Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Tante Tomat


__ADS_3

*


*


Makan siang telah selesai, Siska makan dengan enggan kali ini, moodnya benar-benar hilang. Kesal apalagi, hatinya juga sudah menggerutu sedari awal, tidak pernah berhenti.


Tapi di luar, ia tidak lagi menunjukkan gerutuannya. Hanya rautnya sajalah yang berubah menjadi tidak senang. Raut ramahnya hilang tertelan ketidak senangannya. Bahkan Chika, yang kini ada dalam satu mobil dengan Siska dan Uni, juga tidak berani mengajak Siska mengobrol.


Kini, Uni bahkan memainkan ponsel milik Chika. Menonton kartun anak-anak di aplikasi tutub.


Chika tahu penyebab Siska tidak senang adalah berita dan foto yang diperlihatkan olehnya tadi. Tapi Chika tidak merasa menyesal telah memberitahu Siska. Siska ini orang baik, terlampau baik padanya, jika dirinya malah tidak memberitahu Siska, justru dirinya akan merasa bersalah karena diam saja.


Siska harus tahu berita ini, Chika tidak ada maksud lain. Chika hanya ingin, memberitahu berita saja. Tapi, maksud pemberitahuannya adalah ia berharap Siska mau bergerak dan mengusir Kathrin, tidak membuat suasana dan perasaan Siska menjadi buruk.


Chika salah perhitungan. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Ia hanya bisa berharap Siska segera kembali ke raut ramah dan menyenangkannya.


"Nona, sudah sampai." Ucap sopir pada Siska.


Siska menganggukkan kepalanya. "Uni mau ikut ibu apa menunggu disini bersama kak Chika?" Tanya Siska tersenyum kecil.


"Ikut mbuu, Uni mau memilih lumah yang bagus untuk kakak!" Seru Uni semangat. Membuat perasaan Siska sedikit lebih baik. Chika juga jadi merasa lega, karena Siska sudah lebih baik, sudah lebih bisa tersenyum hangat.


"Baiklah, ayo kita pilih rumah! Mau ibu gendong atau jalan dengan kak Chika?" Tanya Siska lagi.


"Jalan! Jalan! Uni mau jalan-jalan!" Ucap Uni lagi, membuat Siska mengangguk. Kemudian ia turun, dan membuka pintu di samping Uni. Membantu Uni turun, diikuti Chika yang ikut turun setelahnya.


Ketiganya kemudian masuk ke dalam, meninggalkan mobil dan sopir yang masih enggan mengikuti Siska. Tidak apa-apa, lagipula kali ini tidak ada hubungan dengan sopirnya.

__ADS_1


Begitu masuk, Siska langsung di sambut oleh dua orang pegawai. Dan Siska di persilahkan duduk di depan counter pemilihan rumah.


Sementar Siska mendudukkan dirinya dengan Uni dan Chika, pegawai itu, berbalik dan masuk ke dalam ruangan dibalik counter, mengambil satu buku yang di dalamnya berisi foto rumah, berikut dengan luas, dan semua ruangannya, lengkap.


"Nona, silahkan, anda bisa melihat rumah yang nona impikan terlebih dahulu. Lalu aku akan menjelaskannya setelah nona memilih satu persatu yang menarik perhatian nona." Ucap Pegawai tersebut dengan ramah.


Siska melihat satu persatu lembar yang ada di buku yang telah ia pegang. Mulai dari halaman pertama, sampai halaman selanjutnya.


Bentuk dan luasnya macam-macam, tapi Siska jatuh cinta dengan satu rumah yang ada di salah satu perumahan di ibukota. Gardana nama perumahannya. Luas rata-rata rumahnya sama. Satu rumah ada berbagai macam lantai.


Siska suka dengan yang 3 lantai. Tapi, mengingat nantinya rumahnya akan kosong beberapa waktu, Siska memilih rumah dengan dua lantai. Dengan luas yang sama dengan rumah yang tiga lantai. Satu rumah berisi 4 kamar di masing-masing lantai. Kamar mandi di setiap kamar dan satu di area dapur. Include dengan ruang makan, ruang tamu, dan ruang keluarga. Ada satu perpustakaan kecil yang disatukan dengan ruang kerja di lantai dua. Di samping halaman ada satu kolam renang, garasi tentu saja ada. Dan ada balkon juga di lantai dua. Gerbang tentu saja tinggi dengan besi ringan warna hitam yang biasa dipakai gerbang.


