
*
*
Darren mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari Siska. Tapi nihil. ia tidak dapat menemukan keberadaannya. Kemudian ia mendorong pelan trolinya dan kembali ke tempat sebelumnya, masih belum dapat menemukannya. Membuatnya sedikit khawatir.
Sampai akhirnya, ia pergi ke lorong lain, dan gatcha! Siska sedang jongkok, membelakanginya. Seperti sedang membaca kegunaan dari satu alat elektronik yang dipegangnya.
Darren menghela nafas, lega bukan main. Ia kira Siska pergi, dan pulang sendirian tadi, meninggalkan Uni padanya. Tapi, setelah dipikir-pikir, Siska tidak akan mungkin meninggalkan anaknya begitu saja.
Meski Darren sudah dekat dengan Uni dan Ayahnya, tetap saja bagi Siska dirinya ini adalah orang asing. Jadi, sangat tidak mungkin Siska melakukan hal yang dipikirkannya barusan.
Uni yang melihat ibunya tidak kunjung menyadari keberadaannya yang ada tepat di belakang Siska, langsung memanggil Siska dengan suara khas anak-anaknya. Membuat Siska mengernyit dan langsung menoleh.
Siska terkejut sampai termundur pelan, Darren ikut jongkok begitu Siska berbalik. Uni juga, dan ia tersenyum senang dengan kedua tangan bertepuk begitu melihat Siska terkejut.
Darren mengulum kecil senyumnya, Siska bahkan tidak sadar Darren tersenyum saking terkejutnya. Ia sibuk memegangi dadanya yang berdebar kencang.
Setelahnya, ia menatap Darren dengan tajam. Tapi ada Uni, jadi ia mengembalikan ekspresinya seketika. Dan lebih memilih menatap Uni. Siska memeluk Uni kemudian barulah ia menatap Darren tajam lagi. Tak lupa jempol yang diibaratkan sebuah pisau.
Niat Siska ingin mengancam, tapi Darren malah malah memiringkan wajahnya, seolah bertanya maksud Siska. Membuat Siska berdecak kesal, dan mengabaikannya. Kemudian melepaskan pelukannya pada Uni.
"Sayangnya ibu, sudah selesai milih mainannya, hmm?" Tanya Siska seraya tersenyum lembut.
"Cudah mbuu.." Seru Uni, kemudian menunjuk Troli di belakang Darren yang saat ini masih jongkok di belakang Uni dengan dagu yang ditumpukan pada tangannya.
__ADS_1
Siska memutar kedua bola matanya, saat ia tak sengaja bersitatap dengan Darren. "Bagus! Ibu juga sudah, tuh. Ayo kita bayar!" Seru Siska ceria.
Diam-diam Darren memujinya. Apa Siska tidak sadar jika bakat merubah rautnya adalah juara? Darren baru kali ini melihat perubahan ekspresi yang banyak dalam satu waktu.
Begitu Siska berseru, Darren kemudian mengangkat Uni dan kembali memasukkannya ke dalam Troli. Kemudian ia mendorong Troli miliknya, juga troli milik Siska tanpa persetujuan Siska.
"Eh, biar aku saja!", Seru Siska dengan tangan yang dijulurkan, mencoba menghentikan Darren. Tapi tidak berhasil, Alhasil ia hanya bisa mengikuti Darren ke arah kasir dari belakangnya.
Begitu sampai, Darren langsung menggendong Uni. Seraya menunggu perhitungan selesai, ia beralih mendudukkan dirinya dan Uni di kursi tunggu. Tak lupa menarik Siska pelan agar mengikuti dirinya. Alhasil, kini ketiganya duduk bertiga dengan Uni yang ada di tengah. Macam keluarga bahagia yang sedang berbelanja.
Siska mengedarkan pandangannya, tapi lihatlah, kenapa sedari tadi orang-orang melihatnya? Tentu saja karna Darren, bukan? Meski wajahnya tanpa ekspresi, tapi Siska juga mengakui jika Darren ini memang tampan.
Tapi, perkiraannya salah, karena berikut ada beberapa orang yang menyapa ketiganya. Khususnya pada dirinya sendiri, ada orang yang duduk di sampingnya dan dengan berani berkata, "Nona, suamimu baik sekali. Selain tampan, ia juga mau menemanimu berbelanja mainan untuk anak." ucap orang asing tersebut.
"A-ah, apa? Suami? B-bukan, bukan." Balas Siska dengan sedikit panik.
