
*
*
Setelah lelah bermain di taman, Siska mengajak Uni ke sebuah cafe yang dekat dengan taman. Tapi hanya makan, dan tidak terlalu lama di dalam. Akhirnya Siska dan Uni kembali ke hotel karena hari juga sudah sore. Siska dan Uni butuh membersihkan diri saat ini.
Selesai membersihkan diri, Siska menidurkan Uni. Sudah pukul 2 siang. Uni butuh tidur siang, apalagi setelah tadi berjalan-jalan di taman.
Selagi Uni tidur, Siska memposting foto yang diambilnya di taman, piknik ala-ala adalah caption yang dipakainya. Selanjutnya, video yang telah dirinya edit ikut di-posting 1 jam setelahnya.
Pukul 3, Siska mendapat pesan dari ibunya, tapi ternyata yang mengirim pesan adalah anaknya, Uqi. Siska langsung saja melakukan panggilan video pada Uqi. Tapi Uqi menolaknya. Membuat Siska bertanya.
Uqi kemudian menjawab tidak mau karena takut makin rindu pada ibunya. Siska tersenyum kecil, lantas keduanya hanya berkirim pesan saja.
Pukul 4 Uni terbangun, tapi Siska harus memilih properti dan mendatanya yang kemudian akan dikirimkan pada Satria. Satria baru saja mengirim daftar properti, dan Siska bagian memilih apa saja yang akan diadakan di restorannya nanti.
Tapi karena tidak terburu-buru, Siska pun menemani Uni terlebih dulu. Membantunya mencuci muka dan buang air kecil. Setelahnya, Uni kembali ke atas kasur dan Siska menyetelkan televisi untuknya agar Uni bisa menonton sementara dirinya mendata properti.
Setelah selesai, cukup memakan waktu lama. Siska melihat jam dan menunjukkan pukul 6. Ia meregangkan badannya, Uni masih anteng menonton dengan camilan yang Siska siapkan ketika pukul 5 tadi Uni merengek ingin makan.
Siska membereskan barangnya, kemudian mengganti baju Uni dan dirinya sendiri. Keluar kamar, menaiki lift ke lantai 2, dimana restoran hotel berada. Berniat makan malam lebih awal tadinya.
Tapi ketika ia menunggu lift, begitu terbuka, terpampang Darren yang berdiri menatapnya dengan datar. Di sampingnya tidak ada siapapun. Ia sendirian di dalam.
Siska merasa was was, yang awalnya menuntun Uni, langsung menggendongnya, dan berbalik dengan cepat, berjalan cepat meninggalkan lift untuk kembali ke kamarnya.
Bagaimanapun, ia tidak mau bertemu Darren. Cukup tadi pagi saja. Ia masih bingung dengan dirinya sendiri. Perasaannya terasa menyebalkan, ia sendiri tidak suka merasakannya.
__ADS_1
Tapi Darren bergerak lebih sigap. Ia langsung menghadang Siska begitu Siska berbalik. Siska lebih lambat dari pada dirinya ketika ia harus menggendong Uni tadi. Alhasil, kini keduanya saling berhadapan.
"Paman Dalen!" Seru Uni senang. Kedua tangannya langsung diangkat meminta digendong. Tadi ia belum sempat mihatnya karena digendong Siska. Jadi ketika melihat Darren di depannya kini, ia langsung bersemangat.
Sudah lama sejak Uni tidak main dengan Darren. Anak kecil pasti tahu yang namanya rindu. Apalagi sebelumnya keduanya terlihat sangat akrab sekali.
Siska tidak sadar termundur, ketika Uni menyerukan nama Darren dengan semangat. Membuat Uni kebingungan, dan menatap ibunya. "Mbuu kenapa?" Tanya Uni menatapnya polos.
"Uni, rindu paman tidak, hmm?" Tanya Darren seraya tersenyum kecil.
Uni teralihkan, kemudian ia menatap Darren dan mengangguk dengan senang. "Lindu linduuu, gendong Uni, paman!" Pinta Uni kembali merentangkan tangannya ke arah Darren.
