Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Karma Rusdi


__ADS_3

*


*


Mendengar perkataan Siska, Ergan mendongakkan kepalanya dengan bangga, tangannya menyugar rambutnya, dengan wajah angkuh kemudian berkata, "Kemana saja kau , sampai baru sadar pesonaku yang satu ini?"


Siska menatap Ergan dengan tatapan mengernyit tidak percaya, dia berhasil membuat bulu kuduknya berdiri. "Aiya, jangan begitu, kau menyeramkan." Ucap Siska seraya mengibaskan tangannya, kemudian mengetuk kening Ergan, membuat Ergan kembali ke setelan pabrik dan meringis kesakitan. "Cepat bereskan! Jangan bermalas-malasan." Lanjut Siska, mendelikkan matanya kesal.


Kemudian Ergan lanjut menata barang, membantu Siska. Setelah semuanya selesai, ia pamit pada Baron dan pergi ke pasar untuk berbelanja.


Satu jam kemudian, keduanya telah kembali ke rumah dengan aman. Hanya saja, keadaan di rumah tidak setenang biasanya. Banyak tetangga yang di sepanjang jalan menuju rumahnya, saling mengobrol. Meski memang bukan pemandangan yang aneh, tapi kali ini lebih ramai dari biasanya. Lebih heboh, respon-respon dari setiap tetangga pun bisa membuat orang yang tidak tahu menjadi ingin tahu.


Siska mengerutkan keningnya, berpikir apa yang telah terjadi. Tapi kemudian, Ergan yang telah kembali dari membalikkan sepeda ke tetangga, langsung datang dengan heboh dan sedikit antusias.


"Ada apa? Ada apa? Kau dapat info?" Tanya Siska.


"Kak! Kau tahu, semua orang sedang membicarakan paman Rusdi yang telah ditangkap kemarin." Ucap Ergan semangat, kemarin memang tidak banyak warga desa yang tahu masalah ini. Tapi hari ini kemudian semuanya heboh membicarakan.


Siska kemudian teringat akan postingannya di aplikasi burung biru. Seketika kedua matanya melebar, otaknya mulai mengira-ngira jika postingannya tersebut memang menjadi populer.


"Cepat! Buka aplikasi burung biru, lihat postingan kemarin!" Seru Siska semangat, sebetulnya ia lupa, tapi kemudian teringat setelah mendengar ucapan Ergan. Membuat Ergan ikut melebarkan kedua matanya, dan berdecak membenarkan ingatan Siska yang juga mengingatkan dirinya.


"Kenapa pula aku lupa tentang ini? Padahal kemarin kita semangat sekali membahas masalah ini." Ucap Ergan seraya mengotak-atik ponsel dan membuka aplikasi burung biru.

__ADS_1


Kedua mata Ergan membelalak, "Kak! Aku tidak salah lihat, kan?!" Pekik Ergan seraya buru-buru menyodorkan ponselnya ke hadapan wajah Siska.


"Terlalu dekat! aku tidak bisa melihatnya dengan jelas!" Omel Siska seraya mengetuk kepala Ergan, memelototinya kesal.


Ergan tertawa ringan, "Maaf, maaf, aku terlalu bersemangat." Ucap Ergan. Kemudian memberikan ponselnya pada Siska, agar Siska dapat melihatnya sendiri dengan jelas.


Begitu menerima ponsel Ergan dan melihat postingan Ergan, "BANYAK SEKALI!" Teriak Siska, mengundang perhatian orang-orang yang ada di rumah. Berlari tergopoh menghampiri Siska yang masih terbelalak melihat postingan di aplikasi burung biru.


Sedangkan Ayah, Ibu, dan Putri yang sudah berlari keluar, terdiam melihat Siska yang malah tidak peduli pada kedatangan ketiganya, tapi malah fokus pada ponsel. Membuat ketiga orang ini bertanya-tanya perihal maksud dari teriakan Siska barusan.


"Ah! Kita cek akun tutubmu juga!" Ucap Siska kemudian, beralih pada akun tutub milik Ergan. "500ribu tayangan! Ergan! Ini benar-benar hebat!" Pekik Siska setelah melihat jumlah tayangan postingannya di tutub.


"Apanya, sih? Coba kakak lihat." Ucap Putri seraya meraih ponselnya. Meski tanpa persetujuan Siska, Siska juga tidak banyak ucap langsung ikut menonton konten tersebut. "Bukankah ini paman Rusdi? Apa yang terjadi?" Tanya Putri terkejut.


Putri memang tidak tahu apa-apa, seharian kemarin hanya di rumah menjaga suaminya, jadi begitu melihat fakta dari berita ini, ia begitu terkejut. Baru kemarin ia berurusan dengan Rusdi tapi hari ini ia sudah diringkus polisi.


