Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Membeli Hadiah


__ADS_3

*


*


Setelah merasa tenang, Akhirnya Siska dan Darren memilih taman kabupaten untuk menenangkan pikiran. Uqi dan Uni, bersama Ergan sedang bermain dan berlarian di depan keduanya, Ponsel Ergan ia simpan di atas Tripod agar bisa merekam kegiatannya tanpa harus dipegang olehnya.


Setelah kekhawatirannya sebelumnya, Siska sudah lebih tenang. Tidak apa untuk membiarkan keluarganya tahu tentang rahasianya. Itu juga bagus, jadi keluarganya tidak akan merasa aneh lagi dengan perubahan besar yang terjadi pada Siska selama beberapa bulan ini.


Setelah puas berjalan-jalan akhirnya semuanya pulang setelah makan dan berbelanja mainan untuk Uqi, Uni, dan Ergan si bocah ini, juga masih mau mainan yang sama seperti Uqi. Membuat Siska menghela nafas, karena ia tidak mau membayar sendiri, maunya dibelikan oleh kakak ketiganya ini.


Besoknya pagi-pagi, sekali, ponsel Siska dan Darren saling bersahutan berdering. Siska dan Darren yang sedang menonton televisi di ruang keluarga dengan Uqi dan Uni, merasa terganggu jadi langsung mengambil ponsel masing-masing dan mengangkat panggilan telfon tersebut.


Setelah selesai, Darren dan Siska bertanya tentang siapa yang menelponnya. Siska menjawab agen real estate, sedangkan Darren, Sahnilah yang menelponnya. Juga sama-sama dapat informasi dari agen real estate.


Dulu, Sahni yang membeli rumah dari agen, jadi Sahni yang dihubungi terlebih dulu sebelum Sahni menghubungi Darren. Berbeda dengan Siska yang dihubungi langsung, karena ia langsung membelinya sendiri dan meninggalkan kontak di agen real estate di ibukota.


Keduanya sama-sama dikabari perihal banyaknya orang yang berbondong-bondong datang ke agen untuk membeli rumah di Turnuksio Residence.


Lalu keduanya berdiskusi, harga awal yang Siska beli adalah sekitar 350juta, setelah direnovasi, semuanya, setiap rumah, masing-masingnya menghabiskan biaya sekitar 50 juta. Jadi harga setiap rumah 400 juta sebagai modal awal.


Jadi, Darren pun menyarankan Siska agar menjualnya di kisaran Harga 1.5 M. Harga cocok menurut Darren, karena selain harga bangunan naik, tempatnya menjadi startegis juga. Perumahan juga sudah banyak di renovasi, dengan jalan, taman, dan tempat-tempat lainnya yang diperuntukkan untuk umum di tempat tersebut.


Bahkan bisa lebih naik sekitar 1.8M. Sedangkan untuk rumah yang dibeli Darren bisa dijual dikisaran harga sekitar 2.5 M karena harga awal juga sekitar 500juta setiap rumah, ditambah dengan renovasian yang memakan banyak biaya.

__ADS_1


Darren dan Siska sama-sa saling tersenyum. Keduanya kemudian kembali menghubungi Sahni dan agen real estate, membicarakan tentang penjualan rumahnya. Juga menyebutkan harga yang bisa mereka berikan pada para pelanggan yang mau membeli rumah. Siska bahkan akan memberikan komisi pada agen jika ia berhasil menjual setiap 10 rumah yang dimiliki Siska.


Kemudian, begitu saja, dirinya dan Darren menjadi kaya bersama-sama. Keduanya bahkan mendadak lebih dikenal oleh orang-orang kalangan atas, terlebih, Siska menjadi pembicaraan paling panas, karena ia adalah pemilik rumah paling besar di Turnuksio Residence. Namanya melambung tinggi, dan banyak dipandang.


Ergan juga diangkat menjadi topik populer karena mempunyai kakak kaya raya. Tak lupa keluarganya juga mendadak menjadi pembicaraan para tetangga, dipuji dan ditinggikan karena mempunyai anak seperti Siska dan Ergan yang sudah sukses di usia muda. Bahkan semua anaknya berbakti pada dua orang tua.


Keluarga Siska benar-benar diangkat derajatnya. Dan Siska jadi lebih tenang, tapi tidak tenang juga, karena semakin tinggi seseorang, anginnya juga akan semakin kencang bukan? Dan keluarga Siska, mengatasi hal ini dengan terus bersikap rendah hati, bersikap seperti biasa seperti sebelum semuanya sukses. Alhasil, orang-orang juga lebih menyukai keluarganya karena ramah pada orang-orang di bawah.


