
*
*
Satu bulan berlalu, rencana pembalasan pada Aldo dan ibunya dimulai. Suherman sudah memanggil temannya dan langsung menyuruh memberikan pelajaran pada ibu dan anak yang sama-sama bajingan dan tidak tahu malu tersebut.
Selain itu, Darren juga sudah banyak mengumpulkan bukti kejahatan Aldo. Hanya tinggal menunggu perintah dari Suherman, maka Darren bisa kapan saja menyerahkan bukti tersebut pada polisi.
Tapi Suherman masih belum mau menyerahkannya pada polisi. Alhasil, kini kehidupan Aldo dan Ibunya benar-benar terpuruk. Rumah sederhana milik keduanya bahkan sudah diambil sebagai tebusan untuk pembayaran utang keduanya.
Ibunya lebih parah. Meski hidup sederhana tapi ia sangat gemar memakai emas. Emas-emas tersebut bahkan disita dan membuatnya sedikit gila. Membuat Aldo mau tidak mau harus mengurusnya sendirian. Tidak ada rumah, jadi ia pergi ke tempat pembuangan sampah dan membuat rumah dari kardus-kardus bekas.
Persis seperti kehidupan yang dialami oleh Siska di kehidupan pertamanya. Hanya saja, Aldo lebih awal mengalami kejadian tersebut.
Untuk makanpun, keduanya hanya bisa memulung makanan yang sudah dibuang orang. Sesekali, Aldo juga pergi mengemis, tapi dengan adanya ibunya, orang-orang yang ingin memberipun malah berbalik pergi karena takut.
Ibunya gila, tapi galak. Setiap orang yang mendekat akan dimarahi dan paling parah dipukuli olehnya. Aldo frustasi, tapi ia benar-benar tidak ada jalan lain.
Sempat ia meminta bantuan pada Siska. Tapi bukan Siska yang ditemui di rumahnya, malah Suhermanlah yang menghadapi Aldo. Aldo tentu langsung diusir oleh Suherman meski Aldo bersujud di kakinya.
Tidak Sudi Suherman menerima sujudnya. Alhasil ia menyuruh orang menyeretnya pergi dari rumahnya. Bukan kejam, tapi Aldo sendiri yang mencari masalah. Dia menerima akibat dari perilakunya sebelumnya.
__ADS_1
Mendapat perlakuan begitu, Aldo frustasi, ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Terlebih ketika melihat ibunya yang semakin hari semakin menjadi, mengamuk tidak jelas. Alhasil Aldo gelap mata dan membunuh ibunya sendiri. Aldo membanting kepala ibunya ke tanah berkali kali, membuat jeritan keluar dari bibir ibunya.
Orang miskin lainnya yang ada di di sekitar pembuangan sampah mendengar itu, dan melihat Aldo menggila. Seseorang dengan cepat memanggil polisi dan membiarkan Aldo ditangkap sendiri.
Suherman mendengar kabar ini, ia akhirnya menghela nafas lega. Tapi lebih banyak merasa ngeri sendiri, sebab hanya dengan membuatnya menjadi miskin saja, Aldo sudah berani sampai membunuh ibunya yang sudah gila. Bagaimana jika Siska masih bersamanya pada saat ini? Pikir Suherman, tanpa tahu jika Siska sudah mengalami hal serupa di kehidupan pertamanya.
Aldo akhirnya ditangkap dan mendekam dipenjara seumur hidup. Tapi Suherman langsung menyuruh Darren kembali menyerahkan semua bukti kejahatan Aldo yang lain. Ia tidak mau membuat Aldo merasa nyaman di penjara, sebab dipenjara lebih baik daripad hidup Luntang lantung miskin di luar.
Memang itulah pikiran Aldo, meski di penjara, dirinya masih bisa makan dengan gratis dan mandi dengan baik. Tidak seperti di luar.
