
*
*
Hari ini, lagi-lagi Siska tidak lanjut membantu di kedai. Karena ada Ergan dan Geri sebagai bala bantuan, jadi Siska lebih ringan meninggalkan kedai pada para kakak dan kakak iparnya.
Setelahnya, Siska mengunjungi kios milik Baron, tepat pukul 4 sore hari. Baron yang sudah tahu Siska akan mengunjunginya, kemudian langsung saling menyapa dengan ramah, juga pada pemuda yang menyewa kiosnya, Ghani, yang ternyata ia berjualan buah-buahan.
Siska mengangguk membalas sapaan basa basi Ghani, ala kadarnya saja, karena ia punya urusan lain dengan Baron.
"Bagaimana, bos? Ada kabar tidak?" Tanya Siska.
"Ada, tentu saja ada! Hoho jangan remehkan koneksiku, oke? Aku bahkan sudah menemukannya sejak kemarin." Ucap Baron bangga.
"Berapa kisaran harganya?" Tanya Siska.
"Karena baru, dan diameternya sedikit panjang dari yang biasa, juga ada 3 bagian dengan pintu dan sekat di dalamnya. Jadi harga yang mereka mau sekitar 12 juta. Bagaimana menurutmu?" Tanya Baron.
Keduanya membicarakan freezer es, Siska ingin membelinya untuk menyimpan bahan-bahan dalam jumlah besar, jadi seperti cincau, Sosis, Bakso, Persukian, juga es batu sendiri, bisa Siska simpan untuk stok selama satu bulan. Jadi Siska dan kedua kakak tidak perlu bangun lebih pagi hanya untuk membeli bahan-bahan.
Freezer 3 pintu dengan kapasitas 818 liter. 12 juta juga masih harga yang lumayan, tapi ia butuh cepat dengan freezernya jadi, ayo beli saja. Lagipula ini merupakan inventaris untuk kedainya, bukan? Akan tahan lama juga, apalagi barang baru.
"Baik ambil saja, bos. Kalau bisa datang hari ini juga, bagaimana?" Tanya Siska lagi.
"Bisa, bisa, tentu bisa! Aku kabari temanku sekarang, jadi nanti bisa diantarkan langsung ke kedaimu. Paling lambat pukul 8 malam, bagaimana? Apa masih ada di kedai?" Tanya Baron.
"Baik, begitu saja, bos." Ucap Siska mengangguk puas. Baron ini memang bisa diandalkan, tidak sia-sia ia selalu menghubunginya jika ada hal yang dibutuhkan. "Oh ya, bos. Jika kau berkenan, kau juga bisa menjadi orang yang menyediakan bahannya. Jadi, kau bekerja padaku dibagian pengadaan barang, alias logistik. Setiap satu bulan, kau hanya perlu berbelanja satu kali. Setiap belanja selesai, aku juga akan memberimu gaji 700 ribu setiap belanja, bagaimana?" Tanya Siska lagi, berlanjut menjelaskan penawarannya.
"Hah? 700 ribu sekali belanja? Kau serius? Apa tidak rugi?" Tanya Baron lagi, terkejut sendiri.
"Tidak, bos, karena memasok bahan tidak semudah membeli dipasar. Kau juga harus membeli bahan dengan harga yang murah. Juga, koneksi sangat dibutuhkan. 700 ribu, cukup bagus. Uang transportasi dan makan aku beri 150 ribu. Jadi 850 ribu akan diterima olehmu nanti." Ucap Siska.
__ADS_1
"Anu, apa boleh orangku menggantikanku bekerja padamu? Ini untuk adikku, dia baru di PHK dari pabrik tempatnya kerja." Ucap Baron menjelaskan.
Usahanya sekarang, sudah sangat cukup untuk menghidupi keluarganya, karena selain usaha elektronik, ia juga beberapa kali menerima pesanan seperti yang Siska tanya begini. Jadi, juga ada uang tambahan dari pekerjaannya ini.
"Boleh saja, asal dia jujur. Aku tidak ingin menerima kecurangan apapun dalam kerjaan yang aku berikan." Ucap Siska lagi.
"Baik! Kalau begitu aku akan mengabari adikku, tenang saja, dia sangat jujur. Di PHK karena memang pabriknya mengalami kebangkrutan."Balas Baron mengangguk, tersenyum senang. "Bagaimana? Kapan kau butuh untuk belanja?" Lanjut Baron bertanya.
