
*
*
"Paman!" Pekik seorang wanita dengan raut kesal, kedua tangannya juga mengepal.
"Oh? Kathrin, ada apa? Siapa yang mengganggumu? Bilang pada paman, Ayahmu menyuruhku menjagamu, jadi paman pasti menjagamu dengan baik." Ucap Kepala keluarga Imanuel, ia berjalan menghampiri Kathrin yang terlihat kesal dan sedih. Tangannya juga terulur mengusap kepala Kathrin lembut.
"Itu kakak kedua, dia mengejekku, hiks. Aku ingin pulang, paman." Ucap Kathrin dengan mata berurai air.
"Kita baru berangkat berapa hari, nak? Masih ada beberapa hari sebelum Tuan muda dan Nona muda Wistara turun di negara tetangga nanti." Ucap Kepala keluarga Imanuel tidak berdaya.
Kathrin ini manjanya bukan main. Ayah dan ibunya menjaganya bak berlian dan memanjakannya dengan sangat, apapun yang diinginkan Kathrin selalu dituruti alhasil seperti inilah sekarang jadinya.
Di luar memang kelihatan dewasa dan penuh intrik cerdas, tapi di dalam keluarga ia sangat manja dan seringkali ditegur kakak dan adik sepupunya. Mereka bahkan tidak menyukai Kathrin karena sifatnya tersebut. Hanya Ayah dan ibunya lah yang kuat dengan sifat Kathrin.
Pamannya, kepala keluarga Imanuel meski sekarang terlihat lembut dan penuh sayang, tapi kenyataannya ia juga kesal dengan anak dari adiknya tersebut. Ia menyebalkan, tapi ia mengerti juga, jika bukan karena adik dan adik iparnya, Kathrin juga tidak akan menjadi seperti ini.
Wajar saja, adik perempuannya hanya punya Kathrin, dan Hartono, adik iparnya sangat menyayangi Kathrin. Karena selain anak satu-satunya, Kathrin ini sangat ditunggu-tunggu kehadirannya.
Kepala keluarga Imanuel menghela nafas. "Tunggu saja ya? Kemari senang-senang dengan paman saja." Ucap Kepala keluarga Imanuel membujuk.
Kathrin tlenggan, tapi ia tidak ada pilihan lain. Karena tidak ada teman disana. Bahkan orang yang mendukungnya untuk ikut, kini sedang bersenang-senang di bawah air dengan kakak dan adik sepupunya.
"Tunggu, paman, kenapa kapal pesiar hari ini bisa membiarkan kita sedikit bebas?" Tanya Kathrin penasaran.
"Karena Tuan dan Nona muda Wisata sedang bermain ke pulau kecil di sekitar sini. Jadi, untuk waktu beberapa jam, sampai sore hari, kita bisa bebas bermain di kapal ini." Jelas kepala keluarga Imanuel. "Tidakkah kau mau ikut bersenang-senang bersama kakak dan adik sepupumu? Bukankah menyenangkan menyelam bersamaan di sana?" Lanjut kepala keluarga Imanuel bertanya.
Kathrin menggelengkan kepalanya, "Tidak mau, paman. Mereka mengejekku dan memarahiku. Aku diasingkan di sana " Balas Kathrin dengan wajah cemberut.
"Mungkin kakak dan adik sepupumu tidak bermaksud mengatakan hal itu. Kau tahu sendiri mereka bagaimana, kan? Selalu blak-blakan meski pada paman sekalipun." Ucap kepala keluarga Imanuel.
"Tidak, paman mereka benar-benar mengejek dan memarahiku! Ah paman kenapa jadi membela mereka, sih? Sudahlah aku pergi saja. Disini memuakkan." Ucap Kathrin, seraya beranjak pergi meninggalkan kepala keluarga Imanuel yang menghala nafas berkali-kali menyabarkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kathrin, jika kau tidak mengubah sifat dan perilakuku, lambat laun kau akan celaka, nak. Adik, adik ipar, andai kau lihat perilaku anak kalian hari ini." Gumam kepala keluarga Imanuel, kembali menghela lelah, seraya menatap punggung Kathrin yang menjauh.
Disisi lain, Kathrin juga menjauh dengan gerutuan kesal setiap saat. Ia tidak kembali ke arah dimana kakak dan adik sepupunya berada, tapi ke arah sebaliknya, berjalan dan hanya berjalan, sampai ia menemukan kolam renang pribadi di atas kapal.
