
*
*
Setelah membeli hadiah, Siska mengajak Darren mengantarnya ke salon untuk sedikit mempercantik diri, meski menurut Darren Siska sudah sangat cantik.
Siska tidak percaya ucapan Darren, alhasil Darren diseretnya memasuki Salon dan menunggui Siska yang perawatan selama 2 jam an.
Sampai akhirnya waktu makan malam dengan orang tua Darren tiba juga. Tanpa pulang, Siska dan Darreen langsung pergi ke restoran Adamas untuk menemui calon mertuanya.
Darren tertawa kecil melihat raut Siska yang jelas sangat gugup. Padahal biasanya, ia tidak pernah terlihat gugup begini, meski beberapa kali membuka kedai dan restoran.
Momen langka yang bisa Darren abadikan di mata dan hatinya.
Untuk membuat Siska lebih tenang, Darren akhirnya menggenggam tangan Siska. Dan menatapnya seraya tersenyum lembut. "Tidak apa-apa, kenapa kau begitu gugup? Orang tuaku baik, akan menerimamu dengan baik pula. Kau harus percaya padaku."Ucap Darren, tangannya terangkat ingin mengusap rambut Siska tapi Siska tahan.
"Hmm?" Tanya Darren bingung.
"Cukup pegangi aku, tanganmu jangan berulah, aku tidak mau rambutku berantakan setelah di tata sedemikian rupa, oke?" Ucap Siska.
Lagi-lagi Darren tertawa kecil. "Baiklah, baiklah, aku salah.", Balas Darren. "Jangan takut, ada aku. Mereka pasti menerimamu." Lanjut Darren, menggenggam dua tangan Siska yang terasa dingin. "Ah atau kita pulang saja? Aku tidak suka melihatmu begini. Tanganmu sampai dingin begini, ssh." Ringis Darren.
"Aku hanya gugup, jangan berlebihan. Begitu masuk akan menjadi lebih baik, juga ada kau yang membuat tanganku tetap hangat?" Ucap Siska menggoda Darren.
"Sedang gugup juga masih bisa menggodaku? Nakal!" Ucap Darren tersenyum kecil, seraya menyentil dahi Siska pelan.
"Aaaa bisakah tidak di arah sana? Nanti memerah dahiku!" Rajuk Siska kesal.
"Tidak merah, tidak ada tenaga juga." Ucap Darren mengedikkan bahunya. "Sudah, ah, ayo turun. Sudah waktunya. Orang tuaku juga akan sampai sepertinya."Lanjut Darren seraya menatap jam tangannya.
__ADS_1
Siska menganggukkan kepalanya, keduanya sedari tadi ada di parkiran, di dalam mobil. Darren menenangkan Siska yang sangat gugup sebelum masuk. Sekalian menatap puas Siska yang terlihat sangat cantik malam ini. Darren sebetulnya juga gugup melihat Siska, tapi ia tidak sekentara Siska, Darren juga menutupi kegugupannya dengan baik, alhasil Siska tidak tahu jika Darren aslinya sedang gugup.
Keduanya turun dan berjalan bersama, dengan Siska yang menggandeng lengan Darren, juga Darren yang sesekali melihat kondisi Siska, memasuki ruangan vip 3 yang sudah dipesan oleh Darren sebelumnya di restoran Adamas tersebut.
Darren membuka pintu, dan Siska menghela nafas lega, karena dua orang tua Darren masih belum datang. Ia lega, karena dirinya datang lebih awal daripada keduanya. Lebih baik lebih awal, daripada lebih akhir. Memalukan, tahukan? Sangat tidak baik membuat orang tua menunggu.
"Tarik nafas, hembuskan." Titah Darren seraya tertawa kecil. Membuat Siska menuruti ucapannya dengan refleks, karena memang hal tersebut membuat dirinya merasa lebih tenang, meski sedikit.
"Ah tidak, jantungku rasanya mau keluar. Huhuhu, kenapa perasaan ini begini? Sangat tidak nyaman." Ucap Siska, mengeluhkannya pada Darren, membuat Darren tersenyum, kembali menggenggam tangan Siska dan menenangkannya.
Sampai 5 menit kemudian, kedu orang tua Darren datang, dan duduk di depan Darren juga Siska. Bu Wasilah, terlihat sangat ramah seperti biasa, ia tersenyum bahkan memuji Siska cantik sekali malam ini. Berbeda dengan Ayahnya yang, uhuk! Sedatar Darren, gila saja.
Siska tersenyum kikuk menyapa tuan besar Wistara tersebut, yakni Tuan Edden, dengan gugup juga memperkenalkan dirinya sendiri padanya.
Buk!
"Bersikap yang benar, kau mau membuat calon menantu kita kabur, ya?!" Omel Bu Wasilah menatap Tuan Edden dengan mata melotot.
