Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Kapal Pesiar Wistara


__ADS_3

*


*


"Ada apa? Kenapa menatapku begitu? Aku kan memang mau pergi dengan Darren nanti? Bulan madu, astaga! Kalian kenapasih?" Tanya Siska dengan raut bingung, memangnya dirinya salah ucap? Perasaan Siska, ia telah mengatakan hal yang benar, kok. Lalu kenapa ekspresi semua orang begini?


Siska mengibaskan tangannya di depan semua orang, membuat semua orang menghela nafas. "Perkataanmu ambigu, seperti tersirat makna lain, tahu tidak?!" Tanya Suherman sedikit kesal.


"Astaga, Bapak, aku bicara santai saja kok!" Balas Siska dengan sungguh-sungguh. Raut dan tatapan mata juga tak kalah meyakinkan.


Akhirnya, semuanya pun mengibaskan tangan, membiarkan Siska yang salah bicara sebelumnya. Anggapan semua orang adalah salah bicara, tapi tetap saja di dalam hati merasa ada yang tidak nyaman. Tidak sepenuhnya hilang, mengganjal, membuat tidak nyaman.


Tapi hari tersebut berlalu begitu saja, sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 3, Siska dan Darren sudah siap dengan dua koper di tangan masing-masing. Senyum lebar keduanya tampilkan menatap satu persatu keluarganya.


Keluarga hanya mengantar sampai halaman saja. Atas permintaan keduanya. Jadi, sebelum keduanya masuk mobil untuk pergi ke dermaga, perpisahan disinilah menjadi ajang tangisan Uqi dan Uni yang enggan pisah dengan Siska.


Siska tertawa kecil melihat tingkah keduanya, sangat jarang melihat keduanya menangis bersamaan, terlebih Uqi, sudah berapa lama sejak ia menangis begini di hadapan banyak orang, ah terlalu menggemaskan.


Tapi akhirnya, Siska dapat pergi dengan tenang karena Uqi dan Uni sudah mulai tenang, dan dapat melepas Siska. Lambaian tangan dengan raut sedih, dan suara yang sesekali sesenggukan sehabis menangis.


Keduanya pun pergi dengan tenang, sampai akhirnya sampai di dermaga 30 menit kemudian. Kapal pesiar sudah stand by di pesisir. Siska terkagum melihat kapal pesiar pribadi milik keluarga Wistara. Benar-benar hebat, mewah, elegan, dan ah Siska tidak bisa berkata-kata lagi.


Darren mengacak rambut Siska pelan, kemudian ia mengajak Siska untuk naik, dengan merangkul pundaknya posesif. Dua koper tentundi bawa oleh anak buah Darren yang termasuk awak kapal di kapal pesiar tersebut.


Siska memasang wajah senang sepanjang naik ke atas kapal. Antusias, dan bersemangat. Apalagi di sisinya ada Darren. Perjalanan satu Minggu dengan kapal pesiar, entah apa saja yang sudah disiapkan Darren selama satu Minggu tersebut nantinya.


Karena Siska tahu, Darren menyiapkan banyak hal untuk kejutan. Katanya, setiap hari setelah hari kedua di kapal pesiar, akan ada satu kegiatan yang akan membuat Siska senang dan puas. Untuk bagian kamar, tentu saja itu hal lainnya. Itu sudah kewajiban, bukan? Namanya bulan madu, setelah menikah.

__ADS_1


"Mau langsung ke kamar, atau lihat-lihat dulu?" Tanya Darren pada Siska, yang masih ada dalam rangkulannya, kini tangannya merangkul pinggang Siska, tidak lagi di pundak.


"Lihat-lihat dulu, saja. Bukankah masih menunggu rekan kerja sama lama kalian?" Tanya Siska. "Ah, tapi pukul berapa nanti kapal pesiarnya berlayar? Bukankah mau melihat matahari terbenam nanti?" Tanya Siska lagi, mendongak menatap Darren yang lebih tinggi darinya.


"Pukul 4, kita berangkat dalam 15 menit. Baiklah, ayo ke ujung kapal pesiar sana. Bukankah katamu mau berfoto ala Jack dan Rose?" Tanya Darren dengan senyum penuh arti.


"Mau, tentu saja mau! Tapi bisakah nanti ketika matahari terbenamnya muncul? Agar pemandangannya indah, mendukung suasana bulan madunya?" Tanya Siska seraya tersenyum lebar.


"Baiklah, kalau begitu ayo ke kamar dulu. Ganti bajumu, kita berenang di sana seraya menunggu. Tenang saja, area kolam sudah aku pisahkan dengan keluarga Imanuel. Jadi kau bebas berpakaian seksi!" Ucap Darren seraya mengedipkan sebelah matanya, membuat Siska memelototinya, refleks memukul bahu Darren dengan wajah bersemu.


"Menyebalkan! Masih ada awak kapal disini. Tidakkah kau malu didengar oleh mereka?!" Gerutu Siska menatap tajam Darren.


Bukannya takut dengan tatapan tajamnya, Darren malah dengan sengaja mengecup bibir Siska, membuat Siska kembali memekik dan mencubit pinggang Darren dengan kesal.


