Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Tidak Suka Randu


__ADS_3

*


*


Siska menatap Randu dengan senyum kecil dan mengangguk menyapa balik. "Benar." Jawab Siska.


"Siapa, sayang?" Tanya Darren dengan sengaja. Membuat Siska terbatuk kecil. Ia mendongak menatap Darren, kemudian tersenyum manis.


"Ah, ini Ayahnya Zen. Tuan Randu, perkenalkan ini calon suamiku." Ucap Siska langsung memperkenalkan keduanya.


Darren berdehem singkat, dan mengangguk menyapa. Sedangkan Randu juga menjadi canggung setelahnya. Terkejut, tentu saja, ternyata Siska sudah punya calonnya sendiri. Terlebih, lihat penampilannya, sangat berbeda jauh dengan dirinya, meski sama-sama memakai stelan.


Aura Darren tidak bisa disembunyikan, aura orang besar. Sedangkan dirinya, terlihat seperti pejabat Desa. Padahal ia punya satu pabrik kain di kabupaten. Meski tidak sebesar perusahaan Wistara, tapi sangat cukup untuk menghidupi keluarganya.


"Ibu!" Pekik Uqi dengan semangat, melambaikan tangannya dengan kuat, tak lupa senyum lebar sampai menampilkan deretan giginya.


Siska ikut melambaikan tangannya refleks ketika Uqi memanggil dan melambai, senyumnya juga merekah dengan lembut menyapanya.


"Uqi merindukanmu!" Ucap Uqi setelah masuk ke dalam pelukan Siska.


"Bukankah tadi pagi ibu juga mengantarkanmu?", Tanya Siska seraya tertawa. "Bagaimana sekolahnya?" Tanya Siska lagi.


"Baik, oh ya, Bu, aku dan Zen sama-sama mengikuti lomba nanti. Ibu harus datang, oke?" Ucap Uqi menatap harap pada Siska.


"Lomba apa yang anak ibu ikuti? Juga, kapan lombanya diselenggarakan?" Tanya Siska.


"Uqi ikut cerdas cermat, satu tim dengan Zen, dan satu teman perempuan, aku tidak kenal. Masih dua bulan lagi sepertinya, ibu gurunya bilang di umumkan dari sekarang karena nanti Uqi harus ikut pembelajaran dulu. Jadi setiap pulang sekolah hari Kamis dan Jumat akan pulang lebih lambat 2 jam." Jelas Uqi semangat.


"Baiklah, nanti ibu buat alarm pengingat di ponsel ibu, hm? Sekarang ayo kita pulang dulu. Lihat Uni dan paman sudah menunggu, mari kita jalan-jalan bersama!" Ucap Siska seraya mengelus kepala Uqi.


"Kau yang terbaik, ibu!" Ucap Uqi kembali memeluk Siska dengan erat.


"Haha, baiklah, sudah. Ayo, masuk mobil." Ajak Siska, kemudian ia berbalik dan menatap Zen dengan Randu. "Zen, kami pergi dulu ya. Maaf hari ini tidak bisa mengajakmu ke kedai, kami mau pergi mengurus sesuatu. Kapan-kapan mainlah ke rumah dengan Uqi, oke? Sampai jumpa." Pamit Siska pada Zen yang tersenyum lebar dan mengangguk patuh. Kemudian Siska mengangguk pada Randu dan akhirnya pergi meninggalkan keduanya memasuki mobil.

__ADS_1


"Ayah, Zen juga ingin seperti Uqi. Ada ibu, ada adik." Gumam Zen yang pastinya terdengar oleh Randu, karena posisinya sedang berjongkok, jadi telinganya tepat di samping kepala Zen.


Randu menatap anaknya dengan sendu. Kemudian mengusap kepalanya lembut. Meski ia jarang menemani anaknya, tapi ia sayang. Meski ia sibuk, ia tetap sayang. Bagaimanapun, Zen adalah anak yang dinantikannya, darah dagingnya yang membuatnya bahagia. "Maafkan Ayah..."Ucap Randu dengan nada sedih.


Meninggalkan Randu dan Zen, disisi lain ada Darren yang sudah menurunkan Uni, dan membuatnya duduk di kursi paling belakang dengan Uni. Hingga Siska dan Darren duduk berdua tepat di belakang kursi kemudi.


"Jauhi si candu bisa tidak?" Tanya Darren, dengan nada malas.


"Candu? Ah, Randu? Ayahnya Zen? Jauhi kenapa, lagipula kami tidak dekat sama sekali." Balas Siska bingung.


"Tidak dekat tapi memberinya senyum!" Sewot Darren.


"Astaga, itu hanya formalitas saja. Apa yang kau permasalahkan? Bukankah kau juga sering melakukannya dengan para kolega baik lama maupun baru?" Tanya Siska heran.


"Tidak, aku tidak pernah senyum pada mereka. Kau tanya saja pada Sahni dan Haris." Bantah Darren, membuat Siska tersadar, jika lelaki di hadapannya ini manusia pelit ekspresi.