Kathrin mengerutkan dahinya, tapi tak ayal ia juga merasa senang melihatnya. Tidak apa kan berenang disini? Tidak ada orang untuk ditanyai, alhasil Kathrin melepas baju luar dan hanya menggunakan bikini yang memang sudah ia pakai sebelumnya.
Ia langsung turun dan berenang di sana, berendam dengan nyaman. Tidak peduli pada apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak. Di pikirannya hanya ada kesenangan dan kenyamanan. Tidak perlu sesudah payah memakai alat selam untuk berenang di bawah air laut. Disini juga sudah sangat bagus dan nyaman. Apalagi pemandangannya pas sekali menyejukkan.
Kenapa pula ia baru tahu ada kolam disini, ah ia lupa jika ini milik Darren, dan Darren membagi kapal menjadi dua bagian. Bagian pribadi miliknya dan bagian pribadi milik kepala keluarga Imanuel.
Sudah tahu begitu, Kathrin malah tetap tidak peduli dan terus berendam. Sesekali ia juga berenang bolak-balik dari satu sisi ke sisi lainnya. Sendirian, tapi ia senang.
"NONA! SIAPA YANG MANYURUHMU BERENANG DISINI?! DAN SIAPA KAU! BERANI-BERANINYA BERRNANG DISINI?!" Teriak awak kapal dengan raut marah, mengerut dengan tidak senang.
Kathrin sempat tertegun karena dimarahi. Tapi kemudian ia sadar, itu hanya awak kapal. "KAU YANG SIAPA?! HANYA AWAK KAPAL SAJA BERANI MEMARAHIKU?! TIDAKKAH KAU TAHU AKU SIAPA?!" Teriak Kathrin tak mau kalah.
"Siapa? Aku tebak, kau bagian dari keluarga Imanuel bukan?!" Tanya Awak kapal lagi.
"Nona, maaf, tapi majikanku adalah keluarga Wistara, jadi tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Imanuel! Lagipula, tidakkah kepala keluargamu memberitahumu agar tidak masuk ke wilayah khusus Tuan Wistara?!" Tanya Awak Kapal lagi dengan nada yang kembali dinaikkan karena emosi.
"Apa maksudmu?! Kau menantang ku?! Wilayah Tuan Wistara apanya?! Disini kosong juga, aku hanya berenang sebentar saja, sudah membuatmu memarahiku, nona dari keluarga Imanuel?!" Tanya Kathrin lagi, isaking emosinya, ia kini keluar dari kolam renang dan mengambil bathrobe yang disediakan di sekitar kolam.
"Nona, bukankah kami sudah memberitahu kalian, jika kalian keluarga Imanuel tidak bisa datang ke wilayah ang sudah dibagi ini?! Kenapa kau melanggarnya! Jika sampai Tuan Muda melihatmu, aku yang akan dimarahi dan ditegur! Mengertilah, kau nona dari keluarga besar, tahu aturan dan disiplin sejak kecil. Jadi jangan coba-coba melanggar dan mencelakai kami orang kecil ini!" Balas awak kapal lagi.
Beberapa orang yang berlalu lalang, langsung mendatangi tempat kejadian karena teriakan keduanya yang terdengar. Apalagi keduanya beradu emosi dan argumen dengan sekuat tenaga. Bahkan kakak dan adik sepupunya yang baru selesai menyelam mendengar keributan.
Satu dua orang yang penasaran mendatangi tempat tersebut meski sudah di wanti-wanti jangan ikut campur karena area tersebut memang area yang dilarang didatangi oleh keluarga Imanuel.
Melihat Kathrin yang sedang berargumen, dua orang yang penasaran dengan cepat melapor kepada kakak paling tua dan kepada kepala keluarga Imanuel.
Membuat keributan besar, akhirnya semuanya datang karena takut dengan adanya Tuan muda Wistara. Jika sampai tuan itu melihat, habislah keluarga Imanuel ini.
Jangan sampai membuat mereka kesal lagi, berujung celaka pada keluarganya. Sudah cukup pada kesempatan pertama membuat tuan muda tersebut marah. Jangan ada kesempatan kedua.
