
*
*
Setelah selesai makan, Suherman akhirnya membujuk Siska dengan langsung menghubungi Darren yang memang sudah selesai rapat.
Suherman awalnya tidak banyak berharap dengan panggilan telfon yang dilakukannya, karena waktu baru menunjukkan pukul 2 siang, di jadwal, Darren masih ada rapat dan baru selesai pukul 3 sore. Tapi ia salah, tidak menyangka Darren akan mengangkat telfonnya. Membuatnya senang, karena papan catur baru dari Siska sudah aman.
Suherman kemudian me loud speaker kan panggilan telfonnya. Dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Darren perihal Siska yang tidak kunjung menghubunginya pagi ini.
Kemarin masih terlalu lelah, dan pagi ini setelah mengantar Uqi sekolah, Siska ke kedai membantu. Tapi ia kehilangan ponselnya sejak pagi, dan Siska baru menemukannya siang ini, yang aslinya disembunyikan oleh Sapta.
Itu adalah penjelasan yang sesungguhnya Suherman jelaskan. Meski ada beberapa bagian fakta yang tidak ia sebutkan seperti Siska lupa pada Darren, haha. Tidak apa, ia akan meminta maaf nanti, Karena saat ini, papan catur yang disebut Siska sangat menggiurkan.
Meski Suherman dapat uang bulanan dari keempat anaknya, tapi untuk membeli papan catur, ia masih menyayangkan uangnya tersebut. Jadi, ketika Siska mengiming-imingi papan catur, ia tentu saja langsung menyetujui syaratnya. Dan lebih memilih menabungkan uang untuk uang tunjangan di masa tua, meski sekarang juga sudah tua.
Darren untungnya langsung mengerti ketika Suherman menjelaskan permasalahannya. Dan ia dengan nada bersalah menanyakan bagaimana Siska, karena dirinya sempat bersikap sedikit kasar pada Siska, dalam artian gelagatnya, juga kata-katanya.
Darren akhirnya takut sendiri di ibukota, takut menyakiti perasaan Siska tadi, karena dirinya dengan egois tanpa mau mendengar penjelasan Siska lebih dulu, malah langsung mematikan panggilan dan pergi ke ruang rapat.
Kini, giliran Darren yang uring-uringan. Apalagi ketika ia mendengar Uqi yang berbicara pada Siska, terdengar lewat sambungan telfon Suherman.
"Ibu jangan sedih, kalau paman Darren tidak mau, masih ada Uqi. Uqi akan menjaga dan menyayangimu! Uqi juga akan membahagiakan ibu dan adik Uni. Tenang saja, ibu tidak akan merasa sedih jika ada kami berdua." Ucap Uqi dengan senyum manis, menatap Siska yang sedang gugup mendengarkan obrolan Suherman dan Darren.
Siska mengerjapkan kedua matanya, menatap Uqi dengan terkejut. Apa yang baru saja Uqi bicarakan? Siska sedih? Ia bahkan sedang merasa tegang dan gugup saat ini. Tapi ketika ia melihat Suherman, kemudian ponselnya bergantian akhirnya Siska mengulum senyumnya.
Panggilan di sana hening ketika Uqi selesai bicara. Membuat Siska kembali menatap Uqi dan terlihatlah Uqi yang sama-sama tersenyum, penuh arti, mengode jika Siska bisa melakukannya.
"Uqi sayang terlalu baik, baiklah, ibu akan bersama Uqi dan Uni saja kalau begitu. Tolong bantuannya ya? Mari bahagia bersama-sama?" Ucap Siska langsung masuk dalam rencana Uqi.
Uqi tertawa tanpa suara, ibunya memang paling mengerti dirinya. Ia bangga padanya, bahkan ketika Uqi tidak berbicara banyak tentang rencananya, Siska langsung tahu maksudnya. Ah memang benar ibunya yang paling mengerti dirinya.
"TIDAK! JANGAN!"
Teriakan nyaring yang berasal dari ponsel membuat semuanya melongo terkejut. Siska bahkan membuat tubuhnya mengalami kejut. Uqi sendiri tersenyum dengan tenang, ia tahu, sudah pasti respon calon Ayahnya akan begitu. Suherman malah ingin tertawa mendengarnya.
Uqi sendiri tahu, karena Darren sudah jelas sayang pada ibu dan kedua anaknya. Ia bahkan dekat dengan kakek dan dirinya dan Uni lebih dulu daripada dekat dengan ibunya. Jadi, Uqi bisa menebak gelagat manusia labil satu ini.
Ah, Uqi masih kecil, tapi sudah mengerti sebanyak ini. Memang dewasa sebelum waktunya.
