
*
*
"Pukul berapa sekarang?! Kenapa masih belum berangkat!" Teriak Darren pada awak kapal yang bertugas melayani di sisi dirinya.
Sudah hampir pukul 5, Darren dan Siska sudah lumayan lama berendam di kolam renang tersebut. Tapi lihatlah, kapal masih belum berlayar juga.
Kesal. Rencana melihat matahari terbenam di hari pertama mungkin gagal.
"T-tuan, aku tanya pada kapten dulu." Ucap orang yang dimarahi Darren. Membuat Darren mendengus kasar.
"Tunggu, dengar perintahku dulu! Bilang pada kaptenmu, jika pukul lima tepat tidak berangkat juga, maka aku dan istriku yang akan turun!" Teriak Darren, naik pitam.
Emosi sekali. Sudah diberitahu pukul 4, sudah mau pukul 5 malah belum berangkat. Keluarga Imanuel ini benar-benar menguji kesabarannya. "Persetan dengan rekan kerja lama, dia membuatku menunggu, membuatku emosi, maka akan aku tegur dia dengan keras! Ini masihlah kapal pesiar pribadiku. Mereka tidak mau membatalkannya, lalu yang harus dilakukan ya mereka menuruti jadwalku! Sialan!" Ucap Darren dengan mata gelap. Kemudian tangannya mengibas, mengusir awak kapal yang dimarahinya. Menyuruhnya pergi dari hadapannya untuk segera menyampaikan pesannya.
"Sayang, tahan emosimu, hmm?" Ucap Siska lembut, ia menatap Darren dan menepuk bahunya, membuatnya menjulurkan tangannya sedikit ke atas, karena ia lebih pendek dari pada Darren.
"Ugh, maaf... Aku kesal sekali. Bulan madu kita sudah diawali dengan emosi begini, benar-benar menyebalkan. Kalau saja kita naik kapal pesiar yang aku sewa saja tadi. Kalau bukan karena Ayah dan Ibu, aku tidak akan sampai emosi begini, dan... mengecewakanmu." Ucap Darren dengan raut sedih, ia kemudian menundukkan kepalanya, dan menyimpan keningnya di bahu Siska.
Siska mengusapi punggung telanjangnya pelan, menenangkan Darren.
"Sayang, maaf tidak bisa mengejar melihat matahari terbenam sesuai rencana." Lanjut Darren, kedua tangannya sudah memeluk Siska erat kini. Untuk menahan emosi yang hendak meluap, badannya sampai gemetar menahan emosi.
"Aduh, sudahlah, tidak apa-apa. Masih ada hari besok. Bukankah kita berada disini selama seminggu?" Tanya Siska, terus menenangkan Darren. "Tidak apa, masih banyak kesempatan nanti" Lanjut Siska.
__ADS_1
"Tapi untuk 7 hari ke depan aku sudah membuat rencana sendiri, sayang. Jika begini, rencanaku yang harus dibuang satu?" Tanyanya tak suka.
"Tidak perlu sampai merusak rencana. Seraya melakukan rencanamu, kita masih bisa melihat matahari terbenam setiap hari selama 7 hari tersebut. Matahari terbenam, dilihat sekilas juga terlihat, loh?" Tanya Siska lagi.
"Memang, tapi maksudku kan, hari ini rencananya mau melihat matahari terbenam sambil bersantai di kolam sini. Lalu, berfoto juga kan di ujung kapal sana. Lalu, aku, aku, itu, ah sudahlah. Lagipula rencananya sudah gagal." Hela Darren kesal. Mengeluh, mengeluh, dan mengeluarkan kekesalan.
Meninggalkan pasangan yang mengeluh dan menasehati, di sisi lain kapal, Awak kapal yang dimarahi Darren sudah sampai di hadapan kapten kapal dengan nafas terengah.
"Kapten, Tuan sudah marah, hhh." Ucap awak kapal tersebut, dengan kedua tangan di lutut, dan nafas tidak teratur.
"Apa maksudmu? Kemari, minum dan tenangkan diri dulu." Ucap kapten, membuat awak kapal tersebut mengangguk dan duduk di kursi sebelah kapten.
