
*
*
10 Tahun Kemudian
"ARSENIA MAHARUNI! JANGAN GANGGU ADIKMU!"
Teriakan menggelegar di penjuru rumah, tak lantas membuat Uni berhenti akan kegiatan membuat adiknya menangis. Bukannya takut, ia justru terbahak, karena selain berhasil membuat adiknya menangis, ia juga berhasil membuat ibunya emosi.
"ARSENIA, JIKA KAU TIDAK DATANG SEKARANG, AKU AKAN MENINGGALKANMU!"
Teriakan lainnya terdengar, dan barulah Uni yang masih anteng membuat adiknya menangis, langsung cemas, terburu-buru mencium kedua mata adiknya yang penuh air mata dan berpamitan.
"IBU, AKU BERANGKAT! KAKAK SUDAH MARAH! SAMPAI JUMPA!" Teriak Uni seraya berlari ke halam depan rumah, dimana Uqi sudah duduk dinatas jok motornya dengan tatapan tajam, menatap adiknya yang tersenyum dengan wajah tanpa dosa.
"Tidak ada habisnya! Mau berangkat sekolah saja, masih harus membuat adik menangis. Ah, astaga betapa konyolnya kau." Omel Uqi seraya menyodorkan helm pada Uni.
"Kakak, aku akan merindukannya jika aku tidak mengerjainya di pagi hari. Ah, aku akan tersiksa ketika di sekolah nanti. Jika aku tersiksa, maka pelajaranku tidak akan benar, bukankah begitu?" Ucap Uni dengan raut dibuat-buat.
"Tapi tidak harus membuatnya menangis, tidakkah kasihan pada ibu? Setiap pagi berteriak memarahiku, tenggorokannya akan sakit nanti!" Omelnya lagi.
"Ah baik, baik, kakak paling sayang pada ibu! Hmph, memang kalau soal ibu, kakak akan mendadak cerewet! Coba kalau di sekolah? Astaga, sikapmu sedingin es, brrr! Bahkan aku kedinginan jika berada dekat denganmu di sekolah." Ucap Uni seraya memeluk dirinya sendiri, memeragakan jika dirinya sedang kedinginan.
"Ck, sudahlah cepat naik jika tidak mau terlambat." Decak Uqi akhirnya, tidak mau banyak bicara lagi. Bagaimanapun berdebat, ia tidak akan menang jika orangnya adalah Uni.
Uni tertawa kecil. "Hooo, Arsenio Maharuqi is back!" Tunjuk Uni menggoda Uqi yang menampilkan wajah dingin setelah berdecak sebal.
"Cepat naik!" Titah Uqi menatap tajam Uni, membuat Uni kembali tertawa, kemudian naik ke jok belakang. Tak lupa kedua tangannya dilingkarkan ke perut Uqi. Uqi tersenyum di balik helmnya setelahnya.
"Oh, ya, ngomong-ngomong nanti titipkan pesan pada kak Deraga ya, kak!" Ucap Uni dengan nada riang, membuat Uqi mengendurkan senyumnya, berubah masam.
"Aku sudah bilang, jangan Deraga! Dia saudara kembar Derlania, Uni! Kau tidak akan bisa bersamanya jika aku menikah dengan Derlania kelak!" Ucap Uqi kesal.
__ADS_1
"OH! OH! KAU BAHKAN SUDAH BERPIKIR UNTUK MENIKAH DENGANNYA?! ASTAGA KAU AKHIRNYA MENGAKUI JIKA KAU BUDAK CINTANYA BUKAN?! BERITA BESAR, AKU AKAN MENGUNJUNGI KAK LANIA NANTI!" Teriak Uni heboh. Membuat Uqi meringis, mengatupkan mulutnya dan mengomeli Uni dalam hati. Apapun yang keluar dari mulutnya, pasti akan menjadi masalah yang dibesar-besarkan oleh Uni. Dan Uqi pada akhirnya hanya bisa menghela nafas.
Disisi lain, Siska berjalan cepat dengan membawa sepiring makanan untuk anak bungsunya. Anak dari Darren dan Siska. Adik tiri Uni dan Uqi.
"Huaaaa Mama, Mama, kakak Uni nakal lagi!" Adu anak bungsu Siska, meski ia sudah dicium oleh Uni sebagai permintaan maaf, tapi ia adalah anak yang dimanjakan. Tetap saja mengadu pada Siska akan dilakukan.
"Aduh anak itu! Kemari, sayangnya Mama. Tidak apa-apa, nanti Mama jewer telinga kakak Uni, oke?! Sekarang, Arshaka sarapan dulu, setelah ini Mama antarkan ke sekolah ya?" Bujuk Siska seraya tersenyum lembut.
Panggilan Siska adalah Mama untuk anak bungsu laki-lakinya. Dan ibu untuk Uqi dan Uni. Sedangkan Papa untuk Darren adalah panggilan tetap bagi ketiga anaknya. Meski begitu, Uni seringkali memanggil panggilan yang sama seperti Shaka. Ia akan dengan mudah mengubah panggilan untuk Siska. Hanya Uqi yang bertahan dengan panggilan Ibu disana.
"Huhuhu, tapi minta papa belikan Shaka motor kecil yang bisa Shaka naiki, boleh Ma?" Tanya Shaka pada Siska dengan wajah sembab dan mata berkaca-kaca. Membuat Siska meringis, karena melihat wajah memelas itu, Siska paling tidak bisa menolak keinginannya.