Alhasil, setelah Suherman menyerahkan semua bukti yang didapatnya dari Darren. Semua bukti memberatkan Aldo, membuat Aldo menerima hukuman mati. Selain membunuh untuk yang kedua kalinya, Aldo juga pernah memperkosa anak di bawah umur. Tapi kasusnya tidak diteruskan sebab kala itu, anak tersebut merupakan anak dari petani miskin. Masih kalah dari Aldo yang masih hidup sederhana dengan koneksi bagus.
Setelah mendengar hukum yang ditetapkan pada Aldo, Suherman pun barulah merasa tenang dengan baik. Benar-benar tenang yang sesungguhnya, sebab pengganggu anaknya sudah tidak akan ada lagi.
Padahal, Suherman ingin mengajaknya makan malam sebagai rasa terimakasih, tapi Darren menolak dan menjelaskan alasan kesibukannya. Juga memberitahu, ia akan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin setelah Suherman memberitahu jika Siska menanyakan Darren karena tidak pernah muncul lagi di rumahnya. Terlebih Uqi dan Uni lah alasan Siska menanyakan Darren.
Meski Uqi dan Uni adalah alasan Siska menanyakan Darren pada Suherman, Darren tetap merasa senang. Yang terpenting, Siska sudah tahu ketidak beradaannya di sekitarnya, sudah sangat cukup untuk Darren.
Darren pun akhirnya bertekad untuk menyelesaikan proyek dalam waktu lebih singkat. Bisa menjadi 5 bulan ataupun 4 bulan saja. Ia akan lembur dan bekerja keras. Karena selain proyek, Darren juga tidak di kota yang sama, alhasil ia tidak bisa pulang begitu saja dan mengunjungi kediaman Siska.
Di sisi lain, Siska dan Ergan sedang mengobrol dan merencanakan pembangunan cabang kedai di tempat lain. Tentu saja dengan modal yang sudah terkumpul banyak, Siska akan dengan mudah membuat cabang baru.
__ADS_1
Siska bertanya pada Ergan tentang dimana tempat kebanyakan para fans Ergan berdomisili. Dan Siska akan memilih kota tersebut untuk membuat cabang baru.
Di kota ini, Siska sudah membuat dua kedai. Kedai utama tentu saja di dekat alun-alun kecamatannya. Yang kedua ada di daerah kotanya. Alhasil, ini adalah cabang baru di kota lain, dan merupakan cabang nomor 3 yang akan dibangun Siska.
Pusat kedai tetap berada di tangan Siska. Cabang pertama ia serahkan pada kakak pertamanya. Alhasil Geri sudah satu Minggu tidak bertemu dengan dua orang tuanya.
Dan cabang ketiga ini, ia pikir akan ia serahkan saja pada kakak keduanya, nanti. Tapi masih nanti, kini kakak keduanya masih ada di kedai pusat di alun-alun kecamatannya.
Selain itu, Siska juga ingin sekali merenovasi ulang rumah kedua orang tuanya. Dan adik kakak inilah yang akan membiayai. Rumahnya akan dibuat megah seperti rumah megah lainnya. Karena inilah impian Siska. Punya istana sebagai tempat kepulangannya. Tentunya, nyaman di utamakan.
Ergan membantu dalam hal biaya. Kakak pertama dan kedua juga, meski tidak sebanyak Ergan dan Siska, keduanya tetap memberi uang sebagai tambahan untuk dana pembangunan rumah.
Dan kini, sebelum cabang ketiga dibuat, Siska lebih dulu merenovasi rumah kedua orang tuanya. Membuat semua orang harus tinggal di kedai sementara waktu.
Pembangunan ulang rumah sudah dimulai sejak 3 hari lalu, jadi sudah 3 hari juga keluarganya menginap di kedai. Tidak terlalu semput, sebab hanya ada Dua orang tua, Siska dan anaknya, lalu Ergan dan Geri.
Sapta dan Putri selalu pulang ke rumahnya ketika kedai tutup. Sedangkan Rendra dan Santi masihlah sibuk dengan kedai di daerah kota.
Meski begitu, para pelayan jadi tidak bisa menginap di kedai. Adapun yang menginap, hanya bisa menggelar tikar di area dapur, yang lebih luas dari ruangan lainnya yang terisi meja dan kursi.
*
__ADS_1
*