"Apa alasanmu?" Tanya Siska.


"Aku tahu." Balas Siska tersenyum.


"Kau tahu tapi masih ramah padanya? Sengaja, ya? Mau membuat mereka makin suka padamu? Laku aku, ah tidak mau. Aku benar-benar tidak suka. Kau jangan begitu." Keluh Darren.


"Sadar tidak dengan sifatmu? Lihat kau seperti apa sekarang?" Tanya Siska terkekeh kecil.


"Seperti anak kecil! Seperti Uni ketika meminta dibelikan es krim tapi tidak diberi oleh Ibu!" Celetuk Uqi dari kursi belakang, membuat Darren dan Siska refleks berbalik dan menatap Uqi. Siska terbahak, dan Darren beraut masam.


"Uni, sayang, bagaimana pendapatmu?" Tanya Darren mencari pembelaan pada Uni. Karena Uqi dan Siska malah tertawa bersama kini.


"Hmm? Paman memang seperti anak kecil, tapi tidak seperti Uni. Uni terlihat manis dan lucu, paman tidak." Balas Umi dengan raut polos, menjawabnya dengan jujur .


Siska semakin terbahak mendengar jawaban Uni. Bahkan Uqi juga tertawa keras, Supir yang mengantar juga menahan diri agar tidak tertawa mendengar penuturan Uqi dan Uni.


"Oh begitu, kalian bersekutu melawan paman ya? Hmm? Uni juga ikut-ikut? Ah, hadiah yang paman bawa dari ibukota sepertinya harus mencari orang lain untuk memberikannya." Ucap Darren kemudian.

__ADS_1


Mendengar kata hadiah, Uqi dan Uni otomatis berhenti tertawa, dengan semangat keduanya berdiri dan memeluk leher Darren dari belakang. Karena saat ini, Darren sudah kembali berbalik dan duduk seperti semula.


Siska juga berhenti tertawa, dan menggelengkan kepalanya melihat Darren dan dua anaknya. Sama-sama mencari perhatian dan manja. Uqi bahkan sudah lebih akrab dengan Darren, meski masih sering ribut karena berebut Siska. Tapi kalau masalah hadiah, ia akan mendadak manis pada Darren.


Karena Darren, selalu memberikan hadiah baru pada Uqi dan Uni. Baik mainan, baju, tas, dan lainnya, selalu model dan jenis terbaru yang diberikannya, juga yang sedang populer di televisi. Dua anak kecil tentu saja tidak bisa menolak godaan bukan?


"Duduk yang benar, nanti terantuk." Ucap Siska pada Uqi dan Uni.


Kini, giliran Darren yang tersenyum senang, Uqi dan Uni akhirnya tidak bisa menahan godaan dan berakhir bersikap manis padanya, sampai Siska saja menegur keduanya.


"Baiklah, cium paman dulu." Ucap Darren memanfaatkan kesempatan. Membuat Uni langsung saja mencium pipi yang disodorkan Darren, sedangkan Uqi sedikit terdiam, menatap Darren dengan enggan.


"Yakin tidak mau?" Tanya Darren menggoda. Membuat Uqi dilema sendiri. "Paman membeli Lego yang Uqi kirimkan lewat pesan loh..." Lanjut Darren dengan raut menggoda.


"Tapi, laki-laki tidak mencium laki-laki." Balas Uqi menggeleng dengan raut memelas.


"Astaga, tidak apa-apa, paman kan akan menjadi ayahmu bulan depan." Ucap Darren terbahak. "Lagipula Uqi masih kecil, kalau sudah besar baru tidak boleh." Lanjut Darren. Akhirnya membuat Uqi mendekat dan mencium pipi Darren secepat kilat.


"Ah, gemasnya anak-anak Papa." Ucap Darren seraya tersenyum lebar.


"Papa?" Tanya Uni bingung.


Darren menganggukkan kepalanya. "Hum, panggil Papa mulai sekarang, tidak keberatan kan? Papa sama dengan Ayah. Tapi paman tidak mau panggilan paman Sam dengan Ayah kalian. Jadi, Papa adalah yang paling baik. Setuju tidak?" Tanya Darren. Membuat Uqi mengangguk malas, dan Uni mengangguk semangat.


Siska menyimak interaksi ketiganya yang semakin hari malah terlihat semakin hangat dan menggemaskan. Senyum hangat dan tatapan tulus Siska perlihatkan saat ini.


"Papa, dan Ibu!" Pekik Uni senang, mengecup pipi Siska dan Darren bergantian, meski ketika mencium Siska ia sedikit kesulitan karena terhalang kursi mobil.


Darren menatap Siska, "Aku belum selesai dengan yang tadi, oke?!" Ucap Darren dengan nada dan raut serius. Membuat Siska tertegun karena Darren masih membahas masalah Randu. Tapi dalam sekejap, rautnya kembali berubah ketika menghadap ke belakang, pada Uqi dan Uni.


*


*

__ADS_1


__ADS_2