__ADS_1
"Kathrin! Kemari!" Pekik kepala keluarga Imanuel, sorot matanya tajam, dengan raut tidak enak dilihat.
Kathrin yang melihat hal tersebut, sudah tahu jika pamannya marah, dan ia melakukan kesalahan besar. Tapi ia tidak mau melepaskan harga diri didepan awak kapal murahan. Alhasil ia menebalkan muka dengan mengadu pada pamannya. Dan menyuruh pamannya memecat dan memarahi awak kapal tersebut.
Tapi bukan saja tidak dimarahi, justru Kathrin lah yang dimarahi habis-habisan dan diseret kembali ke kapal siar bagiannya, setelah sebelumnya meminta maaf, merendahkan diri di hadapan awak kapal tersebut.
Hal tersebut dilihat oleh kakak dan adik sepupunya. Demi Kathrin seorang kepala keluarganya berani merendah di hadapan awak kapal. Kathrin ini memang pembawa masalah. Kebencian kakak dan adik sepupunya bertambah saja setiap saatnya pada Kathrin.
Kathrin sendiri, bukannya kapok, tapi ia yang kini di kurung di kamarnya, menjadi semakin emosi dan kebencian dihati menjadi semakin besar.
Ia malah membenci Siska yang tidak ada hubungan dan sangkut pautnya dengan masalah hari ini. Hati dan mulutnya menjadi penuh dengan umpatan yang dilontarkan pada Siska.
Dalam pikiran Kathrin, Siska adalah perebut. Jika dia tidak ada, maka dirinyalah yang sebelumny akan menjadi nona muda keluarga Wistara. Karena dirinya sempat dijodohkan oleh Ayahnya pada Ayah Darren. Meski Ayah Darren belum sempat menjawab persetujuannya, tapi Kathrin ini sudah mengklaim jika dirinya calon istri masa depan Darren.
Kathrin terobsesi pada Darren. Obsesi membuatnya menggila, setiap kali Darren hadir di acar perjamuan, maka ia akan hadir dan menempel pada Darren meski berkali-kali di dorong menjauh.
Sampai akhirnya Darren menemukan Siska. Dan Kathrin menjadi tidak tahu keberadaannya selama beberapa waktu karena kepergiannya tanpa meninggalkan jejak, membuat Kathrin kesulitan menemukan Darren.
Lalu pada saat pembukaan toko di kabupaten, Kathrin datang, tapi ia terlambat karena begitu datang, ia melihat Darren mengantarkan Siska pulang. Disaat itu, Kathrin pun mencari informasi tentang Siska dan kabar kedekatan keduanya tentu saja ada.
Sampai Siska ada di Jakarta, dan Darren terus menempelnya, Kathrin dengan sengaja bersikap dewasa di hadapan Siska, memperkenalkan diri sebagai nona Hartono dan menekankan nona Wistara pada Siska meski ia enggan. Hanya untuk melihat respon Siska saja.
Tapi hasil akhirnya, Siska memang menunjukkan jika dirinya ada hubungan dengan Darren. Dan Kathrin sedikit goyah, mundur untuk beberapa saat untuk menenangkan diri. Meski mundur, ia tetap melakukan beberapa aksi untuk membuat hubungan Darren dan Siska sedikit renggang perlahan-lahan.
Tapi puncaknya adalah ketika di perumahan Turnuksio, ia tidak tahan lagi dan merebut rumah dengan sengaja. Tapi siapa sangka, Darren membela Siska dan membuat dirinya dipermalukan. Tak hanya itu, Darren bahkan menikah beberapa bulan kemudian. Membuatnya patah hati.
Sampai ia mendengar percakapan pamannya yang akan berlibur bersebelahan dengan Darren, Kathrin memutuskan untuk ikut, dengan mrengek pada ayah dan ibunya, yang kemudian diizinkan. Dan disanalah Imanuel dimarahi, ketika Kathrin datang dengan sangat lambat, padahal keluarga yang lain sudah sangat siap sebelumnya.
"Memang kenapa kalau sudah menikah?! Masih bisa bercerai, kan?!" Gumam Kathrin dengan tatapan tajam dan seringai licik. "Kau merebut milikku, maka tunggu saja, aku juga akan merebutnya kembali, karena awalnya dia memang milikku! Wanita desa menjijikkan! Tunggu saja kau!" Pekik Kathrin sinis.
*
*
__ADS_1