
*
*
Setelah apa yang telah terjadi semalam, Siska bingung dengan apa yang terjadi pagi ini. Ia terbangun di sofa! Tempat semalam Darren menahannya agar tidak pergi. Terlebih, ia sendirian kini, dan Darren? Entah kemana perginya laki-laki pelit ekspresi tersebut. Siska ditinggalkan. Sial.
Pikiran Siska jadi menerawang ke kejadian semalam. Mengingatnya kembali.
Semalam, Darren berbohong, ia menipu Siska dan Siska dengan mudahnya tertipu. Pelukan 5 menit yang Darren bilang sebelumnya malah berlangsung lebih dari 5 menit.
Siska, tidak ingin mengakuinya, tapi dirinya semalam benar-benar gila. Ia kehilangan akal. Kenapa pula dirinya mau-mau saja ketika dipeluk Darren? Apalagi ketika mendengar nada lirih Darren yang berucap rindu. Nadanya memang terdengar menenangkan, tapi, tapi, kenapa ia langsung menjadi tidak sadar sejak itu?
Dan bisa-bisanya Siska juga tertidur di sofa dengan Darren yang masih memeluknya? Keduanya tidur dengan Darren yang memeluk Siska, dalam keadaan duduk. Pikirannya hilang, kosong begitu mengingat ia juga malah tertidur tidak lama setelah Darren tidur.
Oh sial, ia benar-benar kehilangan akal semalam. Pikir Siska, tak habis pikir dengan dirinya sendiri.
Ia melihat jam di dinding, masih pukul 4 pagi, tapi Darren malah tidak ada. Oke, dirinya bukan mencarinya. Tapi hanya sekedar bertanya kemana perginya manusia datar tersebut di pagi buta seperti ini.
Memang Darren ini sipaling suka menghilang. Sudah biasa, sudah biasa, jangan lagi menanyakan hal yang sudah biasa terjadi. Pikir Siska, kemudian menghela nafas dan kembali berbaring setelah sebelumnya bangun dan langsung terduduk di sofa.
Sudah pukul 4, terlalu malas masuk kamar. Tunggu satu jam lagi, maka dirinya akan pergi ke kamar untuk bersiap.
Siska mengangkat satu tangan dan meletakkan lengannya di atas dahi. Matanya menatap langit-langit rumah barunya, seraya beberapa kali menghela nafas. Ia merasa ia sedang menanggung beban besar. Perasaannya sangat amat tidak nyaman saat ini.
Bingung. Adalah satu hal yang sedang dirasakannya saat ini. Bingung akan kemauan hati dan perasaannya sendiri. Terkadang ia nyaman, terkadang ia kesal, terkadang... ia juga rindu. Siska akui, ia memang rindu padanya. Tapi, ketika lagi-lagi Darren mengajaknya serius, kenapa dirinya malah enggan? Setiap kali, setiap saat, selalu membatasi diri secara tidak sadar. Apa sebenarnya kemauan dirinya?
"Kau bangun? Apa aku membangunkanmu tadi?" Tanya Darren tiba-tiba datang, membuat Siska menoleh. Dan senyum lembut Darren menjadi pemandangan pertama ketika ia menoleh.
__ADS_1
"Aku kira kau sudah pergi?" Tanya Siska, berusaha bersikap santai. Meski nyatanya sangat kentara ia bersikap canggung.
"Tidak, aku hanya pergi ke kamar mandi." Balas Darren. Ia berjalan mendekati Siska, tapi Siska melarangnya mendekat. Membuat Darren mengernyit heran. "Ada apa?" Tanya Darren tak suka. Sikap Siska lagi-lagi berubah. Apa sebetulnya dia ini bunglon? Pikirnya lelah.
"T-tidak, pokonya begitu, aku pergi dulu." Ucap Siska, beranjak dengan cepat, tapi masih kalah gesit dengan Darren yang langsung mencekal pergelangan tangannya.
"Setelah kejadian kemarin, dan situasi semalam, kau masih mau menjauhiku? Masih mau menjaga jarak dariku? Masih mau membatasi kedekatan kita?" Tanya Darren, menatap punggung Siska, sedangkan Siska sendiri diam, tidak bergeming sama sekali, tetap membelakangi Darren.
"Siska..." Panggilnya dengan suara berat. "Sampai kapan kau mau menyangkal perasaanmu?" Tanya Darren lirih.