Sesekali, orang tuanya bahkan membagikan makanan dan sembako bagi yang membutuhkan, terlebih pada anak-anak yatim di panti. Karena ketika tahu Siska dulu mati kelaparan, keduanya jadi lebih sering berbagi, bisa dua Minggu sekali keduanya berbagi.


Siska dan kakak serta adiknya tidak melarang, justru mendukung kegiatan orang tuanya tersebut. Bagaimanapun itu adalah perbuatan baik. Jadi mendukung tidak ada salahnya. Lagipula keluarganya sudah tidak kekurangan uang lagi saat ini.


"Siska, aku sudah buat reservasi di restoran Adamas. Malam ini, mari makan malam dengan orang tuaku." Ucap Darren menatap Siska yang sedang fokus pada ponselnya.


Sudah 1 bulan sejak tahun 2011 datang. Dan ini saatnya Siska menepati janjinya untuk ikut dengannya bertemu dengan orangtuanya.


"Apanya yang belum beli apa-apa? Kau cukup datang, tidak perlu susah payah membawa apapun." Ucap Darren menghela nafas. "Kau juga sudah kenal ibuku, bukan? Setiap bulan bukannya suka berkirim pesan, hmm?" Tanya Darren.


"Situasinya berbeda oke! Setiap bulan berkomunikasi karena aku sedang berbisnis dengan ibumu! Kau menyebalkan! Ayo cepat antar aku ke pusat perbelanjaan." Ucap Siska memelototi Darren kesal.


Darren akhirnya menuruti keinginan Siska. "Mau beli apa untuk orang tuaku?"Tanya Darren


"Tidak tahu, menurutmu apa?" Tanya Siska bingung. "Oh ya, kira-kira Ayah dan Ibumu sudah pasti akan menerimaku, tidak? Aku jadi sedikit takut. Kau bujang begini, mau denganku yang janda anak dua begini. Aku juga sedikit aneh dengan ini." Ucap Siska menghela nafas.

__ADS_1


"Ibuku suka pada Uqi dan Uni, astaga! Apa sih yang kau pikirkan?" Tanya Darren.


"Tapi Ayahmu belum, aku juga belum pernah bertemu dengannya sebelumnya." Keluh Siska.


"Sudahlah, ayo beli barangnya dulu. Ayahku suka bepergian dengan motor besar, kau bisa membelikannya jaket atau semacamnya. Lalu ibuku, tidak tahu dia hanya paling suka berbisnis." Ucap Darren.


Siska tercerahkan, kemudian ia menarik Darren ke arah yang berbeda dengan apa yang ditujunya, yaitu toko perhiasan. Siska membawa Darren pergi ke lantai dasar, dimana Showroom berada.


"Kau mau beli helm untuk ayahku? Bagus juga, baiklah, ayo pilih yang bagus." Ucap Darren menganggukkan kepalanya.


"Tapi, lebih baik cari untuk ibu saja dulu, untuk Ayah gampang sepertinya tinggal memilih, ayo pergi ke lantai 3." Ucap Siska menarik Darren lagi dan naik ke lantai tiga dengan eskalator.


"Pikirkan dulu apa yang mau kau beli, jangan plin-plan oke?" Ucap Darren seraya menghela nafas.


"Baiklah, tidak plinplan lagi. Aku ingin membeli satuset perhiasan saja untuk Ibu. Sekalian membelikannya untuk Mama dan Uni." Ucap Siska.


"Baiklah pilihlah. Aku juga bisa membayarkannya untukmu jika kau mau." Ucap Darren.


"Tidak! Aku ingin membelinya dengan uangku sendiri, kau jangan ikut campur!" Ucap Siska melarang menatap Darren dengan tajam.


Akhirnya keduanya sampai di toko perhiasan ternama di kabupaten yang letaknya di lantai 3. Di sana ada beberapa set perhiasan kelas atas yang diperlihatkan tapi tidak ada yang menarik perhatian Siska. Akhirnya Siska bertanya pada penjaga toko dan mendapatkan set yang diinginkannya.


Hadiah untuk ibu mertua sudah dapat. "Ayo ke showroom lagi. Masih harus membeli hadiah untuk Ayahmu." Ajak Siska kemudian.

__ADS_1


*


*


__ADS_2