
*
*
Besoknya, karena Siska sudah lama sekali tidak mengantar Uqi ke sekolah, ia pun bersiap dan menyiapkan Uqi, mengantar Uqi pada pukul 6 lebih 20 menit. Dengan Uni yang tak lupa di ajaknya.
Begitu sampai, di depan gerbang terlihat ada Zen yang sedang menunggu, ternyata menunggu Uqi. Di sampingnya ada Ayahnya, Randu.
Siska terbatuk refleks melihat Ayah Zen. Ketika ia teringat akan kenangan sebelumnya, yakni ketika Ayah Zen mulai mendekatinya dengan perantara Zen sendiri.
Ah saat itu dirinya bahkan tidak ada niatan mau dekat dengan laki-laki lagi. Randu ini malah gencar sekali mendekati, hanya karena Siska abailah, jadi Randu sempat berhenti. Apa mungkin sekarang ia tahu dirinya sudah pulang dan berniat mendekatinya lagi? Oke cuku, jangan membuat kesimpulan sendiri yang berakhir mempermalukan diri sendiri. Akan menjadi canggung, meski hanya dirinya yang tahu.
Tapi, tidak tahu apa yang salah dengan Siska, ketika giliran Darren yang mendekatinya, anehnya ia malah menerimanya pada akhirnya? Ah metodenya mungkin berbeda, ia menjaga Siska dan berpura-pura menjadi keamanan pasar padahal aslinya pemilik dibaliknya.
Lalu Darren selain menjaga, ia juga sempat menghalau Aldo yang mau mencelakai Uqi meski akhirnya tetap celaka juga karena neneknya ikut campur.
Ada lagi, Ia juga dekat dengan Uni dan terlebih Ayah serta keluarganya. Coba pikirkan, jika sudah seperti itu, wanita mana sih yang akan menolak godaan? Terlebih, ia aslinya bos besar, dan memperlakukan dirinya sebaik-baiknya. Tidak ada kata bos besar di depan dirinya.
Juga, Sifatnya yang datar, lempeng, dan irit bicara, menurut Siska juga menjadi salah satu hal menarik. Siska seolah tertantang karena ia menjadi ingin memancing Darren agar lebih banyak bicara dengannya.
Ah membicarakan kedataran Darren sebelumnya, ia sengaja begitu sebagai pertahanan diri, katanya. Meski memang sifatnya begitu di luaran, tapi ketika Siska menerimanya, sifatnya jauh dari kata datar dan irit bicara. Menyenangkan.
Selain itu, sifat satu ini hanya ditunjukkan padanya saja. Meski sempat beberapa kali terpergok berlaku manis dan menyenangkan, tidak masuk hitungan ketika itu tidak disengaja, oke.
Kembali ke keadaan nyata sekarang, Siska mengangguk dan menatap Randu, menyapanya ala kadar. Begitupula Randu yang sama-sama menyapa. Bedanya senyumnya lebih lebar dari yang Siska tunjukkan. Senyum formalitasnya berubah menjadi senyum lebar seolah sangat senang.
Membuat Siska langsung berpaling, berdalih melihat Uqi yang kebetulan memanggilnya untuk pamit masuk ke dalam sekolah, dengan Zen yang juga sama-sama tersenyum senang melihat Siska lagi di sana.
Siska juga menyamakan perlakuannya pada Uqi dan Zen ketika keduanya berpamitan. Sama-sama mengusap kepala dan menasehati keduanya agar keduanya belajar dengan baik.
Kemudian setelah keduanya pergi, Randu masih tetap ada di sana, menatap Siska dengan tatapan lembut? Oh tidak, Siska merasa sangat canggung saat ini. Dan Siska dengan cepat pamit untuk pergi dari sana secepat mungkin.
"Aku membawa motor, mau pulang bersama?" Tawar Randu menatap Siska penuh harap.
__ADS_1
"Ah? O-oh, tidak perlu. Aku juga bawa kendaraan sendiri. Aku masih ada urusan yang perlu ditangani, kalau begitu, mari, aku duluan." Jawab Siska dengan tatapan tidak enak, kemudian dengan cepat berpamitan.
Randu terlihat menghela nafas kecewa, tapi ia juga tetap mengangguk pada akhirnya, dan menghantar Siska dengan senyumnya. Sampai Siska hilang dari pandangannya.
Dalam mobil, Siska langsung menghela nafas lega. Seolah ia baru saja keluar dari ruangan pengap. Supirnya bahkan terheran-heran melihatnya, meski tidak bertanya, tapi terlihat jelas di wajahnya jika ia heran pada sikapnya.
"Pak, bawa aku ke kedai. Sudah lama sekali aku tidak kesana. Hmm, tidak sabar ikut memasak juga melayani pelanggan. Ah yang paling aku rindukan adalah menghitung keuntungan." Ucap Siska dengan senang. Diibukota meski sama-sama menghitung keuntungan, jelas sangat berbeda, ia hanya mengecek pelaporannya saja yang telah diselesaikan oleh Satria.
Sedangkan di sini, ia bisa bebas menghitung dari banyaknya penjualan makanan yang terjual. Juga, tidak ada penanggung jawab selain kakak kedua dan kakak ipar keduanya.
Ah ngomong-ngomong, kini Santi menjaga kedai dikaabupaten sendirian. Nanti ia juga akan memberitahu keluarganya perihal mengirim Santi ke ibukota untuk menemani Rendra, agar ia ada yang mengurus dan menemani.
Jadi kakak kedua dan kakak ipar kedua juga akan dipindahkan ke kabupaten saja. Kabupaten bisa ditempuh bolak balik, jadi meski kakak ipar keduanya, Putri, tidak ikut ke kabupaten, Sapta masih bisa pulang. Jarak desanya dengan kabupaten sekitar 2 jam an. Jadi lumayan dekat untuk ukuran jarak yang bisa tempuhnya.
