Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Mari Bicara


__ADS_3

*


*


Siska membuka kedua mata dengan nafas memburu. "Ah, sial, mimpi!" Ringis Siska seraya memegangi kepalanya yang sedikit sakit. Juga lehernya yang ikutan merasa pegal.


"Hanya mimpi saja, kenapa dadaku masih sesak sampai sekarang?" Tanyanya pada diri sendiri.


Menyebalkan. Siska kepikiran seharian ini dengan ucapannya pada Darren pada pagi hari. Ini sudah sore hari, restoran cafe juga mungkin sudah tutup.


Siska seharian membantu memasak di lantai 1. Tidak di lantai 2. Juga tidak ada Kathrin di meja yang diduduki Darren dengan para koleganya. Tidak ada juga adegan Chika membiarkan bosnya melayani pelanggan.


Siska sibuk seharian, selain membantu memasak di dapur, ia juga menyapa dan mengobrol dengan kenalannya yang memang di undang olehnya untuk datang. Jadi dengan Chika pun, ia belum sempat bertatap muka saat ini.


Pada jam makan siang, ia benar-benar merasa pusing dan menyerahkan pekerjaan pada keluarga juga Satria yang mengawasi. Lalu terjadilah, mimpi-mimpi menyebalkan yang membuatnya sesak. Lebih parahnya, Siska menangis dalam mimpi. Ah apa itu mungkin?! Tapi setelah dipikir-pikir, ia memang sedih jika saja mimpi tersebut benaran terjadi.


Siska merinding, ia kemudian memeluk dirinya sendiri untuk menenangkan diri. Kemudian menghela nafas, dan melihat jam. Sudah pukul 5 sore. Lama sekali ia tertidur? Apa gara-gara pikirannya yang kacau dan membuatnya kurang istirahat beberapa hari? Ya, pasti seperti itu.


Tok! Tok!


"Siapa? Masuk saja, tidak dikunci." Ucap Siska tanpa melihat orang yang langsung membuka pintu dan masuk ke dalam. Siska masih sibuk menenangkan diri. Pilirannya malah makin kemana-mana setelah didatangi mimpi sialan barusan. Terlebih, ada apa dengan Kathrin yang datang ke mimpinya? Membuat dirinya bergidik ngeri saja, karena mimpinya benaran terlhat sangat amat nyata!


"Kau baik-baik saja?"


Siska tertegun. Ia yang sedang menunduk memikirkan banyak hal, jadi tidak berani mendongak. 'Sial, kenapa orang yang barusan ia mimpikan langsung datang di hadapannya? Apa dirinya terlihat berantakan saat ini? Ah, kenapa sih suasananya jadi begini?!' Pikir Siska.


"Siska?" Tanya Darren dengan suara rendahnya.


"Ada perlu apa?" Tanya Siska tanpa mendongak, masih tetap menunduk dengan selimut yang ada di bahunya. Ia mempererat selimutnya, membungkus dirinya sendiri.

__ADS_1


Darren melihat Siska tidak akan mendongak,.langsung menghela nafas, kemudian berlutut dengan satu kaki dan membuat tubuhnya lebih rendah dari Siska yang duduk di sofa.


"Tatap aku, Siska." Ucap Darren.


Siska mengutuk dirinya dalam hati, kemudian ia menghela nafas pelan, menyemangati dirinya sendiri dan dengan perlahan mendongakkan kepalanya menatap Darren.


Emosional.


'Kenapa aku ingin menangis begitu melihatnya?' Tanyanya dalam hati. 'Wajah datar ini, menjadi sangat menyebalkan, ya, pasti ini sebabnya ia ingin menangis' Lanjutnya dalam hati, dengan pikiran bodoh.


"Ada apa? Siapa yang menyakitimu?" Tanya Darren, begitu melihat Siska mengerutkan bibirnya, menahan diri agar tidak menangis.


"Apa maksudmu? Kenapa kau bertanya, ukh!" Ucap Siska, hampir saja dirinya kelepasan melepaskan tangis.


"Lihat dirimu, mau menangis ya menangis saja. Kenapa malah mengerutkan bibir? Memangnya tidak akan terlihat olehku?" Tanya Darren tersenyum, kemudian ia menyentil dahi Siska pelan. "Sangat jelas terlihat." Lanjutnya.


Siska memejamkan matanya begitu disentil Darren, air mata yang ditahannya kemudian menetes. "Itu sakit! Kau menyakitiku! Kau jahat!" Ucap Siska dengan wajah jelek, bibirnya bahkan melengkung ke bawah dan air mata sudah bercucuran.