Siska menganggukkan kepalanya, ia percaya pada Baron
Jika ia saja percaya pada adiknya, kenapa ia tidak? Terlebih Baron adalah orang yang jujur. "Hari ini juga, aku butuh bahan untuk besok." Balas Siska tersenyum. "Begitu saja, bos, aku harus pergi lagi." Lanjut Siska.
"Tunggu! Ini, uang sewa dari Ghani yang menyewa di sebelah. 200 ribu, sesuai dengan yang kau katakan hari itu." Ucap Baron, menghentikan Siska yang akan pergi.
"Oh? Untukmu saja, anggap sebagai bonus karena kau sudah membantuku berkali-kali. Oh, anggap lah insentif pembelian freezer es nya." Ucap Siska, kemudian tersenyum, ia mengangguk dan berlalu pergi.
Baron tidak sungkan menerimanya, ia kemudian melambaikan tangannya menghantar kepergian Siska.
Begitu sampai, Siska langsung ditarik oleh Ergan ke dapur. Dengan wajah terengah, ia membawa kakaknya hati-hati, karena banyak orang yang berlalu lalang.
"Cepat, kak, bantu Mama." Ucap Ergan dengan raut meringis. "Gantikan saja, kalau bisa. Mama terlihat kelelahan, kasihan tulang tuanya.", Lanjut Ergan.
Siska tersenyum, begini-begini, Ergan ini juga sangat perhatian pada keluarganya. Siska bangga mendengar hal-hal kecil yang bahkan diperhatikan olehnya.
"Baik, baik, sudah sana. Bantu di depan lagi saja. Eh tapi ngomong-ngomong kalian berdua jika ada tugas, selesaikan dulu tugas sekolahnya baru bantu di kedai." Ucap Siska.
"Aiya, tenang saja kak. Baru Minggu Pertama masuk, belum ada tugas yang datang." Ucap Ergan."Sudah, ya, aku kembali ke luar.", Lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Siska yang menggelengkan kepalanya.
Setelahnya, ia melihat sang ibu, kemudian mendekatinya. "Ma, istirahatlah, biar Siska yang ambil alih." Ucap Siska tersenyum lembut.
"Aih Mama masih bisa, tenang saja, tenang saja." Ucap Ibunya, Estika.
__ADS_1
"Tidak ada penolakan, pergilah ke atas oke? Istirahat saja temani Ayah, Uqi dan Uni. Cepat, cepat, pergi ke atas saja." Ucap Siska.
"Ya, Ma, kami bertiga bisa mengatasinya. Lagipula bahan yang tersisa sudah tidak banyak, sebentar lagi sosis bakar juga habis." Ucap Santi menimpali.
"Benar, Ma. Paling nanti hanya memasak Seblak saja dengan minuman." Lanjut Putri ikut menimpali.
"Aiya, kalian bekerja sama." Seru Estika tak berdaya.
Siska tersenyum, "Demi kebaikanmu, oke?" ucapnya.
"Ya benar, kamu mengkhawatirkan mu, Ma." Santi ikut bicara.
"Kesehatanmu paling utama, Ma." Lanjut Putri.
Ketiganya sama-sama menghentikan pekerjaan sebentar, menatap Estika dengan tatapan lembut, tak lupa senyum yang timbul lembut juga.
Melihat ketiga putrinya yang menyuruhnya istirahat, Estika mau tidak mau menurut dan pergi istirahat ke atas. 3 lawan 1 oke? Apa masih ada harapan dirinya menang? Lagipula, demi kebaikannya, mereka mengkhawatirkannya, itu cukup bagus.
Sepeninggal Estika, ketiganya kembali menyibukkan diri dengan memasak. Siska kali ini kebagian membuat minuman. Seblak dibuat oleh Putri dan pembakaran tetap oleh Santi.
Siska mengambil alih pekerjaan ibunya, jadi ia juga tidak merebut pekerjaan Putri. Lagipula, mau Putri, Siska ataupun Santi yang memasak, semua saja, rasa akan tetap sama karena memang sudah ada takaran resep dan bumbunya.
Mau Ibunya yang memasak juga bisa, bahkan lebih baik rasanya. Karena ibunya, masakannya adalah yang paling enak. Tanpa takaran bumbu pun, ia akan tetap menghasilkan makanan yang enak.
"Kak! Ada orang yang mencari mu di depan, datang dengan bos Baron." Ucap Ergan, ia masuk ke dapur tanpa membawa kedua tamunya.
"Oh, suruh kemari saja. Lagipula nanti pekerjaannya berkaitan dengan dapur, jadi tidak apa-apa." Ucap Siska.
*
*
__ADS_1