Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Rencana Pembalasan


__ADS_3

*


*


Siska sampai di rumah dengan keadaan lelah hati dan fisik. Akibat kejadian yang menimpanya barusan. Tapi Siska tidak banyak membicarakan kejadian tersebut meski Ayahnya bertanya apa yang terjadi padanya.


Ayahnya juga tidak memaksa, jadi menyerah dan menghibur Siska saja setelah menyuruhnya istirahat. Uqi dan Uni diserahkan pada Ayahnya sementara Sisk.ke kamar dan tidur dengan perasaan gelisah.


Tapi lebih baik seperti ini. Daripada ia terus merasa takut ketika bersama Uqi dan Uni. Ayahnya juga mengerti, jadi ia dengan cepat menyuruh Uqi dan Uni bermain dengannya saja. Begitu melihat, Siska sangat tidak baik, sering melamun juga terpergok oleh Ayahnya tersebut.


Alhasil, kini, setelah pukul 3, Siska tidak kunjung keluar, jadi Ayahnya mengajak Uqi dan Uni pergi ke kebun. Mengajaknya menyiram semua tanaman yang ada di kebun.


Sebagai kakek, ia senang-senang saja melihat kedua cucu bermain air dengan senang. Membuatnya juga ikut melanjutkan menyiram tanaman lainnya. Sampai waktu menunjukkan pukul 5 sore. Barulah Suherman dan dua cucu pulang dengan keadaan Uqi dan Uni yang kotor dan basah.


Uni ada dalam gendongan kakeknya, sedangkan Uqi berjalan di depan kakeknya dengan sesekali melihat ke belakang dan menjulurkan lidah pada Uni.


Ketiganya pun sampai, dan Siska sudah menyambut ketiganya dengan senyum lembutnya.


Melihat Siska yang sudah kembali membaik, Ayahnya menghela nafas lega. Ia menyerahkan Uni dan Uqi, pada Siska. Menyuruhnya memandikan keduanya.


Siska juga menyuruh Ayahnya membersihkan diri, sementara dirinya bisa memakai kamar mandi yang di rumah sebelah. Jadi, tidak saling menunggu dan lama.


Setelah Suherman selesai membersihkan diri, Siska masih belum kembali dengan kedua anaknya. Jadi Suherman, duduk di ruang keluarga, duduk di sebelah Ergan yang menonton televisi dengan Geri yang mengerjakan tugas. Terlihat sedang menulis.

__ADS_1


"Lihat Geri begitu rajin, kau malah menonton televisi." Tegur Suherman pada Ergan.


"Loh, pak? Aku sudah selesai lebih dulu. Ini lihat, ini buku punyaku. Aku baru saja selesai dan langsung menyetel televisi." Ucap Ergan membela diri.


"Aiyo, aiyo, santai sedikit. Bapak kan tidak tahu." Ucap Suherman seraya terkekeh.


"Oh benar, pak, ada yang mau Ergan bicarakan." Ucap Ergan tiba-tiba teringat, tidak lagi menanggapi Suherman perihal masalah tugas. "Tentang kak Siska." Lanjut Ergan berbisik.


Suherman langsung menanggapi begitu Ergan membicarakan Siska. Kebetulan ia masih penasaran perihal yang terjadi pada Siska hari ini. Mungkin Ergan juga tahu sedikitnya tentang ini.


"Apa? Apa yang kau tahu?" Tanya Suherman cepat.


"Aku barusan meminjam ponsel kakak, untuk mengerjakan tugas, karena ponselku mati, tidak ada baterainya. Lalu aku tidak sengaja membuka galeri ponselnya. Ada satu video di sana, sepertinya sangat baru. Mungkin video hari ini." Ucap Ergan, ia segera mengambil ponsel Siska dan membukanya. Langsung mengarahkannya pada galeri dan membuka video.


Video yang Ergan maksud adalah video yang tadi Siska ambil ketika Uni menangis karena cikinya berserakan. Siska tidak mematikan rekamannya sampai Aldo datang dan mengacau.


Suherman menatap video dan mendengarkan semua pembicaraannya dengan seksama. Lun dengan Ergan yang memang tadi tidak sempat mendengarkan sampai akhir, karena ada Siska yang datang duduk di sampingnya, melihati tugas-tugas di bukunya. Geri sa halnya, kini ia mencuri dengar percakapan dari ponsel Siska meski ia sedang menulis.


