Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Sudah Lama Sejak...


__ADS_3

*


*


Pemuda terpelajar yang mendengar gumaman Siska, diam-diam juga terkejut. Tapi lebih memilih diam, dirinya lebih berpikir ke alasan Siska, kenapa dia sampai terlihat sebenci itu pada keluarga yang memang, bisa disebut penjahat ini.


Kemudian setelah selesai urusan tangkap-menangkap, Siska dan kedua laki-laki di sampingnya berbalik pergi meninggalkan kerusuhan yang masih ditangani. Sedangkan pemuda terpelajar yang ada di samping Siska sebelumnya, dalam diam menatap punggung Siska yang mulai menjauh dengan tatapan yang sulit di artikan.


Dan Siska kini tersenyum senang, begitu melihat ponsel yang disodorkan Ergan padanya, ketiganya baru saja berjalan meninggalkan rumah bibi Darmi. Siska diapit oleh adik dan Ayahnya.


"Nak, ketahui batas-batasnya. Jangan berlebihan." Ucap Ayahnya tiba-tiba, membuat Siska menatapnya dengan senyuman kecil.


"Bapak, tenang saja. Rusdi memang sudah lama melecehkan banyak perempuan. Aku hanya membuatnya jera saja. Tenanglah, aku tahu batasnya." Ucap Siska, menganggukkan kepalanya dengan antusias.


"Yasudah..." Balas Ayahnya pasrah saja.


Siska menganggukkan kepalanya, kemudian ia beralih pada Ergan. "Nanti kita edit dulu bagian ini, hilangkan. Juga ini, ini, dan ah ini! Lalu blurkan wajah orang-orang yang terlihat divideo kecuali Rusdi. Oke?" Ucap Siska memperlihatkan bagian-bagian video yang memang menurutnya tidak perlu di upload. "Ah, kau download aplikasi burung biru nanti. Buat akun, lalu posting video ini. Tambahkan Tagar yang sedang populer di aplikasinya. Jadi, semua orang bisa melihatnya. Nah, posting setengahnya saja. Sisanya kau buat akun di tutub, lalu publikasikan sisanya disana. Paham?!" Jelas Siska panjang lebar.


"Aiya, kak. Bicaramu terlalu cepat! Aku bingung, nanti saja di rumah jelaskan pelan-pelan seraya praktekkan." Ucap Ergan mengibaskan tangannya, menyerah untuk mendengarkan ucapan Siska yang secepat kereta.


"Dasar kau ini, yasudah. Ayo cepat, kita harus cepat sampai dan upload videonya." Ucap Siska seraya menarik Ergan, tapi ditepisnya.


"Ada Bapak, kak. Kau ini, sadarlah! Jangan tidak sabaran, ingat kau sudah punya dua anak." Cibir Ergan, mengingatkan Siska.


Siska akhirnya menghela nafas, menyerah. Kemudian beralih ke sisi kiri Ayahnya, sehingga kini Ayahnya yang di apit oleh Ergan dan Siska. "Bapak, ayo jalan bersama Siska." Bisiknya kemudian menggandeng lengan Ayahnya.


"Bisik-bisik apa, Pak, kak Siska?" Tanya Ergan penasaran.


"Dilarang mencari tahu!" Ucap Siska seraya menyilangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Dasar pelit!" Cibir Ergan, seraya mendelikkan kedua matanya kesal.


Sedangkan sang ayah hanya menggelengkan kepalanya maklum, tapi diam-diam juga merasa senang, sudah berapa lama sejak Siska, Ergan, dan dirinya bercanda seperti ini. Sudah lama sekali. Diam-diam juga merasa bersyukur atas kembalinya Siska ke rumah, dan kembalinya sifat dan sikap ceria Siska.


Sesampainya di rumah, Siska dengan cepat menunjukkan cara pengaplikasian aplikasi pada Ergan, agar ia mengerti. Untungnya, Ergan pintar dan cepat paham. Jadi Siska dengan mudah menjelaskan tanpa ada unsur emosi.


"Bagus! Sekarang sudah dipublikasikan. Tinggalkan itu, tunggu besok dan lihat reaksi warga aplikasi burung biru ini." Ucap Siska setelah berkutat dengan ponsel selama satu jam-an bersama Ergan.


"Mbuuuu."


"Aiyooo, anakku yang cantik sudah bangun?" Tanya Siska pada Uni seraya mengangkat dan menggendongnya.


"Sudah dari tadi, kak, kau saja yang tidak perhatikan. Ibu macam apa kau ini?!" Cibir Ergan, seketika mendapat delikan sinis dari Siska.


