
*
*
Siska menatap sinis laki-laki dengan raut datar didepannya. Kedua tangannya bahkan bersidekap tak suka. Di sebelahnya ada Ayahnya yang menghela nafas berkali-kali menghadapi sifat keras kepala Siska yang mulai muncul.
"Bapak, kenapa harus dia?!" Tanya Siska tak suka.
"Satu-satunya yang bapak percayai saat ini, hanya nak Darren. Semua teman bapak yang lain rata-rata sudah berumur, jadi Bapak rasa tidak cocok untuk menjadi penjagamu." Jelas Ayahnya.
Darren tidak mengindahkan obrolan keduanya, dan malah berlalu meninggalkan keduanya, untuk menemani Uni bermain.
"Lihat, Siska, selain nak Darren kuat, dia juga dekat dengan kedua anakmu. Ini akan membuat kalian lebih nyaman nantinya." Ucap Ayahnya lagi, membujuk.
"Tapi aku tidak akan nyaman, bapak." Keluh Siska dengan bibir mulai maju.
"Tidak nyaman kenapa, hmm?" Tanya Ayahnya.
"Tidak tahu, tapi rasanya aku ingin mengatainya terus, apalagi melihat raut tanpa ekspresinya itu, ah menyebalkan. Selalu kesal setiap saat." Balas Siska.
"hmm? Sejak kapan kau kesal hanya karena rautnya yang jarang berubah? Bukankah dari awal memang begitu? Dulu kau santai-santai saja, bukan?" Tanya Ayahnya seraya tersenyum.
"Eh?" Beo Siska tertegun. Benar, ada yang aneh. Kenapa ia bersikap sebegininya? Siska mulai sadar, kenapa sikapnya menjadi sangat berlebihan ketika sedang bersama Darren? Ia bukan anak remaja yang bisa kesal karena disuguhi wajah datar kan? Dirinya berusia hampir 30 an!
Diam-diam, Ayahnya tersenyum melihat Siska yang melamun. Memikirkan sikapnya sendiri. "Sudah, sepakat ya. Ke depannya, Darren yang akan menjaga kalian.", Ucap Ayahnya seraya menepuk dua kali kepala Siska dengan lembut.
Siska belum sempat menjawab, tapi Ayahnya langsung beranjak pergi meninggalkan Siska. Membuat Siska menghela nafas akhirnya. Pasrah dan menerima Darren yang kedepannya akan selalu menjaganya.
Kemudian Siska ikut beranjak, ia pikir tidak apa-apa, meski tanpa ekspresi, dia juga ekhem, sedikit tampan. Pikirnya.
Siska menatap Ayahnya yang kembali ke ruang tengah. Menepuk pundak Darren seraya berkata, "Bapak sudah melakukan yang terbaik, sisanya giliranmu. Jangan sia-siakan kesempatan."
Siska mengernyit bingung mendengar ucapan Ayahnya. Tapi tak ambil pusing, ia mengedikkan bahunya dan pergi ke arah dapur. Sudah pukul 11, Siska harus memasak untuk makan siang. Ibunya sudah pergi ke kedai pukul 9 tadi, jadi Siskalah yang bertugas memasak saat ini.
Tidak khawatir juga meninggalkan kedua anaknya di ruang keluarga. Lagipula ada Ayah dan Darren. Jadi, kalau ada apa-apa, keduanya bisa memanggil Siska di dapur.
__ADS_1
Selama Siska di dapur, Darren pergi kembali ke pintu depan. Ada yang mengetuk pintu, jadi mau tak mau bangun untuk membukakan pintu. Ayah Siska sudah merebahkan tubuhnya di sofa, jadi dirinya yang sedang duduk yang beranjak.
Seraya menggendong Uni, Darren berjalan dan membukakan pintu. Aldo yang datang. Bersama ibunya yang memasang raut menyebalkan.
"Siapa kau? Kenapa menggendong putriku?!" Tanya Aldo tak suka. Meski bukan pertama kali bertemu dengan Darren, Aldo tetap belum mengenalnya.
"Untuk apa kemari?" Tanya Darren dengan raut datar dan tatapan mata tajam.
"Bukan urusanmu, dimana Siska, istriku?" Tanya Aldo menekankan kata istri pada Siska.
"Istri? Cih, mengaku-ngaku." Cibir Darren tertawa sinis.
"Apa maksudmu? Anakku dan Siska masihlah suami istri sah." Sela ibu Aldo kesal.
"Orangtua, kau tidak tahu? Anakmu sudah diceraikan. Putusan verstek bahkan sudah turun. Sudah seminggu sejak putusan diturunkan." Ucap Darren.
