Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Kakak Pertama Pulang


__ADS_3

*


*


Ergan dengan semangat membuat Cappuccino Cincau, menggantikan Siska yang saat ini sedang mencuci tangan sebab lengket bekas gula dan susu yang sempat mengenai tangannya.


Setelahnya, ia berbalik dan menatap Ergan yang mengisi gelas yang dipakainya kembali dengan Cappuccino Cincau tersebut. Siska tertawa, betapa rakusnya adik bungsunya ini, pikirnya.


"Yo! Ketagihan, ya?" Tanya Siska seraya membawa nampan untuk meletakkan gelas-gelas yang sudah terisi di atasnya. Semuanya ada 7 gelas, termasuk milik dirinya. Sedangkan milik Ergan, ia pegang sendiri.


"Habisnya enak sekali, kak! Baru kali ini aku merasakan minuman yang seperti ini! Ini termasuk produk baru, kan?!" Seru Ergan dengan bangga. Kakaknya ini memang serba bisa, pikirnya.


"Aiyoo, lihat tampang banggamu. Betapa sombongnya memasang tampang begitu? Produk biasa saja, mungkin sudah ada yang pernah membuatnya juga. Hanya saja, belum banyak orang yang tahu." Ucap Siska seraya mengetuk kepala Siska. Kemudian mengangkat nampan yang telah penuh diisi gelas. Hendak membawanya ke ruang tengah, dimana semuanya sedang berkumpul.


"Sisanya kemanakan, kak?" Tanya Ergan memekik.


"Simpan di kulkas saja, siapa tahu ada yang nambah untuk ketiga kalinya!" Ucap Siska menekankan kata ketiga kalinya dengan sengaja.


Ergan yang mendengarnya tergelak, ia tahu yang Siska maksudkan adalah dirinya. Bukannya marah, ia merasa lucu. Karena baru saja ia berpikir untuk nambah lagi, jika cappuccino cincau yangada digelasnya ini habis.


Disisi lain, Siska sudah membagikan masing-masing satu gelas. Hanya saja, tersisa dua gelas, yakni milik dirinya dan milik Ayahnya. Ayahnya ternyata pergi ke kebun dan belum kembali, sepertinya ia kembali ke rutinitas awal. Menggarap kebun yang ditanami cabai, tomat, dan sebagainya, termasuk Rosella.


"Yasudah, Ma. Siska susul saja ya. Aku hantar saja minumnya, lumayan bisa membuat tenggorokan Bapak segar. Sudah setengah 11, sudah sangat panas jam segini." Ucap Siska yang kemudian kembali ke dapur untuk menuangkan cappuccino cincau ya ke dalam botol minum.


Siska tidak menuangkan yang ada digelas, tapi dengan sengaja menuangkan yang ada di dalam wadah, yang baru saja Ergan simpan di kulkas. Sedangkan Ergan sendiri sudah pergi entah kemana, mungkin ke kamarnya, bersiap mengedit video.


Setelah selesai, ada dua botol minuman, ia membawanya dengan kantong kresek hitam. Siska merasa ada yang kurang, jadi menambahkan beberapa camilan untuk Ayahnya. Dirasa cukup, Siska pun tersenyum, menganggukkan kepala puas. Lalu pergi meninggalkan dapur dan berpamitan pada semua orang yang ada di ruang tengah.

__ADS_1


"Hm, bapak harusnya senang, aku kirim minuman begin---KAK?!" Gumaman Siska berubah menjadi pekikan kencang begitu ia membuka pintu, tapi begitu dibuka ada kakak pertamanya yang berdiri dengan kaku.


Mendengar pekikan Siska, Ibujya dan kakak iparnya, Putri segera berlari menghampiri Siska dengan khawatir.


"Ada apa, Siska? Kau baik-baik saja?" Tanya Putri panik, begitu sampai, tanpa melihat orang yang ada di depan pintu.


"Ada apa, nak? Kenapa teriak? Kau jatuh? Kau baik-baik sa--RENDRA?!" Ibunya bahkan berteriak lebih kencang begitu melihat anak sulungnya berdiri di hadapan Siska. Membuat Putri akhirnya sadar, ada ipar pertamanya di depan.


"Siska, Mama, Rendra pulang." Ucapnya seraya tersenyum, tapi kedua matanya berkaca-kaca. Rendra merasa lega begitu sampai di depan rumah orang tuanya. Ia sudah pulang, ini rumahnya, tempat ternyamannya.


"Masuk, kak, ayo bicara di dalam. Kakak ipar pertama, ayo cepat masuk, kemarikan barangnya Siska bawa. Geri, cepat, kau juga masuklah." Ucap Siska merespon dengan cepat. Ia mengambil alih tas yang dibawa Santi, kakak ipar pertamanya.


Ketiganya pun masuk, dan langsung disuruh duduk di ruang tamu. Kenapa tidak langsung ke ruang tengah, Siska pikir biar kedua kakak dan keponakannya mengistirahatkan diri dulu.