Setelah 2 menit, hal paling terkahir yang terdengar adalah suara panik Siska, nadanya juga sedikit terdengar gemetar. Kemudian rekaman selesai.


"Bajingan ini tidak ada habisnya!" Desis Suherman dengan kilatan emosi dimatanya. "Jadi Siska terlihat tidak baik karena Aldo kembali mencari masalah. Menurutmu, apa bapak masih harus berdiam diri membiarkan semuanya?" Lanjut Suherman, bertanya dengan suara tajam.


Ergan bahkan menelan ludah, takut sendiri melihat amarah ayahnya. Belum pernah ia melihat amarah ayahnya sampai seperti ini. Biasanya ayahnya terlihat sabar dan memaklumi, apalagi ketika dirinya berbuat nakal.

__ADS_1


"H-harus diberi pelajaran, pak. Ayo, mau berangkat sekarang? Aku temani." Ucap Ergan gugup. Takut sendiri, Geri bahkan terbatuk pelan melihat kakeknya yang terlihat seram. Ia langsung menenggelamkan diri kembali pada tugas tugasnya yang masih belum selesai.


"Tidak, mari main cantik. Harus melaporkan perbuatannya hari ini. Simpan videonya baik-baik sebagai bukti, sisanya, bapak akan suruh orang mencari saksi atas kejadian yang menimpa Siska hari ini, juga kejadian yang menimpa Uqi tempo hari lalu." Ucap Suherman dengan suara yang dalam.


Ergan langasung menganggukkan kepalanya, ia merebut ponsel Geri dan mengirimkan video tersebut pada ponsel Geri. Geri tidak melarang, gila saja .elarang disaat seperti ini. Mati saja dia ditatap kilat oleh mata kakeknya yang berapi api.


Tapi itu saja belum cukup. Masih harus ada bukti lainnya yang bisa membuat Aldo mendekam di penjara seumur hidupnya.


Tiba-tiba pikiran Suherman terbuka. Ia segera ke kamar tidurnya dan mengambil ponsel milik pasangan tersebut. Kemudian menghubungi Darren lewat aplikasi pengirim pesan.


Suherman menyuruh Darren agar mencari tahu lebih banyak bukti kejahatan Aldo dan ibunya. Kejahatan yang memberatkan Aldo dan Ibunya agar keduanya bisa mendekam di penjara.


Tapi, sebelum itu, Suherman juga ingin memberi keduanya pelajaran. Alhasil, Suherman juga menyuruh Aldo dan Ibunya miskin semiskin miskinnya sampai ditinggalkan dan dijauhi semua orang di sekitarnya. Terlebih Aldo, yang ditinggalkan oleh wanita yang saat ini ada di sampingnya.


Setelah begitu terpuruk, Aldo dan Ibunya juga pasti akan ditindas oleh orang orang yang membenci keduanya. Dengan begini, sebelum keduanya ditangkap, keduanya sudah merasakan kepahitan dalam hidup.


Darren membalas dan menyetujuinya. Meski ia tidak datang selama seminggu ini dan menemui Siska. Dirinya tetap memantau Siska dari jauh. Kejadian hari ini, Darren belum menerima kabar, tapi pasti anal buahnya sudah mencoba menghubunginya.


Darren masih ada urusan dengan pekerjaannya. Belum bisa ditinggalkan dan masih sangat sibuk. Alhasil hanya bisa menyuruh anak buahnya yang berjaga dan mengawasi.


Sudah seminggu sejak Siska baik-baik saja. Darren merindukan Siska. Tapi ia juga tidak bisa datang. Lagipula, ia masih menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian seminggu yang lalu. Darren masih takut tidak bisa menahan diri. Jadi ia masih harus diam menjauhi Siska. Menahan keinginannya yang setiap saat ingin menemuinya.


Satu-satunya jalan adalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Kebetulan ia menerima proyek besar. Dan proyek hanya akan beres dalam waktu 6 bulan. Selama ini, Darren tidak akan menunjukkan muka di hadapan Siska. Hitung-hitung menunggu masa iddahnya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2