Ya, Siska selalu menolak perasaannya selama ini. Secara tidak sadar, karena terlalu takut akan kejadian di masa lalu, ia enggan membuka hati. Ia merasa, dengan menjadi wanita mandiri dan banyak uang, ia bisa menjalani hidupnya tanpa adanya laki-laki.
Tapi, rencananya, jalannya, sangat tidak sesuai. Entah sejak kapan Darren datang dan menghancurkan tembok yang susah payah dibangun Siska. Siska yang kekehpun enggan mengakui, pada akhirnya hanya bisa menyangkal semua perasaan yang ia rasakan ketika dekat dengan Darren.
"Apa maksudmu?" Tanya Siska, tanpa membalikkan tubuhnya.
"Aku tidak mengerti." Timpal Siska setelah diam beberapa saat.
"Jangan berpura-pura lagi, Siska..." Ucap Darren dalam.
"Jangan sok tahu tentang apa yang aku rasakan. Kau tidak tahu apa-apa! Memangnya kau siapa? Hanya orang asing, yang tiba-tiba saja datang dalam hidupku." Ucap Siska dengan nada datar. "Ingat batasanmu Tuan Wistara." Lanjutnya, kemudian menarik lengan yang digenggam oleh Darren.
Siska kembali memilih menyangkal semuanya pada akhirnya.
Darren menunduk, menatap tangannya yang baru saja menggenggam tangan Siska. Ia tertawa miris setelahnya. "Memang tidak ada kesempatan ya?" Lirihnya pelan. Setelah bertahun-tahun menunggu, apakah dirinya masih akan tetap kalah dengan menyedihkan begini? Pikirnya miris.
Di sisi lain, di balik dinding menuju dapur, Ergan mengintip. Kameranya bahkan dalam keadaan menyala. Tadinya, ia pikir akan melihat hal yang akan membuatnya terkejut, tapi ternyata malah membuat dirinya sangat, sangat, sangat, terkejut.
__ADS_1
Kakaknya sedikit jahat disini. Apalagi perkataannya yang mendorong Darren menjauh. Ergan sangat tidak suka nada bicara kakaknya barusan.
Setelah hampir satu tahun Darren berjuang, selalu di samping kakaknya, dan melindungi keluarganya. Siska masih bisa bicara begitu jahat. Orang asing katanya?
Ergan menghela nafas, ia berbalik dan terkejut. Ayahnya dan kakak keduanya berada tepat di belakang Ergan. Ergan yang mau memekik langsung dibungkam oleh kakak keduanya, Sapta.
"Bocah nakal, mengintip orang dewasa." Omel Ayahnya seraya memelototi Ergan.
"Tidak sopan!" Timpal Sapta ikut memelototi Ergan, kemudian melepaskan bungkaman tangannya.
Ergan merasa tidak terima,"Bicara begitu padaku, lantas apa yang kalian berdua lakukan sekarang, hm?" Tanya Ergan membalikkan kata-kata Ayah dan kakak keduanya.
"His, sudahlah, pergi sana, bapak ada perlu bicara dengan Darren. Sapta ikut, Ergan masuk ke kamar." Ucap Suherman tidak memperpanjang masalah
Ergab menggeleng keras. Menolak ide Ayahnya. "Bapak, Ergan ikut. Tidak ada penolakan." Ucap Ergan, kemudian pergi lebih dulu untuk menghampiri Darren yang sudah terduduk di sofa dengan menyandarkan tubuhnya, yang lesu.
"Dasar bocah bau! Melawan orang tua!" Omel Sapta kesal. Sedangkan Ayahnya hanya menghela nafas, kemudian keduanya mengikuti jejak Ergan dan mendekati Darren.
"Kak! Kau tidur di sofa?" Seru Ergan dengan nada sedikit besar. Membuat Darren sedikit terkejut dengan suara dan kedatangannya. Darren menoleh dan juga melihat Sapta serta Ayah Siska.
Pikirannya menjadi tidak tenang. Mereka mungkin mendengar dan melihat kejadian barusan, kan? Oh tidak, katakan tidak pada dirinya. Ia tidak siap. Malu lebih mendominasi sepertinya.
Untuk Ayahnya, oke, tidak apa-apa, karena Ayahnya tahu, Darren selalu menjadi orang yang paling berjuang untuk Siska. Tapi Sapta dan Ergan? Ah, ah, betapa memalukannya! Pikir Darren meringis.
*
*
__ADS_1