Siska masuk ke dalam, dan membawa tas kakak iparnya masuk. Disimpannya di ruang tengah, seraya memberi tahu kakak keduanya, Sapta perihal kedatangan kakak pertamanya Rendra. Setelahnya, Sapta bergegas ke ruang tamu, dan Siska ke dapur untuk mengambil minum dengan menenteng kresek yang dibawanya tadi.


Sudah ada dua gelas cappuccino cincau, Siska menatapnya dengan lega. Di wadah juga masih cukup untuk mengisi dua gelas lagi. Jadi Siska buru-buru menuangkannya ke gelas yang ketiga. Membawakannya untuk kakak pertama, kakak ipar pertama, dan keponakan pertamanya, Geri.


Semuanya orang dewasa, mau membicarakan hal penting. Jadi Geri disuruh menemani dua sepupunya yang ada di ruang tengah, bisa juga menemani paman kecilnya yang ada di kamarnya, yang bahkan belum tahu situasi apa yang sudah terjadi di rumah ini.


Sepeninggal Geri, Siska pun lanjut berpamitan dan pergi ke kebun, meninggalkan keramaian di ruang tamu. Ia menghela nafas berat, terlihat dari raut kedua kakak yang datang hari ini. Pasti ada masalah besar yang menimpanya. Tapi begini juga ia bersyukur, setidaknya kedua kakaknya ini sudah kembali ke rumah. Jadi Siska bisa memantau keadaan semuanya saat ini.


"Yo, calon janda! Mau ke kebun bapakmu ya?" Ucap bibi Darmi tiba-tiba berdiri di hadapan Siska, membuat Siska sedikit terkejut.


Siska memutar kedua bola matanya malas, tidak ada kapok-kapoknya bibi yang satu ini. Ah mukanya juga, apa rasa malunya sudah hilang semua? Bisa-bisanya masih berperilaku begini disaat kemarin dia terpuruk atas tertangkapnya adiknya?


"Kenapa, bibi penjahat?" Tanya Siska seraya tersenyum.

__ADS_1


"Penjahat?! Apa maksudmu?! Kau yang penjahat! Satu keluargamu penjahat!" Sinis bibi Darmi emosi.


"Oh apa aku salah ingat? Tapi betulan kan, kemarin paman Rusdi yang ditangkap." Ucap Siska tersenyum mengejek. "Sudahlah, aku buru-buru, lain kali akan aku ladeni baik-baik ya bibi! Sekarang, tinggalkan aku sendiri!" Lanjut Siska dengan nada tajam. Langsung pergi meninggalkan Bibi Darmi yang ternganga, terkejut melihat perilaku Siska yang selama ini tidak diperlihatkannya.


"Huh, bikin kesal saja." Desis Siska setelah jauh dari bibi Darmi.


"Siapa yang bikin kesal?" Tanya Ayahnya seraya tersenyum, ternyata mendengar desisan Siska.


"Bapak! Bibi Darmi, menjegalku di jalan barusan. Mengata-ngataiku calon janda pula, ya memang sih, tapikan tidak mengenakkan dikatai begitu!" Adu Siska.


"Aiya, sudah-sudah, kemarilah duduk, kau seperti tidak tahu sifatnya saja. Cukup abaikan, sewaktu-waktu akan capek sendiri." Nasihat Ayahnya.


"Tapi Siska kan tidak pernah meladeninya selama ini, dan lihatlah sifatnya malah semakin tinggi hati saja dia." Cibir Siska kesal.


"Kemarin kau meladeninya, lupa, ya? Dia masih kesal saja mungkin padamu." Ucap Ayahnya seraya tertawa. Membuat Siska ingat akan hal beberapa hari lalu ketika ia memperingati bibi Darmi ini.


Siska menghela nafas, "Ah sudahlah, ayo pulang saja pak. Kak Rendra dengan istri dan anaknya sudah pulang." Ucap Siska kemudian, mengajak Ayahnya pulang. "Tapi, minum ini dulu, Bapak pasti haus, kan?" Lanjutnya seraya menyodorkan botol minum yang diisi Cappuccino cincau tadi.


Ayahnya menerima botol minum yang dingin tersebut, kemudian membukanya, "Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Ayahnya kemudian meminum cappuccino cincau nya. Yang sesaat setelah minum, terkejut dengan rasa dan teksturnya.


"Baik-baik saja, tapi Siska lihat-lihat memang ada masalah besar sepertinya. Kakak pertama terlihat kurus dan matanya sayu sekali." Ucap Siska dengan raut sedih. "Enak tidak, pak?" Tanya Siska, seketika rautnya juga berubah bersemangat, ingin tahu pendapat Ayahnya.


"Enak! Kau membelinya? Bapak belum pernah tahu ada minuman seperti ini." Ucapnya seraya mengacungkan jempol tangannya.


Siska tersenyum, "Aku membuatnya sendiri, lohh..." Balasnya dengan bangga. Membuat Ayahnya mengangguk dan memujinya kembali.


Siska tertawa, kemudian mengajak Ayahnya pulang dan langsung disetujuinya. Lagipula, Rendra dan yang lainnya pasti menunggu Ayahnya sebelum ia mau bercerita. Menunggu kepala keluarga dari keluarga besarnya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2