
*
*
"Ibu, Uqi ingin ke air." Ucap Uqi, mengguncang bahu Siska yang tertidur di sebelahnya. Membuat Siska terbangun seketika.
"Ah? Kenapa sayang?"Tanya Siska kemudian, ia mengumpulkan kesadarannya seketika.
"Ingin pipis, bawa Uqi ke kamar mandi, Bu." Ucap Uqi lagi, ia menatap Siska yang kini sudah sadar sepenuhnya.
Siska kemudian menggendong Uqi ke kamar mandi. Kakinya memang tidak terluka parah, tapi memang sempat terkilir ketika jatuh. Jadi, selain luka dikepala, sebetulnya kakinya juga masih sedikit sulit untuk berjalan. Katanya, terasa sakit.
"Uqi mau sendiri saja, apa ibu bantu?" Tanya Siska setelah keduanya ada di dalam kamar mandi.
Uqi menggelengkan kepalanya, "Uqi sendiri saja, sudah besar." Ucapnya, seraya mendorong Siska. Membuat Siska terkekeh kecil, padahal mandi saja terkadang masih dimandikan olehnya.
Eh tapi setelah diingat-ingat, Uqi memang sudah mandi sendiri akhir-akhir ini, Siska hanya memandikan Uni saja, sedangkan Uqi, jika Uni sudah selesai dimandikan, Siska dan Uni akan disuruh menungguinya saja di luar atau dikamar.
"Ah, anakku sudah besar." Gumam Siska kecil. "Oh, Bapak! Sudah pulang ternyata?" Tanya Siska begitu melihat Ayahnya yang masuk ke area dapur.
"Sudah lama, kau tidur tadi, pulas sekali." Balas Ayahnya, kemudian keluar dapur setelah mengambil air minum. "Sampai-sampai tidak sadar, tidur dipundak nak Darren." Lanjutnya bergumam, jaraknya sudah tidak terlalu dekat dengan Siska.
Tapi keadaan rumah yang sepi, membuat dirinya mendengarnya dengan jelas. Dengan cepat ia mengejar Ayahnya dan menghentikannya. "Bapak bilang apa barusan?" Tanya Siska ingin memastikan.
"Hmm? Kau tidur, pulas?" Tanya Ayahnya pura-pura tidak mengerti.
"Bukan, yang itu, yang terakhir." Ucap Siska menggeleng.
"Yang mana, nak? Bapak lupa sepertinya." Balas Ayahnya, terlihat alami, tapi Siska rasa sedikit menyebalkan.
"Pak ayolah, yang benar, ih? Ucapan ini, yang kata bapak Siska tidur di pundak Darren? Itu! B-benaran kah?" Tanya Siska menjadi sedikit gugup.
"Oh!" Beo Ayahnya seraya tertawa lebar.
Pak!
Ayahnya menepuk pundak Siska yang sudah menatapnya dengan raut tegang, dan horor. "Uqi memanggilmu." Ucapnya seraya mengedikkan dagunya menunjuk ke arah kamar mandi. Kemudian pergi tanpa berniat memberitahu Siska yang melongo tak percaya menatapnya.
__ADS_1
"Ah? Pak! Yang benar saja, dong!" Seru Siska kesal, dibuat tegang, malah akhirnya tidak diberikan jawaban.
Siska tidak mengejar lagi, tapi ia berbalik ke kamar mandi dan menggendong Uqi untuk kembali ke kasurnya. Setelahnya, Siska menyalakan televisi yang mati, dan memilihkan channel kartun untuk Uqi tonton.
"Oh, sayang, tunggu sebentar disini tidak apa-apakan? Ibu mau mencari kakek, mau menanyakan Uni ada dimana, boleh?" Tanya Siska kemudian.
Uqi mengiyakan, kemudian pergi meninggalkan Uqi dan berlalu ke depan. Ayahnya suka nongkrong di teras rumah di jam-jam sore begini. Apalagi, barusan Ayahnya membawa air panas. Tentulah ia akan menyeduh kopi.
"Oh, Uni sayang ada disini rupanya." Ucap Siska seraya mendekati Uni dan memeluknya sebentar.
"Mbuuuu" Seru Uni yang merasa terganggu, karena ia sedang memainkan mainannya. Dengan Ayahnya yang menonton Uni yang anteng.
"Uni tidak suka dipeluk ibu, hmm? Begitu? Kasihannya ibu tidak diinginkan Uni lagi." Ucap Siska memasang raut wajah sedih di depan Uni.
"Uhuk! Uhuk!"
Seketika Siska membalikkan tubuhnya dan melihat samping. Bukan, bukan Ayahnya yang batuk barusan. Jelas jelas itu bukan suara orang tua.
"Bapak! Kenapa tidak bilang ada dia, sih?" Bisik Siska pada Ayahnya dengan raut memelas.
