
*
*
Sepeninggal kedua kakak, kedua kakak ipar, satu adik, dan 2 keponakan yang masing-masing pergi ke kedai, juga ke sekolah. Sedangkan Ayah dan ibunya masih ada di rumah, Ayahnya menemani Siska dan ibunya berniat pergi ke kedai ketika waktunya kedai buka nanti.
Siska sendiri tentu saja menjaga Uqi yang masih sakit, juga Uni sibungsu yang sama-sama diam di rumah menemani kakaknya.
Uqi kini sedang menonton televisi, meski sudah meminum obat, tapi biasanya jika pagi begini, obatnya akan bekerja lebih lambat, karena mungkin Uqi juga baru bangun setelah tidur tadi malam. Jam efektifnya biasanya pukul 9 atau 10 pagi.
Tapi karena Uni baru bangun, jadi Siska harus memandikan Uni lebih dulu, baru setelahnya memberinya sarapan. Uqi ditemani kakeknya di ruang keluarga, jadi Siska tidak terburu-buru memandikan Uni.
Setelah selesai, Siska membawa Uni kembali ke ruang keluarga, dan didiamkan menonton televisi dengan Uqi.
"Bapak, bukankah bapak mau mencari teman untuk menjaga Siska? Apa sudah dapat? Bapak menghubungi teman lewat ponsel?" Tanya Siska membuka pembicaraan.
"Tenang saja, bapak sudah punya kandidat yang cocok. Tidak perlu khawatir, oke? Nanti siang dia datang kemari, kok." Balas ayahnya santai.
Siska menganggukkan kepalanya saja. Kemudian fokusnya teralih pada ponsel. Melihat tanggal di ponsel, sudah seminggu berlalu, dan seminggu tersisa untuk dirinya menyiapkan semua pesanan bu Wasilah.
Kemudian teringat akan kantong yang akan digunakan untuk wadah makanan yang dipesan. Ia sudah punya gambaran sendiri, jadi tinggal merealisasikannya saja. Paperbag dengan mika di depannya, menjadi pilihannya. Dipaperbag langsung dilubangi atasnya sebagai pegangan, juga ditambah mika di depan agar isian dalam kantong terlihat.
Lalu nanti tinggal ditambahkan warna-warna agar paoerbag nya menjadi lebih menarik dilihat. Siska memikirkan warna biru muda, tapi lihat nanti saja, mungkin ia juga masih harus berunding dengan Bu Wasilahnya.
__ADS_1
Dan Siska juga masih harus mencari tempat pembuatan paperbagnya. Jadi, masih harus keluar rumah, kan?
Siska menghela nafas, ia tidak mau meninggalkan Uqi. Tapi jika begini, ah tapi ia kemudian ingat, ada Baron yang selalu tahu dan membantu.
Jadilah Siska kini bertanya pada Baron perihal tempat pembuatan paperbag, dengan mengirimkan foto paper bag yang diinginkannya, tentu dengan warna yang bisa dipesan.
Sebelum mendapat balasan dari Baron, Siska kemudian juga menghubungi Bu Wasilahewat aplikasi chatting di ponselnya. Kebetulan kartu nama Bu Wasilah masih ada di dirinya, jadi ia bisa langsung menghubunginya lewat ponsel.
Isinya, sama-sama menanyakan perihal paper bag yang akan dipakai nanti. Siska juga mengirimkan fotonya pada Bu Wasilah. Bu Wasilah kemudian membalas tak lama kemudian, dan ia setuju dengan paper bagnya. Tapi sesuai yang Siska pikirkan, beliau juga mau paper bag nya ditambah sedikit warna agar lebih hidup. Alhasil, biru muda jatuh pada hasil akhir pilihannya.
Begitu saja, sampai Baron juga membalas tak lama dari Siska menyelesaikan diskusi dengan Bu Wasilah. Kabar baik yang diterima, karena Baron tahu tempat pembuatannya.
Siska bahkan berdecak kagum. Baron ini, koneksinya bukan main. Ia bahkan kenal dengan orang yang bisa membuatkannya paper bag dengan request an warna dan bentuk.
Hasil akhir, karena Siska tidak bisa meninggalkan rumah, jadi Baron mengirimkan nomor orang yang bisa membuatkannya paper bag. Jadi Siska langsung menghubunginya hari itu juga.