"Sudah sampai, nona." Ucap Supir, membuat Siska sadar dari lamunannya. Kemudian dengan cepat turun dan memasuki kedai yang masih sibuk menyiapkan bahan dan membereskan meja serta kursi.
Siska yang baru masuk, tentu saja di sapa hangat oleh semua pegawai. Ada beberapa pegawai baru, tapi pegawai lama yang direkrutnya dengan senang menghampiri dan menanyakan kabarnya. Membuat Siska juga tersenyum senang dan mengobrol sedikit sebelum akhirnya pergi ke dapur, membantu Sapta dan Putri yang sudah sampai di dapur duluan, sedang menguleni adonan untuk membuat cireng, cilok, dan cirambay. Menu andalan di kedai desa ini. Ah ada beberapa menu baru manis yang ditambahkan juga, sama dengan yang ada di reto cafe yang dibangunnya di ibukota.
"Kau datang? Istirahat saja, kami akan segera selesai mengadoni." Ucap Sapta mengibaskan tangannya, tahu sendiri jika adiknya ini baru sembuh dari sakit beberap hari yang lalu. Jadi, tidak perlu susah payah membuatnya membantu.
"Tidak, aku datang untuk membantu." Ucap Siska, yang kemudian langsung ikut mencetak cirambay, karena bagian ini dilakukan oleh adik ipar Sapta. Jadi pengerjaan agak lambat juga.
Adik ipar Sapta menyapa ramah Siska, dan keduanya bekerja sama mencetak cirambay, membuat pembuatannya menjadi lebih cepat.
Sampai akhirnya datang di bagian penggorengan, Sapta pun langsung mengusir Siska ke depan, agar beristirahat dengan baik. Ia tidak mau Siska jatuh sakit lagi, tunggu sampai ia benar-benar sembuh, Karena Sapta rasa, Siska masih butuh istirahat banyak.
Siska mendengus kesal karena Sapta mengusirnya berkali-kali. Kemudian seringaian muncul dibibirnya, lihat nanti, dia akan menendangnya ke kedai di kabupaten.
"Haih, ayu! Kemarilah, aku ingin tahu bagaimana keadaan kedai selama aku tidak ada?" Tanya Siska.
"Sangat baik, pelanggan meski tidak seramai awalan, tapi tetap memenuhi kedai kita. Apalagi kedai buka sampai pukul 9 malam. Ah juga, lebih ramai ketika malam hari, banyak anak muda yang nongkrong." Balas Ayu.
Siska mengangguk,"Baguslah, aku jadi tenang." Balasnya. "beberapa hari lagi aku akan kembali memimpin disini, apa kau senang?" Tanyanha kemudian, dengan senyum lebar. Menatap Ayu yang menatapnya antusias.
__ADS_1
Bos sebaik Siska, siapa yang tidak mau? Haha. Apalagi Siska lebih royal daripada Sapta. Uh, sangat menyenangkan bagi karyawan seperti Ayu.
"Apa maksudmu? kau mau mengusirku?!" Sapta tiba-tiba datang dan menghampiri Siska dengan wajah kesal.
"Benar, aku akan menendangmu karena hari ini membuat moodku buruk!" Dengus Siska mendelik kesal. Ia masih dendam padanya oke.
"Astaga, Sehat juga untukmu sendiri! Kau keras kepala! Apa Darren yang memengaruhimh, ha? Lihat nanti akan aku hajar dia!" Gerutu Sapta ikut kesal.
"Kak! Tidak ada hubungannya dengan dia! Apa-apaan itu?! Otakmu isinya mau menghajar Darren terus, menyebalkan!" Balas Siska.
"Tidak, kau dulu begitu penurut. Lihat sekarang, setelah bergaul dengan manusia kutub satu itu. Perubahanmu besar sekali!" Ucap Sapta.
"Aku berubah karena sudah masuk ke dunia bisnis. Masa seperti itu saja tidak tahu?! Dasar payah. Jangan memfitnah Darrenku!" Balas Siska.
"Apa? Darrenmu?! Sudah terang-terangan hmm? Lihat nanti aku hajar dia! Memangnya aku tidak tahu apa yang terjadi lada kalian di ibukota kemarin, ha? Enak saja mengambil keuntungan dari adikku!" Emosi Sapta.
"A-apa maksudmu? Keuntungan apa?!" Tanya Siska.
"Lihat ini, lihat! Siapa ini, ah?!" Tanya Sapta seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan satu foto dimana Darren dan Siska terpergok berciuman di atas ayunan.
"KAK! Kau dapat darimana?!" Pekik Siska seraya melebarkan matanya. Wajahnya langsung memerah, malu. Apa Ayahnya yang memfoto dirinya? Astaga, astaga, dia kira ayahnya hanya menegurnya saja! Tidak tahunya? Oh memalukan sekali! Pikir Siska.
"Masih tahu malu, ha?! Dasar keras kepala!" Omel Sapta, memelototi Siska.
"Ahhh, tidak tahu, tidak tahu, tidak kenal, itu bukan aku!" Dalih Siska kepalang malu, tapi ngotot, mengatakannya dengan kesal.
Sapta berdecak, mendelik tak suka pada Siska. "Diam dan turuti aku. Jangan banyak melakukan pekerjaan!" Perintah Sapta pada akhirnya, membuat Siska mendengus, tapi pasrah saja dengan keadaan yang menimpanya. Hanya bisa menuruti kakaknya dulu untuk sementara waktu.
Sementara waktu, oke. Tidak lebih.
*
*
__ADS_1