Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Menagih Keseriusan


__ADS_3

*


*


1 Minggu berlalu, hari ini adalah hari dimana Siska sudah boleh kembali ke rumah. Siska yang terus berbaring di tempat tidur, akhirnya tersenyum lebar karena bisa pulang.


Selama di rumah sakit, selain Darren dan Bu Arum yang bolak-balik mengantarkan kebutuhan, Ada Suherman, yakni Ayah Siska yang menyusul esok harinya setelah dikabari Darren, dengan Rendra, kakak sulung Siska.


Keduanya sepakat datang menjaga, dan menghandle pekerjaan Siska di restoran cafe karena Satria benar-benar kewalahan mengerjakannya sendirian.


Suherman dan Rendra begitu datang, tidak memarahi Siska, karena pada saat itu Siska terlihat sangat lemah dan pucat. Demam nya pula belum turun benar. Alhasil, keduanya hanya menghela nafas sedih melihat kondisinya.


Darren pula, karena Suherman dan Rendra datang, ia menjadi lebih santai. Ia bisa pergi ke perusahaan dengan tenang, juga kembali bekerja di perusahaannya.


Sahni menghubunginya terus menerus, jadi Darren mau tak mau juga harus kembali bekerja. Sedangkan Haris, yang saat itu menghandle pekerjaan Darren di luar negeri, waktu dinas yang awalnya satu Minggu, malah bertambah menjadi dua Minggu, karena para kolega ada beberapa yang meminta perpindahan jadwal.


Haris sebagai asisten, hanya bisa menurut, apalagi Darren sulit dihubungi untuk meminta pendapat ketika ia berada di rumah sakit. Ketika di rumah sakit, Darren menjadi sosok paling sulit dihubungi dan ditemu, membuat Sahni dan Haris pusing sendiri.


Meski begitu, Darren jadi suka datang ketika Sahni sengaja menghubungi Siska, menyuruh Siska agar membujuk Darren untuk pergi ke perusahaan. Dengan wajah merajuk, Darren pun mau.


Restoran Cafe berjalan lancar di bawah kendali Satria dan Rendra. Satu Minggu ini, pelanggan selalu memenuhi tempat tersebut. Apalagi dengan promosi gratis di akun tutub Ergan, respon yang didapat sangat positif setelah sebelumnya ia memposting review rumah barunya di Turnuksio Residence.


Keuntungan terus masuk dan pasokan bahan terus berkurang, membuat Satria setiap harinya harus memasok bahan terus menerus. Padahal ketika membeli, ia membeli pasokan bahan untuk satu bulan setiap kalinya.


Satria cukup sibuk dengan menghubungi dan membujuk distributor. Jadi ketika penghitungan keuangan, Rendra lah yang terkena dampaknya. Rendra memang pusing menghitung setiap hari, tapi pusingnya seketika sembuh ketika selesai menjumlahkan semuanya. Keuntungan yang masuk benar-benar besar.


Setiap hari, keuntungan yang masuk mencapai 1M, kadang bisa melebihi juga. Karena tidak ada lagi diskon, jadi pendapatan yang masuk di hari kedua dan seterusnya menjadi dua kali lipat dari hari pertama.


Tapi setelah satu Minggu, Satria dan Rendra yakin, Restoran Cafe tersebut tidak akan sepadat Minggu pertama. Jadi, keduanya harus bisa bertahan di Minggu pertama, dengan terus mengerjakan, mengatur, dan menghitung semua pengeluaran juga pemasukan.


Siska sendiri hanya menerima laporan juga uang. Tapi karena ia masih di rawat seminggu ini, membuat Rendra menyimpannya langsung di rumah, di kamar Siska yang ada di Turnuksio Residence.


Kini, Siska sudah keluar rumah sakit. Dijemput oleh Darren tentu saja. Darren meluangkan waktunya di siang hari untuk menjemput Siska dan Suherman. Sedangkan Rendra masih ada di restoran Cafe. Jadi yang menjemput hanya Darren seorang diri.


