Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Uqi Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

*


*


Waktu menunjukkan pukul 11.20, Siska yang masih sibuk dengan pekerjaan memasak, mau tidak mau haru menghentikannya. Tentu saja, ia harus menjemput Uqi sekarang. Jangan sampai ia teledor dan abai lagi pada anaknya.


Tapi Siska mengurungkan niatnya karena Ayahnya dan Uni hendak pergi, katanya, biar dia saja yang menjemput Uqi, sementara Siska lanjutkan saja pekerjaan, karena pelanggan juga sedang banyak-banyaknya. Akhirnya Siska pun menyerahkan pekerjaan menjemput pada Ayahnya, dan Siska kembali memasak.


Tapi, sudah satu jam setengah berlalu, harusnya Ayahnya sudah sampai dengan Uqi di kedai saat ini. Siska khawatir, tidak biasanya Ayahnya terlambat. Tapi Siska juga tidak bisa menghubunginya karena Ayahnya memang tidak mempunyai ponsel.


Ponselnya dipegang oleh ibunya, jadi ia hanya bisa berharap, Ayah dan anaknya cepat kembali dengan aman. Sampai 30 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda ketiga orang ini pulang. Bukannya orang yang pulang, tapi nomor asinglah yang datang dan menelfonya.


"Halo?" Ucap orang di seberang. Membuat Siska mengernyit, bukankah ini nomor Bos penguasa pasar?


"Bos, itu kau?" Tanya Siska heran.


"Benar, ini aku. Aku ada di rumah sakit. Cepat datang, anakmu disini." Ucap Darren. Yang seketika membuat jantung Siska mencelos.


"Maksudmu anakku, Uqi kah?" Tanya Siska masih bisa tenang, dengan bertanya lebih jelas.


"Iya, Uqi. Ayahmu juga Uni ada disini. Tidak ada waktu menjelaskan, datang saja ke rumah sakit di kabupaten. Anak buahku akan mengantarmu, dia di depan kedai." Ucap Darren lagi.


Telfon mati, kemudian raut mukanya seketika berubah. Dengan raut hampir menangis, Siska melepaskan celemek di tubuhnya, ia menjelaskan singkat pada semua orang di dapur. Dan dengan cepat pergi, meninggalkan pekerjaan pada Putri.


Naik ke motor anak buah Darren, Siska kemudian berangkat dengan perasaan yang tidak dapat diungkapkan. Cemas sekali. Khawatir, dan panik, juga takut, merupakan perasaan yang dirasakan oleh Siska kali ini. Takut lebih mendominasi, dari perasaan lainnya, tentu saja.


Sesampainya di rumah sakit, Darren yang sudah ada di depan seketika melambaikan tangannya begitu melihat Siska datang dengan anak buahnya.

__ADS_1


"Bos! Apa yang terjadi?" Tanyanya, masih sama, hampir menangis.


"Ayahnya datang menjemput Uqi, Uqi tidak mau ikut, tapi dipaksa. Lalu kami datang menjemput Uqi, seketika Uqi berlari ke arah kami, tapi Aldo menariknya, menyebabkan Uqi terpelanting ke belakang. Karena tidak bisa menjaga keseimbangan, Uqi akhirnya jatuh, kepalanya terbentur batu di sebelah gerbang." Jelas Darren seraya berjalan dengan Siska yang ada disisinya. Keduanya berjalan cepat menuju ruangan dimana Uqi masih diberikan penanganan.


"Uqi... Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Siska.


"Masih ditangani, aku juga belum tahu." Balas Darren, ia menatap Siska dari sudut matanya, rautnya benar-benar membuat dirinya jadi merasakan perasaan tidak nyaman.


"Kenapa Aldo bisa tahu sekolah Uqi?" Tanyanya dengan tubuh yang sudah gemetar. Ia masih ingat jelas bagaimana Uqi terluka dulu, karena melindungi dirinya yang sedang dipukuli, Uqi juga ikut terluka, pelipisnya sobek dan berdarah. Lalu sekarang, kepala? Siska takut, takut sekali.


Siska bahkan tidak sadar, air matanya sudah mengalir turun. Darren yang melihat hal itu, menghela nafas, ia tidak bisa menyentuh Siska seenaknya. Jadi hanya bisa menahan diri, hanya bisa menenangkan dengan kata-kata yang sialnya tidak tahu apakah berguna atau tidak.


"Uqi akan baik-baik saja, kau harus percaya dia anak yang kuat." Salah satu ucapan yang keluar dari mulut Darren.


