Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Omelan sang Mama


__ADS_3

*


*


Setelah sampai ke tempat pembuatan SIM, Ergan berturut-turut, 3 kali melakukan kesalahan dalam mengendarai motor ketika percobaannya. Melihat hal tersebut, Siska menghela nafas, pembuatan SIM ini memang gratis, tapi melihat rintangan yang sulit ini, siapa yang bisa lolos?


Yang lolos mungkin bisa terhitung jari, kan? Sisanya mungkin membayar, artinya nembak hanya untuk memiliki SIM. Seperti halnya Siska, dirinya tahu Ergan sudah sangat lancar membawa motor, Karena berkali-kali meminjam motor temannya untuk mengambil barang yang tertinggal di rumah ketika sekolah.


Dirinya juga sempat diboncengi Ergan dulu, sempat ada dua kali masanya ia meminjam motor tetangganya. Dan Erganlah yang mengendarainya. Jadi, Siska ikut nembak untuk mendapat SIM Ergan. Waktu juga sudah berlalu lama.


Hanya butuh 200 ribu untuk mendapat SIM ini, setelahnya hanya menunggu sebentar, baru bisa mendapatkannya. Seraya menunggu keduanya mengobrol hal-hal kecil seperti perlengkapan sekolah apakah sudah selesai, sampai mengobrol tentang bagaimana perkembangan konten yang dibuat oleh Ergan.


Lalu Siska juga menanyakan masalah fee alias gaji dari tutub apakah sudah turun, mengingat jumlah tayangan, like dan subscribernya sudah mencukupi.


Ergan malah tidak tahu menahu, sebab tidak mengeceknya. Hingga akhirnya ia setuju untuk mengeceknya ketika di rumah nanti.


Setelah mengobrol lama, akhirnya SIM yang ditunggu-tunggu pun jadi. Keduanya pun pergi ke dealer motor untuk membeli satu motor keluaran terbaru, yang tentu saja masih matic.


Siska tidak mengedepankan gaya, yang penting motornya nyaman dipakai dan bermanfaat. Punya motor ditahun 2010 an memang tidak dikatakan kaya, tapi syukurnya perjalanan akan menjadi lebih mudah dengan adanya hal ini.


Dengan itu, Ergan juga bisa membawa Geri ketika berangkat dan pulang sekolah. Geri sudah kelas 3 sekolah menengah pertama, dan karena kemarin sekolah di kota sebelah, jadi besok merupakan hari pertama Geri di sekolah barunya. Sama hal nya dengan Siska, Santi juga besok akan pergi bersama Geri untuk mendaftar. Jadi Ergan masih pergi sendiri besok ke sekolahnya, tanpa mengangkut keponakan kecil dan besarnya.


Setelah membeli motor dengan harga 12 jutaan, dan mendapat surat-suratnya, keduanya pun kembali ke kedai dengan mengendarai motor. Ergan terlihat senang, dan Siska hanya tersenyum melihat hal tersebut. Satu persatu, Siska akan membuat keluarganya mendapat senyum yang sama seperti yang Ergan tampilkan hari ini.


"Wah! Motor baru!" Seru Geri, ia adalah orang pertama yang melihat. Kebetulan ia sedang berdiam diri di luar kedai, seraya bermain game online di ponselnya. Oh benar, ia punya ponsel yang dibelikan oleh Ayahnya, Rendra sewaktu ia masih bekerja di kota sebelah.


Meski Geri punya ponsel, tapi ia cukup tahu batasan dalam bermain game. Tidak seperti kebanyakan anak muda yang ada di tahun 2020an , Geri ini tahu waktu, dan tahu batasannya. Jadi, Ibunya pun membiarkannya saja.

__ADS_1


Memang, permainan apa moba apa yang sudah dirilis tahun 2010 an? Ada satu permainan bernama League of Legends (LoL), biasa disebut sebagai League, yaitu video game arena pertempuran online multipemain tahun 2009 yang dikembangkan dan diterbitkan oleh Riot Games. Video game ini, terinspirasi oleh Defense of the Ancients, mod khusus untuk Warcraft III. Pendiri Riot berusaha mengembangkan game yang berdiri sendiri dalam genre yang sama.


Sejak dirilis pada Oktober 2009, League telah bebas dimainkan dan dimonetisasi melalui kustomisasi karakter yang dapat dibeli. Jadi, begitulah ibunya bahkan Siska tahu jika Geri ini suka menghamburkan uang untuk membeli DM, di game. Meski begitu, Geri tidak meminta uang pada ayah atau ibunya. Ia hanya sesekali menyisihkan uang jajannya. Jadi, iapun lagi-lagi tidak dilarang untuk itu.


