum satu bulan." Ucap Baron seraya mengibaskan tangannya. "Simpan dulu saja, untuk keperluan daganganmu. " Lanjutnya.


"Aiya, tidak apa-apa, ini lebih dari cukup. Cepatlah, Bos keluarkan surat utangnya." Ucap Siska menagih.


Membuat Baron tertawa kecil, kemudian dengan cepat mengambil kertas dari dalam laci di kiosnya. Dan menyodorkannya pada Siska.


"Baiklah, sisa 2jt untuk melunasi." Ucap Siska seraya mengambil dan menghitung uangnya di depan Baron. "Nah! Ini 2jt, kau bisa menghitungnya dulu, bos." Lanjut Siska seraya menyodorkan uang di depan Baron.

__ADS_1


Baron mengibaskan tangannya, "Tidak perlu hitung lagi, kau barusan menghitungnya di depanku, otomatis aku juga ikut menghitungnya." Ucap Baron tertawa kecil, "Kalau begitu aku terima uangnya ya! Surat perjanjian utangnya boleh kau ambil. Nah, sudah aku cap lunas." Lanjut Baron seraya men-cap surat dengan jempolnya, di atas tulisan lunas.


"Baik! Senang bekerja sama denganmu, bos!" Ucap Siska tersenyum lebar. Kemudian menepuk pundak Ergan yang sudah terlalu lama melamun.


Ergan mengerjap seketika.


"Kak! Kita dapat bisnis besar?!" Ucapnya Semangat.


"Haha, kau ini. Sudah, ayo bereskan barang-barang, kita akan belanja bahan untuk besok, dan pulang ke rumah." Ucap Siska tertawa.


"Kalau begitu, aku kembali dulu." Pamit bos Baron tersenyum saja melihat interaksi keduanya. Mengingatkannya pada interaksi dirinya dengan kakaknya dulu, bedanya kakak Baron adalah seorang laki-laki.


"Baik! Ayo kita panen uang!" Seru Ergan semangat.


"Apanya yang panen uang?! Dasar! Cepat bekerja, jangan banyak bicara." Titah Siska, yang langsung membuat Ergan tertawa, kemudian ia dengan patuh membereskan barang-barang yang akan dibawanya pulang.


"Oh ya, kak. Untuk apa Bos Baron kemari?" Tanya Ergan seraya mengangkat box makanan.


"Mengembalikan ponselmu, juga aku sekalian membayar uang membeli kios." Ucap Siska tersenyum bangga, karena dirinya dapat melunasinya dalam hitungan hari.


"Wah, hebat betul! Orang lain belum tentu bisa sepertimu, kak! Kakakku ini, memang paling hebat!" Puji Ergan membuat hidung Siska seolah terbang, pun dengan pipinya yang memerah malu. "Penghasilan hari ini 8 jutaan, dibayar kios 2 juta, jadi masih sisa 6 juta! Kak, kau tidak berniat membuat tabungan di bank?" Lanjut Ergan bertanya.


Membuat Siska berdecak, "Untung kau mengingatkanku! Baiklah, sekarang kita bereskan semua, lalu belanja bahan dan pulang, sekalian mengambil persyaratan pembuatan tabungannya, setelahnya baru aku akan menabungkannya ke bank." Ucap Siska tersenyum.


"Baik! Jangan lupa juga, surat perpisahan mu datang hari ini. Sekalian saja nanti datangi bajingan itu. Aku akan mengikutimu kali ini. Kita tidak akan tahu apa yang akan dilakukannya jika kau pergi sendirian kali ini. Terlebih, kau sudah sukses sekarang, aku yakin dia juga sudah mendengarnya. Takutnya, dia tidak datang lagi ke rumah karena menunggu momen kau datang ke rumahnya. Jadi kita juga harus bersiap dan berhati-hati dengan segala kemungkinan buruk." Ucap Ergan membuat Siska terkejut, tapi diam-diam merasa hangat dan senang mendapat perhatian dari adiknya.


"Tumben sekali, kau bijak! Haha." Goda Siska seraya tertawa lebar.


*


*

__ADS_1


__ADS_2