Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Memutuskan


__ADS_3

*


*


"Siska. Mari bicara serius." Ucap Darren seraya menahan lengan Siska, membuat Siska berbalik dan menatap raut serius dan mata hitam yang terlihat jernih milik Darren.


"Memangnya sedari tadi kau pikir aku tidak serius?", Tanya Siska mencoba bercanda. Tapi kemudian ia menjadi canggung, Darren benar-benar serius kali ini. Matanya menunjukkan keseriusan yang tidak biasa.


"Siska... Mari dengarkan aku. Jangan menyela, hanya dengarkan." Ucap Darren lembut, kemudian membuat Siska duduk kembali di kursinya, sedangkan ia duduk di bawah di lantai, tepat di hadapan Siska.


"A-ada apa sih?" Tanya Siska gugup, suasananya berubah aneh, ia tidak nyaman, tapi ia malah menantikan ucapan yang akan keluar dari mulut Darren. Ia menunggunya.


"Siska, aku bingung sebetulnya mau mulai dari yang mana. Tapi, mungkin kau juga sudah jelas dengan sikap dan perilakuku kan? Pagi ini, aku juga sudah bicara, tapi jawabanmu membuatku kecewa. Jadi, begini saja." Ucap Darren, sebelum melanjutkan ucapannya, ia langsung memejamkan mata, kemudian menghela nafas, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.


"Aku benar-benar serius padamu. Perasaanku, benar-benar nyata adanya. Aku ingin menjaga dan melindungimu. Tapi aku rasa kau masih ragu, bukan? Aku tahu, mungkin aku terlalu cepat datang bagimu yang baru saja selesai dengan masa lalu. Belum genap 6 bulan sejak kau selesai. Tapi, bagiku yang sudah menunggumu bertahun-tahun, ini waktu yang tepat. Aku merasa, aku tidak bisa menunggu lagi untuk tidak mendekatimu setelah melihatmu tersiksa dengan masa lalumu. Jadi, aku memberanikan diri waktu itu. Sampai saat ini, aku tidak ada niatan sedikitpun untuk meninggalkanmu. Tapi, jika kau keberatan aku ada disini, aku bisa apa bukan? Kau juga punya hak untuk mengusirku." Jelas Darren, tatapan matanya tidak pernah melihat hal lain kecuali mata Siska. Lembut dan sendu, Siska bahkan bisa melihat jika Darren sedikit lelah? Mungkin.


"Setelah pendekatanku selama beberapa bulan ini, kau masih menganggap ku orang asing. Aku terpukul mendengarnya, tapi aku tidak bisa pergi, meski kau mengataiku pagi ini. Seolah ada yang menahanku, hatiku melarangku pergi, pun dengan diriku, karena selama bertahun-tahun menjadi orang asing kini aku sudah bisa dekat denganmu, meski menurutmu tidak tapi setidaknya ya untukku. Ini merupakan pencapaian terbesar." Ucapnya lagi.


Darren Manarik nafas dalam, menatap Siska lebih intens. "Lalu aku sadar, aku tidak bisa memaksakan kehendak orang. Aku suka tapi kau tidak suka, ini tidak benar, kan? Jadi, kali ini, aku akan menyelesaikannya. Mari selesaikan begini saja. Aku tidak akan mengganggumu lagi, aku akan pergi---"


Hmpp!


Darren tidak melanjutkan perkataannya, tapi melebarkan kedua matanya.


Siska memotong perkataannya, dan membungkam Darren dengan bibirnya. Tidak lama, Siska melepaskan bungkamannya, dan Darren terdiam dengan keterkejutannya.

__ADS_1


"Tidak, jangan katakan itu." Lirih Siska menatap Darren dengan sendu. "Aku salah, maaf, seharusnya aku tidak berkata begitu tadi pagi. Aku, sebetulnya tidak sengaja, aku terbawa emosi..." Cicit Siska. "Aku juga bingung. Tapi, aku tidak mau kau pergi. Jika aku memintamu tetap tinggal, apakah kau mau?" Tanya Siska. "Aku, aku, bagaimana dengan Uni dan Uqi jika kau benaran pergi? Bagaimana dengan Bapak dan Mama? Bagaimana dengan... aku?" Lanjut Siska, semakin lirih nada suaranya.