Mendengar seruan Geri, semua orang yang ada di kedai akhirnya keluar, dan melihat motor dengan tatapan berbinar. Beda halnya dengan Uqi dan Uni yang masih kecil. Uqi terlihat senang dan antusias, tapi Uni masih tidak mengerti itu. Jadi Siska dengan cepat menghampiri Uni dan menggendongnya. Membiarkan semua orang mengagumi motor yang baru saja dibelinya.


Tapi, begitu Siska akan masuk, Ibunya malah datang padanya, dan menjewernya.


"Aaaa mama, ada apa denganmu, sakit, sakit." Seru Siska meringis kesakitan, membuat Uni yang ada digendongannya, bukannya menangis melihat ibunya yang kesakitan, tapi malah tertawa.


"Kau nakal, untuk apa menghamburkan uang membeli motor semahal itu?" Tanya Ibunya mengomel.


"Ma, kita membutuhkannya, tahu. Ayolah Ma, lepaskan dulu telingaku, mari kita bicara baik-baik, oke?" Ucap Siska seraya menatap ibunya dengan tatapan memohon.


"Aish! Anak nakal satu ini! Sudahlah, sudahlah, ayo bicara di dalam. Panggil juga bapakmu!" Ucap Ibunya seraya masuk lebih dulu ke dalam, dengan Omelan yang tidak berhenti.


"Bapak, maafkan aku, tapi Mama sepertinya tidak suka aku membeli motor itu untuk Ergan." Ucap Siska meringis, tak enak dengan ayahnya yang harus siap dijadikan tumbal olehnya.


"Aiya, tidak apa-apa, tenang saja. Biar Bapak yang hadapi mamamu, oke?" Ucap ayahnya seraya menepuk dadanya.


Siska tersenyum sumringah, kemudian mengangguk cepat. "terimakasih, pak. Ayo kita sama-sama hadapi Mama!" Ucap Siska semakin melebarkan senyumnya.


Kemudian ketiganya masuk, tiga karena Uni masih ada di gendongan Siska. Ia tidak bisa ditinggalkan dengan para laki-laki, jadilah dibawa masuk olehnya. Lagipula Uni belum tahu apa-apa, pun Mamanya tidak akan bisa mengomel dengan nada tinggi bukan jika ada Uni disana.


Siapa yang pintar? Tentu saja Siska! Membawa Uni sebagai tameng, dan ayahnya sebagai tumbal. Memang pintar, tapi licik juga iya, kan?


"Duduk!" Desis Ibunya mantap tajam Siska, tapi tak lama karena sadar ada Uni di dekatnya. Ia tidak akan mau membuat cucunya ketakutan sendiri karena ulahnya. Jadi sebisa mungkin menjaga diri.

__ADS_1


Siska yang melihat hal tersebut, tentu saja menjadi senang dalam hatinya. Tapi tidak menunjukkannya terang-terangan, jangan sampai ibunya ini sadar dan malah semakin marah padanya.


Siska duduk di hadapan ibunya, sedangkan Ayahnya juga ada di hadapan ibunya, artinya ada di samping kanan Siska. Dan Uni dalam gendongan di samping kirinya Siska.


"Berapa harga motor yang kau beli?" Tanya ibunya tanpa basa basi.


Siska menelan ludahnya, sebelum berkata dengan gugup, "12 j-juta Ma."


Melihat ibunya melebarkan matanya, Siska semakin meringis dalam hatinya. Betapa menyeramkannya ibu di hadapannya saat ini.


"Kau tahu 12 juta ini uang banyak, Siska? Kau bisa menabungnya untuk Uqi dan Uji kelak. Atau kau juga bisa merenovasi rumahmu sendiri." Omel ibunya mulai meninggikan suaranya.


"Ma, ada Uni, sudahlah. Sepadan, 12 juta ini, membuat kita menjadi lebih mudah kemana-mana." Ucap ayah Siska membela. akhirnya membuka mulut, dan Siska senang atas ini.


"12 juta loh pak! Bisa kan membeli yang bekas saja? Bisa setengah harga." Ucap Ibunya mendelik sinis.


"Yang bekas belum tentu bagus juga. Mending beli sekalian yang baru Ma, gar lebih awet, dan lama." Ucap Ayahnya lagi, membalas.


"Kalian bekerja sama melawanku, ya?" Tanya ibunya sinis.


Glek!


Keduanya kini sama-sama menelan ludah gugup.


*


*

__ADS_1


__ADS_2