Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Ketakutan Siska


__ADS_3

*


*


Setelah menyelesaikan acara makannya, Siska keluar restoran Adamas dan langsung pergi ke bank, untuk menyetorkan uang sebanyak 15 juta. Sisa 5 juta di tasnya, Siska bawa untuk memenuhi keperluan Ergan dan Uqi yang akan bersekolah. Terlebih Siska juga harus membayar semua tunggakan sekolah Ergan. Jadi 5 juta adalah nominal uang cukup.


Kali ini, Siska pergi membeli baju seragam sekolah dasar untuk Uqi, sedangkan untuk Ergan hanya berupa topi sekolah menengah, sepatu, tas baru, serta peralatan sekolahnya, karena seragam sudah dibeli Siska sebelumnya.


Untuk melunasi tunggakan uang semester Ergan, Siska butuh 2.5 jutaan, lalu ada uang pelunasan untuk kelulusan nanti sebanyak 1 jutaan. Total 3.5 juta untuk Ergan saja. Uang pendaftaran sekolah dasar lebih murah, ini hanya 150rb saja, sisanya masih gratis. Paling-paling ada tambahan biaya untuk wisata, dan les tambahan per mata pelajaran di luar sekolah, jika mau.


Lalu untuk peralatan sekolah, Ergan menghabiskan 300 ribu, dan Uqi lebih mahal karena ada tambahan seragam sekolah yang belum dibeli, semuanya 400 ribu.


Setelah selesai berbelanja kebutuhan, kini Siska dan Ergan kesulitan membawa jantung belanja yang banyak. Dua orang masing-masing membawa 4 kresek di tangannya. Di tambah, Ada Uni dan Uqi, Siska menjadi lebih kesulitan membawanya, karena harus mencekal lengan Uqi dan Uni. Karena bagaimanapun, pasar adalah tempat umum yang lumayan padat. Bagi anak kecil seperti kedua anaknya, tentu akan menjadi kekhawatiran sendiri.


"Kak, ayo keluar dulu saja. Kasihan Uqi dan Uni." Ucap Ergan seraya mengambil alih belanjaan yang dipegang oleh Siska. Membuat Siska melepaskan cekalannya pada Uqi.


Siska memberikannya pada Ergan dengan sukarela, Uqi tepat di sampingnya, jadi ia pun berani melepas cekalannya. Tapi siapa yang akan menyangka, jika Uqi ternyata hilang dalam pandangannya begitu ia berbicara dan memberikan belanjaannya pada Ergan.


Siska dan Ergan panik, Uni yang berasal dalam gendongan Siska juga mencari-cari kakaknya, yang sedari tadi sebetulnya sedang mengobrol bersama meski Uni dalam gendongan sang ibu.


"Uqi, adik. Tidak, tidak, ayo cari Uqi, cari!" Seru Siska dengan panik, setelah ia melihat sekelilingnya memastikan keberadaan Uqi tapi Uqi malah tidak terlihat sama sekali.


"Kak tenang, ayo keluar pasar dulu. Titipkan dulu belanjaan dan Uni pada bos Baron saja. Agar lebih ringan mencari Uqi." Ucap Ergan yang berusaha berpikir logis. Disana, pengalaman pertama dirinya belanja membawa keponakan dan berakhir hilang. Ia tentu panik juga, tapi apa boleh buat, jika dirinya ikut panik berlebih, tidak akan ada hasil yang baik.

__ADS_1


Kemudian Ergan dan Siska keluar pasar, langsung ke kios di sebelah kios miliknya, kios bos Baron. Sekejap ia menitipkan Uni yang meskipun tidak mau, harus Baron bujuk. Meski menangis, Siska tidak ada pilihan lain selain ini.


Setelahnya, ia meninggalkan Uni dan berlari bersama Ergan, kembali masuk ke pasar. Mencari ke sekeliling kios yang tadi sempat keduanya kunjungi.


Satu jam berkeliling, nihil. Uqi tidak ditemukan. Keduanya berhenti dan terengah, air mata Siska bahkan sudah bercucuran, rasa takut menjalari hatinya, membuat dadanya sesak.


"Ergan, temukan Uqi, aku mohon." Ucap Siska menatap adiknya dengan mata berair, rautnya dan penampilannya benar-benar berantakan, dress yang dipakainya tidak lagi terlihat cantik.


