
*
*
Semua kakak dan kakak ipar, meski ingin menjenguk dan melihat Uqi di rumah sakit, tapi keinginan keempatnya tidak terkabul hari itu. Lagi-lagi harus menelan niatnya. Pasalnya, kedai semakin ramai, jadi keempatnya tidak bisa menutup kedai yang tadinya akan dibuka setengah hari saja.
Tadinya, pukul 3 kedai akan tutup, tapi kesulitan ditutup karena pelanggan banyak yang berbondong-bondong datang meski menu makanan dan minuman masing-masing hanya tersisa 3 saja.
Alhasil, semuanya mengurungkan niat dan melanjutkannya saja, karena banyak dari pelanggan yang memang datang jauh hanya untuk makan di kedai Tasty Treats milik Siska.
Pun dengan Ergan dan Geri, awalnya senang karena nanti kedai akan tutup lebih awal. Tapi begitu sampai, karena semuanya janjian di kedai, ia otomatis pergi ke kedai untuk berangkat bersama. Tapi yang keduanya lihat adalah kedai masih buka bahkan pelanggan masih penuh.
Keduanya pun turut membantu melayani seperti biasanya. Meski kecewa, tapi raut wajahnya tidak menunjukkan itu sama sekali, karena memang dengan ajaran yang Siska berikan, meski sedang sedih dan tidak mood, raut wajah harus tetap ramah dan menerima dengan baik, agar para pelanggan tidak lari.
Siska yang mendengar kabar ini, hanya bisa tersenyum kecil. Ia tidak menyangka semuanya mengkhawatirkan Uqi dan ingin sekali melihatnya. Tapi ini saja cukup, tidak perlu sampai repot-repot datang ke rumah sakit. Lagipula, Uqi akan keluar besok. Jadi, semuanya bisa melihat Uqi besok.
Siska mengabarkan hal ini, dan Rendra adalah orang yang pertama menerima kabar. Kemudian dikabarkan lagi pada yang lain, membuat yang lain merasa lebih baik.
Sampai keesokan harinya, kedai tetap beroperasi dengan baik. Sampai siang, tetap ramai dengan pelanggan yang tiada habisnya selalu ramai.
Uqi sudah bisa pulang siang ini, membuat Santi dan Rendra membereskan rumah sebelum berangkat membuka keda pagi tadi. Santi bahkan menyuruh Rendra mengangkat kasur busa milik Uqi ke ruang tengah.
Ya, ruang keluarga, kebiasaan di keluarganya, jika ada orang yang sakit, maka akan ditempatkan di sana. Karena selain ada televisi, orang-orang juga akan lebih memerhatikanya. Pun dengan orang yang menungguinya, tidak akan merasa bosan karena masih ada televisi yang bisa ditonton.
Jadi ketika Siska pulang, semua sudah beres, dan Uqi langsung ditidurkan di kasurnya yang sudah ada di ruang keluarga.
Siska pulang dengan Ayah dan ibunya, juga Darren yang ternyata membawa mobil, mengantarnya sampai rumah. Bahkan Uqi diangkat olehnya sebelum Siska mengangkatnya.
Inisiatif ini, sudah cukup membuktikan tentang niat Darren, tapi Siska tetap menolak untuk sadar. Siska masih saja beranggapan jika Darren melakukan ini karena ia memang dekat dengan Ayah dan Uqi yang pernah ditolongnya sewaktu hilang dulu.
__ADS_1
Uqi juga sangat patuh, meski sakit, ia tidak rewel sama sekali. Siska senang, tapi jika terus seperti itu, membuat Siska merasa tidak enak juga, kenapa Uqi bahkan tidak menangis ketika terluka. Membuat Siska lebih mendekatkan diri pada anaknya. Karena berpikir jika Uqi, mungkin saja gara-gara tidak dekat dengannya lah, yang membuat dirinya tidak rewel alias manja.
Uqi terlampau mandiri, tapi Siska tidak suka. Disaat sakit, semua anak otomatis akan bersikap manja, tapi kenapa dengan Uqi? Ia jadi khawatir berlebih jika seperti ini.
Hal yang dilakukan Siska selain mendekatkan diri, adalah lebih banyak mengajak ngobrol dan menemaninya siang dan malam.
"Uqi sayang makan dulu, oke? Setelah ini, kita minum obat." Ucap Siska seraya tersenyum. Uqi sudah berbaring dengan televisi menyala. Ia sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Bu, tapi pahit, bisakah tidak minum obat?" Tanyanya menatap Siska dengan memelas.
