Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Adik, aku hampir mati kelelahan!


__ADS_3

*


*


Siska keluar dari bank setelah menyetorkan uangnya. Ia memegang buku rekeningnya, kemudian membuka dan melihat isi di dalamnya. Gila, saldonya benar-benar menjadi ratusan juta dalam semalam.


Yah, uang yang dihasilkan Ergan, sudah masuk ke rekeningnya pagi ini. Ketahuan begitu Siska menyetor uang barusan. Jadi saldo di rekeningnya ada sekitar 298 jutaan! Hampir 300 juta banyaknya. Karena selain uang milik Ergan yang berjumlah 176juta, Punya Siska sendiri ada sebanyak 122 jutaan. Dana ini, terhitung dari sejak ia berjualan tanpa kios, alias membuka lapak sembarang di depan pasar.


Siska menghela nafas, saldonya bahkan masih kalah jauh dengan saldo Ergan. Apalagi, Siska masih punya bayaran untuk uang kedai, juga untuk pembuatan pesanan borongan dari Bu Wasilah 10 hari ke depan.


Kenapa pula, uang yang Ergan dapatkan bisa semudah itu? Apa Siska beralih profesi saja menjadi seleb Tutub juga? Tapi Siska dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Diam-diam tertawa geli, seorang ibu dengan dua orang anak, masih saja bermimpi jadi seleb Tutub. Apalagi statusnya sebentar lagi berubah menjadi janda, haha.


Setelah puas melihat jumlah Saldo yang ada di rekeningnya, Siska kemudian memasukkannya ke dalam tas, dan berjalan me arah kedai. Tidak terburu-buru, ia tahu semua orang pasti bisa menghadapi banyaknya pelanggan meski tanpa dirinya. Mungkin, haha.


Tapi, semakin dipikirkan, kasihan pada ibunya yang sudah berusia lanjut. Jadi ia mempercepat langkahnya. Tidak naik angkutan umum, ia berjalan karena memang lumayan dekat.


Begitu sampai kedai, waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Tapi kedai aman terkendali, jadi tidak ada kerusuhan pesanan seperti kemarin. Sepertinya gelombang pertama pelanggan sudah selesai.


"Adik ketiga! Kau lama sekali, aku hampir mati kelelahan!" Seru Sapta begitu melihat Siska datang dan berada tepat di depannya. Sapta memperlihatkan wajah lelah dan frustasinya.


Siska tertawa melihatnya, kakak keduanya terlihat mengenaskan, tapi Siska pikir kakak keduanya saja yang sedikit lebay jika bekerja. Berikutnya ia menatap Rendra, dan duang! Rendra tak kalah mengenaskannya saat ini.

__ADS_1


Siska yang tadi tertawa, langsung mengatupkan bibirnya. Pelanggan di hari ketiga, apakah lebih banyak lagi dari hari kedua? Pikir Siska tak percaya.


Tapi begitu masuk ke dalam dapur, Ketiga wanita sedang terduduk menelungkup kan kepala di atas meja khusus duduk dan makan. Membuat Siska tidak enak hati, perasaan bersalah mulai muncul, terlebih pada ibunya yang sudah tua.


"Semuanya, apa sudah makan siang?" Tanya Siska membuat ketiganya menatap Siska dengan pandangan horor. "A-ada apa?" Tanya Siska takut-takut.


"Kau kemana saja? Kenapa itu lama sekali? Ah tidak, aku sangat kelelahan." Ucap Santi dengan wajah meringis. Putri mengangguk setuju, pun dengan ibunya, tapi bedanya, ibunya tetap tersenyum kecil pada Siska.


"Gelombang pelanggan hari ini, lebih banyak?" Tanya Siska lagi.


"Hmm! Seperti ombak! Aku sampai kelimpungan, pusing sendiri mau membuat apa dulu, bingung karena saking banyaknya pesanan. Benar-benar membludak!" Ucap Putri dengan penuh penghayatan, maksudnya, menggebu-gebu saat menceritakannya.


"Aku menunggu di pengadilan selama tiga jam, tadi. Tapi Aldo tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Jadi hakim juga mau tidak mau harus mengikuti peraturan." Ucap Siska seraya menggosok hidung yang tidak gatal.


"Ish, bajingan, memang tidak ada kesadaran diri!", Umpat Santi yang kembali semangat. Tapi setelah umpatannya selesai, kelesuannya kembali lagi.


"Putusan Verstek dijatuhkan, tapi tunggu 14 hari untuk menunggu banding , jadi Aldo masih ada kesempatan menolak." Ucap Siska.