"Kak, tenang dulu. Ayo kita cari lagi, pelan-pelan oke. Uqi pasti baik-baik saja. Oh, atau kita minta bantuan polisi?" Tanya Ergan segera memeluk Siska, menenangkannya. Ada juga salah satu pemilik kios, yang tau permasalahannya, dan menemani keduanya di sana. Bahkan memberi keduanya air minum. Dan membiarkannya duduk di kursi di depan kiosnya.


"Membicarakan soal bantuan, kau bisa coba cari penguasa pasar. Siapa tahu mereka bisa cepat menemukan anakmu." Ucap pemilik kios baju, memberi usul. Ia tiba-tiba tercerahkan begitu mendengar kata bantuan yang terlontar dari Ergan.


Siska melepaskan pelukan Ergan dengan cepat, kemudian ia berterimakasih atas usul pemilik kios baju, dan dengan cepat berbalik, berniat berlari menuju tempat penguasa pasar diam.


"Ibu!"Panggil Uqi.


Siska makin menangis, ia kemudian dengan cepat berlari, dan memeluk Uqi erat. "Kau kemana saja, sayang, Ibu khawatir sekali." Ucap Siska sesenggukan. Ia benaran takut, sesak sekali, pikirannya sudah kemana-mana, takut Uqi menjadi korban penculikan.


"Uqi tersesat, Bu, maafkan Uqi, jangan menangis ya? Uqi sudah kembal." Ucap Uqi yang kini ikut menangis melihat ibunya menangis.


Ketika Siska melepaskan tangan Uqi, Uqi mundur sedikit, dan muncullah gerombolan orang yang berjalan ke arah berlawanan, Uqi terbawa arus oleh orang-orang tersebut. Daripada terinjak, jadi ia pergi dengan ketakutan. Setelah terbebas, ia tidak tahu dirinya berada di kios mana, semuanya terlihat sama, ia berlari memutari kios, tapi malah makin tersesat.


Sampai akhirnya, ia lelah sendiri dan duduk menunduk seraya menangis. Kebetulan tangisannya terdengar oleh anak buah penguasa pasar. Jadi ia dibawa oleh anak buah ke penguasa pasar tersebut. Barulah setelahnya ia tahu jika Uqi sebetulnya anak dari Siska setelah ia mendengar Uqi bercerita, jika ibunya adalah pemilik kos di sebrang pasar yang akhir-akhir ini populer.

__ADS_1


Beruntung, Uqi ditemukan anak buahnya, jika tidak, entah apa yang bisa terjadi pada anaknya Siska.


"Terimakasih, bos. Terimakasih, sudah menemukan dan membawanya kembali." Ucap Siska seraya menangis, ia membungkuk berkali-kali sebagai rasa terimakasih.


"Sudahlah, lain kali jangan begitu ceroboh." Ucap penguasa pasar datar, kemudian pergi meninggalkan semuanya tanpa pamit.


"Terimakasih, paman tampan!" Pekik Uqi membuat penguasa pasar melambaikan tangannya, meski ia tidak berbalik untuk sekedar tersenyum pada Uqi. Ia berjalan lurus membelakangi semuanya dengan tangan melambai.


"Kak, ayo pulang dulu. Kita juga harus menjemput Uni." Ucap Eegan mengingatkan kakaknya, yang saat ini terus menatap kepergian penguasa pasar dengan penuh rasa syukur.


Siska lebih baik kehilangan uang daripada kehilangan anaknya. Uang bisa dicari, tapi anak? Bagaimana mungkin Siska tega meninggalkan darah dagingnya sendiri begitu saja ketika menghilang.


Siska menghela nafas, kemudian menganggukkan kepalanya, dan berjalan meninggalkan kios yang dijadikannya tempat istirahat, tentu setelah sebelumnya meminta maaf dan berterimakasih pada pemilik kios baju tersebut.


Baru kali ini Siska merasa takut setengah mati begitu ia dilahirkan kembali.


"Maafkan ibu, nak, ibu ceroboh melepaskan pegangan tangan Uqi pada ibu di tengah ramainya manusia." Ucap Siska, Uqi kini digendong oleh Siska, meski Uqi berkali-kali menolaknya, karena merasa dirinya sudah besar, tapi Siska kekeh tidak mau menurunkannya. Membuat Uqi akhirnya pasrah saja pada keadaannya. Suruh siapa dirinya menghilang tadi, jadilah ibunya berubah menjadi protective begini sekarang.


Ada sebab, ada akibat. Jadi terima kenyataan saja.


*


*

__ADS_1


__ADS_2