Sesampainya di rumah, Siska makin tersenyum lebar. Ia rindu rumah, rindu kebebasan. Bagaimanapun, rumah sakit sangat, sangat, tidak enak. tidak nyaman, dan tidak akan lagi ia mau masuk ke sana untuk kedua kalinya. Makanan sangat hambar, dan dirinya tidak diperbolehkan memakan makanan selain dari rumah sakit sebelum demamnya turun. Juga masih ada obat yang harus diminum setiap 3 kali sehari, ditambah bau rumah sakit sangat tidak nyaman, meski aslinya di ruang rawatnya tidak ada bau seperti rumah sakit pada umumnya, karena Darren menambah pengharum ruangan disana.


Jadi, itu hanya alasan Siska belaka saja. Agar ia cepat-cepat pulang. Memotivasi dirinya sendiri agar mempercepat kesembuhannya.


"Senang, eh?" Tanya Darren seraya mengacak rambut Siska pelan.


"Yaaaa, tentu saja! Ah, disini sangat sejuk." Ucap Siska dengan nada penuh semangat.

__ADS_1


"Kalau begitu, kau harus tetap sehat. Oke?" Ucap Darren seraya tersenyum. "Jangan lagi membiarkan perutmu kosong, seperti waktu itu." Lanjutnya mencibir.


"Kau penyebabnya, kan! Siapa suruh menyebalkan?" Tanya Siska, ikut mencibir.


"Tapi tidak perlu sampai tidak makan. Memangnya kau anak kecil, hmm?" Tanya Darren.


"Ck, aku hanya lupa. Terlalu sibuk di restoran." Alibi Siska seraya berdecak kesal. Mendelikkam mata juga tidak lupa ia lakukan.


"Baiklah, baiklah, salahku, kali ini salahku. Aku minta maaf... lain kali, aku janji tidak akan pernah lupa lagi. Tapi kau juga harus janji, agar tetap sehat, meski aku tidak di sampingmu. Mengerti tidak?!" Tanya Darren memicingkan matanya.


"Ya, ya, ya, mengerti! Tidak perlu diulang-ulang, aku bukan anak kecil. Malah sudah punya dua anak kecil." Ucap Siska, dengan gumaman di akhir.


"Ayo makan dulu." Ajak Suherman, menginterupsi keduanya yang saling mencibir. Ia datang dari arah dapur.


"Makan! Ayo! Aku ingin makan ayam panggang! Ah, sudah lama sekali. Apa Bu Arum memasak ayam panggang?" Tanya Siska, ia beralih pada Suherman, berjalan cepat dan langsung menggandeng lengan Ayahnya tersebut.


Darren yang diabaikan, mendengus kesal. Makan memang no satu. Tapi kalau sudah lupa, ya pasti lupa. Siska ini memang lain dari yang lain.


Darren tidak buru-buru, ia mengambil tas besar yang berisi baju Siska. Membawanya ke kamar Siska, dan menyimpannya. Yang bersih disimpan di kamar, Yaang kotor ia bawa ke ruang cuci. Sekalian punya dirinya, juga Suherman. Bu Arum nanti yang akan mencuci semuanya, tapi tenang saja, ada mesin cuci yang sudah dibeli. Jadi Bu Arum pun tidak akan terlalu lelah nantinya.


Setelahnya, Darren baru menyusul ke arah ruang makan dan duduk di seberang Siska yang duduk di sebelah Ayahnya. Darren tersenyum lembut mihat interaksi keduanya. Apalagi raut riang Siska. Darren menjadi ikut senang ketika melihatnya. Daripada raut ketika Siska sakit, ia menyukai yang ini.


Siska kemudian mengambilkan nasi serta lauk pauknya untuknya. Membuat Darren semakin melebarkan senyumnya. "Terimakasih..." Ucapnya dengan mata menyipit.


Suherman menggelengkan kepalanya. "Makanlah, isi perutku dengan benar. Beberapa hari ini Bapak lihat kau tidak makan dengan benar." Ucap Suherman.


"Ya, aku suruh makan juga tidak mau. Tapi ketika menyruhku makan malah memaksa jika aku tidak mau. Menyebalkan tahu." Gerutu Siska.


"Kau sedang sakit, Siska. Setelahnya harus minum obat, masa tidak makan?" Tanya Darren tekekeh. Siska mendengus, tapi kemudian semuanya makan dengan khidmat.


20 menit kemudian, acara makan telah selesai.


Siska, Suherman dan Darren duduk di ruang keluarga seraya menonton serial televisi.