"Kau menertawakan ku, hiks!" Ucap Siska karena Darren menutupi wajahnya dan tersenyum tertahan. Siska sendiri menjadi sesenggukan kini.


"T-tidak, aku tidak tertawa. Jangan menangis, apa itu sangat sakit? Maaf, oke? Aku tidak akan melakukannya lagi di masa depan. Kemari aku usap bekasnya." Ucap Darren menjadi panik sendiri setelah Siska malah sesenggukan setelahnya.


Kemudian tangannya refleks menyentuh dahi Siska dan mengusapnya pelan. Siska bukannya berhenti, malah semakin menangis dibuatnya, membuat Darren kelimpungan. Apa yang salah? Apa yang salah? Kenapa malah semakin menangis dan bukannya tenang? Apa yang harus ia lakukan? Darren benar-benar kebingungan.


Tapi sedetik kemudian, Siska sudah berada dalam pelukan Darren. Ya, Darren menarik tubuh Siska dan membawanya ke pelukannya. Membuat tangisan Siska teredam, suaranya tidak sekencang tadi, karena menangis di dadanya.


"Sudah, sudah, ada aku... Aku disini. Apa yang kau tangisi sebenarnya?" Tanya Darren masih dengan kebingungannya. "Apa sentilanku memang benaran menyakitkan? Salahku, salahku, aku terlalu memakai tenaga, maafkan aku, oke?" Ucap Darren melanjutkan perkataannya.


Siska pelan-pelan berhenti menangis, sampai akhirnya suaranya tidak terdengar, tapi berganti dengan tubuhnya yang bergetar. Darren terkejut, dan ingin melihat apa yang terjadi, alhasil ia melepaskan pelukannya. Dan terlihatlah Siska yang sedang menahan tawa.

__ADS_1


"Pftt, hahaha, hahaha." Tawanya akhirnya menyembur keluar setelah Darren melepaskan pelukannya.


Darren yang masih kebingungan, makin dibuat bingung oleh sikap Siska. "A-apa, apa yang salah?" Tanya Darren mengernyitkan dahi.


Siska masih terbahak, tapi ia melepaskan pelukan Darren dan membebaskan tangannya dari Darren. "Kau bodoh." Ejek Siska seraya tertawa.


"Hah?" Beo Darren.


"Sudah ah, aku lapar, ayo pergi." Ajak Siska kemudian beranjak berdiri seraya menarik Darren yang masih kebingungan dengan situasi yang baru saja terjadi.


Dan Siska tidak berniat menjelaskan apapun. Oh tidak, ia akan malu jika ia menjelaskannya pada Darren. Tidak mungkin kan, ia mengatakan jika kesedihannya yang barusan adalah karena gara-gara Darren mencampakkannya dan lebih memilih wanita lain? Tidak mungkin, itu hanya mimpi yang terlihat nyata.


Lagipula, Siska sampai bisa memimpikan hal tersebut juga pasti karena kejadian Darren dan Kathrin yang difoto Chika kemarin juga kejadian Darren yang mengabaikannya sejak pagi. Dan Siska yakin akan dua hal ini.


Tapi tetap saja, harga dirinya akan dikemanakan jika Darren tahu alasannya menangis adalah dirinya sendiri? Uh, ia tidak mau membuat Darren besar kepala.


Lagipula, mana mungkin Darren melakukan hal jelek seperti dalam mimpinya? Bukankah kata ayahnya, Darren ini sudah menungguinya sejak sekolah menengah? Darren tidak akan melakukan hal yang sia-sia setelah melihat dirinya menjanda bukan?


Tapi, dirinya lagi-lagi diingatkan akan statusnya. Apa pantas Darren yang berwibawa bersanding dengan seorang janda sepertinya?


Ini adalah satu hal yang menjadi pertimbangan dirinya juga, kenapa ia selalu enggan mengakui perasaannya. Banyak faktor yang harus dipikirkan. Salah satunya statusnya. Apalagi, ia membawa dua anak.


Darren dengan status tinggi ini, bukan tidak mungkin akan menjadi bahan pembicaraan para koleganya jika kelak keduanya benar-benar bersama.


Siska tidak kasihan pada dirinya, justru ia mempertimbangkan Darren. Tidak akan bagus untuk bisnisnya bukan?


Tapi,


"Siska. Mari bicara serius." Ucap Darren seraya menahan lengan Siska, membuat Siska berbalik dan menatapraut serius dan mata hitam yang terlihat jernih milik Darren.

__ADS_1


*


*


__ADS_2