
*
*
Begitu semua pelanggan ini masuk, berbondong-bondong memilih tempat yang ada di luar kedai. Para pelajar lebih memilih temoat duduk outdoor dibanding dengan indoor. Mungkin karena semuanya pulang sekolah, butuh angin segar dan butuh tempat foto yang bagus.
Tempat duduk di lyar seketika penuh, adapun yang tidak kebagian tempat duduk mau tidak mau merekapun masuk. Tapi siapa sangka, di dalam juga ternyata sama bagusnya. Jadi semuanya tidak kecewa meski tidak kebagian tempat duduk di dalam.
Sementara itu, ketiga pelayan kembali dengan sigap membagikan menu, kertas pemesanan dan pulpen pada setiap meja seraya menjelaskan sistem pemesanannya.
Ketiga pelayan terlihat sangat kelelahan mondar mandir, membuat Siska turun tangan ikut membagikan menu juga kdrtas dan pulpen. Karena sementara belum ada pesanan yang masuk dengan banyak.
Setelah membagikan, Siska kembali ke dapur, setelah sebelumnya menepuk pundak Sapta, menyuruhnya bersiap, dengan senyum jahil yang membuat Sapta menghela nafas. Tentulah, ia dan para pelayan yang paling lelah sepertinya. Harus bolak balik mengantarkan pesanan, baik kertas, maupun makanan dan minuman jadinya.
"Kakak pertama, menurutmu kenapa para pelajar ini bukannya pulang malah datang ke kedai kita? Juga, merrka banyak uang, ya? Lihat ini, pesanan-pesanan ini menakjubkan untuk ukuran seorang pelahar." Ucap Sapta seraya menunjukkan satu kertas pesanan pada Rendra.
"Kau tahu apa? Kita orang tidak mampu, tentulah tidak bisa melakukan hal yang sama seperti mereka. Apa kau lupa, jika sekolah di sekitar sini merupakan sekolah elit semua? Rata-rata adalah anak orang berada. Gedung sekolahnya saja sampai ada yang lima lantai. Kau bayangkan saja uang sekolah tahunan disini ada yang sampai puluhan juta satu semesternya. Bekal 100 ribu sehari, mungkin hanya beberapa orang yang diberi uang saku kecil begitu, sisanya bisa lebih besar." Jelas Rendra panjang lebar. Sapta ini memang tidak berpikir panjang, jadi harus diberi tahu secara rinci setiap kalinya.
"Ah aku ingat, bukankah adik keempat, Ergan juga sekolah di sekolah lumayan elit? Uang semesternya 7 jutaan bukan? Untungnya dia dapat beasiswa, ya?" Ucap Sapta sumringah.
"Hei, kakak kedua, mana kertas pesanannya? Apa yang kau lakukan disana? Cepatlah, banyak pelanggan yang mengantri!" Seru Siska kesal, karena Sapta malah mengobrol dengan kakak pertamanya. Padahal di depannya, kertas pesanan sudah menumpuk.
__ADS_1
Jika menumpuk begini, siapa yang kerepotan? Tentu saja bagian dapur dan ketiga pelayan yang mengharuskan ketiganya mengambil makanan jadi, untuk diantarkan pada setiap meja.
Sapta yang ditegur, dengan cepat mengambil semua kertas pesanan dan berlari ke arah dapur. Membuat Rendra tertawa kecil, dia adalah seorang kakak, tapi terlihat takut oleh seruan kesal adiknya.
Kemudian semuanya kembali sibuk, terlebih bagian dapur. Karena Cireng dan Cirambay telah habis, jadi yang tersisa adalah seblak, cilok ayam suwir, juga Sosis dan Bakso bakar.
Siska seperti biasa, kebagian memasak seblak. Putri yang awalnya kebagian di tempat bakar membakar, pindah menjadi bagian memasak cilok ayam suwir, bergantian dengan Santi yang pindah ke tempat bakar membakar. Lalu ibunya, yang tidak mau disuruh beristirahat, kebagian membuat minuman. Sesekali juga dibantu oleh Putri, karena yang memesan cilok ayam suwir tidak sebanyak seblak dan Sosis, Bakso bakar.
Begitulah, semua membagi tugas dengan baik, dan dengan pengertian saling membantu jika dirinya sudah tidak ada pekerjaan. Seperti Sapta, tidak ada lagi yang memberinya kertas pesanan, jadilah ia membantu ketiga pelayan, sama-sama mengambil makanan jadi, mengantarkannya ke setiap meja.
Setiap meja ada nomornya, jadi begitu pesanan siap, para pelayan tidak akan salah mengantarkan pesanan. Meski begitu, ada saja para pelanggan yang suka lupa menuliskan nomor mejanya, membuat para pelayan harus meneriakkan pesanan yang harus diantarkannya tersebut.
