Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Renov ulang Kedai


__ADS_3

*


*


Melihat Mamanya siap melesak, Siska dengan sigap mengeluarkan tumpukan uang dan menyimpannya di meja.


"Apa maksudmu, mau menyogok mamamu sendiri, HM?" Tanya Ibunya mendelik. Tapi tak ayal ia sesekali melirik uang yang ada di atas meja.


"T-tidak berani, Ma. Itu aku berikan untuk melunasi uang sekolah Ergan. Bukankah masih menunggak sekitar 3,5 jutaan? Apa lebih? Siska tidak tahu jelasnya." Ucap Siska tersenyum gugup.


"Aiyo, semuanya 5 juta, nak." Balas ibunya, melunak. Siska ada keinginan membantu, tentu saja ia tidak boleh kasar lagi bukan.


Siska terdiam sebentar. Memikirkan sisa uang yang ada di sakunya. Keuntungan hari ini ada sekitar 27 juta 245 ribuan, dikurangi uang belanja 2,5 juta, 500 diberikan pada Santi dan 200 pada Geri. Sisa uang 24 juta 45ribu. Lalu ditambah uang dari penguasa pasar sekitar 1 juta 100 ribu, jadi jumlahnya menjadi 25 juta 145 ribu.


Lalu, dibelikan kedai, sebagai uang muka sekitar 20 juta, dan diberikan pada kakak pertamanya sekitar 3 juta. Sisa uang 2 juta 145 ribu. Ditambah 15 juta yang ditariknya dari bank, berkurang lagi membeli motor 12 juta, dan SIM 200 ribu, anggap ongkos pulang pergi ke dealer dan tempat pembuatan SIM sekitar 45 ribu. Sisanya ada sekitar 4 juta 900 ribu. Diberikan pada ibunya 3 juta 500 ribu. Jadi sisa uangnya adalah 1 juta 400 ribu.


Mampuslah Siska, uangnya kurang.


"Ma, di sakuku sekarang hanya ada sekitar 1 juta 400 ribu lagi. Mama ambillah dulu yang ini, sisanya Siska tambah nanti di rumah, oke? " Ucap Siska akhirnya. Ia juga ingat, sebetulnya ia sudah memisahkan uang sekitar 5 jutaan di rumah, 3 juta untuk biaya Ergan, sisanya adalah sisa-sisa uang dari berbelanja.

__ADS_1


"Oh, baik kalau begitu. Mama tidak jadi marah, terimakasih." Ucap ibunya seraya tersenyum manis.


Ayahnya yang melihat hal tersebut tiba-tiba bergidik ngeri. Memang perempuan, amarahpun boleh hilang jika sudah dihadapkan dengan uang banyak.


Siska pun menghela nafas lega. Ibunya akhirnya tidak mengomel lagi, amarahnya mereda seketika setelah diberi uang yang menurutnya sogokan tersebut. Tapi, memang betul sogokan. Jadi, apa boleh buat, Siska juga tidak bisa menyangkalnya. Bisa dibilang, membantu berkedok sogokan.


Semuanya pun beres, tidak perlu lagi bertengkar cuma-cuma. Jadi, Siska pun naik ke lantai atas, berniat membuat Uni tidur di sana. Sementara dirinya ikut membereskan kedai agar besok bisa langsung dipakai.


Kecuali ibunya yang disuruh Siska menjaga Uni di lantai atas, sekalian membuatnya tidak turun tangan membantu, karena ibunya terbilang suka sakit-sakitan jika melakukan hal-hal berat.


Semua orang mengangkat meja-meja ke luar kedai, menyimpannya di luar, kemudian dalam kedai dibersihkan debunya, juga di sapu dan di lap semuanya sampai bersih.


Setelahnya, beramai-ramai mengecat dinding dalam kedai dengan warna vintage, salah satunya adalah akuamarin. Juga ada beberapa bagian yang di cat dengan warna hijau telur asin. Sisanya, ada beberapa juga yang di cat dengan warna coklat.


Meninggalkan orang-orang yang mengecat dinding, di luar juga ada orang yang mengecat ulang meja dengan cat minyak warna coklat. Agar terlihat seperti baru lagi. Adapun beberapa meja yang terlihat berat sebelah, dibuat menjadi sangat pendek, Rencananya, Siska akan buat saja meja-meja tersebut menjadi lebih berguna, yakni dengan membuat beberapa meja menjadi tempat lesehan.