Suherman ada di atas sofa dengan kaki yang diselonjorkan, sedangkan Siska ada di bawahnya, duduk di atas karpet dengan sandaran sofa, begitupula Darren, duduk di samping Siska.


Serial laga adalah favorit Suherman sejak dulu. Jadi begitu ada tayangan tersebut, tentu ia akan menontonnya, apalagi waktunya kini senggang juga. Membuat Siska dan Darren juga ikut menonton tontonan tersebut.


Tapi sesekali, keduanya mengecek ponsel masing-masing. Terlebih Darren, karena begitu banyak email yang masuk ke ponselnya. Alhasil, meski mendengarkan, matanya fokus membaca setiap email dan pesan laporan dari Sahni dan Haris.


"Oh ya, kontruksi besar-besaran di jl. Turnuksio mulai kapan?" Tanya Siska tiba-tiba teringat, ketika serial laga di depannya menunjukkan pembangunan rumah besar.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Siska yang sudah pasti ditujukan padanya, Darren pun beralih padanya, mengabaikan email dan ponselnya. "Sudah tahap mengumpulkan bahan. Dalam tiga hari seharusnya sudah mulai kontruksi." Balas Darren.


"3 hari? Lumayan cepat juga. Lalu berita akan menyebar dalam 3 hari juga, bukan?" Tanya Siska.


"Tidak, paling lambat sepertinya besok. Karena bahan akan dikirim langsung besok ke tempat. Jadi mungkin ada saja orang yang melihat dan bertanya nanti." Jawab Darren lagi.


Beberapa orang yang penasaran pasti akan bertanya, lalu akan menyebarkan berita besar tersebut setelah tahu informasinya.


"Eumm aku tidak sabar menunggu tahun depan kalau begitu!" Ucap Siska antuasias.


Darren tertawa kecil, "Baiklah, tidak sabar menjadi bos besar hmm? Calon nyonya kaya raya, kan?" Goda Darren seraya menaikkan alisnya.


"Tentu saja! Haha, lihat nanti respon orang yang mengejekku karena membeli rumah disini. Muntah darah mungkin yang paling ringan, bukan?" Ucap Siska seraya tertawa bangga.


"Ketika mereka tahu, sudah tidak sempat membeli rumah dengan harga murah. Tentu saja mereka akan menyesal tidak membeli sebelumnya." Balas Darren.


"Ah benar! Nanti sekalian renovasi rumahku, boleh tidak? Tapi aku serahkan padamu semuanya saja, aku minta tagihannya saja nanti." Ucap Siska, menatap Darren dengan senyum manis, membujuk Darren agar mau.


"Aku sudah sibuk, tahu! Tapi apa yang tidak buatmu, hmm?" Balas Darren.


"Kau yang terbaik! Terimakasih!" Pekik Siska, kemudian memeluk Darren seketika.


"Ekhem! Ekhem!" Dehem Suherman menatap keduanya dengan mata tajam.


"Bapak! Hehe." Ucap Siska seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Darren, kalian, aih..." Ucap Suherman seraya menghela nafas. "Segera ajak orang tuamu menemui kami, bawa keduanya ke rumah. Melihat kalian yang seperti ini, sepertinya memang harus disegerakan bukan?" Ucap Suherman serius.


"Bapak! Jangan begitu, Siska yang malu tahu. Biarlah, Darren nanti yang memutuskan." Ucap Siska.


"Tidak apa, aku akan segera membawa orangtuaku. Bapak jangan khawatir. Lagipula, aku memang sudah menunggu lama untuk bisa sampai ke hari ini." Ucap Darren, awalnya menatap Suherman dengan tegas, kemudian beralih pada Siska, menatapnya dengan lembut, juga tersenyum.


"Baik, bapak tunggu kabar baiknya." Ucap Suherman. "Lalu, pindah ke tempat lain, bapak sedang menonton, terganggu. Kalian terlalu berisik." Lanjutnya, mengusir dua sejoli yang sedang kasmaran di depannya.


Siska dan Darren terbahak. Kemudian keduanya pindah ke teman di depan rumah. Duduk di ayunan kayu dengan semilir angin yang menyejukkan. Memang siang hari, tapi tidak panas, karena rumahnya dikelilingi tanaman dan pohon.


Setelah duduk dengan nyaman, kemudian keduanya kembali mengobrol dengan santai.


*


*

__ADS_1


__ADS_2