Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Senang dan Antusias


__ADS_3

*


*


"IBU! SADARLAH!" Pekik Geri, pada akhirnya berteriak menyadarkan Santi. "Ibu, kau mata duitan!" Ejek Geri berlanjut. Karena ibunya tidak kunjung sadar. Masih tersenyum-senyum sendiri menatap tumpukan uang, dengan tangan yang meraba dan memegang uang tersebut.


Geri mendengus, ia mendudukkan dirinya di samping Ergan yang masih berdebat dengan kakaknya, Siska. Geri meminum air mineral yang ada di depannya, yang habis dalam beberapa teguk, tentu saja karena kehausan setelah melayani banyak pelanggan.


Wajar saja, bukan? Geri ini bisa dibilang adalah pemula, bahkan yang sudah berpengalaman juga akan lelah dan kehausan jika menghadapi begitu banyak pelanggan. Hanya saja, untunglah tantenya itu mencetak lebih banyak cireng. Meski tetap ada beberapa orang yang tidak kebagian sebab ada juga orang yang memborong dagangannya.


BRAK!


"Uhuk!" Geri terbatuk. Setelahnya menatap Ergan yang menggebrak meja tanpa rasa bersalah dengan tatapan setajam silet.


Ergan yang sadar dirinya salah, ia hanya tersenyum menampilkan gigi membalas tatapan Geri. Membuat Geri memutar kedua bola matanya malas.


"Ayo kita hitung uangnya!" Seru Siska, membuat Santi akhirnya merespon.


"YA! Ayo cepat, cepat." Seru Santi.


Kemudian keempatnya masing-masing berkumpul, mengambil uang yang menumpuk satu persatu kemudian menghitungnya. Siska, Ergan, dan Santi menghitung dengan semangat, berbeda dengan Geri yang terlihat malas.


Sampai 30 menit kemudian, semuanya selesai dihitung, tapi Gerilah yang ternyata mendapat hitungan paling banyak, sebab ia mengambil uang yang besar-besarnya saja ketika menghitung.


"Punyaku ada 6 juta 900 ribu!" Ucap Geri meski malas, tapi tetap saja ia tercengang dengan jumlahnya. Kapan lagi dirinya bisa melihat uang sebanyak ini, terlebih memegangnya.


"Whoooaa! Anakku, besar sekali jumlahnya? Punya ibu saja hanya 5 juta saja!" Balas Santi makin bersemangat, begitu mendengar nominal yang dipegang Geri.


Siska dan Ergan tertawa, melihat keantusiasan Santi. Kakak ipar pertamanya ini memang ajaib. Baterai semangatnya seolah tidak ada habisnya. Ah tunggu, apakah kemarin baterainya habis? Siska rasa begitu.

__ADS_1


"Jumlah yang aku pegang ada 3 juta 200 ribu." Ucap Ergan, membuat Santi berseru, menyoraki Ergan dengan jempol tangan yang diacungkan tapi dibalikkan ke bawah.


"Bu! Bukankah sifatmu ini seperti anak kecil?! Uni saja kalah denganmu sepertinya." Ucap Geri heran.


"Haha, tidak apa-apa, Geri. Aku suka yang bersemangat begini, lihatlah suasana tidak canggung sama sekali. Malah terkesan seru bukan? Apa kau tidak merasakannya?" Tanya Siska seraya tersenyum, ia mengusap kepala Geri pelan, memberi pengertian pada keponakannya tersebut.


"Aiyoo, marah ya? Baik, baik, Ibu tidak bercanda lagi." Balas Santi seraya mengacak rambut anaknya membuatnya mendelik, karena rambutnya setelah itu benar-benar berantakan. Membuat semuanya lagi-lagi tertawa melihat respon Geri.


"Sudah, sudah, jangan menggodanya terus. Aku akan sebutkan jumlah uang milikku saja!" Seru Siska seraya tertawa. "Punyaku hanya 1 juta 159 ribu saja, haha." Lanjut Siska, yang langsung mendapat seruan heboh dari Santi dan Ergan karena nominalnya sangat sedikit dibanding ketiganya. Siska tak ambil hati, lagipula dirinya menghitung recehan saja, tidak seperti Geri yang mengambil bagian uang besar, juga tidak seperti Santi dan Ergan, menghitung dan mengambil semua nominal uang dari besar sampai sedang.


Maka dari itu, karena tidak ada yang mau menghitung recehan, Siskalah yang turun tangan menghitung uang tersebut. Lagipula, uang tetaplah uang bukan. Buktinya recehan juga bisa menjadi jumlah yang besar jika menumpuk. 1 juta, ditahun 2010 sudah termasuk besar! Apalagi untuk orang desa seperti mereka, 1 juta ini, bekal makan untuk satu bulan.


"Oke, jadi jumlah semuanya ada sekitar 16 juta 259 ribu! Apakah benar?" Tanya Siska memastikan, bisa saja dirinya salah hitung bukan. Tidak ada yang tahu, lagipula manusia seringkali berbuat salah.


"BENAR! Hebat sekali, 16 juta loh! Astaga, aku ingin pingsan." Ucap Santi yang memekik di awal, kemudian berbisik pada saat menyebut nominalnya, takut kedengaran oleh orang lain, dia pikir agar tidak membahayakan diri.