Ayahnya malah tertawa, biar saja, kapan lagi melihat Siska malu di hadapannya begini?
"Hust! Tidak boleh begitu, yang sopan pada tamu Bapak." Nasihat Ayahnya, langsung menurunkan telunjuk Siska yang diangkat.
Darren hanya diam, menahan senyum kecil yang ingin terbit dari bibirnya.
"Ah, bapak hari ini menyebalkan." Rajuk Siska, kemudian kembali ke rumah, tidak lagi ingin membawa Uni, lagipula Uni anteng anteng saja di luar dengan dua laki-laki tersebut.
Tapi, Siska malu, loh? Sudah berapa kali ia bersikap begitu di hadapan Darren? Dirinya juga mengapa selalu tidak sadar akan keberadaannya yang ada disekitar, sih setiap kali ada dia? Menyebalkan, pikirnya.
Siska sampai di hadapan Uqi, dan Uqi mengernyit melihat ibunya yang datang dengan bibir maju beberapa senti. Cemberut kesal.
"Ibu, ada yang menjahati ibu?" Tanya Uqi perhatian. Ia menatap Siska dengan tubuh yang terbaring.
"A-ah? Tidak, sayang. Hanya kesal sedikit, Uni tidak mau ibu peluk, huhu malang sekali ibu?" Ucap Siska. "Ibu peluk Uqi saja, deh." Lanjutnya kemudian berbaring dan memeluk Uqi dari samping.
"Ya, ya, peluk sepuasnya." Ucap Uqi seraya menepuk lengan ibunya. Tapi ia tidak bisa bergerak membalas pelukannya, kepalanya sakit jika digerakkan berlebihan.
__ADS_1
Siska tersenyum, Uqinya memang perhatian.
Siska tidak menganggu lagi, membiarkan Uqi menonton kartun tanpa menghalanginya lagi dengan pelukan. Tapi, Siskajuga meninggalkan Uqi setelahnya, karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan dirinya harus memasak untuk makan malam.
Uqi juga tidak rewel, ia mengiyakan ketika Siska izin memasak dan meninggalkannya sendirian di ruang keluarga.
Satu jam kemudian, Siska telah selesai memasak semuanya. Ia kemudian membersihkan dirinya, setelahnya menyiapkan makanan, dengan membawanya satu persatu ke ruang keluarga. Meletakkannya di atas lantai beralaskan tikar.
"Uqi sayang mau makan sekarang, atau bareng dengan kakek?" Tanya Siska lembut.
"Mau makan ramai-ramai seperti dulu." Balas Uqi menatap Siska dengan wajah polos.
Siska menganggukkan kepalanya, kemudian ia berjalan ke depan dan memanggil Ayahnya dan Uni, juga Darren?
"Masih belum pulang juga, untuk apasih dia disini terus? Muak sekali melihat wajah tanpa ekspresinya." Gerutu Siska seraya berjalan, ia di depan. Tidak sadar saja jika orang di belakangnya mendengar gerutuannya.
"Hust! Jaga ucapanmu, nak." Tegur Ayahnya, lagi.
"Hah?" Beo Siska.
"Kami mendengar gerutuanmu, apa tidak kurang besar volumenya?" Tanya Ayahnya menyindir.
Darren tersenyum kecil melihat Siska yang lagi-lagi diomeli oleh Ayahnya, dan terlihat oleh Siska. Siska menganggapnya sebagai ejekan, jadi Siska mendelik sinis pada Darren.
"Uni, sudah besar nanti, ingat jangan tiru sifat ibumu, oke? Sangat tidak baik." Ucap Ayahnya, pada Uni. Kini ketiganya sudah duduk menghadap masakan Siska.
Sedangkan Siska yang sedang membantu Uqi duduk, mendengus kesal mendengar petuah Ayahnya pada anak bungsunya.
Kemudian semuanya makan, pun dengan Darren yang diam-diam excited dengan masakan Siska. Sesekali juga berbincang dengan Suherman, Ayah Siska ketika ia ditanya ini itu.
Sampai waktu menunjukkan pukul 7 malam. Makan malam sudah selesai dilakukan lebih awal, beres pada pukul set 7.
Pukul 7, Darren pamit pulang. Lagipula, sudah seharian ia di rumah Siska, ia juga tidak enak, apalagi Siska yang selalu menggerutu jika melihat dirinya. Seperti beberapa kali sebelumnya.
Tapi, meski begitu, bukankah bagus? Siska sudah lebih tahu akan eksistensinya, kan? Apalagi Ayahnya juga bilang padanya sebelumnya, jika Siska sudah berani menggerutu pada orang, itu artinya Siska secara tidak sadar sudah merasa lebih dekat dengannya.
Jadi? Haha, tidak sia-sia beberapa hari ini.
__ADS_1
*
*