Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Piknik


__ADS_3

*


*


Siska menghamparkan satu kain tebal di atas rumput yang rapi di bawah pohon rindang di taman kota ini. Kemudian dibantu supir, ia menata makanan yang dibelinya dari toserba dengan rapi. Membuat piknik ala-ala anak muda di tahun 2020 an.


Di sisinya, Uni juga ikut membantu menata makanan dengan tangan-tangannya yang kecil. Membuat Siska gemas, dan langsung mengabadikan momen tersebut. Ah, ia suka merekam sekarang, tapi bukan untuk konten di tutub. Hanya mempostingnya di akun sosial media sebagai daily dump.


Tapi meski hanya sepenggal sedikit kontennya, tetap banyak disukai. Uni bahkan Uqi banyak yang menyukainya. Terkadang orang-orang di sosmed juga meminta Siska memposting konten tentang Uni dan Uqi.


Beberapa orang juga ada yang memintanya mengiklankan baju yang dipakai Siska, Uni dan Uqi. Benar, Siska dapat endorse dari orang-orang tersebut.


Tidak sebanyak pendapatan kedai, tapi lumayan dapat barang gratis, juga dapat upah. Padahal ia hanya memakai dan memakannya saja. Lumayanlah. Siapa yang tidak mau diberi barang gratis?


Kecuali barang kecantikan sisanya Siska menerima barang lainnya. Karena untuk makeup, dan perawatan kecantikan lainnya, Siska tidak mau mengambil resiko untuk wajah dan tubuh dirinya juga anak-anaknya. Siska memilih jalur aman dalam menerima endorse. Baju, kaos kaki, sepatu, sandal, karpet, sofa, makanan, dan lainnya. Masih banyak.


Setelah merekam momen Uni. Siska kemudian memanggil Uni agar ia mau duduk di pangkuannya. Siska berniat menelfon orang rumah, tapi karena Uqi belum pulang sekolah jam segini, alhasil ia hanya menelfon nenek Uni.


"Aiyo, cucu nenek! Bagaimana disana? Menyenangkan tidak, sayang?" Tanya Estika pada Uni, Siska melakukan panggilan video, jadi wajah ibunya memenuhi layar saat ini. Melihat latar tempatnya, ibunya sepertinya ada di kedai. Ia pasti menghentikan pekerjaan sementara ketika Siska menelfon.


"Senang, nenek! Disini sangat cantik. Lihat, lihat, tamannya juga besal!" Seru Uni antusias, ia semangat dan ceria. "Kapan-kapan, kita main kesini belsama oke, nek? Nanti ibu yang bayalkan ongkosnya.", Lanjut Uni membuat Siska dan neneknya tertawa. Ia sudah tahu yang namanya ongkos. Astaga.


Siska dan Ibunya yang ada di di desa sana hanya bisa tertawa melihat tingkah gemas Uni. Semakin hari, Uni juga semakin pintar berbicara. Keberanian dan keceriaan juga jangan ditanya. Ucapannya juga semakin lancar setiap harinya. Dan oh, jangan lupa banyaknya pertanyaan yang Uni lontarkan, banyak sampai Siska bingung menjawabnya. Karena selain banyak, itu juga sulit untuk dijawab.


Setelah 20 menit berbicara, Uni menyerahkan ponselnya pada Siska. Kemudian Uni mengambil satu botol sedang berisi tiupan balon. Uni bermain dengannya, diawasi oleh supir Siska, sementara Siska mengobrol sebentar dengan ibunya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pesanan bulanan Bu Wasilah? Masihkah lancar? Apa ada kendala?" Tanya Siska.


"Aman, nak. Jangan khawatir, kakakmu mengerjakannya dengan baik." Ucap ibunya.


Hari ini memang hari dimana pesanan Bu Wasilah disetor lagi. Siska tidak bisa menunda waktu ke ibukota juga, alhasil ia hanya bisa menyerahkannya pada kakak keduanya. Tapi syukurlah jika semuanya aman. Siska merasa lega kini.


Setelah 5 menit, Siska akhirnya menutup telfon dan melihat Uni. Uni masih senang-senang menangkap balon-balon yang ditiup oleh supirnya. Ya, kini supirnya yang bertanggung jawab menipu balon, alhasil Uni lah yang berlarian senang menangkapi balon yang beterbangan.


