
*
*
Setelah sarapan, besoknya pada pukul 7, Darren dan Siska berpamitan pada orang tua Darren untuk kembali ke rumah Siska. Dan langsung berangkat ke ibukota saat itu juga.
Sepanjang jalan, semuanya merasa senang dan antusias, terlebih Geri karena tidak sabar akan mendaftar di sekolah menengah yang ada di ibukota, meski belum tahu sekolah mana yang akan ditunjukkan Siska, tapi sekolah ibukota tentunya akan sangat bagus, pikirnya.
Ergan sendiri tidak sabar menunggu hasil tes masuk universitas besok. Meski jika diterima ia akan mulai masuk kuliah pada dua bulan ke depan, tapi tidak apa, ia pengangguran kaya. Hanya berbekal rekaman dengan ponselnya saja ia bisa dapat banyak uang.
Apalagi jika membuat konten di ibukota, semua penonton setianya akan sangat antusias, mengingat rumah dan restoran yang sering dikunjunginya dekat. Karena kebanyakan penggemarnya ternyata dari ibukota, alhasil jika tahu Ergan di ibukota, restoran cafe milik Siska akan semakin ramai diisi oleh penggemarnya kelak.
Uqi dan Uni termasuk dua anak yang ikut antusias juga, tapi tidak seantuasias dua lainnya. Karena Uqi sendiri sebetulnya sudah nyaman tinggal di desa, juga ada satu teman di sekolah, yakni Zen. Kali ini ia pindah tanpa memberitahunya, juga tidak meninggalkan surat apapun.
Zen pasti akan sedih, tapi mengingat sifat Uqi mungkin Zen akan maklum? Lagi-lagi tapi, Uqi menyayangkan hal tersebut, Zen adalah teman pertama yang tahu segala kesulitannya. Meski di dorong berulang kali oleh Uqi, Zen lah yang bertahan di sisinya, membuat Uqi sendiri akhirnya menerima kehadirannya disana.
Kini Uqi kehilangan satu teman dekatnya, entah apakah nanti di sekolah baru ia akan dapat menemukan teman seperti Zen? Uqi sedikit khawatir, meski yakin bisa bersekolah dengan tenang. Khawatir tidak diterima dengan baik oleh teman barunya.
Itu hanya pikiran Uqi saja. Siapa yang akan menjauhi anak dari Wistara? Juga, anak dari pemilik rumah terbesar di Turnuksio Residence? Yang harus dikhawatirkan mungkin adalah orang yang hendak memanfaatkannya bukan?
Tapi lain lagi. Uqi tipe anak yang pendiam. Jadi ke depannya, sudah tertebak jika dirinya tidak akan mengunggulkan dirinya sendiri dengan harta orang tua. Ia tidak akan bersikap sombong dengan membeberkan siapa orang tuanya.
Uqi adalah Uqi. Meski tidak menunjukkan harta dan nama, kelak dengan wajah tampan dan sosok pendiamnya, akan banyak orang yang mengagumi dan menjadi salah satu fans nya.
__ADS_1
Sama halnya dengan Ergan dan Geri yang kini punya banyak penggemar, akan menjadi cerita di masa depan Uqi akan menjadi orang yang punya lebih banyak penggemar dibanding Ergan dan Geri.
Untuk Uni, ia antusias setiap hari dan setiap saat. Kapanpun dan dimanapun, asalkan ia ditemani orang terdekatnya. Apalagi kini keluarganya ikut ke ibukota semua. Keantusiasannya bertambah berkali lipat.
Juga jangan lupakan perihal dirinya yang akan dimasukkan ke taman kanak-kanak nanti. Uni juga menjadi tidak sabar untuk segera sampai dan bersekolah. Meski sifat Uni sama pendiamnya jika di luar tanpa kehadiran orang terdekat, tapi ia senang mengakrabkan diri dengan orang lain. Ia lebih mampu mengasah jiwa sosialnya, apalagi sejak Darren hadir. Jadi sifat pendiamnya perlahan hilang.
Berbeda dengan Uqi, sifat pendiam di luar memang tetap ada. Cerewetnya hanya ada ketika ia dengan Siska. Tapi sejak Darren sering berebut Siska dengannya, sifatnya perlahan juga mulai hangat dengan semuanya, lebih berani dan lebih banyak bicara pada orang di rumah. Termasuk pada paman keduanya, Sapta.
Siska jadi tidak memiliki kekhawatiran lebih melihatnya. Senang rasanya melihat sifat ceria kedua anaknya perlahan kembali, meski tidak kembali semua. Tapi ia tetap bersyukur, karena setidaknya keduanya tidak hanya menjadi pendiam di rumah.