"Jangan menghindar lagi, mari bicara."Ucap Darren menatap Siska, tatapannya lebih lembut kini. Seraya mendekat dan mengambil alih Uni ke gendongannya. "Ayo ikut, kita makan malam di luar hotel ini." Ucap Darren, menarik lembut tangan Siska. Membuat Siska berjalan pelan mengikutinya.
Dalam hati merutuk. Ia tidak mau, tapi kenapa tubuhnya berjalan sendiri dan malah patuh begitu saja pada Darren? Menyebalkan pikir Siska.
5 menit, lift sampai di lobby, dan ketiganya keluar dari lift. Darren menuntun Siska, agar mengikutinya ke arah basement parkiran hotel. Dan menaiki mobil yang dibawanya.
"Darren! Hai!" Pekik seorang wanita membuat Darren mengernyit.
"Siapa kau?" Tanya Darren datar.
"Aku anak dari pak Hartono. Kemarin kita meeting dan makan siang bersama, apa kau lupa?", Tanyanya.
Darren sempat berpikir tapi kemudian menganggukkan kepalanya ingat. "Ada urusan apa?" Tanya Darren.
"Habis menemui teman, kebetulan melihatmu. Dan siapa ini?" Tanya nya kemudian.
__ADS_1
"Istri dan anakku." Balas Darren. "Kami harus pergi, selamat tinggal." Pamit Darren. Kemudian pergi tanpa menunggu persetujuan wanita tersebut.
Wanita yang ditinggal pergi menatap Siska tajam, memicing kecil. " Sejak kapan pimpinan Wistara Karsa mempunyai istri dan anak?" Gumamnya. Kemudian merogoh ponsel dan menghubungi sekertaris Ayahnya. "Cari tahu info pimpinan Wistara Karsa, apa memang benar sudah menikah dan punya anak atau belum." Ucapnya langsung.
Disisi lain, Siska kepikiran wanita yang ditinggalkan tersebut. "Memang boleh bersikap begitu pada anak kolegamu? Apa tidak akan mempengaruhi bisnis kalian nanti?" Tanya Siska, akhirnya mengeluarkan suara.
"Kau bersuara, tapi malah bertanya hal tidak penting begini? Diam saja dan duduk dengan patuh." Ucap Darren kemudian memakai seatbelt dan menjalankan mobil keluar dari parkiran.
Siska berdecak pelan, kesal pada jawaban dari Darren. Ia kemudian diam dan duduk dengan Uni yangada dipangkuannya.
"Bibi tadi selam. Bibil dan pipinya melah sepelti tomat." Ucap Uni setelah membandingkan wajah Siska dengan wanita yang ditemuinya tadi dijalan.
"hmm? Sayang, tidak boleh seperti itu oke? Nanti bibinya tersinggung." Ucap Siska, yang meskipun ingin tertawa, ia tetap mengajari Uni, karena hal ini tidak sopan, meski faktanya memang benar.
"Tapi, mbuu, bibil mbuu pink, sangat bagus." Ucap Uni seraya memegang bibir Siska dengan jari kecilnya. Membuat Siska gemas, kemudian mencium bibir kecil Uni, membuat Uni tertawa geli.
"Putri ibu sudah pintar bicara, hmm?" Tanya Siska gemas, masih berkali-kali menciumi bibir Uni dan pipinya. Sesekali juga menggigit pundak Uni membuat Uni menaikkan pundaknya karena kegelian.
"Mbuu itu geli, hahaha." Ucap Uni tergelak.
Keduanya bercanda, sampai tidak sadar jika masih berada dalam mobil dan Darren di samping keduanya. Tapi Darren tidak marah meski dirinya tidak diajak masuk ke dalam keramaian tersebut.
Justru kini Darren, tersenyum kecil, mengingat dan mengabadikan momen kecil hangat ini di dalam kepalanya. Kapan lagi melihat Uni dan Siska tertawa lepas di hadapannya begini kan? Biasanya Siska bahkan menjaga jarak dan tidak akan mau susah susah menampilkan keramahan, apalagi senyumnya di hadapannya. Jadi, ia akan ingat sebanyak mungkin momen ini.
*
*
__ADS_1