"Maaf, istriku kalau marah memang begitu." Timpal Darren seraya menganggukkan kepalanya, menyapa. Membuat ibu-ibu yang disapa langsung tersipu malu. Dan menepuk pundak Siska pelan.
"Tuh, jaga baik-baik suamimu, oke?" Ucap ibu-ibu tersebut dengan senyum penuh arti.
Siska mendesis kesal dalam hatinya. Bukankah Darren ini si paling irit bicara? Apa maksudnya barusan? Tidak bisakah kebiasaan irit bicaranya ia gunakan saja barusan? Kenapa pula harus menjawab seperti itu? Kesal, kesal. Pikir Siska.
Kasir selesai menghitung, membuat Darren berdiri, tanpa membawa Uni. "Uni tunggu dengan ibu, oke? Yang patuh, ya." Ucapnya seraya tersenyum. Kemudian berdiri setelah mengelus kepala Uni dan Siska.
'HEI! APA-APAAN TANGANNYA ITU?! AAAA, SIAL SIAL SIAL!' Teriak Siska dalam hati. Di kenyataan ia lebih ke melamun setelah sesudahnya di sadarkan oleh ibu-ibu disebelahnya yang memekik pelan melihat tingkah Darren.
__ADS_1
Siska bahkan tidak sempat menahan Darren membayar belanjaannya juga. Tapi biarlah, nanti akan ia ganti, meski sebetulnya, Darren tidak akan mau.
Ibu di sebelah ini, juga membuat Siska kesal. Ia seperti merasa, sudah ibu-ibu loh, bukannya baik-baik saja, bersikap yang kalem. Apa tidak bisa menahan diri sendiri dengan baik. Pikir Siska.
Tapi akhirnya Siska malah mengumpati Darren dalam hatinya. Sikapnya hari ini, apa-apaan itu? Ke depannya ia harus menjauhi Darren. Uqi hampir sembuh, jadi, Darren juga pastinya tidak akan menjaga keamanannya lagi, kan?
Ya, harusnya seperti itu. Karena tidak baik jika seperti ini terus. Dirinya resmi bercerai sekitar 3 harian lagi. Tidak baik untuk dirinya berlaku seperti ini. Siska sudah menetapkan. Besok, ia harus menjauhi Darren dan menjaga jarak. Sebisa mungkin tidak berinteraksi berlebihan.
Siska pikir, jika ia berlaku begini sebelum resmi bercerai. Maksudnya, dekat dengan lelaki lain, ah dekat? Tapi begitulah intinya, dirinya termasuk sama saja dengan Aldo kah?
"Ayo pulang." Ucap Darren seraya menggendong Uni. Barang-barang belanjaannya di bawakan oleh orang di toko ini, jadi Darren tidak bawa apapun dan bisa menggendong Uni.
Siska mengangguk saja kemudian pergi mengikuti Darren tanpa banyak bicara. Pikirannya tiba-tiba penuh. Menyalahi dirinya sendiri. Harusnya ia dengan keras menolak ajakan Darren. Meski tidak enak dengan Bu Wasilah, harusnya dirinya pulang sendiri saja, kan? Ya, harusnya begini. Jangan dekatkan diri dengan laki-laki manapun.
Tapi, bagaimana dengan anak-anaknya yang senang berada di sekitar Darren?
Siska menggelengkan kepalanya kecil. Lalu masuk ke mobil dan menerima Uni yang disodorkan Darren ke pangkuannya.
Siska duduk diam selama perjalanan. Uni juga tertidur karena kelelahan. Akhirnya keheningan yang sebenarnya terjadi dalam mobil. Siska dengan pikirannya. Dan Darren yang bertanya-tanya, tentang apa yang terjadi pada Siska, dan apa yang dipikirkan otak kecilnya.
Siska menjadi lebih pendiam kali ini. Membuat dirinya berpikir jika sikapnya tadi berlebihan. Ia ingin minta maaf, tapi sepertinya suasananya sangat tidak nyaman. Alhasil Darren memilih diam selama perjalanan, dengan sesekali matanya melirik Siska.
Sampai Siska tertidur, dan Darren menurunkan sedikit sandaran kursi dan penutup cahaya matahari. Agar Siska lebih nyaman dan tidak terganggu.
"Aku sudah berlebihan, ya? Aku minta maaf, karena aku lancang. Aku sudah berusaha menahan diri, tapi, aku tidak bisa." Ucap Darren lirih pada Siska yang tertidur.
__ADS_1
*
*