Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Bertemu kedua Bos


__ADS_3

*


*


Kemudian keduanya menuju pasar, setelah memarkirkan sepeda dan menguncinya, Siska mengajak Ergan ke sudut pasar, dimana penguasa pasar ini berdiam diri. Seperti markas utama yang didudukinya. Tapi disini hanya kios tak terpakai saja yang tidak diminati orang untuk berjualan. Jadilah dipakai sementara oleh mereka.


"Bos Can! Hallo!" Seru Siska begitu tiba, ia tersenyum menyapa Candrik yang sedang merokok, dengan satu gelas kopi di hadapannya.


Siska tidak takut, meski beberapa orang menatapnya intens, terlebih tampilan orang-orang yang memang seperti preman. Sesungguhnya mereka hanya penasaran, karena aslinya mereka semua baik. Tampilan luar tidak menjamin sifat dan perilaku orang-orang seperti ini bukan.


Nyatanya, Siska dijaga dengan baik. Berbeda dengan Ergan yang kini sudah memegangi ujung baju Siska dengan erat.


"Oh, kau, ada perlu apa? Apa ada yang mengganggumu?" Tanya Candrik tanpa ekspresi.


Siska yang memang sudah dua kali bertemu dengannya, tak ambil pusing melihat respon seperti ini. Nyatanya, Candrik memang berwajah datar.


"Tidak ada, anak buahmu menjagaku dengan baik. Aku kemari ada urusan denganmu. Bukankah hari ini adalah jatuh tempo pembayaran bulanan ku? Aku akan membayar itu." Balas Siska seraya tersenyum, ia mengeluarkan uang yang sudah dipisahkannya. Dan menyodorkannya pada Candrik.


"Yahh, kau menepati janjimu. Aku suka itu." Puji Candrik, masih dengan raut datarnya.


Siska tertawa geli, memuji tanpa ekspresi ini seru juga jika dilakukan oleh orang seperti Candrik. "Ambillah, bos." Ucap Siska yang sudah menyodorkan uangnya, tapi tak kunjung diambil.


"Oh," Ucap Candrik kemudian mengambil uang tersebut, dan setelahnya mengernyit. " Oi, kenapa banyak sekali?" Tanyanya.


"Untuk 3 bulan kedepan juga, bos. Sisanya, tolong bagikan pada orang-orang yang menjagaku dari jauh, aku ingin memberi mereka bonus, karena bekerja dengan baik." Ucap Siska seraya tersenyum, menganggukkan kepalanya. "Okelah, bos. Begitu saja, aku harus belanja bahan untuk dagang besok. Sampai jumpa, bos." Lanjut Siska, seraya melambaikan tangannya.


Terburu-buru pergi, karena Ergan. Berbisik dan menarik ujung bajunya meminta pergi dari tempat mmyang menurut adiknya itu menyeramkan. Padahal hanya sedikit gelap dan penuh orang, alias anak buah Candrik saja.


"Kak! Waktu itu kau kemari sendiri?" Tanya Ergan, kini sudah bisa menghela nafas dengan bebas. "Kau gila, jangan bilang iya! Disana menyeramkan, banyak laki-laki, itu bahaya kak!" Lanjut Ergan.

__ADS_1


"Kan memang iya aku kesana sendiri waktu itu." Balas Siska seraya tertawa, "Tenang saja, mereka hanya tampilan luar saja seperti preman, kenyataannya sikap dan perilakunya baik, sama seperti kita manusia biasa ini." Lanjut Siska, seraya mengetuk kepala Ergan.


"Kau ini! Tidak takut pada apapun, ha?" Tanya Ergan kesal.


"Kau saja yang yang penakut, kakakmu ini meski perempuan, sangat pemberani seperti Bapak!" Ucap Siska bangga, seraya menepuk dadanya menyombongkan diri.


Ergan memutar kedua bola matanya malas, "Terserah apa katamu saja, lah!" Balas Ergan.


Siska lagi-lagi tertawa, "Sudah, ayo, kita ke kios yang biasa dulu. Aku sudah menulis semua bahan yang diperlukan, jadi nanti biar pemilik kios siapkan, sementara kita ke bank untuk setorkan uang. Barulah setelahnya mengambil belanjaan dari kios begitu urusan di bank selesai." Jelas Siska.


"Ya ikuti apa katamu, saja." Balas Ergan, sebetulnya sudah pasrah saja pada Siska. Membuat Siska tersenyum.


"Oh atau, kau diam di kios menunggu belanjaan siap, biar aku yang ke bank sendirian?" Tanya Siska.


