
*
*
Sudah 10 hari sejak kecelakaan pesawat yang menimpa Siska dan Darren. Ada beberapa korban yang selamat, ada beberapa korban yang belum ditemukan, juga ada beberapa korban yang ditemukan dalam keadaan tidak lagi bernyawa.
Siska adalah orang yang termasuk ke dalam bagian orang yang belum ditemukan. Darren sendiri, adalah orang yang termasuk ke dalam korban yang selamat. Hanya saja, ia tidak sadarkan diri sejak ditemukan di hari ke 7.
Darren tidak dalam keadaan baik. Luka luar tidak seberapa, tapi kedua kakinya diperkirakan tidak akan bisa bergerak. Masih bisa disembuhkan, tapi kemauan dari pemilik kaki adalah yang paling utama untuk kesembuhan. Hanya saja, sekarang ini, Darren masih terbaring dalam keadaan koma.
Sudah 10 hari lamanya, dan tidak ada tanda-tanda Darren akan sadarkan diri. Selama 10 hari juga, kedua keluarga berada dalam perasaan sedih yang tak tertahankan.
Selain para orang dewasa yang meskipun sama sedih dan kehilangan, tapi masih bisa menahan diri agar terlihat kuat di permukaan. Berbeda dengan dua anak kecil yang terus bertanya pada orang dewasa. Terlebih Uqi, ia sudah tahu akan berita kecelakaan tersebut.
Kemudian karena Uqi tahu, akhirnya Uni juga diberitahu. Keduanya selalu menangis bersama karena merindukan ibunya. Keduanya juga sering mengunjungi Darren yang terbaring di rumah sakit.
Tidakada perasaan benci apalagi menyalahkan, keduanya diberi pengertian dengan baik oleh orang dewasa, membuat keduanya tahu, jika kecelakaan tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan Darren.
Jadi, keduanya hanya bisa bersedih, menangis, dan murung. Keduanya bahkan lebih pendiam dan menutup diri sejak saat tahu kabar Siska hilang dan tidak ditemukan. Lebih jarang keluar, lebih jarang bicara, juga lebih jarang terlihat makan.
Jika nenek dan kakeknya tidak memerhatikan Uqi dan Uni, maka dua anak kecil tersebut sudah pasti menjadi sangat kurus karena jarang sekali makan. Kedua orang tua Darren juga sama, keduanya hanya menjadi lebih dekat dan dekat dengan keluarga Siska, untuk saling menguatkan.
__ADS_1
Uqi dan Uni terkadang juga diminta menginap untuk menemani Bu Wasilah ketika Tuan Edden diharuskan pergi dinas ke luar kota, agar Bu Wasilah tidak berlarut dalam kesedihan jika sendirian.
Semuanya sangat menyayangkan kejadian tersebut. Baru beberapa minggu yang lalu merasakan kebahagiaan tiada tara, kini semuanya malah harus menghadapi kesedihan yang membuat semuanya terpukul. Betapa adilnya dunia, ada kebahagiaan juga ada kesedihan.
Mengingat dua cucu sambungnya yang semakin sedih, dua keluarga terus bekerja sama untuk tetap mencari keberadaan Siska yang tak kunjung di temukan. Tidak ada kata berhenti dalam pencarian. Semua pulau yang dimana dekat dengan jatuhnya pesawat, yang diperkirakan beberapa korban yang hilang mungkin terdampar di sana, semuanya ditelusuri.
Tapi tidak ada hasil yang diperoleh. Pencarian yang dilakukan semuanya sia-sia. Meski begitu, tidak ada kata menyerah dalam mencari Siska. Karena selain untuk dua cucu, ketika Darren bangun kelak, ia adalah orang yang pastinya paling terpukul mengingat betapa besarnya cinta Darren untuk Siska.
Apalagi setelah tahu kemungkinan kelumpuhan Darren, kedua keluarga semakin bertekad menemukan Siska. Siska akan menjadi penyemangat Darren jika akhirnya ia bangun. Tapi, lupakan hal penyemangat, yang paling penting adalah menemukan Siska dan memastikan dirinya baik-baik saja.
