Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Perang Dingin


__ADS_3

*


*


Besoknya Siska bangun pada pukul lima. Tidak seperti biasanya yang langsung bangun dan membersihkan diri, Kali ini Siska berdiam diri di atas kasur, bermalas-malasan sejenak.


Siska tertidur semalam di luar, Darren lah yang tentunya mengangkat dan memindahkannya ke kamar agar Siska tidur dengan nyaman.


Tapi bukan itu yang membuat Siska tidak beranjak. Ia memikirkan kembali cerita Darren yang ia ceritakan semalam. Darren bilang, ia adalah orang yang ditabrak Siska d koridor waktu sekolah menengah.


Siska bahkan tidak ingat hal-hal sepele tersebut. Tapi kemudian Darren kembali mengatakan, jika selain bertabrakan, Siska juga selalu menerima surat dan bekal makan darinya sewaktu sekolah menengah.


Siska memang mendapat hal-hal tersebut, tapi Siska tidak tahu Darren lah dulu yang memberikannya. Siska termasuk populer di sekolah menengahny dulu, dan hal-hal seperti surat sudah sering diterimanya. Tapi untuk bekal makan, memang satu yang selalu ada di bawah kolong mejanya.


Lalu, akhirnya Siska ingat. Darren adalah orang yang ditolongnya waktu itu. Dulu, Darren ini selain pendiam juga terlihat sangat cupu, seperti kutu buku kebanyakan.


Siska tidak kenal sama sekali dengannya.


Lalu bagaimana Siska akhirnya ingat tentang Darren, adalah ketika Darren mengatakan jika Siska pernah melarangnya melompat di atas gedung sekolah.


Siska waktu itu kebetulan sekali sedang menghindari pelajaran yang sangat tidak disukainya dengan membolos ke atap. Tapi begitu sampai, ia melihat laki-laki yang dengan santainya naik dan hendak melompat.


Dan apa ini? Ternyata itu Darren. Siska bahkan terbahak begitu tahu jika Darren adalah si kutu buku yang putus asa kala itu.


Darren sedang menghadapi tekanan besar waktu itu. Meski ia termasuk orang berada, tapi kehidupannya di rumah tidak seperti sekarang. Ia ditekan dari sana sini oleh keluarganya, tidak ada yang menopangnya, karena satu-satunya penopangnya juga sedang terbaring sakit di rumah sakit. Itu Ibunya, Wasilah.


Selain tekanan dari rumah, Darren juga mendapat tekanan dari sekolah, karena penampilan dan ketidak inginannya melawan, ia menjadi bahan ejekan di sekolah.


Melihat ibunya tidak kunjung sadar, Darren menjadi putus asa dan kegelapan menutupi mata dan hatinya ketika ia sedang menyendiri di sekolah.


Siska menariknya turun, membuat keduanya terjatuh bersama. Tapi waktu itu, Darren marah besar padanya dan langsung pergi setelah Siska menepuk kepalanya dan menasehatinya.


Besoknya ibunya sadar, dan Darren menjadi sangat bersyukur ketika ia tidak jadi bunuh diri. Ia menjadi berterimakasih pada Siska. Tapi Darren tidak berani mendekat, dan hanya bisa mengagumi Siska dari jauh.


Setelah lulus ia melanjutkan studi dan bertemu Haris juga Sahni. Sifatnya yang cupu juga hilang tergantikan oleh sifat dingin dan tidak tersentuh. Penampilannya, juga berubah, seperti sekarang.

__ADS_1


Itulah kenapa Siska bahkan tidak mengenali Darren ketika ia melihatnya pertama kali di pasar waktu itu. Berbeda dengan Darren, yang mana awalnya hanya sedang inspeksi, ia tidak sengaja bertemu Siska dan langsung mengenalinya meski penampilannya sangat sederhana.


Darren selalu mencarinya, tapi ia tidak ada kesempatan untuk bertemu. Karena setelah lulus sekolah Darren melanjutkan pendidikannya di ibukota. Sampai akhirnya ia bertemu lagi, dan itu adalah awal mula Darren kembali menjadi penjaga Siska dalam diam.


