
*
*
Selesai masak, Siska kemudian menggendong Uqi dan menuntun Uni agar keduanya kembali ke ruang keluarga. Setelah menidurkan Uqi dan mendudukkan Uni, Siska kemudian mengangkat dan memindahkan makanan yang telah dimasaknya, ditata di atas lantai yang dialasi tikar kecil.
Begitu selesai, Ayahnya dan Darren masuk dengan raut yang tidak enak dipandang. Darren jangan ditanya, rautnya selalu tidak enak dipandang di mata Siska karena selalu memasang raut yang sama. Berbeda dengan Ayahnya, keningnya mengerut, pun bibirnya. Masih terlihat bekas-bekas kesal dan emosi di wajahnya.
"Bapak, apa yang terjadi? Mereka melakukan apa?" Tanya Siska kemudian, langsung bertanya.
Ayahnya menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu dibahas, mereka sudah pergi." Ucap Ayahnya, malas menjelaskan.
Siska tidak lanjut bertanya, Ayahnya sudah begitu, jadi ia tidak mau mengungkitnya lagi. Sudah tahu dari kebiasaan Ayahnya, jika rautnya tidak enak, maka apapun yang dibicarakannya harus dituruti.
Kemudian semuanya makan dalam keadaan hening. Tidak sehening malam hari, tetap ada suara Uni dan Uqi yang bercanda.
Sorenya, pukul setengah 5, Ergan datang bersama Geri. Dan Darren akhirnya pulang, sebab sudah lebih banyak orang di rumah. Adapun kejadian tadi, untuk beberapa hari, ia juga tidak perlu terus datang. Paling-paling 4-5 hari perkiraan Aldo dan Ibunya datang mengacau lagi. Dan selama itu, Darren menyibukkan diri dengan urusannya.
Dan selama itu pula, Siska sibuk dengan mengurus Uqi juga mengurus pesanan dari Bu Wasilah. Dibantu Ergan, karena Uqi sudah mulai bisa mengerjakan tugas dan mengejar ketertinggalan pelajaran di sekolahnya. Seminggu ke depan, perbannya juga sudah bisa dilepas dan diganti dengan perban kecil, tidak sampai memutari kepala. Bergantian menjaga Uqi, Siska yang sibuk tidak melupakan jam makan dan minum obat Uqi. Karena sebisa-bisa, Siska mengerjakan pekerjaan di rumahnya.
Sampai hari H pemesanan Bu Wasilah, Siska dan semua orang di rumah mau tidak mau harus bangun pukul 3 pagi, sebab pesanan Bu Wasilah harus sudah ada pada pukul 7 pagi. Dengan pesanan yang sudah jadi, dibungkus dengan paper bag.
Selain paper bag, Siska juga telah menyiapkan botol kosong pesanan sejak awal. Jadi tidak terlalu rumit dalam persiapannya. Semua orang tinggal membungkusnya saja.
Untungnya, pemesanan jatuh pada hari Minggu, jadi Ergan pun Geri ikut bangun membantu kesibukan di jam 3 subuh tersebut.
2000 pesanan Cireng, dan 1000 bungkus pesanan cirambay, dengan 3000 botol cappuccino cincau telah siap. Tidak lupa bonus tambahan dengan menambahkan masing-masing 1000 buah cireng dan 500 bungkus cirambay.
__ADS_1
Semuanya terbungkus rapi. Satu paperbag diisi 2 buah cireng, satu cirambay dan satu cappuccino cincau. Sebagai tambahan, Siska juga memasukkan 3 permen rasa mint. Pesanan utama, sebanyak 1000 bungkus paper bag telah siap. Ditambah bonus yang Siska berikan, semuanya ada sebanyak 1500 paper bag. Sedangkan sisa minuman sebanyak 1500 botol, Siska simpan di kotak berbeda, dan sebanyak 3 kotak.
Setelahnya, tepat pukul 6 semuanya telah siap. Dan Siska kembali menyewa mobil untuk membawakannya ke tempat Bu wasilah. Ada di daerah kabupaten, butuh satu jam untuk ke sana. Dan paling telat, Bu Wasilah memberi kelonggaran waktu sampai pukul 8 pagi.
Alhasil, dirinya harus ikut untuk menyelesaikan transaksi terakhir. Sedangkan yang lainnya masih harus membuka kedai, jadi pukul 6, setelah sarapan, Siska pergi dengan Uni, sedangkan Uqi bersama kakeknya di rumah, dan sisanya berangkat ke kedai.
Kedai sedang ramai-ramainya, jadi atas persetujuan semuanya, meskipun agak lelah, tetap harus membuka kedai. Lagipula, sudah ada beberapa orang tambahan, jadi di kedai semuanya tidak akan sesibuk hari-hari pertama pembukaan. Masih bisa duduk dan istirahat di sela-sela kesibukan.