Ketika Siska bepergian nanti, ia juga tidak khawatir meninggalkan dua anak bersama kedua orang tua serta paman dan sepupunya. Karena Uqi sudah berani bersuara dan berpendapat. Hal yang tidak ia sukai, selalu ia utarakan sekarang.
Semuanya kembali ke porsi masing-masing, sebelumnya.
Sopir mengemudikan mobil didepan, jadi Siska dan Darren duduk di belakang. Sedangkan Uqi dan Uni juga ada di kursi lainnya di belakang yang sudah dimodifikasi sebagai tempat tidur kedua anak tersebut. Keduanya juga sama-sama tertidur kini. Dengan posisi Uni dalam pelukan kakaknya Uqi. Uqi awalnya menahan Uni agar tidak jatuh, tapi ia juga ikut tidur, alhasil posisinya terlihat gemas di mata Siska kini.
Siska beralih lagi pada Darren, kemudian mengusap pipinya pelan membangunkannya dengan lembut. "Tuan Wistara, bangunlah, kita sudah sampai." Ucap Siska pelan tapi dekat telinga Darren. Membuat Darren menggeliat kecil dan matanya terbuka perlahan.
"Hum? Kau cantik." Adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Darren, membuat pipi Siska bersemu merah.
"Bangun, sayang, ayo cepat, Uni dan Uqi tidur, kau gendong Uqi aku gendong Uni, ya?" Ucap Siska pada Darren, menatap Darren dengan senyum kecil. Tidak malu sama sekali setelah ucapan melantur Darren sebelumnya, karena tahu Darren belum sadar sepenuhnya saat itu.
Darren akhirnya sadar sepenuhnya, karena Siska menarik lengannya membuatnya duduk tegak. Darren tersenyum, kemudian mencuri satu kecupan dari bibir Siska. Membuat Siska memelototinya.
__ADS_1
"Tentu, tentu, aku akan menggendong Uqi. Ugh, kalau saja tanganku bisa mengangkat keduanya, aku tidak akan membiarkanmu menggendong Uni." Ucap Darren, tersenyum dengan mata yang menyipit.
"Aish, dasar! Sudah cepatlah bantu aku pindahkan anak-anak. Kasihan lihat, meski terlihat nyaman tapi itu sempit, Uqi terhimpit Uni." Ucap Siska seraya menunjuk dua anak kecil yang masih tertidur.
Setelahnya, keduanya kemudian beranjak dan masing-masing mengangkat satu anak sesuai yang Siska katakan tadi.
Dalam gendongan Siska, Uni menggeliat kecil tapi ia terlelap lebih nyaman dalam gendongan ibunya. Begitupun Uqi, ia tidak sadar yang menggendongnya Darren, jadi ia yang kini menduselkan kepalanya di leher Darren, mencari kenyaman, kembali terlelap dengan nyaman.
Siska dan Darren yang melihat kedua sifat kakak adik tersebut, saling memandang dan mengulum senyum. Menahan kekehan yang keluar dari mulut masing-masingnya.
Kemudian keduanya kembali melanjutkan langkah kaki dan mengantarnya ke kamar masing-masing. Uni dan Uqi sudah tidur terpisah, meski Uni sering minta tidur dengan Uqi. Tapi keduanya dibiasakan tidur terpisah sejak dini agar tahu batasan, meski keduanya kakak adik.
Siska mendidik keduanya penuh kasih, tapi penuh ketegasan dan disiplin juga. Jadi, ketika keduanya tahu keduanya melakukan kesalahan, Siska tidak perlu susah payah bertanya karena keduanya akan mengakui kesalahan ketika berhadapan dengan Siska.
Meninggalkan Uqi dan Uni yang sudah ditidurkan di kamar masing-masing, Siska kembali ke depan diikuti Darren, kemudian mengambil makanan dari orang suruhan Darren, setelahnya berkumpul di ruang keluarga dengan membuka makanan yang dipesan.
Yang paling senang disini adalah Ergan, si penikmat kuliner.
Semuanya mengobrol seraya memakan makanan tersebut. Juga mengobrolkan masalah perjalanan Siska dan Darren yang akan dilakukan besok.
Untuk urusan pendaftaran sekolah, sudah diserahkan pada Haris dan Sahni. Jadi masalah sekolah Uqi dan Uni oleh Sahni, sedangkan masalah sekolah Geri akan diserahkan pada Haris. Dengan begini, Siska dan Darren bisa bersantai sebelum besok pergi, semuanya bisa quality time sebelum berpisah.
*
__ADS_1
*