"Aaaa tidak mau, aku malu. Ayolah, sayang." Bujuk Siska agar Darren tidak menggodanya lagi di tengah banyak orang yang berlalu lalang di atas kapal pesiar tersebut.


"Haha, baiklah, baiklah... Ayo ke kamar dulu, kita ganti baju." Ucap Darren seraya mengecup kepala Siska dan merangkulnya lagi. Kemudian keduanya berjalan dengan Siska yang menyembunyikan wajahnya dengan tangan besar Darren.


"Kau suka, sayang?" Tanya Darren seraya tersenyum.


Siska menganggukkan kepalanya. "Eum! Sangat suka! Terimakasih, hehe." Balas Siska dengan senyum lebar, giginya bahkan terlihat, berjejer rapi.


"Baiklah cepatlah ganti baju, jangan lupa pakai bathrobe untuk menutupi di sepanjang jalan ke kolam renang di atas. Aku tidak mau orang melihat milikku." Ucap Darren.


"Baik, baik, aku mengerti. Kau juga pakai bathrobe oke!" Balas Siska, tak mau kalah.


Badan Darren kekar, perutnya tentu juga tidak kalah kekar. Ada 8 kotak yang terlihat jika ia tidak pakai baju. Awak kapal disini tidak semua laki-laki, ada beberapa perempuan yang ditugaskan sebagai pembersih dan juru masak.

__ADS_1


Perempuan mana yang tidak akan tergoda melihat badan suaminya? Ah, Siska saja kadang khilaf dan memulai permainan lebih dulu. Jadi, tolonglah, jangan sampai ia terlihat oleh wanita lain.


Siska dan Darren sebetulnya sama-sama posesif. Keduanya tidak beda jauh, hanya saja Siska tidak terlalu memperlihatkannya, sedangkan Darren kentara sekali memperlihatkan. Karena setiap ada laki-laki yang mendekati Siska, bukan main matanya langsung menatap tajam dan penuh peringatan pada orang tersebut.


Bahkan Satria yang sudah lama bekerja dengan Siska saja dimusuhi Darren. Ah tidak, bukankah itu contoh yang terlalu jauh? Seharusnya ambil contoh yang dekat saja bukan? Uqi juga sering dicemburui Darren, keduanya selalu berebut Siska jika di rumah.


"Wah! Sudah bergerak." Pekik Siska senang. Ia baru saja selesai mengganti baju dengan bikini pilihan Darren tentunya. Juga sudah pakai bathrobe.


"Aku mau lihat, buka dulu tidak apa tahu? Bukankah kita masih di kamar? Ah! Kau malu? Aku sudah melihat semuanya, kenapa masih malu?" Tanya Darren menggoda Siska.


"T-tidak mau! Aku rasa aku tidak cocok memakai bikini ini. Tapi setelah aku pilah pilih, ini adalah yang paling baik dari pada yang lain. Yang lain sangat, sangat terbuka." Ucap Siska malu, dengan wajah bersemu.


"Astaga, perlihatkan dulu padaku, hum? Aku akan menilainya, apakah cocok atau tidak." Ucap Darren, membujuk.


"Tapi, aku benaran mera---"


"Sudahlah, perlihatkan saja. Aku tidak akan mengejekmu, apa yang kau takutkan?" Tanya Darren dengan lembut. Membuat Siska akhirnya mau membuka bathrobe yang menutupi tubuhnya.


Perlahan ia buka, dan ah lihatlah wajah mupeng Darren. Kenapa ia memasang ekspresi begitu di hadapan Siska yang tengah membuka bathrobe? Itu membuatnya tambah malu, oke. Pikir Siska.


"Darren! Kau mau menilai atau melamun? Ah kau menyebalkan, aku berenang pakai kaos saja deh, aku rasa aku benar aku tidak cocok sama sekali memakai bikini ini." Ucap Siska, kembali memakai bathrobe nya, kemudian beranjak, hendak berjalan ke arah koper yang masih terbuka.


Darren menahan tangan Siska, kemudian tersenyum. "Kau cantik, itu sangat bagus, cocok sekali dengan tubuhmu. Lagipula, tubuhmu bagus, sayang. Lalu, aku, a-aku, bisakah kita tidak berenang?" Tanya Darren dengan wajah memerah. "Kita habiskan waktu di kamar saja, bagaimana?" Tanya Darren lagi dengan suara serak.


Siska melebarkan kedua matanya, "K-kau?!" Ucap Siska tertahan, lalu matanya melihat ke arah tubuh bawah Darren. "Tidak mau, nanti ketinggalan matahari terbenamnya!" Pekik Siska, ia melepaskan tangan Darren dan berlari ke arah pintu keluar kamar tersebut.


"Sayang!" Pekik Darren dengan wajah merana. "Ah baiklah, jangan lari, aku tidak akan melakukannya, oke? Ayo, kita ke luar saja." Ajak Darren kemudian, menyerah dan lebih mengabaikan dirinya sendiri.

__ADS_1


*


*


__ADS_2