"Aiyo, kapan lagi aku melihat uang sebanyak ini, nak. Wajar saja kan ibu terlihat seperti ini." Balas Santi seraya mengetuk kepala Geri.


"Ah Bu! bisakah tidak ke kepalaku terus?!" Omelnya kesal. Wajahnya merenggut dengan bibir cemberut.


"Ah gemasnya anak Rendra satu ini!" Pekik Santi seraya bersiap mencium Geri, tapi ia langsung gerak cepat pergi meninggalkan sang ibu, menjauhinya dan bersembunyi di belakang Ergan, membuat Santi kesulitan dan berakhir tidak jadi.


Sedangkan Siska dan Ergan tertawa, merasa terhibur dengan adegan anak ibu di depan keduanya. Menyenangkan, menambah suasana menjadi hangat.


"Sudah, ayo bereskan barang-barang. Aku harus setor uang ke bank, lalu berbelanja bahan untuk besok. Setelah pulang, Pukul 2 an nanti juga harus ke restoran Adamas, menemui Bu Wasilah." Jelas Siska seraya beranjak dan mulai membereskan kekacauan. "Aku sisakan 2 juta untuk belanja, 14 juta sisanya aku setorkan ke bank." Lanjut Siska yang diangguki oleh semuanya.


Kemudian semua orang bergegas membereskan barang-barang yang terlihat berantakan saking tidak memperhatikannya kerapihan karena banyak sekali orang yang membeli.


20 menit berlalu, semuanya telah beres dibereskan. Kemudian Siska membagi tugas, dirinya pergi ke bank, Santi Ergan dan Geri pergi ke kios lebih dulu untuk memesan belanjaan. Setelahnya Siska akan menyusul agar bisa pulang bersama.

__ADS_1


Kedua kelompok pun berpencar, setelah setuju dengan pengaturan dari Siska. Uang 2 juta dari Siska, Santi pegang dan pergi ke kios belanja dengan perasaan senang, diikuti dua orang remaja yang mengikutinya dengan patuh.


"Halo, bos!" Sapa Ergan pada pemilik kios.


"Yo! Kau tidak dengan kakakmu? Dan siapa ini?" Tanya pemilik kios dengan ramah, tersenyum menyapa Santi dan Geri.


"Ini kakak ipar dan keponakanku, Bos. Kakak ada urusan sebentar, nanti dia menyusul kemari. Oh ya, bos. Ini daftar belanjaan yang kakak berikan padaku. Tolong disiapkan ya bos." Ucap Ergan, yang kemudian menyodorkan kertas yang lumayan panjang pada pemilik kios di depannya.


Pemilik kios dengan senang hati menerimanya. "Wow, bertambah banyak lagi? Hebat! hebat! Semoga semakin lari, jadi daganganku juga laris, oke!" Ucap pemilik kios seraya tertawa lebar. Kemudian ia menyuruh bawahannya menyiapkan apa-apa saja yang harus disiapkan.


"Ya, bos, sekalian untuk kebutuhan sehari-hari, di rumah sudah banyak yang berkurang." Balas Ergan seraya tersenyum.


"Baik, tapi seperti biasa, cincau yang ada dalam daftar ini, aku tidak menjualnya." Ucap pemilik kios, mengingatkan.


"Oh itu, nanti kakakku beli di kios sebelah sana. Tadi aku yang menuliskan daftar belanjaan. Tidak sengaja tertulis di sana, hahaha." Balas Ergan seraya tertawa.


Sedangkan, Santi dan Geri berdiam diri, mendengarkan. Tapi mata dari Santi tentu saja jelalatan, melihat setiap hal yang perlu dilihat. Meski sering belanja, tapi ia belum pernah mampir ke kios besar seperti ini. Jadi menurut dirinya, ini merupakan hal yang menyenangkan, terlebih di pengalaman pertamanya.


Disisi lain, Siska telah selesai menyetor uang ke bank, ia berjalan ke arah kios yang menjual cincau dan membelinya. Di perjalanan tidak ada masalah yang ditemui, tapi ia bertemu dengan pimpinan penguasa pasar.


Siska menyapanya dengan ramah, begitupun bos pasar meski dengan raut datar, tapi ia menyapa balik Siska. Keduanya berbincang sebentar, tapi kemudian bos pasar mengatakan alasan sebenarnya menemui Siska. Yaitu demi Cireng isi suwir dan Cirambay miliknya.


Siska tertawa kecil, ia sangka bos pasar ini memang kebetulan lewat d berpapasan tapi ternyata sengaja menemuinya untuk membicarakan hal tersebut. "Bisa diatur, bos! Tenang saja, besok aku sisakan bagianmu, dan aku antarkan lewat anak buahmu yang selalu menjagaku dari kejauhan. " Ucap Siska yang mendapat anggukan dan ucapan terimakasih dari bos pasar. "Kalau begitu aku pergi dulu, adikku sudah menunggu." Pamit Siska seraya pergi meninggalkan bos pasar setelah mendapat persetujuannya.


*


*


Nb : Maaf ya kemarin dan hari ini hanya bisa up satu bab. Mohon maklum semuanya 🙏

__ADS_1


__ADS_2