"Bapak, ada paket atas nama Siska." Ucap Ergan, masuk ke dalam rumah di Turnuksio.
Apalagi keduanya adalah orang yang paling menjaga Siska jika Suherman tidak ada. Keduanya juga sama terpukulnya begitu mendengar berita kecelakaan Siska dan Darren. Tapi keduanya tetap memilih tinggal di desa, karena selain tidak ada yang bisa keduanya bantu, kedai dan rumah di desa masih perlu pengurusan.
"Paket apa?" Tanya Suherman seraya berjalan ke depan rumah, dan menatap seorang laki-laki dengan topi di kepalanya. Ergan berjalan berdampingan dengan Suherman kini.
"Tidak tahu, Bapak terima saja dulu." Ucap Ergan.
Kemudian Suherman mengobrol singkat dengan kurir paket, dan akhirnya selain orang yang mengobrol, ada 3 orang lainnya yang langsung bergegas menurunkan semua barang dari dalam box mobil.
Usut punya usut, ternyata itu adalah barang-barang yang dibeli Siska sebagai oleh-oleh untuk semua orang. Bahkan Siska sudah memilah dan memisahkannya dengan menamai semua barang dengan nama-nama orang yang akan menerimanya.
__ADS_1
Alhasil, Suherman dan Ergan menangis bersamaan setelahnya. Bahkan setelah Siska tidak ada, barang pemberiannya masih ada dan sampai dengan benar. Keduanya jadi mengingat momen-momen kecil beberapa hari sebelum Siska pergi ke luar untuk bulan madu.
"Bapak, apakah menurutmu kakak ketiga sudah merasa jika dirinya akan mengalami hal ini?" Tanya Ergan dengan nada gemetar. Tangisnya Masi belum reda, sesekali isaknya juga keluar.
"Bapak juga mengira begitu, apalagi mengingat ucapan-ucapan sayang dan pamitan darinya sebelumnya. Kami bahkan sempat berfoto bertiga di halaman belakang." Ucap Suherman dengan raut sedih dan mata berkaca-kaca.
"Kakak jahat sekali? Jika dia sudah merasa tidak benar kenapa malah meneruskan niatnya dan tetap pergi?! Ia bahkan bilang padaku, jika ia bisa tenang karena aku sudah pergi ke universitas kelak. Ucapannya aneh, aku, aku huhuhu..." Ergan tidak sempat melanjutkan ucapannya, tangisnya kembali tidak bisa dibendung.
Keduanya saling mengeluh di samping tumpukan barang yang sudah diturunkan oleh keempat kurir. Kurir juga sudah pergi sejak keduanya mulai membuka satu barang atas nama untuk Bapak. Sampai akhirnya melihat isi barang di dalam, adalah kacamata yang dapat melatih dan melindungi mata untuknya yang sering menonton sampai larut.
Suherman tidak bisa tidak menangis. Bahkan ketika putrinya tidak ada, perhatiannya masih terasa nyata dan hangat. Begitupula dengan apa yang di rasakan Ergan. Jadi keduanya menangis bersama di halaman depan.
Hanya ada Suherman dan Ergan di rumah beserta beberapa pekerja. Geri sudah pergi ke sekolah, sedangkan Uqi dan Uni di bawa oleh neneknya menemui Darren dengan Bu Wasilah.
"Aku rindu pada kakak ketiga, huhuhu." Ucap Ergan lagi, ia bahkan sudah tidak peduli dengan wajahnya yang jelek karena kebanyakan menangis. Suherman hanya bisa mengatur dirinya sendiri, ia menguatkan dirinya agar ia bisa menenangkan Ergan yang kembali terpukul setelah melihat banyak barang yang datang.
"Sudah, kakakmu masih belum ketemu. Mari berharap dan berdoa, meski ia tidak ditemukan, ia akan tetap hidup dengan baik di luar sana. Kita harus yakin, kakak ketigamu akan baik-baik saja." Nasihat Suherman seraya menepuk pundak Ergan, menyalurkan semangat dan ketangguhan padanya.
*
*
__ADS_1