Siska menyalakan rekaman video di ponselnya, dan menaruhnya di atas kain yang dihamparkan berbantalkan tas agar ponselnya berdiri. Kemudian, ia meminta mengambil alih balon dari supirnya dan menyuruhnya istirahat di kursi taman.


Setelah dapat, kini Siskalah yang meniupi balon. Tapi Siska tidak meniupnya, ia menjulurkan tangannya dan mengayunkan tiupan balon, sehingga balon berterbangan dengan angin ketika diayunkan.


Uni makin senang, ia melompat-lompat lucu. Juga berseru ingin mencobanya ketika Siska melakukan hal tersebut, sampai balon yang keluar lebih banyak dari yang ditiup supirnya. Uni melihatnya dan jadi ingin mencoba. Membuat Siska memberi Uni kesempatan.


Uni mencoba mengingat gerakan Siska dan mengayunkan lengannya. Dari kanan ke kiri, membuat tiupan balon yang sudah dicelupkan ke air sabun khusus balon tersebut, mengeluarkan banyak balon.


Di sisi lain, Darren baru saja keluar dari salah satu restoran kelas atas. Ia baru saja melakukan kerja sama dengan salah satu mall ternama di ibukota. Tapi begitu keluar, Darren mencari Sahni.


"Bagaimana dia? Apa baik-baik saja?" Tanya Darren begitu bertemu Sahni. Sejak tadi pikirannya tidak tenang meski ia terus berbincang masalah kerja sama.


Siska.


Di ibukota ini, di tempat asing baginya. Ia tidak tenang meninggalkannya sendiri berjalan-jalan diibukota. Alhasil ia menyuruh Sahni agar mengirim orang untuk mengikutinya diam-diam, agar Darren sendiri bisa mengawasi dari jauh.


Sahni tersenyum tertahan, tapi tangannya cekatan memperlihatkan satu video yang diterimanya dari orang yang dikirimnya untuk mengawasi Siska.

__ADS_1


"Nona sedang bermain di taman kota, dengan nona kecil. Silahkan bos lihat sendiri." Ucap Sahni seraya menyodorkan ponselnya pada Darren.


Darren mengambilnya, kemudian menonton keseruan Siska dan Uni. Senyum kecil terbit, pun matanya menjadi lebih hangat. Sahni saksi perubahan sikapnya. Diam-diam juga merasa bersyukur, bos sekaligus teman sekolahnya ini mulai kembali ke permukaan.


"Aku ingin bergabung." Gumam Darren pelan, tapi Sahni tentu saja mendengarnya. Alhasil ia langsung menjawab ucapan Darren.


"Tahan dirimu, bos. Masih ada 5 pertemuan untuk hari ini. Juga tidak ada istirahat karena kau meminta jadwal malam dikosongkan." Ucap Sahni tersenyum geli menatap Darren yang menghela nafas pelan.


"Kirimkan videonya padaku. Ayo pergi, berikutnya mengecek tempat kan?" Ucap Darren yang langsung diangguki Sahni.


"Beritahu dia, tidak boleh lengah." Lanjut Darren setelah ia naik ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang di belakang. Sedangkan Sahni didepan di samping supir.


Darren tidak suka ada wanita di sampingnya, Sahni sudah khatam kebiasaan Darren yang satu ini. Jadi ia langsung duduk di depan setiap kali harus keluar dengannya, baik menemui klien maupun melihat kondisi di lapangan alias survei.


"Mau aku kosongkan jadwal besok, bos?" Tawar Sahni setelah ia mengabari orang suruhan yang mengawasi Siska sesuai perintah Darren.


"Tidak ada yang penting?" Tanya Darren tanpa melihat Sahni, matanya fokus menatap Tab di tangannya.


"Besok lumayan luang. Hanya ada 3 jadwal. Rapat bulanan karyawan, pembahasan rencana kerja tim design properti yang baru, juga makan malam dengan petinggi." Ucap Sahni membacakan jadwal Darren.


Darren terlihat menimang pilihannya. Rapat bulanan memang pagi hari mulai pukul 8, tapi biasanya bisa memakan waktu yang lama. Bisa melebihi jadwal jam makan siang. Untuk rencana kerja tim, paling hanya 4 jam an. Meski sedikit, tapi setiap jadwal punya waktu yang panjang.


"Rapat bulanan tetap langsungkan. Untuk rencana kerja kau yang pimpin. Dan untuk makan malam, biar aku pikir lagi nanti." Ucap Darren membuat Sahni menganggukkan kepalanya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2