Dua jam kedai dalam sudah selesai di cat, dan menunggu sekitar dua jam lagi untuk menunggunya kering, tentu dengan menyalakan 4 kipas angin yang berada di pojok setiap dinding. Seraya menunggu, bagian yang mengecat di dalam, kemudian beralih membantu mengecat meja dan kursi, Karena kursi ada sekitar 600 buah, dan Meja ada sekitar 200 an. Jadi ada beberapa yang digunakan untuk satu meja 6-8 kursi, sisanya standar ada 4, ada 2 kursi.


Sampai waktu menunjukkan pukul 6 sore, semuanya telah selesai di cat dan kering. Kemudian semuanya pun membawa kursi ke dalam untuk di atur ulang. Siska membuat sisi kanan sebagai tempat lesehan, sisi kiri dan tengah sebagai tempat yang ada meja dan kursi. Khusus di tengah, Siska buat memanjang ke samping, jadi semua bisa membaur tapi masih berbatasan. Pun ada beberapa meja dan kursi yang sengaja Siska simpan di luar, jadi jika ada orang yang mau diam di luar seraya melihat orang lalu lalang, pun, bisa.

__ADS_1


Di dekat konter pemesanan, Siska juga memasang meja yang dipesannya. Dijajarkan dan disusun wadah-wadah yang juga di pesannya di atasnya. Rencananya, Siska akan membuat menu seblak andalan orang-orang. Juga ada menu baru seperti cilok ayam suwir, sosis dan bakso bakar. Untuk minuman, Siska juga akan menyiapkan air putih, cappuccino cincau dan es teh Rosella andalannya, yang tentu saja dengan pemberitahuan mengonsumsi 3 hari sekali.


Hanya 3 menu saja untuk minuman. Tidak perlu banyak-banyak, yang penting pelanggan suka dan minumannya laku. Pun dengan setiap menu baru, tambah 3 saja dulu. Yang lain menyusul, karena jika semakin beragam, maka akan membuat pembuatan menu malah menjadi lama, takutnya pelanggan akan kesal karena kelamaan.


Untuk dapur, Siska menyiapkan 3 kompor dengan dua tungku sekaligus. Jadi akan ada 3 orang yang memasak di dapur. Ada Siska, Santi, juga Putri. Rendra akan menjadi kasir, dan Sapta adalah orang di samping Rendra yang menjadi pencatat pemesanan.


Itulah rencana yang Siska buat. Jadi, untuk pelayan yang membawa pesanan pada pelanggan, Siska akan mencari orang besok. Juga, siapa tahu ada teman dari Ergan yang membutuhkan pekerjaan tambahan. Siska sudah mengaturkannya, menyisakan tiga slot untuk temannya. 3 slot lagi, akan Siska simpan untuk oara tetangganya yang menganggur. khususnya para wanita muda.


Siska langsung merekrut 6 pelayan, karena ia tahu, kedainya akan selalu penuh. Jadi sebetulnya 6 juga masih kurang, tapi terbilang cukup juga, karena lama kelamaan mungkin kedainya akan sedikit sepi juga.


Setelah mengaturkan semua bagian di dalam kedai, semua orang berhenti tepat pukul 8 malam. Dan semuanya melaksanakan makan malam bersama-sama di kedai. Siska telah membeli makanan di kedai sebelah, jadi lebih gampang dan cepat. Meski pelayanannya, masih saja tidak mengenakkan. Terlebih orang-orang disebelah tahu, kini Siska akan menjadi pesaing kedainya.


Setelah selesai makan, akhirnya pukul 9, semuanya pulang ke rumah, dan istirahat. Terlebih Ergan, Geri, dan Uqi yang besok harus bersekolah. Kecuali para laki-laki, yaitu Rendra, Sapta dan Ayahnya. Tetap di kedai dan melanjutkan menata sisanya disini.


Sebelum pulang, Siska kemudian teringat tentang pemberitahuan penutupan kios. Jadi ia bergegas mengirim pesan pada Baron, agar besok membantunya membuat selebaran tutup dan pindahnya kios ke kedai disini, pada hari lusanya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2