
*
*
Siska sampai termundur di sofa yang yang di dudukinya begitu melihat Darren dengan wajah datar. Tapi ada sedikit ekspresi di sana. Karena ia juga sama terkejutnya dengan Siska.
Darren tahu Siska ke ibukota, tapi ia juga tidak tahu jika klien besarnya adalah Siska sendiri. Gila saja, kalau ia tahu dari lama, ia sudah akan pulang dari lama bukan? Anggap saja niatnya bertemu klien padahal modus ingin bertemu Siska.
Dunia ini sesempit inikah?
Bisa-bisanya kejadian begini terulang untuk ketiga kalinya pada Siska. Yang pertama itu, yang kejadian Zen, cucu pemilik kios, lalu kejadian anak Bu Wasilah, dan sekarang apa-apaan? Darren adalah bos besar dari PT Wistara Karsa?
Siska menggelengkan kepalanya frustasi. Bahkan kedua tangannya kini di kepalanya, dengan kepala yang menunduk meratapi nasibnya. Sialnya, jantungnya juga malah berdebar. Menyebalkan.
Disisi lain, Darren berjalan menghampiri Siska dengan profesional. Raut terkejutnya bahkan tidak lagi terlihat meski memang tidak akan terlihat oleh kebanyakan orang. Darren memposisikan diri disini secepat mungkin. Siska adalah kliennya saat ini, jadi anggap saja beda. Meski hatinya meletup-letup senang.
Darren mendudukkan diri di seberang Siska yang kini sudah kembali ke kesadarannya. Ia sudah duduk dengan tegak dan tegas. Menyapa Darren dengan menganggukkan kepalanya.
Keduanya langsung membicarakan masalah transaksi, ke tujuan awal niat keduanya bertemu. Darren juga memanggil seseorang dari luar, yang membawakan dokumen perjanjian pelunasan.
"N-nona ini?!" Seru Siska masam. Rautnya sudah sangat tidak enak dilihat. Nona di depannya adalah nona yang membantunya ketika ia ada dalam masalah di sekolah Uqi waktu itu.
Nona Sahni. Jadi ia bawahan Darren? Jadi, Darren mengawasinya selama ini? Siska bukannya tidak mau berterimakasih, ia sangat amat berterimakasih, tapi jika sudah tahu begini, Siska juga tidak bodoh jadi dengan cepat menyadari. Orang-orang Darren selama ini selalu ada di dekatnya. Menjaganya.
Tapi, untuk apa?
Pentingkah ia di mata Darren? Ini selalu Siska tanyakan dalam dirinya, karena Darren bela-belaan sampai sebegininya padanya.
__ADS_1
Sahni hanya mengangguk dan menyapa dengan senyum kecil. Kemudian ketiganya beralih pada obrolan serius kembali.
"Sudah selesai." Ucap Darren seraya mengambil cek di atas meja. Kemudian memberikannya pada Sahni dan Sahni pun pergi meninggalkan ruangan dengan membawa serta dokumen tersebut.
Karena sudah selesai, Siska pun akhirnya beranjak, ia ingin pergi, tidak mau berada di satu ruangan yang sama dengan Darren. Sangat tidak baik.
Tapi Darren menahannya. Darren mencekal pergelangan tangan Siska, membuat Siska menoleh ke belakang. "Ada apa, Tuan?" Tanya Siska berusaha seramah mungkin. Dan cepat melepaskan cekalan tangan Darren.
"Panggil aku Darren." Balas Darren, rautnya masam, tak suka sama sekali dengan panggilan Tuan dari Siska. Ia malah merasa semakin asing saja dengan Siska. Meski memang asing? Entahlah.
Siska menghela nafas, lagi lagi Darren ini tidak fokus pada apa yang ditanyakan Siska. Hanya masalah panggilan saja, harus dipermasalahkan sampai sebegininya?
"Iya, kenapa?"Tanya Siska lebih santai.
"Duduklah, mari ngobrol." Balas Darren menatap Siska.
"Oke, 10 menit. Uni masih menungguku di luar.", Balas Siska kemudian menuruti Darren dan kembali menduduki sofa yang tadi. Eh tapi, ada apa? Kenapa dirinya tiba-tiba menyetujui keinginan Darren? Pikirnya kemudian.