Pukul 7 lewat 30, Siska sampai di tempat Bu Wasilah. Tempat sejenis taman di kabupaten. Bu Wasilah membuka toko baru disekitar sana, dan mengadakan acara musik sebelum pembukaan toko.
Setengah 8 sudah ramai orangnya Bu Wasilah, dan Siska disambut oleh bawahannya, yang kemudian membawa Siska masuk menemui Bu Wasilah.
Begitu masuk, Bu Wasilah langsung tersenyum lebar. Acara akan dimulai pukul 8, jadi setengah jam sebelum acara Siska sudah harus datang. Dan ia tepat waktu.
"Terimakasih sudah datang tepat waktu, maaf tidak bisa menyambutmu di depan." Ucap Bu Wasilah.
Kemudian setelah berbasa basi, Bu wasilah diajak Siska untuk melihat pesanannya. Kebetulan, anak buah Bu Wasilah juga sedang menurunkannya, dan langsung menatanya di atas meja di depan toko serba ada, tempat dimana gunting pita akan dilaksanakan.
Siska mengambil satu paper bag dan menunjukkannya pada bu Wasilah, seraya menjelaskan tentang sisa minuman yangada dalam kotak yang sudah ditambahi es, barusan, oleh anak buahnya. Karena memang sebelumnya sudah dikabari, agar anak buah Bu wasilah dapat menyediakan es batu. Jadi, es batu ditambahkan ke dalam 3 kotak, agar cappuccino cincau yang ada dalam kotak bisa menyerap dinginnya.
Bu Wasilah mengangguk puas melihat packaging pemesanannya. Juga, sekalian mengambil satu botol masing-masing cappuccino cincau yang bahan dasarnya kopi dan coklat. Di atas botol juga ada merk kedai Siska, sengaja ditambahkan atas usulan Ergan si adik bungsu.
"Ah, aku rindu rasa minuman ini! Sungguh enak meskipun tidak dingin." Ucap Bu Wasilah setelah meminum cappuccino cincau dengan bahan dasar kopi. "Aku ambil dua, oke. Mau aku simpan untukku sendiri, haha." Lanjutnya seraya mengangkat dua botol di tangannya.
Siska ikut tertawa, "Tentu, semuanya milikmu, Bu." Balas Siska.
Kemudian Bu Wasilah mengajak Siska kembali ke dalam ruangan, untuk menyelesaikan transaksi. Sedangkan Uni, diajak main oleh salah satu bawahan perempuan Bu Wasilah, atas perintah Bu Wasilah. Siska mengerti, jadi ia melepaskan Uni meski sedikit khawatir.
__ADS_1
"Ini, 20 juta, sesuai perjanjian. Juga, ada dokumen perjanjian baru, tentang rencana kerja sama minumanmu yang akan dijual di toko serba ada milikku di seluruh kota." Ucap Bu wasilah, seraya menyodorkan uang di dalam amplop coklat, dan dokumen perjanjian baru dengan map biru.
Siska tersenyum lebar, ia kira Bu Wasilah hanya bercanda saja waktu itu, tapi ternyata tidak sama sekali. Ini benaran rencana kerja sama jangka panjang.
"Dokumen ini, apa bisa aku membawanya dulu ke rumah untuk dipelajari?" Tanya Siska.
"Tentu, aku tidak terburu-buru, aku sekalian mau lihat respon orang juga tentang minumanmu. Tapi, aku sangat yakin, mereka akan suka produk baru ini." Ucap Bu Wasilah seraya tertawa.
Keduanya mengobrol lebih lanjut dan intens tentang insentif juga penjualan minuman yang akan didistribusikan ke setiap kota nantinya.
Setelah 20 menit, keduanya akhirnya keluar, karena dalam 5 menit gunting pita akan dilakukan. Siska di samping Bu Wasilah berjalan beriringan keluar. Ia langsung mencari Uni begitu keluar, tapi tidak menemukannya. Hanya wanita muda yang tadi mengajak Uni main sajanyang terlihat sedangkan Uni sendiri tidak bersamanya.
"Nona, anu, Adik Uni ikut dengan tuan muda kami." Ucap pegawai tersebut tidak enak, karena sebelumnya tidak meminta izin.
"Maksudmu? Tuan muda? Anak Bu Wasilah? Tapi, aku, kami bahkan tidak mengenalnya." Ucap Siska khawatir.
"Ada apa, apa yang terjadi?" Tanya Bu Wasilah berbisik.
"Anu, anak nona Siska dibawa Tuan Muda, Bos." Ucap pegawai.
"Aiya, anak itu! Tenang saja, Siska. Sebentar lagi dia kemari, lagipula dia yang akan memimpin menggunting pita hari ini." Ucap Bu Wasilah menepuk pundak Siska. "Nah, itu dia datang." Lanjutnya.
Siska berbalik, dan terkejut bukan main melihatnya. "D-darren lagi?!" Serunya.
*
*
__ADS_1