Mendengar ucapan Siska, Darren yang sudah sadar dari keterkejutan, sedikit bingung awalanya, tapi mendengar perkataan terakhirnya, ia kemudian tersenyum tertahan dengan raut ekhem, bisa dikatakan senang.


"Siska, aku bilang, aku tidak akan mengganggumu dan akan pergi selama 1 Minggu. Aku ada pertemuan di negara tetangga selama itu." Ucap Darren kemudian.


Siska yang menunduk sendu, langsung tersentak. Apa katanya? Jadi, jadi, Darren bukan pergi untuk meninggalkannya selamanya? Betapa bodohnya! "Kau mempermainkan ku?!" Pekik Siska marah.


"Apa? Tidak!" Bela Darren.


"Lalu apa maksudmu dengan mengatakan hal-hal menyebalkan sebelumnya?! KATAKAN!" Pekik Siska makin marah.


"Siska, aku, dari awal aku sudah mengatakan jangan menyelaku bukan?" Ucap Darren.


"Jadi maksudmu, ini salahku?! Aku yang salah, begitu?!" Tanya Siska kesal.


Siska mendengus kesal, kemudian membuang muka, meski kedua tangan Darren menggenggam kedua tangannya.


"Aku sengaja mengungkit semuanya, selain pergi ke pertemuan, Siska, aku ingin kau juga merenungkan perasaanmu tentang kehadiranku. Renungkan apa arti diriku bagimu. Apa kau benar-benar tidak ada perasaan atau sebaliknya, setelah 1 Minggu aku akan menagih jawaban darimu. Lalu setelah aku tahu jawabanmu, aku akan mengambil keputusan disana. Jika kau memang tidak ada rasa, aku akan benar-benar pergi, tidak akan menganggumu lagi nantinya." Jelas Darren dalam satu tarikan nafas. Ini yang mau ia jelaskan pada akhir kata yang Siska potong sebelumnya.


"Tapi, setelah melihat sikapmu barusan, sepertinya tidak perlu menunggu 1 Minggu untuk aku memutuskan semuanya." Lanjut Darren seraya tersenyum, sampai kedua matanya menyipit.


"Menyebalkan!" Desis Siska kesal. Ia hendak berdiri, tapi Darren lagi, dan lagi menahannya untuk tidak pergi. Membuat Siska menghela nafas. "Apalagi?" Tanya Siska kesal.


"Aku sudah memutuskan, aku akan menjaga, melindungi, dan menyayangimu! Termasuk keluarga, dan anak-anak. Tapi, bagaimana denganmu? Aku ingin dengar langsung bagaimana keputusanmu?" Ucap Darren. Keduanya sudah berdiri, dan saling berhadapan.

__ADS_1


"Jangan kekanak-kanakkan. Kau sudah cukup dewasa dan mengerti cara mengartikan apa yang aku maksud." Balas Siska seraya memutar kedua bola matanya malas. Kedua tangannya bahkan sudah bersedekap di dada.


"Tidak! Aku ingin kejelasan." Tolak Darren seraya menggelengkan kepalanya.


"Tidak mau." Siska ikut menolak.


"CK, katakan atau aku tidak akan membiarkanmu keluar!" Desak Darren.


"Darren...." Panggil Siska penuh penekanan.


"Hmm?" Tanya Darren tersenyum.


"Jangan main-main denganku!" Desis Siska.


"Seharusnya aku yang mengatakan itu, jangan main-main denganku! Oke? Aku benar-benar ingin mendengarnya. Ayolah, sekali saja. Aku ingin yang sejelas-jelasnya. Jika tidak, biarlah aku pergi saja, kau mungkin memang tidak menginginkan aku---"


Cup!


Siska kembali membungkam Darren, ia bahkan berjinjit untuk meraih bibirnya. Mengecup sekilas, kemudian berkata, "Aku ingin kau tetap ada disisiku, menjagaku, melindungi, dan menyayangiku. Puas?!" Tanya Siska.


Darren melebarkan senyumnya. Kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Siska. "Sangat puas." Bisik Darren. Kemudian dengan cepat tangannya menahan tengkuk Siska agar tidak mundur. Gantian, Darren yang mencium Siska saat ini.


Darren menempelkan bibirnya selama beberapa detik, tapi setelah tidak melihat penolakan, Darren kemudian menggerakkan bibirnya, intens. Dengan memejamkan kedua mata, baik Darren maupun Siska, sama-sama menikmatinya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2