"BAPAK?! SISKA DISANA? BAPAK JAWAB AKU? PAK!" Teriak Darren dari seberang, tapi sebelum Suherman menjawab, Darren terdengar menggeram kecil dan mematikan sambungan telfonnya.
__ADS_1
Ketiga orang disana saling pandang, tapi detik berikutnya, ponsel Siska berdering keras.
Ketiga orang yang masih saling pandang pun tertawa, merasa lucu.
"Angkatlah, nak. Mengobrollah, bapak bawa Uqi ke bawah, mau bapak ajak ke taman bermain." Ucap Suherman, kemudian berdiri seraya mengajak Uqi.
Uqi ikut berdiri, tapi ia mengatakan, "Kakek aku tidak ingin ke tempat itu. Aku sudah besar, oke? Aku akan ikut kakek tapi jangan ke taman bermain." Ucap Uqi seraya berjalan dalam rangkulan kakeknya, Suherman.
"Aish dasar anak ini, yasudah kita pergi jajan saja ke alun-alun, mau tidak?" Tanya Suherman menatap Uqi.
Uqi akhirnya mengangguk puas, kemudian dengan riang mengikuti langkah kakeknya yang turun lebih dulu menuruni tangga, Suherman memegangi tangan Uqi dan membantunya turun meski Uqi tidak mau dipegangi.
Melihat pemandangan tersebut, Siska menghela nafas dan tersenyum lembut. Uqi dan kakeknya menjadi lebih dekat satu langkah.
Kemudian ia beralih pada ponsel yang masih berdering, tersenyum semakin lebar, dan mengangkat panggilan video tersebut.
"Sudah selesai rapat?" Tanya Siska seraya tersenyum kecil. Ia tidak lagi membahas masalah sebelumnya, karna ia rasa tidak perlu. Lagipula, memang dirinya yang salah, jadi Darren marah pun wajar saja menurutnya. Tidak ada yang keterlaluan, ucapannya juga masih dalam tahap wajar.
"Sayang... Maafkan aku." Ucap Darren menatap Siska dengan tatapan sendu dan garis bibir melengkung ke bawah.
"Sssst sudah, aku yang salah, dirimu marah juga wajar. Jangan meminta maaf, yang meminta maaf itu harusnya aku. Maaf karena tidak menepati janji dengan tidak mengabarimu sebelumnya." Ucap Siska.
"Tidak, tidak ada yang kasar. Hanya marah dan berpikir aku tidak menginginkanmu. Hanya salah paham, wajar saja." Balas Siska menenangkan Darren.
"Baikla, meski begitu aku tetap salah karena langsung menutup telfon tadi, maaf karena tidak memberimu kesempatan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Aku kesal, dan merasa sangat marah, tidak tahu. Mungkin karena aku merindukanmu juga?" Tanya Darren ragu, ia menyimpulkan jika dirinya sedang ingin dekat dengan Siska tapi dirinya tidak bisa.
Terlebih, Siska sendiri tidak mengabarinya sejak sampai dan hari ini. Emosinya jadi tidak stabil? Mungkin. Tapi hanya pendapat Darren saja.
"Eiy belum genap dua hari sudah rindu? Apa kau merasa dirimu tidak lebay? Haha." Cibir Siska, kemudian tertawa.
"Aku bersumpah! Jika aku tidak ada pekerjaan, aku ingin pergi ke desa sekarang juga!" Balas Darren tegas.
"Baiklah, baiklah, jangan gila. Selesaikan dulu pekerjaanmu. Ingat apa janjimu pada bapak? Jangan mengecewakanku, mengerti?!" Ucap Siska mengingatkan Darren pada janjinya tentang setelah ia menyelesaikan pekerjaan selama 3 bulan, ia akan membawa orang tuanya bertamu ke rumah Siska, untuk apa?
Untuk melamar, tentu saja.
Darren bahkan sudah tidak sabar menunggu 3 bulan datang. Ia ingin sesegera mungkin, melompat ke waktu 3 bulan kemudian tersebut.
"Eh sayang, sebelum aku membawa orang tuaku, aku mau kau ikut aku menemui orang tuaku dulu, oke? Aku akan mengatur dinner nanti. Kau harus menyetujuinya, tidak bisa menolak." Ucap Darren, ia hanya memberitahu Siska, tidak bermaksud meminta izin dan membujuknya untuk datang.
"Memangnya aku ada kesempatan menolak? Aku yakin, kalaupun aku menolak, kau pasti akan tetap membawaku ke sana, bukan?" Tanya Siska seraya mendengus.