Sampai pukul setengah 4, pelanggan yang datang malah makin ramai saja. Membuat semuanya memasang ekspresi tidak percaya. Karena semakin sore, pelanggan malah semakin banyak yang datang.
Setelah pulang, karena pelanggan masih banyak, jadi Ergan pun turun tangan, ia membantu ketiga temannya melayani pelanggan. Pun dengan Deri, yang awalnya ingin melihat kedai, takutnya tidak ramai, sampai ia membawa teman-temab sekolahnya agar mau makan di kedai Tasty Treats milik kakak Ergan.
Tapi siapa sangka? Begitu datang, kedai telah terisi penuh. Membuat teman-teman Deri dan Ergan, mau tak mau harus menunggu, tapi Ergan sengaja menyuruh semuanya menunggu di atas, bersama Ayah dan dua keponakannya. Teman-temannya yang sudah mulai percaya pada Ergan, pun, tidak keberatan.
Sampai waktu menunjukkan pukul 5 sore, ada beberapa meja yang kosong, yang langsung Ergan beri tanda jika di meja tersebut ada penghuninya. Sementara itu, Deri memanggil teman-temannya yang sedang bercanda ria dengan Ayah dan dua keponakan Ergan agar turun ke bawah dan menempati meja yang sudah kosong.
Semuanya pun turun dengan cepat, karena pelanggan masih berdatangan, jadi mereka tidak mau merelakan mejanya lagi. Teman-temannya memesan meja di bagian luar awalnya, tapi yang ada hanya meja di bagian dalam.
__ADS_1
Semuanya tidak kecewa, karena di luar maupun di dalam sama saja, sama-sama bagus untuk berfoto. Malah lebih bagus di dalam karena ada lampu-lampu aesthetic yang terpajang.
Sementara ketiga pelayan melayani krang-orang di luar, Ergan yang membantu, melayani teman-temannya, ia memberikan menu, kertas juga pulpen, serta memberitahu cara pemesanannya. Tidak lupa memberi tahu jika cireng dan cirambay telah habis lebih dulu.
Seraya menunggu pesanan temannya, Ergan beralih pada pelanggan lain yang memanggilnya. Ergan menghampiri meja mereka, tapi hei, apa-apaan ini? Ergab kira mereka akan memesan, tapi ia salah. Mereka mengajak Ergan berfoto.
Fans Ergan. Jika Ergan ingat-ingat, mereka ini memang fans wanitanya yang beberapa waktu lalu meminta foto, ketika kakaknya masih buka di kios kecil di samping toko bos Baron.
Teman-teman Ergan, melihat hal tersebut, langsung berseru heboh, apalagi Ergan terlihat ditarik untuk berfoto berdua, dengan keempat gadis tersebut. Jadi bergantian, mengambil foto berdua.
Deri bahkan tertawa melihat hal tersebut. Ia sudah banyak tahu, Ergan sudah menjadi seleb tutub sekarang. Jadi tidak terkejut dan heboh seperti teman-temannya.
Rendra yang bekerja santai juga tersenyum senang melihat Ergan, teman-temannya juga menerima Ergan dengan baik kali ini. Berbeda dengan Sapta, tidak sempat ia melihat Ergan. Sibuk bolak-balik mengantarkan kertas pesanan ke dapur.
Karena semakin sore, pelanggan yang datang pun lebih banyak lagi. Siska terkejut karena tidak mebgira akan ada gelombang ketiga. Tapi setelah tahu jika Ergan kemarin malam memposting konten kedai Tasty Treats yang baru dibuka, ia pun tidak lagi kebingungan.
Malah menghela nafas lelah, pantas saja pelanggan yang datang lebih banyak dari perkiraannya. Siska memperkirakan, pelanggan yang datang paling banyak sekitar 600-700 an saja, itupun pelanggan tetap mereka sewaktu di kios, tapi kenyataannya yang datang bahkan lebih dari 1000 an pelanggan, tentu saja ia panik juga bertanya-tanya ada apa dengan kedainya, tapi ternyata, kebanyakan mereka tahu dari konten tutub Ergan.
Kontennya menjadi populer, karena kedainya terlihat unik dan beda dari yang lain. Membuat daya tarik sendiri bagi para penonton kontennya. Berakhirlah dengan diserbunya kedai Tasty Treats.
"Oh sial, akhirnya sudah tutup! Ah, aku lelah sekali, aku ingin pingsan." Keluh Sapta setelah pelanggan terakhir pergi. Ia langsung duduk di kursi dan menaruh kepalanya di atas meja, dengan mata terpejam.
__ADS_1
*
*