Siska membutuhkan sekitar 1500 paper bag. Pesanan Bu Wasilah adalah 3000. Yakni 2000 cireng dan 1000 cirambay. Lalu minuman tambahan sebanyak 3000 sebagai bonus, tapi bukan bonus karena itu juga dibayar oleh Bu Wasilah. Mengikuti Cirambay, paper bag yang dibutuhkan sekitar 1000, sengaja Siska lebihkan 500, ditakutkan ada beberapa kolega yang mau membawa pulang lebih banyak paper bag. Nantinya, Siska juga akan melebihkan produk cirambay 500 dan cireng 1000.
Lagipula, bayaran yang diberikan Bu Wasilah nantinya adalah 40 juta secara keseluruhan. 20 juta bahkan sudah diterima Siska sebagai uang muka. Dan 20.juta terakhir akan diterimanya setelah pengiriman barang terakhir. Anggap saja, juga sebagai ajang promosi pada kolega Bu Wasilah, siapa tahu selain dari Bu Wasilah, ia juga bisa mendapat pesanan borongan dari yang lainnya.
Setelah mengatakan 1500 paper bag dibutuhkan, Siska dan orang yang sanggup membuatnya kemudian melakukan transaksi yang lebih jelas nanti. Dan mengharuskan keduanya bertemu.
Tapi karena dirinya tidak bisa meninggalkan rumah, otomatis Siska menyuruh orang ini untuk datang saja ke rumahnya. Alhasil ia setuju dan besok orang ini akan datang untuk melakukan transaksi lebih lanjut, seraya membawa contoh paper bag yang sudah dibuat. Ya, dia akan membuatkan satu contoh hari ini untuk Siska, yang lengkap dengan dekorasi dan warna.
Tapi satu jam kemudian, orang yang membuat paper bag kembali menghubungi Siska dan membuat penawaran dengan Siska. Orang tersebut juga mengirimkan dua foto paper bag pada Siska.
__ADS_1
Yang satu paperbag windows yang pesanan Siska tadi tapi sudah didekor ulang agar tidak terlalu polos, dan satu lagi adalah paper bag dengan warna.
Siska membalas ingin paperbag pertama tapi dengan Warna, hanya saja, kata pembuat paper bag, paper yang dipakai untuk yang berwarna beda, bahannya lebih tipis dan ditempeli mika akan gampang terlepas.
Alhasil, Siska kembali menghubungi Bu Wasilah. Ia mengirimkan juga foto serta penjelasan dari pembuat paper bag. Dan pilihannya jatuh pada paper bag coklat dengan pita yang pertama. Meski polos, tapi terlihat elegan.
Siska kemudian kembali mengabari pembuat paper bag. Untuk memilih paper bag yang pertama sebagai final pesanannya. Tapi meski begitu, besok pembuat paper bag harus tetap datang ke rumahnya dan memperlihatkan bahan aslinya, sekalian transaksinya.
Setelah selesai, Siska kemudian meregangkan bahunya. Dua jam ada Siska berkutat dengan ponselnya, Ayahnya bahkan sampai menggelengkan kepalanya melihatnya. Tapi untungnya Uqi sudah tidur dan Uni anteng dengan tontonan juga camilannya.
"Sedang mengerjakan apa?" Tanya Ayahnya.
"Ah? Oh ini, memesan tas untuk bungkusan pesanan borongan dari bu Wasilah. Besok kami akan bertemu orang yang membuat tasnya, karena aku tidak bisa meninggalkan Uqi, jadi ia akan datang kemari seraya menunjukkan contoh bahannya." Jelas Siska membuat Ayahnya mengangguk paham.
"Begitu, ngomong-ngomong tamu bapak sepertinya sudah di depan. Kau bukakanlah pintu. Barusan dia menghubungi bapak lewat ponsel mamamu." Ucap Ayahnya kemudian, membuat Siska beranjak.
Ayahnya tidak membukakan pintu sendiri, mungkin saja pinggangnya sedang sakit lagi, jadi iapun tidak banyak berpikir, langsung pergi ke depan untuk membukakan pintu.
Begitu sampai di depan dan pintu terbuka, Siska terbelalak, "DARREN? K-kau?!" Pekik Siska.
*
__ADS_1
*