Setelah minum, barulah ia menceritakan semua kata-kata yang dikeluarkan oleh Darren pada kapten tanpa terkecuali. Lengkap dengan umpatannya.
Kapten yang mendengar itu, langsung gemetar, ia juga hanya bekerja di kapal pesiar ini, jika tuan dan nyonya pemilik turun dan malah memilih menggunakan kapal pesiar baru, maka habislah riwayatnya. Apalagi, ia juga memang yang bertanggung jawab atas kapal pesiarnya.
Membuatnya menghela nafas diam-diam karena harus berlari lagi mencari Steve yang biasanya ada di sekitar aula kapal pesiar tersebut.
"Kapten, tidak bisakah kau menghubunginya lewat telfon kompartemen?" Ringis awak kapal tersebut, menatap kaptennya dengan takut-takut.
"Oh, aku lupa. Kau saja yang hubungi, aku masih harus mengecek persiapan berlayar." Ucap Kapten tersebut. Sebetulnya sudah di cek semua, tetapi ia sedang cemas dan takut sekarang. Jadi suruh awak kapal yang menggunakannya.
"Ah, sialan. Semoga saja aku tidak kena getahnya nanti." Ucap Kapten, bergumam pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, awak kapal kembali ke hadapan kapten yang katanya mau mengecek persiapan berlayar. Tapi seolah mengerti, ia hanya menghela nafas, dan memberitahukan jika dirinya sudah menghubungi Steve.
__ADS_1
Di posisi Steve sendiri, ia dengan cemas langsung menghubungi kepala keluarga Imanuel. Ia bahkan tidak menekan emosinya dan beberapa kali memarahi kepala keluarga tersebut.
Masa bodoh, yang penting dirinya selamat dan tidak getah dari kebodohan keluarga Imanuel saja. Urusan keluarga Imanuel, biar jadi urusan belakangan saja. Lagipula Tuan dan Nyonya tua Wistara akan mendukung awak kapal jika menceritakan yang sebenarnya pada mereka.
Yang salah disini itu keluarga Imanuel. Keluarga Wistara tahu yang salah dan yang benar. Mereka sangat adil, dan menjunjung tinggi prinsip serta integritas. Kedisiplinan apalagi. Jadi, yang akan celaka ya pasti keluarga Imanuel, nantinya, meski akan ada sedikit keributan.
Sampai akhirnya, setelah menunggu selama 10 menit lamanya, Darren yang hendak kembali marah-marah, langsung mengatupkan bibir dan memudarkan niatnya tersebut, karena terasa kapal tersebut mulai melaju.
Tapi Darren tetap kesal, karena kini dirinya dan Siska hanya bisa berdiam diri di atas kursi di kolam renang, dengan masing-masing memakai bathrobe. Tidak ada kesenangan sama sekali. Ekspektasinya hancur seketika karena emosi sebelumnya.
"Bagaimana kalau kita ke kamar saja, hmm?" Tanya Siska, mengusulkan ide pada Darren.
"Tidak mau, tidak mood, aku kesal." Balas Darren, merajuk seperti anak kecil.
Siska tertawa kecil melihatnya. Ia seperti melihat Uqi yang merajuk ketika Siska sibuk dengan Darren, dan mengabaikan dirinya. Haha. Menggemaskan. Pikir Siska.
Untuk mengembalikan moodnya, Siska akhirnya mendekatkan dirinya pada Darren, lalu duduk di atas pangkuan Darren dan mengalungkan tangannya di leher Darren. Tidak lupa, senyum nakal ia keluarkan juga.
"Sayang?!" Ucap Darren dengan tatapan terkejut, juga cemas sendiri. Tangannya refleks sudah merangkul pinggang Siska, menahannya agar ia tidak jatuh sewaktu-waktu. "Mau melakukannya disini?" Tanya Darren berbisik.
Siska tidak menjawab, tapi bibirnya bergerak, memilih leher, dan menciumi leher Darren dengan sengaja.
"Sayang..." Ucap Darren dengan suara dalam dan serak. "SEMUA AWAK KAPAL MUNDUR! JAGA JARAK 10 METER DARI SINI!" Teriak Darren dengan suara kencang, kedua tangannya menutupi telinga Siska, tapi matanya memejam menikmati cumbuan Siska di lehernya.
*
__ADS_1
*