Ibu Aldo menatap Aldo tajam, membuat Aldo memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Kalau begitu, masih ada anak. Kami kemari mau menjenguk cucu." Ucapnya mengelak.
"Cucu? Cih! Pergi sana!" Desis Darren seraya menutup pintu dengan keras. Membuat Ayah Siska dan Siska sendiri tersentak.
"Ada apa?" Tanya Ayahnya
"Kalau pintunya rusak, kau ganti, oke?" Ucap Siska, masih kesal.
Sudut bibir Darren berkedut mendengar ucapan Siska. Menangis atau tertawa, yang terpenting adalah, kenapa poin yang ia sebut malah tentang pintu?
DOR! DOR!
"DASAR TIDAK SOPAN! AKU ORANG TUA, JUGA BISA KAU PERLAKUKAN BEGINI?!"
"APA KAU TAHU SOPAN SANTUN?!"
"APA IBUMU TIDAK MENGAJARIMU DENGAN BAIK, HAH?! SIALAN!"
"BUKA PINTUNYA!!"
__ADS_1
Siska mengerutkan keningnya setelah mendengar teriakan dari luar. Dadi suaranya, sudah sangat jelas Siska tahu, itu adalah ibu mertuanya, alias ibu Aldo.
Siska kemudian melewati Darren dan bersiap membuka pintu. Tapi Darren menahannya. " Tidak perlu ditemui, tidak penting." Ucap Darren.
"Tapi jika begitu, para tetangga akan berkumpul diluar.", Ucap Siska.
"Mereka bilang mau menjenguk cucu, tapi kau tahu sendiri niat mereka, terutama orang tua bau itu, hanya menginginkan uangmu." Jelas Darren menatap Siska intens.
"Sudah, biar Bapak yang hadapi. Siska lanjut memasak saja." Ucap Ayahnya melerai keduanya yang akan mulai saling berdebat.
Darren dan Siska kemudian menatap Ayahnya.
"Bapak, bagaimanapun, ini masihlah urusan Siska. Biarkan aku juga ikut menghadapi mereka, oke? Jika tidak diselesaikan secepatnya, aku rasa mereka akan terus mengangguku." Ucap Siska.
"Nak, kau tahu tabiat ibu Aldo. Meski diselesaikan sekarang, jika belum mendapatkan apa yang ia mau, gangguan darinya akan tetap ada." Jelas Ayahnya mengingatkan.
"Dengarkan bapak, jangan meras kepala." Ucap Darren, seraya menyentil dahi Siska, kemudian berlalu kembali ke ruang keluarga, melihat Uqi. Takutnya Uqi terbangun akibat gedoran dan teriakan di pintu.
Siska tertegun sejenak, kemudian mendengus kesal dan langsung mencibir Darren. Tapi kemudian ia setuju dengan Ayahnya.
"Baik, tapi biarkan Siska disini, aku akan mendengarkan kalian di balik pintu. Takutnya mereka berbuat hal yang melewati batas." Ucap Siska.
"Masuk saja, kau jaga kedua anakmu, dan panggil Darren kemari. Biar bapak dan Darren yang hadapi mereka, cepat tidak ada waktu lagi." Ucap Ayahnya seraya mendorong Siska berbalik.
Siska menghela nafas, kemudian memanggil Darren sesuai perintah Ayahnya, dan ia duduk menjaga Uni dan Uqi yang benaran terbangun.
Sepeninggal Darren Uqi langsung bertanya pada Siska. "Apa yang datang itu Nenek jahat, Bu? Uqi takut." Ucap Uqi dengan nada gemetar, membuat Siska tertegun. Ia langsung mendekati Uqi dengan membiarkan Uni bermain dengan boneka Barbienya.
"Tidak apa-apa sayang, kakek dan paman Darren akan membuat mereka pergi. Mereka tidak akan bisa masuk dan menemui kita. Tenang, ya? Serahkan semuanya pada Kakek." Ucap Siska seraya mengelus lengan Uqi. Membujuk dan menenangkannya dengan segala macam kata.
Apakah Uqi sudah masuk dalam tahap trauma bertemu nenek dari ayahnya? Siska menghela nafas, Dengan keadaan seperti ini, kejadian Ayahnya memukulnya, dan kejadian nenek dan ayahnya yang membuatnya terluka, wajar saja Uqi merasa ketakutan, bukan?
Uqi masihlah anak kecil. Jadi, rasa takutnya bisa lebih besar dan mendominasi. Siska khawatir. Ia harus tetap ada disisi Uqi dan membuat rasa takutnya perlahan menghilang.
*
__ADS_1
*