__ADS_1
Seketika, Darren pun terbahak. Pikiran Siska memang tidak salah. Dan ia menebaknya dengan tepat. Tidak melenceng satupun.
"Sejak kapan aku begitu? Aku kan selalu izin jika mau apa-apa." Ucap Darren berdalih.
Siska mencibirnya, tapi Darren bukannya marah, malah tertawa lucu melihat cibiran Siska. "Kau yang paling tahu dirimu sendiri, oke?!" Ucap Siska seraya memutar kedua bola matanya malas.
Darren tertawa lagi, "Kau juga tahu jelas diriku, tuh. Jika tidak kan tidak mungkin tahu aku bisa bersikap begitu." Ucap Darren seraya memicingkan matanya.
"Baiklah, aku kalah. Ngomong-ngomong, kapan kau mengirimkan jadwal kerja pada bapak? Kenapa aku tidak tahu? Juga, kenapa bapak dapat, tapi aku tidak? Jangan-jangan kau sebenarnya datang untuk bapak?!" Tanya Siska, diakhiri dengan pertanyaan yang sangat menyeleweng.
"Astaga pikiranmu? Aku ini normal! Aku bahkan menunggumu selama bertahun-tahun, untuk apa aku menunggu jika tujuanku bukan kau, sayang? Mikir yang benar, bisa tidak?" Tanya Darren seraya mendelikkan kedua matanya pada Siska. "Untuk jadwal kerja, aku tidak memberi bapak, tapi bapak sendiri yang minta pada Haris. Aku bahkan baru tahu tadi pagi, Haris melapor padaku." Lanjut Darren. "Kalau kau mau, aku akan mengirimnya sekarang, tunggu ya." Ucapnya lagi.
Siska tertawa kecil,, ia tahu, ia hanya menggod Darren saja tadi, tapi ia malah salah paham dengan mengira.itu pikiran aslinya. Tapi yasudahlah, dengan ini, dirinya juga tidak perlu sudah payah meminta sendiri jadwal kerjanya. Cukup bagus, cukup bagus.
Siska kemudian membuka dokumen yang berisi jadwal kerja Darren, seketika matanya membulat. "Kau ada jadwal sekarang, kenapa malah menelfonku, sih? Pergi sana. Nanti aku hubungi pukul 6. Tunggu saja, kali ini aku tidak akan pernah melupakan ponselku lagi." Ucap Siska.
Darren ada jadwal lanjutan setelah jam 3, pukul 4 adalah waktu ia mensurvei tempat yang akan menjadi pembangunan besar-besaran di jl. Turnuksio.
"Aku masih ingin mengobrol, begini saja, aku kirim Hari dan Sahni saja ke sana." Ucap Darren sedih.
"Tidak! Bos macam apa yang begitu? Jangan menambah pekerjaan pada pegawaimu. Pergilah sendiri, patuh, nanti pukul 6 aku telfon lagi. Sudah, sana, sampai jumpa sayang!"
Tut!
Belum sempat bereaksi, Siska sudah mematikan panggilan video tersebut. Darren yang mendengar kata sayang dari Siska tentu saja mengulum senyumnya, menjadi lebih berseri-seri kali ini. Ia ingin mendengarnya lagi, tapi telfon sudah dimatikan.
Itu pasti karena Siska malu. Haha. Jika saja ia ada di sana, ia pasti sudah melihat wajah memerah Siska. Darren suka wajah merahnya, kontras dengan warna kulitnya yang putih.
"Haris! Ayo berangkat!" Ucap Darren setelah ia berada di hadapan meja kerja Haris, ia bahkan tersenyum kecil pada Haris, membuat Haris tertegun sejenak sebelum akhirnya Darren kembali bicara, "Oh ya, kau beli minuman saja untuk para pekerja yang ada di lapangan, biarkan Sahni pergi duluan denganku." Lanjut Darren kemudian pergi setelah mengetuk kepala Haria yang malah melongo melihatnya.
Tentu terkejut. Apa Darren ini punya penyakit bipolar? kenapa sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit senyum, sedikit-sedikit seram, sedikit-sedikit ramah.
Haris yang bahkan sudah berteman lama dengannya bahkan baru melihat sifatnya yang saat ini. Menakjubkan. Haris menebaknya sendiri, Darren pasti sudah berbaikan dengan Siska.
"Cepatlah! Apa yang kau lamunkan?!" Pekik Darren menatap Haris tajam.
"Ah! B-baik, bos!" Balas Haris cepat, kemudian pergi dengan cepat, memberitahu Sahni di ruangannya, setelahnya ia pergi ke tempat pemesanan minuman untuk dibagikan pada pekerja yang ada di lapangan.
*
*
__ADS_1