Siska kan hanya basa-basi saja. Ia juga tahu jika Uqi dan Uni sudah bangun sedari ketiganya pulang. Hanya saja, tadi Uqi dan Uni fokus pada tontonan televisi. Jadi Siska dengan aman menjelaskan pengaplikasian pada Ergan.


"Berisik, sana pergi." Ucap Siska seraya mengibaskan tangannya, mengusir Ergan.


Siska tertawa kecil, "Ibu habis melihat tikus besar, tadi. Lalu menangkapnya. Sekarang tikusnya sudah dikurung." Jelas Siska.


"Besal? iiii tidak muuuu, tidak muuu, niii kuutt" Seru Uni seraya menelusup kan kepalanya ke leher Siska, membuat Siska semakin tertawa gemas melihat tingkahnya ini.


"Tidak apa-apa, tikusnya sudah ditangkap dan dikurung, jadi tidak akan menggigit Uni." Ucap Siska seraya mengelus punggungnya.


Uni mengangkat kepalanya kembali, lalu menatap Siska dengan mata bulatnya. "Benal?" Tanya Uni dengan wajah polos.


Siska ingin menangis mihatnya, tidak tahan ingin menggigit pipi gembul anaknya. "Benar, sayang. Ada ibu juga disini, Uni tidak perlu takut. Oke?" Ucap Siska dengan nada ceria.


"Ote!" Seru Uni kemudian memeluk leher Siska.

__ADS_1


"Kakak Uqi mana, sayang?" Tanya Siska.


"Denan nenek." Balas Uni.


"Oh! Baiklah, ayo kita susul kakak!" Seru Siska seraya berjalan, sesekali bercanda dengan Uni, membuatnya tergelak lucu.


Sampai di ruang tengah, ia melihat kakaknya ternyata sudah sadarkan diri. Membuatnya dengan cepat menghampiri kakak keduanya itu. Dan Uni turun dari gendongan Siska, menghampiri Uqi yang terlihat ada di dapur bersama kakek dan neneknya.


"Kakak, bagaimana keadaanmu?" Tanya Siska langsung. "Kakak ipar, bagaimana? Apa kata dokter?" Tanya Siska beralih pada Putri yang baru saja datang dari dapur dengan gelas berisi air hangat ditangannya. Tanpa menunggu jawaban dari kakak keduanya, Sapta.


"Kakakmu ini bahkan belum menjawabnya, kau sudah beralih pada kakak iparmu. Dasar anak kecil." Ucap Sapta seraya menggelengkan kepalanya.


Siska tersenyum malu. Ia menggosok hidungnya sekali. "Baiklah, kakak kedua, bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit? Ah maksudku yang sakitnya sangat sakit, bukan bekas pukulan ini, ini, dan ini." Tanya Siska, seraya menunjuk beberapa luka memar bekas pukulan.


"Istriku, kau saja yang jawab. Malas meladeni Siska, masa bertanya seperti itu padaku." Adu Sapta pada Putri. Membuat Putri tertawa kecil.


"Kalian Kakak adik ini sama saja, sama-sama anak kecil." Ucap Putri tersenyum. "Tidak ada yang serius, semuanya baik-baik saja. Hanya saja, Dokter menyuruh kakakmu untuk periksa kepalanya lagi dua Minggu kemudian." Jelas Putri.


Siska menghela nafas lega. "Syukurlah kalau baik-baik saja, aku tadi takut sekali kakak bodohku ini semakin bodoh setelah dipukuli." Cibir Siska seraya lari dari kakaknya, karena tahu kebiasaan kakaknya yang akan menggelitiknya jika dia kesal.


"SISKA! Aku kira setelah kau menjadi ibu, sifat tengilmu akan hilang. Tapi ternyata tidak! Astaga!" Ucap Sapta dengan nafas terengah menahan kekesalannya.


Siska tertawa lebar, pun dengan Putri yang ikut-ikutan tertawa. Sudah lama sejak Putri melihat suaminya begitu bersemangat. Terimakasih pada Siska karena kembali memperlihatkan sifat suaminya yang satu ini.


"Haha, kau masih pemarah! Kakak ipar, kenapa kau mau menikah dengan si pemarah ini, sih? Matamu baik-baik saja, kan?!" Tanya Siska mengejek Sapta lagi.


"Aiya, istriku, lihat aku ditindas kenapa tidak cepat-cepat bela aku?" Keluh Sapta seraya memeluk Putri dari samping dengan wajah dibuat menyedihkan.


"Malas meladeni sifat manjamu!" Desis Siska seraya mendelik, kemudian berlalu, meninggalkan pasangan di depannya, menuju dapur, berniat membantu ibunya yang sedang masak untuk makan malam.

__ADS_1


*


*


__ADS_2