Siska menganggukkan kepalanya, kedua tangannya sudah mengepal, mencoba menguatkan dirinya sendiri. Jangan sampai rasa takutnya menjadi hal yang membuat Uqi tidak semangat untuk menyembuhkan diri.


"Siska, nak, maafkan bapak tidak bisa melindungi Uqi tepat waktu.", Ucap Ayahnya seraya berdiri dengan Uni yang ada digendongannya.


Seketika, Siska kembali menangis mendengar perkataan Ayahnya. Siska memeluknya sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya. "Bukan salah bapak, hiks. Aldo yang bajingan, dia masih tidak melepaskan anaknya sendiri." Ucap Siska dengan nada suara bergetar.


Darren mengambil alih Uni, kemudian memalingkan wajahnya tidak mau melihat Siska yang terlihat rapuh. Tapi Uni ingin ibunya, ia mulai memanggil Siska, membuat Darren tidak berdaya, hanya bisa memberikan Uni padanya.


Tapi kakeknya memberi pengertian pada Uni. "Uni sayang, ibu menangis karena haus, Uni tolong belikan minum untuk ibu dengan paman Darren hmm? Boleh sayang?" Ucap kakeknya seraya tersenyum, Siska memeluk Ayahnya lagi, menyembunyikan wajahnya di pundak sang Ayah. Tidak mau juga Uni sampai melihatnya menangis.


"Boleh, takek. Mbuu Janan menangis, Uni beli minum cekalang.", Ucapnya dengan pelafalan khas anak kecil.


Siska tidak tega, akhirnya ia mengangkat kepalanya dan menatap Uni dengan lembut. "Maaf ya sayang, harus merepotkanmu." Ucap Siska seraya mengelus kepala Uni.

__ADS_1


"Tidak pa-pa Mbuu. Paman Dalen ayo pelgi." Ucap Uni kemudian, ia beralih pada Darren. Membuat Darren tersenyum kecil dan pergi meninggalkan Siska dan Ayahnya. Ia butuh waktu, jadi Darren akan sedikit lama membeli minum.


Sepeninggal Darren dan Uni, Dokter yang menangani Uqi pun keluar. Uqi kehilangan banyak darah, jadi mau tidak mau juga harus dirawat selama 2 hari di rumah sakit. Luka di kepala juga dijahit 6 jahitan. Tapi Siska sedikit lega, karena kepala Uqi masih bisa dikatakan baik-baik saja.


Siska masuk dan menemui Uqi. Ia tak kuasa melihat kepala anaknya diperban. Kemudian kembali menangis tanpa suara. Uqi yang memang diberi sedikit obat bius, tidak tahu menahu ibunya datang. Ia hanya berbaring dengan mata terpejam.


"Sayang, maafkan ibu." Ucap Siska penuh sesal. Ayahnya di sampingnya, menemani Siska melihat Uqi. Mengelus kepala putrinya, sedikit menenangkannya.


Melihat hal ini, Siska tiba-tiba menggigil. Badannya semakin bergetar, bukan main. Ia malah ingat kehidupan pertamanya. Saat-saat dimana kedua anaknya sudah terbaring tidak bernafas. Pengalaman kehidupan pertama yang sangat buruk. Kehidupan kelam yang tidak akan pernah mau Siska ulang.


Ayahnya yang melihat hal aneh dari Siska segera memanggil dan menggoyangkan pundak Siska. "Siska? Kau kenapa? Ada apa?" Tanyanya. Tapi tangannya tidak berhenti. Agar Siska sadar, karena tatapannya terlihat kosong.


"Siska?!" Panggil Ayahnya lagi, dengan guncangan yang lebih keras.


"Bapak?" Gumam Siska yang akhirnya tersadar, karena guncangan kencang di pundaknya. Seketika, air matanya luruh lebih deras.


"Tidak apa-apa, nak. Uqi sudah baik-baik saja, akan sehat seperti biasa lagi." Ucap Ayahnya, kini ia kembali memeluk Siska, yang masih sangat tertekan.


Entah apa yang membuat anaknya setertekan ini, tapi yang jelas, matanya menyalang mengingat Aldo. Satu-satunya orang sebelumnya yang dekat dengannya adalah Aldo. Jadi sedikit banyaknya pasti berhubungan dengan bajingan itu.


Giginya bergemeletuk, menahan emosi, saat ini lebih mementingkan Siska. Tunggu dan lihat saja. Aldo sudah membuat cucu dan anaknya sampai begini. Memangnya dia sebagai Ayah dan Kakek bisa diam saja?


Ingat, dulu dia adalah salah satu dari orang-orang kuat.


*


*

__ADS_1


__ADS_2