"Kau gila?" Tanya Siska dengan kernyitan didahinya. Aneh. Ini aneh. Darren tidak seperti ini sebelumnya, oke. Dia adalah manusia dingin menyebalkan. Si irit bicara, meski masih, tapi lihat perilakunya sekarang, mengapa malah seperti ini.
Darren menggelengkan kepalanya, "Maaf." Ucap Darren kemudian melepaskan tangannya. Ia sudah lupa batasan barusan. Tapi untung cepat sadar lagi. Hampir saja, hampir, ia bahkan sangat ingin memeluk Siska barusan. Jika Siska tidak bersuara, mungkin Siska sudah dalam dekapannya kini.
"Aneh. Cepatlah bicara. Uni menungguku." Ucap Siska lagi, mendesak Darren.
"Tidak ada, pergilah." Ucap Darren seraya mengedipkan dagunya. Membuat Siska emosi. Lalu untuk apa ia menahannya tadi.
"Yang benar saja? Mau main-main juga harus ada batasan, tahu!" Gerutunya kesal, kemudian pergi meninggalkan Darren yang menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Ah aku rindu wajah kesalnya." Gumam Darren tanpa sadar. Senyumnya bahkan terlihat lebar kini.
Sepeninggal Siska, Sahni masuk dan melihat Bos nya tersenyum lebar. Tentu terkejut, tapi karena Darren dengan cepat merubah raut wajahnya, ia pun tidak lanjut bertanya. Ia tahu, karena ia sudah ditugaskan beberapa kali menjaga Siska, Darren ada hubungan dengan Siska. Jika tidak, mengapa Sahni disuruh menjaga janda dua anak tersebut, kan?
"Bos, kita masih harus menemui Pak Tomi dari perusahaan Gemilang." Ucap Sahni. Sahni ini sebetulnya sekertaris dua milik Darren. Yang pertama adalah Ferdin, dia sedang ditugaskan oleh Darren dengan urusan lain. Jadi Sahnilah kini yang bisa mengikutinya.
Tenang, Sahni ini istri orang. Jadi, baik Darren atau Sahni tidak akan saling menggoda dan tertarik satu sama lain. Murni, pure, sebatas pekerjaan pimpinan dan bawahan.
"Baik, ayo pergi. Selesaikan semua jadwal hari ini, majukan waktu temunya. Malam aku ingin jadwalku kosong." Ucap Darren tegas. Wibawa dan kharismanya bluber. Jika Sahni lajang, mungkin akan terkagum, tapi sayang ia sudah punya suami dan 3 anak, haha.
Sahni mengangguk dan mengiyakan. Darren adalah orang yang paling tidak bisa dibantah. Jadi apapun yang dipintanya adalah sebuah keharusan. Mutlak.
Disisi lain, Siska masih menggerutu sepanjang jalan menuju tempat dimana Uni berada. Begitu sampai, Satria bahkan bertanya ada apa, karena raut wajah Siska sangat tidak enak dilihat.
Siska hanya menggeleng saja, karena Satria sendiri tidak kenal pada Darren. Keduanya mungkin belum pernah ketemu sebelumnya. Jadi, yasudahlah diamkan saja.
"Apakah bagian dalamnya sudah bisa dilihat?" Tanya Siska.
"Belum, nona. Masih ada pembangunan, jadi nona masih belum bisa masuk. Ditakutkan tertimpa, karena pengerjaan sekarang sedang membetulkan atap-atapnya." Balas Satria.
"Ah baiklah, kapan kira-kira aku bisa melihat dalamnya? Nanti kabari saja deh." Ucap Siska.
"Baik nona, tapi perkiraan karena waktunya 1 bulan lagi selesai, paling-paling satu mingguan sudah bisa, karena 3 Minggu sisanya adalah pengecatan dan penataan properti." Ucap Satria.
Siska mengangguk paham. Kemudian ia pamit pada Satria, ingin berjalan-jalan, meninggalkan pekerjaan pengawasan pada satria. "Untuk properti, besok kita pergi ke pusat perbelanjaan di kota ini. Hari ini, aku masih lelah, ingin mencari angin dulu saja." Lanjut Siska, yang kemudian pergi setelah diiyakan oleh Satria.
Taman kota adalah pilihannya. Tapi sebelum kesana, Siska menyuruh sopir untuk pergi ke toserba lebih dulu, untuk membeli seperangkat alat dan makanan untuk piknik berdua dengan Uni di taman kota.
__ADS_1
*
*