"Tidak! Kita pergi bersama!" Tolak Ergan mentah-mentah. Ada apa dengan ide konyol itu, pikir Ergan. Tidakkah kakaknya itu sadar jika dirinya membawa uang banyak? Bagaimana jika ada penjahat yang mengincar uangnya dan menyakitinya?


"Aiyo, baik, baik, menuruti dirimu saja." Ucap Siska seraya tertawa, karena niatnya memang menggoda Ergan saja. Nyatanya, Siska tahu betul pikirannya, pasti khawatir dengan dirinya yang membawa uang banyak.


Siska menggelengkan kepalanya, "Halo, bos! Aku datang lagi." Sapa Siska pada pemilik kios.


"Hoi gadis pemborong! Kau datang juga." Sapa balik pemilik kios.


"Bos apa-apaan, julukan itu. Panggil aku wanita cantik!" Tawar Siska seraya berpura-pura marah.


"Aiyo, baik-baik, wanita cantik apa yang mau kau beli kali ini?" Tanya pemilik kios pada Siska, seraya tertawa kecil.


Siska menyodorkan kertas yang sudah ditulisi semua kebutuhannya untuk berjualan besok. "Ini, bos, aku sudah menuliskannya, aku akan kembali lagi nanti. Aku harus ke suatu tempat dulu." Ucap Siska.


Pemilik kios menerima kertas tersebut dan terkejut, "30kg? Serius 30 kg? Astaga, kau memang hebat! Apa daganganmu laris manis lagi?" Tanya pemilik kios.

__ADS_1


"Tentu saja! Kemampuanku dalam berjualan nomor satu!" Ucap Siska bercanda.


"Astaga, kau ini hahaha. Tidak salah, kau memang nomor satu! Kalau begitu, aku nomor dua saja!" Ucap pemilik kios menanggapi candaan Siska.


"Aih, mau sampai kapan kalian bercanda? Kak, bukankah kau mau ke suatu tempat? Bos, kau juga, cepat siapkan saja belanjaannya. Supaya cepat selesai." Ucap Ergan menengahi keduanya. Menatap malas kedua orang di depannya yang malah asik sekali bercanda.


Siska dan Pemilik kios menatap Ergan bersamaan, kemudian keduanya saling menatap, dan tertawa, merasa lucu dengan anak kecil yang terlihat merajuk ini.


"Aiyoo, baiklah adik kecil. Gadis, cepatlah pergi selesaikan urusanmu. Yang disini serahkan padaku." Ucap pemilik kios.


"Kalau begitu aku pergi dulu, bos. Jangan lupa siapkan, jangan sampai ada yang terlewat." Ucap Siska.


Kemudian keduanya pergi ke bank, untuk menyetorkan uang. Tidak lama seperti awalan yang lama karena proses pembuatan bukunya dulu, kali ini hanya butuh waktu sekitar 20 menit saja untuk Siska menyetorkan uangnya. Setelahnya ia keluar lagi dari bank, dan kembali ke kios untuk mengambil belanjaannya.


"Gadis ini, kau cukup cepat juga! Kebetulan aku juga baru saja beres membereskan pesananmu. Hanya saja, gadis, untuk cincau ini, aku tidak punya. Kopi good day ada, tapi cincau tidak ada." Ucap pemilik kios menjelaskan.


Siska menganggukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, bos. Aku memang sudah mengantisipasinya. Lihat ini, aku sudah membelinya di kios ujung sana." Ucap Siska seraya mengangkat kresek berisi cincau yang ada di dalamnya, yang sudah dibentuk memanjang kecil-kecil.


"Woaw, kau cukup hebat! Memperkirakan semua hal dengan akurat." Goda pemilik kios.


"Tentu saja! Siapa yang tidak tahu jika aku hebat? Adikku yang keras kepala ini saja, mengakuinya jika aku hebat!" Ucap Siska seraya mengangkat dagunya, menyombongkan diri, terlebih dipuji oleh pemilik kios. "Astaga, bercanda saja, ah seperti ini menyebalkan, tidak nyaman." Lanjutnya seraya berubah kembali, menurunkan dagunya.


Ergan terbahak melihatnya, "Ibu dua anak sepertimu ini, masih saja suka bermain-main." Cibir Ergan.


"Hei apa salahnya?!" Desis Siska, menatap Ergan tajam dengan kedua mata yang dilebarkan.


"Lihat, bos, sudah tua malah banyak tingkah." Tunjuk Ergan, membuat pemilik kios ikut tertawa lebar. Keduanya serempak menertawai Siska yang kini mendengus sebal.


*

__ADS_1


*


__ADS_2