Tapi Shaka sudah punya banyak mainan, baru kemarin Darren membelikannya mobil yang bis ia naiki dan bawa jalan di sekitar halaman rumah. Sekarang minta motor?
"Baik, nanti Mama sampaikan pada Papa, oke? Sekarang makan, jika tidak kita akan terlambat pergi ke sekolah." Ucap Siska kemudian, seraya tersenyum lembut.
Di ibukota, hanya ada Darren, Siska, Uqi, Uni, dan Shaka saja setelah beberapa tahun menetap. Kedua orang tuanya kembali ke desa setelah Siska melahirkan Shaka, dan Shaka berumur sekitar 1 tahun.
Uni dan Uni saat ini berada di jenjang sekolah menengah atas, tentu adalah sekolah internasional yang baru dibangun 10 tahun yang lalu. Keduanya masing-masing ada di kelas 3 dan kelas 1 sekolah menengah atas. Sedangkan Shaka ada di sekolah dasar.
Orang tua Darren, memutuskan kembali ke ibukota setelah tahu Siska hamil dan melahirkan Shaka. Keduanya adalah orang yang paling sering berkunjung ke rumah untuk bermain dengan ke tiga cucunya.
Darren melanjutkan bisnisnya, mengembangkan perusahaan Wistara dari tahun ke tahun. Begitupula Siska, melanjutkan bisnisnya, selain restoran cafe diibukota dan dua kedai di desa dan kabupaten, restoran cafenya telah berkembang ke kota lain dengan membuat 1 cabang di setiap kota di 5 kota yang ia yakini pasarnya bagus. Alhasil, kini uangnya mengalir dengan baik. Selain penghasilan kedai, ada juga biaya bulanan dari Darren.
Semuanya hidup rukun tanpa ada iri dengki dan pertikaian. Meski permasalahan dan kesalah pahaman kecil ada saja, tapi semua itu adalah hal yang mempererat hubungan kekeluargaan kedua keluarga. Setiap kali libur semester, atau hari-hari besar lainnya, semuanya akan berkumpul di rumah Darren dan Siska. Selain perayaan, semuanya sering kali berlibur bersama dengan kapal pesiar dan pesawat pribadi keluarga Wistara.
"Besok kita mau merayakan ulah tahun ke sembilan Shaka, jadi semuanya, mohon kerjasamanya!" Ucap Siska dengan semangat.
Setiap perayaan, banyak orang di rumah, membuat rumah hangat. Juga tidak ada orang lain yang bekerja, hanya keluarga, saling bekerja sama mengurus hal-hal yang dibutuhkan.
Perayaan selalu di adakan secara tertutup. Hanya keluarga besar saja tanpa ada orang luar. Paling-paling, orang luar yang datang adalah teman Uqi dan Uni yang sengaja di undang Uni.
"Papa belum pulang? Kali ini, papa tidak akan datang?" Tanya Shaka pada Siska dengan raut sedih.
__ADS_1
"Aiya! Shaka sayang, coba lihat siapa orang tua yang ada di depan pintu, bukankah itu papa yang jarang pulang?" Ucap Uni, mengambil alih jawaban yang siap Siska berikan.
Membuat Shaka menoleh dan terlihatlah Darren yang merentangkan kedua tangannya dengan senyum lebar. Tapi sebelum Shaka berlari, Uni lebih dulu berlari dan memeluk Darren, kemudian memeletkan lidahnya pada Shaka, membuat Shalat berlari dengan menangis.
Melihat hal itu, semua orang yang sibuk menyiapkan pernak pernik, tertawa dan menggelengkan kepala melihat perilaku kekanak-kanakan Uni.
"Uqi tidak mau memeluk papa juga?" Tanya Darren setelah memeluk Shaka dan Uni di kedua sisinya.
"Tidak, aku memeluk ibu saja." Balas Uqi menyunggingkan senyum dengan sengaja, lalu memeluk Siska yang ada di sampingnya. Memonopolinya.
"Hei! Hei! Hei!" Pekik Darren seraya melebarkan kedua matanya.
Membuat tawa semua orang makin keras. Selain Uni, ada Darren yang kekanak-kanakkan jika masalahnya bersangkut paut dengan Siska.
Dan itulah, suasana hangat yang terpancar setiap kali ada perayaan setiap bulan dan tahunnya.
*
*
...~SELESAI~...
Sampai sini ya semuanya. Maaf banget, kesehatan aku belum bener-bener membaik jadi gaada up beberapa hari kemarin.
Oh ya, makasiii semuanya udah setia baca sampai akhir hehe ❤️. Harusnya ada beberapa bab lagi, tapi aku takut gabisa ngetik banyak-banyak beberapa hari ini.
Jadi dua bab akhir ini adalah obat buat sedih-sedih kemarin ya haha. Maaf nih, ini emang planning dari awal mau ada sedih² dulu sebentar haha. Maaf buat yang gak suka, tapi aku udah janji bakal happy end, And finally!
Terimakasih banyak semuanya. Love banyak-banyak buat kalian yang masih setia baca sampai akhir ❤️
Sampai jumpa lagiiii 🤍
Nb. untuk cerita sebelah maaf belum bisa up dulu ya. Besok di usahain aku up ❤️
__ADS_1