
*
*
Setelah memberitahu masalah Uqi yang masuk rumah sakit, Rendra langsung diserang oleh keluarganya. Menyembunyikan hal besar pada semuanya adalah kesalahan. Nyatanya, kini Rendra diomeli oleh semuanya, bahkan Ergan dan Geri yang notabenenya adalah anak kecil berani memarahi Rendra.
Terlebih, ibunya, Estika. Tidak ada habisnya menceramahi dan sesekali memukul bahunya. Katanya, lebih penting kedaikah daripada cucu sendiri?
Kedai masih bisa dibangun lagi jika mengalami kerugian, bisa ditopang dengan modal, tapi cucu sendiri mengalami kecelakaan, apa yang bisa menopangnya? Kasih sayang, perhatian. Tapi keduanya bahkan tidak mampu dirinya sebagai seorang nenek berikan.
Rendra hanya bisa pasrah saja dan meringis menghadapi semua orang. Sampai saat ini, kedai sudah tutup dan semuanya langsung pergi ke rumah sakit. Tapi karena jam besuknya terbatas, jadilah hanya Estika, sebagai neneknya saja yang bisa masuk. Dan yang lainnya pulang dengan raut kecewa.
Meski begitu, semuanya tetap harus menjalani aktivitas seperti biasanya. Ergan dan Geri dengan kontennya, Rendra dan Santi bagian membereskan rumah dan memasak. Sedangkan Putri dan Sapta harus pulang seperti biasanya.
Besoknya, Siska menyerahkan semua pekerjaan pada kakaknya, Rendra. Rendra yang menerima amanah pun, menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Tapi karena ia tidak bisa meninggalkan istri, adik dan anaknya di rumah, mau tak mau harus menemani semuanya dulu, baru bisa pergi ke kedai dan membereskan segala keperluan kedai dengan Santi.
Sementara Ergan dan Geri pergi, Rendra dan Santi membawa bekal dari rumah. Hanya berjaga-jaga untuk makan siang nanti takut tidak keburu membeli diluar, jadi sudah ada dan tinggal memanaskannya saja.
__ADS_1
Santi tidak membawakan bekal untuk orang yang ada di rumah sakit, karena Siska sendiri yang telah menghubungi dirinya perihal bekal. Biar nanti ia beli di kantin rumah sakit saja, katanya. Jadi baik Santi maupun Rendra bisa langsung pergi ke kedai dan membuka kedai dengan lancar, tanpa bolak-balik ke rumah sakit.
Alhasil, begitu kedai dibuka, karena berkurangnya tenaga kerja, pembentukan cireng, cirambay dan cilok, masing-masing hanya dibuat 1000 an buah/bungkus saja. Dan ke tiga produk ini langsung dibungkus semua. Jadi, nanti kedai tetap buka dengan menjual menu seblak, sosis dan bakso bakar, serta 3 minuman, yakni cappuccino cincau, teh Rosella, dan air putih saja.
Berbuat demikian karena, agar nanti ketika pelanggan datang, Siska dan Putri bisa membagi waktu untuk memasak. Sedangkan untuk ke 3 produk dari tepung tapioka, bisa langsung disimpan di depan, di meja konter pemesanan. Begitu ada orang yang mau membeli, bisa langsung Sapta layani tanpa harus bolak-balik ke dapur.
Dengan begini, baik di dapur, maupun di depan, maka semuanya tidak akan terlalu keteteran melayani pelanggan yang sebegitu banyaknya.
Antrian panjang seperti biasa. Tapi karena produk yang biasa dipesan oleh orang-orag ini, masing-masing terbatas, jadilah ada beberapa orang yang tidak kebagian, langsung putar balik tanpa mau memesan menu lainnya.
Rendra dan Sapta hanya mampu meminta maaf, dan menjelaskan situasinya agar pelanggan mengerti dan tidak terlalu kecewa dengan pelayanan hari ini. Keduanya tidak menyebut situasi spesifiknya, tapi sekedar menjelaskan tentang berkurangnya tenaga kerja akibat adanya yang sakit. Karena jika tidak menjelaskan, siapa yang tahu pelanggan kecewa dan tidak balik lagi? Bahaya. Apalagi, mulut pelanggan bisa menyebar dari satu ke yang lainnya. Jadi, itu adalah pilihan aman yang bisa diperbuat.