"Tidak, kau menakuti calon menantu. Siapa yang akan tahan menghadapi wajah datarmu? Dasar pria kaku." Omel Bu Wasilah lagi, mendelikkan kedua matanya.
"Ekhem!" Darren berdehem, menginterupsi keduanya agar tidak berdebat lagi. Ini acaranya oke, tidak bisakah keduanya serius sedikit ketika sedang acara seperti ini. Ia jadi malu, pada Siska. Orang tuanya kekanak-kanakkan sekali.
Diam-diam Darren melirik Siska, lebi lh tepatnya melirik raut wajah Siska yang terlihat terkejut. Takut Siska ilfeel setelah melihat perilaku keduanya. Tapi, ia salah, Siska terlihat berseri dan lebih rileks setelahnya, membuat Darren tersenyum lembut.
"Baiklah, Siska kan? Aku sudah banyak mendengarmu. Bocah satu itu tidak hentinya menceritakanmu pada kami. Kami bahkan tahu awal perjuanganmu sampai akhirnya sukses seperti sekarang. Kau cukup bagus." Ucap Tuan Edden menganggukkan kepalanya.
Siska akhirnya tersenyum kecil, ia kira ia tidak akan diterima awalnya, begitu melihat raut datar ayah Darren. Tapi salah, Darren ternyata sudah menceritakan dirinya pada orang tuanya, membuat orang tuanya perlahan menerima dirinya.
"T-tapi, aku ada dua anak." Cicit Siska tidak enak, ia menatap Tuan dan Nyonya Wistara dengan sedikit takut.
__ADS_1
"Lalu? Lahirkan saja lagi adik untuk Uqi dan Uni. Agar kami bisa menggendong sikecil!" Ucap Tuan Edden, yang akhirnya tersenyum kecil, diangguki oleh Bu Wasilah.
"Kami juga sudah tahu. Darren sudah menceritakan semuanya. Kau tenang saja, meski Uqi dan Uni bukan cucu kandung, tapi kami tidak akan membedakan keduanya nanti. Kau hidup dengan baik saja dengan Darren. Juga, tolong maklumi sifatnya, jangan ilfeel padanya, oke?" Ucap Bu Wasilah membuat Siska tertawa kecil, sedangkan Darren menggeram kecil menatap Ibunya sedikit kesal.
"Bocah bau, jaga sikapmu pada istriku!" Ucap Tuan Edden seraya merangkul Bu Wasilah, dan menatap tajam Darren, membuat Darren memutar kedua bola matanya malas.
Siska tersenyum hangat. Keduanya bahkan tidak segan menunjukkan perdebatan kecil di depannya. Itu artinya, mereka tidak menganggap Siska orang luar, dan Siska menjadi rileks saat ini. Ia bahkan tertawa kecil melihat ketiganya.
"Ah, akhirnya kau punya calon istri juga. Aku tidak akan berebut lagi denganmu kelak. Istriku, menjadi milikku satu-satunya." Ucap Tuan Edden lagi, seraya mendelik pada Darren dan menatap Bu Wasilah dengan tatapan lembut.
Darren membuat gerakan seolah ia ingin muntah, orang tuanya ini memang tidak tahu tempat. "Ibu! Tolong, pawangi Ayah." Ucap Darren tak berdaya.
"Aduh, Siska, maaf ya... Ayah dan anak ini memang suka adu mulut. Ibu juga pusing sendiri jika keduanya sudah berhadapan begini." Ucap Bu Wasilah seraya mengibaskan tangannya, meminta pemakluman.
"Tidak apa-apa, aku merasa nyaman." Balas Siska seraya tersenyum.
"Haha, baiknya! Oh ya, ibu ada hadiah pertemuan untukmu. Ini, lihatlah, apa sesuai seleramu atau tidak." Ucap Bu Wasilah seraya menyodorkan kotak pada Siska.
Siska juga langsung mengeluarkan dua kotak ke atas meja. Satu kotak beludru warna putih diberikan pada bu Wasilah, dan satu kotak kecil persegi panjang diberikan pada Tuan Edden.
"Terimakasih, aku juga ada satu hadiah untuk kalian." Ucap Siska setelah mengeluarkan kotak, ia menyodorkan kotak tersebut pada keduanya. "Semoga Ayah dan Ibu suka hadiahnya." Lanjut Siska.
Membuat keduanya langsung melihat hadiahnya atas suruhan Siska sendiri.
"Astaga! Bukankah ini set perhiasan safir dengan harga 800 jutaan itu?!" Pekik Bu Wasilah terkejut.
"Uhuk! I-ini juga kunci motor Harley Davidson?!" Ucap Tuan Edden sama-sama terkejut.
Darren tertawa melihat raut keduanya.
__ADS_1
*
*