Awal bertemu, Darren merasa dirinya tidak ada harapan setelah tahu jika Siska sudah menikah dan memiliki dua anak. Tapi kemudian satu fakta terungkap lagi, Siska selalu diperlakukan buruk oleh laki-laki yang menjadi suaminya.


Darren pun mengamati selama beberapa hari. Bahkan mengikuti Siska diam-diam, sampai ia melihat Siska menyimpan satu surat di depan pintu rumah seseorang. Darren penasaran dan dengan lancang membuka surat tersebut yang ternyata surat cerai.


Darren tentu saja senang. Jadi ia pun mulai menunjukkan eksistensinya. Apalagi, waktu itu, kebetulan ia melihay Uqi tersesat. Jadi ia inisiatif membujuk dan mengantarnya ke hadapan Siska yang saat itu terlihat berantakan karena kehilangan anaknya.


Dari sana, keduanya mulai dekat. Siska juga lebih sering berbicara padanya sejak itu. Darren juga tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan memesan beberapa produk yang dijual Siska, jadi keduanya tidak pernah putus hubungan.


"Sial! Dia begitu manis." Gumam Siska seraya tertawa kecil. Wajahnya memerah, dan terasa sedikit panas. Siskaali sendiri setelah membayangkan pertemuan yang ternyata disengaja oleh Darren.


"Ah, apa-apaan sikap mengejarnya itu?! Sial, sial! Aku ingin berteriak!" Gumam Siska tertahan. Ia mengambil bantal disampingnya dan menutupi wajahnya. Kakinya bahkan tidak bisa diam, itu menepuk-nepuk kasur, karena salah tingkah sendiri.


Puk! Puk! Puk!


Siska menepuk kedua pipinya setelah melepaskan bantal di wajahnya. Mencoba membuat dirinya sendiri sadar. "Ayolah, apa kau tidak malu bersikap begini? Kau adalah ibu dengan dua anak!" Gumamnya frustasi, jijik sendiri dengan sikap dan perilakunya saat ini. Membuat orang bergidik sendiri.


Ia kemudian bangun dan memasuki kamar mandi membersihkan diri. Setelahnya keluar dan sarapan, kali ini sarapan sudah siap karena asisten rumah tangganya sudah memasak. Di meja makan juga sudah ada Sahni dan anak laki-lakinya.


Sikap menyapa keduanya dan mulai makan bersama. Setelahnya, barulah Siska bertanya tentang keberadaan Darren dan Haris.


Tapi Sahni mengernyit bingung, "Apa? Kenapa kau bertanya? Bukankah semalam kalian mengobrol sampai larut? Apakah Darren tidak mengatakan bahwa dia pergi lebih awal kemarin?" Tanya Sahni membuat Sisla tertegun.


"Apa maksudmu? Bukankah Darren pergi nanti malam?" Tanya Siska bingung.


"Tidak, pihak sama mendesak agar Darre pergi lebih cepat. Jadi Darren dan suamiku pergi pagi ini. Pukul 3 pagi mereka berangkat." Ucap Sahni lagi.


"Darren tidak mengatakan apa-apa padaku." Ucap Siska menatap Sahni.


"Ah? Tapi Kami dapat kabar mendesak pukul 9 malam. Aku kira Darren sekalian mengatakannya padamu." Ucap Sahni lagi. "Tapi, mungkin ia lupa karena asik mengobrol. Tidak apa-apa, hanya pergi satu Minggu saja." Lanjut Sahni setelah tahu jika sepertinya ia salah mengatakan kebenaran pada Siska.


Habislah dirinya nanti dimarahi Darren karena mengatakan yang sebenarnya, bahkan tidak melindungi dirinya yang melupakan hal sepenting itu pada Siska.

__ADS_1


Siska diam, tidak lagi menjawab dan membalas Sahni. Rautnya berubah seketika, menjadi tidak enak dipandang. Kekesalan jelas terlihat dimatanya. Dan Sahni yang mihat itu, menjadi meringis, mengutuk mulutnya yang tidak bisa meelihat situasi terlebih dahulu.


"Siska, Darren mungkin lupa, dan semalam belum empat melihat pesan yang mendesak itu. Bukankah kalian sudah dari pukul delapan di luar? Darren mungkin tidak sempat melihat ponselnya juga semalam karena ingin berduaan denganmu." Jelas Sahni dengan hati-hati. Keduanya sudah menjadi lebih akrab kini, jadi panggilan nama masing-masing sudah tidak aneh.