Tidak berhasil membuat Sapta ke dalam, akhirnya keduanya menyerah, dan memilih mengerjakan pekerjaan bersamaan. Jadi, selagi menunggu seblak matang, Putri sembari membuat minuman yang mudah. Seperti Teh Rosella. Tapi Santi berbeda, karena jika ditinggalkan sebentar saja, kejadian gosong pasti akan terjadi. Membuat Santi, lebih baik memanggil Ayu, pelayan yang melayani di depan.
Sedang Rendra, awalnya memang sibuk karena banyak orang yang mengantri untuk pemesanan bungkus. Tapi begitu semua orang yang mengantri tidakada lagi, Rendra menjadi sedikit luang. Dan ia lebih memilih ke dapur, membantu dua wanita, yang menghela nafas lega karena mendapat bantuan tepat waktu.
Di sisi lain, Siska tidak khawatir sama sekali meninggalkan kedai pada para kakak dan kakak iparnya. Ia tahu para kakak punya kemampuan menjalankan bisnis kedai tersebut. Jadi sebetulnya, tanpa Siska lun, kedai pasti akan terus berjalan dengan baik.
__ADS_1
Keempat kakak hanya kurang ide saja. Dan itu adalah hal yang dapat membuat keempatnya kalah. Pikiran keempatnya kurang kritis, sehingga harus Siska yang terlahir kembali yang memulai kebangkitan perekonomian untuk keluarganya.
Jadi, kurang lebih, kesibukan keluarganya juga akan berlangsung selama dua hari ke depan. Karena Uqi masih harus dirawat selama dua harian di rumah sakit. Sedangkan lainnya, Uqi bisa menjalani perawatan jalan. Jadi untuk memeriksakan luka di kepala, Uqi akan dibawa ke dokter yang merawatnya dua hari ini, selama seminggu sekali untuk check up rutin selama sebulan. Memastikan jika luka Uqi tidak berubah menjadi luka dalam yang mungkin saja berbahaya bagi Uqi sendiri.
"Aku cari dulu makanan untuk sarapan kita." Ucap Siska memecah keheningan setelah dokter memeriksa Uqi.
Siska kemudian berdiri, tapi ia dihentikan dengan adanya interupsi dari Darren. Ia datang tiba-tiba dengan beberapa tempat makan berisikan makanan untuk semuanya sarapan, termasuk Uni. Ada tempat bekal khusus untuknya, yang anak-anak.
Siska yang mengurungkan niatnya, seketika menghela nafas dan hanya bisa mengucapkan terimakasih padanya. Siska sedikit-ssdikit jadi merasa jika Darren telah berubah. Banyaknya, lainnya adalah pertanyaan, sejak kapan bos datar di depannya berubah banyak? Bahkan seperhatian ini? Pikiran Siska masih sama polosnya, tidak berpikir tentang maksud lain, seperti yang ia pikirkan ketika Randu, yakni Ayah Zen yang mendekatinya. Siska langsung tahu.
Kepada Darren, kenapa berbeda? Karena memang kedatarannya menghalangi segala prasangka Siska. Lagipun, Darren memang kenal Ayah dan anaknya selama menjaga kedai. Jadi Siska pun berpikiran biasa.
Dan hal inilah yang menjadi poin plus dan utama dari pendekatannya pada Siska. Yakni keluarganya. Dekati keluarganya, maka otomatis Siska perlahan juga akan lebih peka dan lebih memperhatikannya bukan?
"Aku harus pergi, kalau begitu, nikmatilah." Ucap Darren, kemudian, setelah memberikan sarapan, ia kembali meninggalkan ruang rawat dengan wajah datarnya.
Suherman hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Darren. Sedangkan Siska, lebih ke heran dengan sikapnya yang banyak berubah, dan Estika, lebih ke bertanya, tentang siapa sosok tampan berwajah datar ini?
__ADS_1
*
*