Karena di perumahan, harga rumah ini rata rata di atas 800 juta. Dan rumah yang Siska pilih adalah yang harganya di tengah-tengah, yakni 1.5M. Di rekeningnya, kini hanya ada sekitar 1M setelah Siska meminta setoran lebih awal dari dua kedai. Oh ia hampir lupa, di rekening satunya lagi masih ada uang pembayaran dari Bu Wasilah, selama ini ia tidak pernah menggunakannya, tapi karena ia butuh, alhasil kali ini ia akan mengambilnya.


Setelah bekerja sama, Bu Wasilah sudah 6 kali meminta pengiriman. Setiap pengiriman Siska mendapat bayaran sebanyak 200 juta. Jadi di rekeningnya tersebut ada sekitar 1.2M, karena Siska belum pernah memakainya.


"Suka, mbu. Walnanya juga bilu! Uni sangat suka!" Seru Uni semangat.


Siska tertawa, begitupula dengan Chika yang terlampau gemas pada Uni, "Baiklah, kita pilih ini saja, oke tidak sayang?" Tanya Siska lagi.


"Sangat oke!" Pekik Uni.


"Maaf, kami pilih ini saja. Tapi, aku ingin properti di dalamnya juga sudah lengkap. Jika begini, tambah berapa harga rumahnya?" Tanya Siska. Ia tidak ada waktu mencari properti, apalagi rumah ini akan dipakai sore ini juga. Jadi, lebih baik ia memakai jasa agennya sekalian. "Oh, dipakai untuk sore ini juga. Kira-kira pukul 5 sore." Lanjut Siska.


"Maaf sebelumnya, dibayar cash atau kredit, nona?" Tanya pegawai.


"Cash, saja." Jawab Siska mengangguk.

__ADS_1


Mata pegawai menjadi berbinar, kemudian ia menjelaskan dengan cepat. "Rumah dua lantai dengan banyak ruangan, properti juga akan kami sediakan dengan yang bagus, kualitas jangan khawatir, kami bekerja sama dengan perusahaan properti ternama. Jadi akan sangat dijamin kualitasnya. Untuk harga, karena dibayar cash, kami memberi diskon jadi harga rumah sebanyak 1.3M saja. Lalu untuk harga tambahan properti, kami menetapkan harga 700 juta. Setiap kamar dan setiap ruangan akan terisi dengan barang sesuai kebutuhan. Termasuk sofa, meja dan kursi makan, set tempat tidur, lampu, lemari dan meja-meja lainnya, kulkas, televisi, dan alat elektronik lainnya juga. Kitchen set juga sudah masuk. Dijamin lengkap nona." Jelas pegawai.


"Baik, ambil yang ini. Aku bayar, gesek kartu saja." Ucap Siska.


Siska kemudian mengeluarkan dua kartu ATM untuk melakukan pembayaran. Satu yang biasa di milikinya, satu lagi adalah ATM dari rekening yang biasa dipakai transaksi dengan Bu Wasilah.


"Aku mau rumah ini! Berikan padaku!"


Suara angkuh yang tiba-tiba datang, membuat Siska menoleh ke samping. Lagi-lagi Kathrin. Tidak ada habisnya. Ia bahkan memilih rumah yang sama dengan yang Siska pilih.


"Aku bayar 3M!" Lanjutnya seraya menyodorkan kartu kredit, membuat Siska geram.


Dia mau bermain, bukan? Oke, mari ladeni.


"Aku bayar 4M." Balas Siska.


Kathrin berdecak kesal. "5M!" Ucapnya kemudian.


Siska tersenyum, "7M!" Serunya.


Kathrin menatap Siska geram, "10M!"


"Aiyo, aku tidak mampu membelinya lagi, baik, baik, berikan pada nona kaya satu ini saja." Ucap Siska tersenyum ramah. Kemudian ia beralih pada Uni. "Uni, kita pilih rumah baru saja, bagaimana? Tidak apa-apa ya? Tante tomat sudah merebutnya." Ucap Siska.


"Tidak apa mbuu, kita pilih yang lain yang lebih bagus saja! Tante tomat ini bialkan saja, bial busuk sekalian. Menyebalkan, mengganggu Uni dan Ibu telus, huh." Gerutu Uni seraya mendelikkan matanya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2