"Sudahlah, Sahni, jangan membela dia didepanku. Bagaimanapun, dia tetap salah karena tidak memberi kabar. Bahkan tidak meninggalkan pesan apapun." Ucap Siska, "Ayo pergi bersama. Kau mau ke perusahaan kan? Aku juga mau ke restoran cafe." Lanjut Siska seraya tersenyum.


"Ibu, Onty Siska sudah tidak suka padaku, ya?" Tanya Aden, anak bungsu Sahni ketika Siska pergi meninggalkan ruang makan tanpa menyapanya.


"Uh? Tidak, sayang, onty hanya sedang sedih saja." Jelas Sahni.lada anaknya. Perasaan Sahni tidak nyaman, ia merasa bersalah sudah membeberkan semuanya.


Pasti akan membuat Nona dan Bossnya perang dingin. Tapi sebelum ia mendapat masalah ia dengan cepat mengabari Darren jika Siska tengah marah karena Darren sama sekali tidak meninggalkan pesan apapun padanya ketika ia pergi.


Sahni tidak peduli Darren akan terganggu. Itu masalahnya, lebih baik Darren yang terganggu daripada dirinya yang terkena masalah nanti. Lagipula, ada Haris, suaminya yang membantu menghandle pekerjaan Darren disana. Biarlah dia yang tersiksa kali ini.


Disisi lain, Siska setelah diam di dalam mobil meski Aden mengajaknya bicara, setelah sampai di restoran, semua orang sudah pasti melihat auranya yang tidak bisa diganggu. Siska terlihat menyeramkan, dalam mode senggol dikit pasti langsung marah.


Jadi, jika tidak ada hal penting semua orang tidak mengganggu Siska saat itu. Termasuk Satria. Ia hanya diam jika ia tidak ditanya oleh Siska.


Tapi Siska menjadi lebih mudah lelah karena moodnya yang tidak baik hari ini. Iapun tidak banyak membantu di restoran cafe dan pergi ke ruang kerjanya untuk istirahat pada jam makan siang.


Tidak ada nafsu makan siang, ketika dirinya bahkan dalam mood yang tidak bagus. Ia hanya ingin diam dan tidur. Bahkan ponselnya, ia matikan sepanjang pagi karena tidak ingin ada seorangpun yang mengganggu.


Keluarganya, ia hubungi lewat ponsel satria, dengan berpura-pura jika ponselnya mati kehabisan baterai, dan beralasan jika charger miliknya rusak, belum sempat membeli. Padahal aslinya ponselnya sangat baik-baik saja. Siska hanya ingin menghindari Darren saja. Ia benar-benar kesal padanya saat ini.


Dinegara tetangga, Darren juga resah sendiri. Ia menghubungi Siska berkali-kali tapi tidak tersambung. Tapi karena ada rapat dan acara, ia tidak terlalu memegang ponsel, sehingga berpikir jika Siska mungkin sedang bekerja dan belum sempat membuka ponsel saat itu.


Sampai malam datang, Siska tidak kunjung mengaktifkan ponselnya, dan tidur dengan lelap. Darren tentu khawatir, jadi ia menghubungi Sahni. Melakukan panggilan video, Sahni diam-diam masuk ke kamar Siska dan merekam Siska yang tertidur dengan selimut yang menutupinya sebatas dada, barulah Darren merasa tenang.


"Dia sepertinya benar-benar marah kali ini." Ucap Darren.


"Salahmu, siapa suruh kau melupakannya." Balas Sahni, tidak menenangkan Darren sama sekali, membuat Darren mendengus. "Sudahlah, kau kerjakan pekerjaanmu secepatnya agar kau bisa pulang lebih awal dan membujuk kekasihmu. Sudah, ya, aku mau tidur." Ucap Sahni kemudian mematikan panggilan sepihak tanpa menunggu persetujuan Darren.


Biarlah Darren mengumpatinya disana. Sahni mengantuk, sudah waktunya istirahat, apalagi perusahaan tidak ada Darren dan Haris, ia menjadi bekerja dua kali lipat lebih sibuk dari biasanya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2