"Kenapa begitu? Bukankah sudah jelas juga jika Aldo salah disini?" Tanya Putri kesal. "Juga apa itu putusan verstek?" Lanjutnya.


Siska mengedikkan bahunya, "Tidak tahu, kak, aku juga kurang mengerti, tapi menurut kuasa hukumku, ini wajar, peraturannya memang begini." Balas Siska. "Putusan verstek ini merupakan putusan yang dijatuhkan ketika yang tergugat tidak datang, begitulah kira-kira." Lanjut Siska membuat Putri mengangguk-anggukkan kepalanya meski tidak begitu paham.


"Mama jadi khawatir Aldo sedang merencanakan sesuatu. Terlebih saat ini keluarga kita sudah berkecukupan, takutnya ia melakukan segala cara untuk mendapat kompensasi dari kita. Dia si mata duitan, anak saja bisa menjadi tamengnya. Tetap waspada saja, oke?" Ucap Ibunya, mewanti-wanti Siska.

__ADS_1


"Baik, Ma, Siska mengerti. Siska akan melawannya sepenuh hati. Tidak akan lagi aku mau dibodohi bajingan itu." Ucap Siska dengan teguh.


"Para Chef, sudahi obrolan kalian pelanggan datang lagi, cepat bekerja!" Ucap Sapta seraya menepukkan tangannya, menginterupsi obrolan keempatnya.


Sapta kemudian menyimpan setumpuk kertas berisi pesanan di atas meja, dihadapan keempat orang ini. Membuat semuanya, kecuali Siska menghela nafas lelah, dengan ringisan frustasi.


Siska tertawa, tapi ia kemudian mengambil alih dua pekerjaan, jadi yang lain bisa sedikit santai memasaknya. Bagian seblak dan pembuatan minuman, Siska ambil alih. Sedangkan pembakaran Sosis dikerjakan oleh ketiga orang lainnya secara bergantian. Sesekali, Putri juga membantu Siska.


Ketiga produk dari bahan dasar tapioka, seperti biasa sudah habis lebih dulu. Sedangkan sisanya, masih ada, meski stoknya juga mulai menipis. Apalagi untuk bakso, karena ternyata 20 pack yang disiapkan untuk seblak, masih sangat kurang, jadi mau tidak mau diambil dari bahan yang sudah dipas dijual pertusuk.


Meski begitu, karena banyaknya pesanan seblak, Siska membuka satu wajan tambahan. Jadi tiga tungku, dipakai untuk memasak seblak, dan satu tungku untuk membakar pesanan sosis. Lainnya, adalah banyaknya pesanan minuman, yakni ada beberapa juga yang menambah minuman.


Kesibukan berlanjut sampai akhirnya shift pagi diganti oleh shift sore, yakni teman-tekan Ergan. Eegan dan Geri seperti biasa, kembali membantu. Kedatangan keduanya menjadi angin segar bagi Sapta, karena Ergan sudah mahir melakukan pekerjaan miliknya.


Sapta berniat istirahat di atas, tapi apa daya, kerah bajunya sudah ditarik oleh Rendra yang mengetahui niatnya. Jadi, Sapta tetap melayani, hanya saja tidak seramai biasanya. Senyumnya bahkan terlihat dipaksakan.


Sedangkan Ayah Siska, ada bersama Uni dan Uqi di atas. Hari ini, Uqi dijemput oleh Ayahnya, dengan Uni yang dibawa. Membuat beberapa orang kecewa, karena tidak bisa bertemu Siska.


Terlebih Zen, yang berharap Siska akan menjadi ibunya. Juga, Randu, ayahnya, ia bertanya-tanya kenapa, tapi niatnya ditelan lagi, lagipula ada Ayahnya, bisa mendekatkan diri juga, pikirnya.


Berbeda dengan Randu, Darren bahkan dengan berani menawarkan tumpangan pada Ayah Siska. Dari awal berangkat, sampai pulang lagi ke kedai. Darren rela menunggu orang tua tersebut. Terlebih, sebetulnya keduanya juga sudah saling kenal beberapa hari ini.


Kenal, karena Ayahnya tahu perihal Darren yang menjaga keamanan Siska selama Siska berjualan. Siska sendiri tidak tahu, tapi keduanya sudah berkenalan sejak kedai dibuka pertama kali. Jadi, kedekatan keduanya satu langkah lebih maju daripada Randu sendiri, yang baru bertemu dan mengobrol hari ini.

__ADS_1


*


*


__ADS_2