Siska berbinar. Akhirnya, Uqi menunjukkan sifat anak kecilnya? Ah apakah ketika di rumah sakit ia malu karena ada begitu banyak orang? Pikir Siska.
"Tidak bisa sayang, biar cepat sembuh. Minum oke? Nanti ibu belikan mainan yang Uqi mau, deh, kalau Uqi sudah sembuh. Uqi mau apa? Robot? Mobil? Atau apa?" Ucap Siska membujuk Uqi lembut.
"Mau kura-kura ninja, Bu, boleh tidak?" Tanya Uqi seraya tersenyum. Ia sering menonton salah satu film kartun ini. Jadi, hal pertama yang ia mau adalah mainan figure dari kura-kuranya.
Siska mengangguk dengan sulit, gila, kura-kura ninja katanya? Maksudnya action figurnya kan? Harga satu action figur 300 ribuan, kura-kura ini ada 5 orang ya kan? 1juta 500 ribu? Oh, oh, ayolah. Sekali ini saja. Siska akan menurutinya sekali saja, demi cepat sembuh.
Setelah selesai, barulah Uqi kembali tidur karena pengaruh dari obat yang membuatnya mengantuk. Siska menghela nafas, kemudian berbalik, berniat meregangkan tubuhnya.
Terkejut. Begitu berbalik ternyata masih ada Darren di belakangnya. Siska sampai memegangi dadanya karena detak jantungnya berdetak cepat.
"Kau sedang apa, sih?" Tanya Siska kesal, tapi berbisik, takut membangunkan Uqi.
"Numpang istirahat." Balas Darren cuek. Padahal sedari tadi, ia menahan senyumnya agar tidak mengembang. Apalagi melihat raut terkejut Siska, yang dimatanya terlihat menggemaskan.
"Sedari tadi disini?" Tanya Siska membuat Darren mengangguk, tanpa menoleh padanya. Darren memangku Uni, dan ia sedang bermain game diponselnya dengan Uni. "Kau tidak bersuara, seperti setan saja." Desis Siska seraya mendelik. Kemudian ia membenarkan posisi duduknya, dan bersandar pada sofa di belakangnya. tapi duduk di lantai yang alasi karpet, tepat disebelah Darren yang masih memangku Uni.
Tidak ada jawaban dari Darren, Siska kembali bertanya. "Orangtuaku kemana?" Tanya Siska.
__ADS_1
"Mamamu ke kedai, Bapak mengantar." Ucap Darren.
Siska melebarkan kedua matanya. "Lalu kenapa kau masih disini? Nanti jadi salah paham! Kau tahu para tetangga sangat ganas menyebarkan gosip?!" Ucap Siska.
Darren mengedikkan bahunya tidak peduli. Membuat Siska ingin sekali memukulnya. Tapi hanya bisa mengepalkan tangannya dan memukul udara kosong.
Uni tertawa kecil, membuat Darren ikut tersenyum. Siska yang memang memerhatikan keduanya, tiba-tiba merasakan desiran aneh di dadanya. Tapi tidak berlarut dirasakan, ia kembali tidak mempedulikannya.
"Pulanglah, bos penguasa yang terhormat. Aku bisa menjaga anak-anakku, lagipula ini sudah di rumah. Jadi aku juga lebih nyaman. Sendirian pun tidak masalah, aku sudah biasa." Ucap Siska lagi karena Darren tetap diam, fokus bermain game dengan Uni.
"Darren." Ucapnya mengingatkan.
"Ya, ya, siapapun namamu cepatlah pergi. Tidak baik dilihat teta gga, menjadi gosip nanti." Ucap Siska lagi kesal.
"Ck, ingin sekali mengusirku pergi?" Tanya Darren menatap Siska datar.
"Y-ya, benar! Kenapa? Ini rumahku, aku berhak, oke?" Balas Siska tidak mau kalah. Ia menatap Darren tajam.
Darren memalingkan wajahnya, "Baik, tunggu orang datang, aku pulang.", Balasnya lagi.
Siska mengepalkan kedua tangannya frustasi. "Kenapa tidak sekarang, sih?" Tanya Siska lagi.
"Tunggu Bapak pulang." Ucap Darren menekankan kata Bapak.
Mendengar hal tersebut, Siska mau tidak mau mengatupkan mulutnya rapat. Tidak lagi mendebat dan mengusir Darren. Sampai 30 menit, Darren tidak mendengar suara Siska, kemudian ia melihat Siska, menolehkan wajahnya pada Siska.
Tidur.
Darren menghela nafas, bolehkah ia membenarkan posisi tidur Siska? pikirnya.
__ADS_1
*
*