"Dia melakukan kejahatan pada istri kepala desa kemarin, kepala desa menangkap dan menyerahkannya pada polisi." Jelas Siska.


"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah kemarin dia masih utuh?" Tanya Putri lagi. "Cih! Mampus kau Rusdi! Bajingan sepertimu memang pantas mendapatkannya!" Lanjutnya berdesis.


"Apanya yang utuh? Baguslah dia ditangkap, anggap saja sebagai pelajaran karena sudah menindas kakakku! Rasakan saja karma dari perbuatan jahatnya!" Desis Siska penuh kebencian. "Bajingan seperti dia memang pantas, kak!" Lanjut Siska menyetujui perkataan putri.


"Memang bagus, hanya saja, baru kemarin, tapi aku masih tidak menyangka dia malamnya langsung ditangkap. Aku tertinggal informasi kalau begini! Ah, ambil ini, aku mau mengabari suamiku." Ucap Putri semangat, ia kemudian pergi setelah menyerahkan ponsel pada Siska.

__ADS_1


"Nak, kalian merekam Rusdi semalam, apa ini perbuatanmu?" Tanya Ayah, menatap Siska serius.


"Memang perbuatan kami, Bapak tenang saja. Lagipula semalam aku sudah koordinasi dengan polisi dan pemuda terpelajar itu begitu mau merekam kejadiannya. Tidak apa-apa untuk ditayangkan secara umum, malah bagus untuk memotivasi katanya, agar semua orang yang mau berbuat jahat bisa memikirkan resiko-resikonya. Bapak juga lihat ini, di dalam juga ada pelajaran yang bisa diambil, aku juga memasukkan norma dalam undang-undang, atas tindak kejahatannya." Jelas Siska panjang lebar, untuk menenangkan Ayahnya, agar ia merasa tenang menyikapi perbuatan dirinya.


Begitu terlahir kembali, Siska semakin cerdik jika mau berbuat sesuatu, ia memperhatikan hal-hal kecil disekitarnya begitu mau melakukan sesuatu, sebagai bahan pertimbangan, benar dan tidaknya perbuatannya ini. Salah satunya adalah ketika ia berjualan dipasar, pertama kali, sebetulnya ia langsung mendatangi penguasa pasar, bernegosiasi agar tidak mengganggu dirinya. Dengan syarat Siska harus membayar uang bulanan.


Zaman sekarang ini, pasar mana yang tidak ada penguasanya? Kalaupun tidak ada, tentu ada saja yang akan iri dan berbuat jahat, bukan? Apalagi jika melihat dagangan orang lain sangat laris, sedangkan dagangan sendiri tidak. Iri dengki pasti akan ada di setiap lingkungan.


Kegiatan dagang Siska beberapa hari ini tenang, dikarenakan penjagaan penguasa ini. Jadilah Siska bebas berjualan dengan aman tanpa khawatir gangguan dari banyak pihak. Orang- orang ini selalu menjaganya dari kejauhan. Tentu, dengan imbalan yang cukup. Tanpa imbalan, manusia dizaman ini, siapa yang mau?


"Baik, kalau begitu aku tenang." Hela Ayahnya menjadi lebih tenang.


"Yasudah, ayo masuk dulu, Mama juga mau memberikan surat ceraimu, itu sudah datang pagi ini, begitu kau berangkat tadi." Ucap Ibunya seraya merngkul Siska masuk kedalam rumah.


"Eh, kak! Sisa jualanmu ini kemanakan?" Pekik Segan sebelum Siska masuk.


Siska memang sengaja menyisakan jualannya, untuk kegiatan konten yang akan Siska buat dengan Ergan nanti malam. 1rb Cireng isi, tapi yang dijual hanya sembilan ratusan, sisanya untuk konten makan banyak yang akan ia buat untuk di posting di tutub. Lampu untuk membuat kontennya juga sudah dibeli tadi.


"Bawa masuk, dong. Simpan dulu saja, nanti malam kita buat konten untuk postingan perdana di tutub." Ucap Siska seraya berbalik menatap Eegan, "Sudah nanti lagi. Sekarang mau bahas masalah perpisahanku dengan Aldo dulu." Lanjut Siska, kemudian berlalu bersama ibunya, diikuti Ayah dan Ergan.


"Kalian dua adik kakak ini, baik-baiklah, perhatikan setiap tingkah laku." Nasihat Ayah pada Ergan, seraya menepuk pundak Ergan setelah menghela nafas beberapa kali.


"Bapak tenang saja, kak Siska dan aku tahu batasan." Balas Ergan mengangguk dengan mantap.

__ADS_1


*


*


__ADS_2