Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol

Hidup Kembali, Memulai Semuanya Dari Nol
Menahan kejengkelan


__ADS_3

*


*


Sampai di kedai, Siska tidak langsung ikut turun kembali ke dapur, tapi ia mulai makan siang bersama Uqi dan Uni, serta Ayahnya yang saat ini memang ada di lantai atas.


Melihat kedai yang masih sangat ramai, Siska yang sepulang sekolah sempat mampir ke bank untuk menyetorkan uangnya, sepulangnya dari bank, ia berinisiatif membeli makan siang ke kedai sebelah, sekalian dengan makan siang yang lainnya, jadi ia mengeluarkan 300 ribu hanya untuk biaya makan saja.


Siska sengaja langsung makan siang, agar nanti ia tidak berhenti lagi dan menganggu pekerjaan. Jadi, begitu ia selesai makan siang, setelahnya langsung turun ke dapur dan menyuruh ibunya serta Putri duluan makan siang.


Santi menggeleng begitu disuruh makan siang, katanya pekerjaan membakar Sosis dan baksonya masih banyak. Jadilah Siska hanya mengangguk, biar nanti Santi makan bersama Rendra dan Sapta saja.


Sepeninggal ibunya dan Putri, Siska mengambil alih pekerjaan Putri, yakni memasak seblak di dua tungku kompor. Seraya menunggu matang, Siska juga menyibukkan diri dengan membuat caappuccino cincau dan teh Rosella yang dipesan. Begitu seterusnya, sampai 20 menit kemudian Putri dan Ibunya datang lagi.


Putri langsung mengambil alih pekerjaan Santi, dan ibunya kembali mengambil alih pembuatan minuman. Pekerjaan Rendra diambil alih oleh Sapta yang ternyata tadi ikut makan dengan Putri dan ibunya.


Siska mengangguk, dengan begini, makan siang tidak terlewat, dan pekerjaan pun tidak ada yang terbengkalai. Rendra dan Santi kini mengajak Ayu untuk makan siang, jadi dua yang lainnya menunggu giliran. Karena jika ketiga pelayan ikut makan siang bersama, tidak akan ada pelayan yang bisa menghandle pekerjaannya tersebut.


Setelah semuanya selesai makan, pekerjaan kembali kondusif, semuanya bekerja di bagiannya masing-masing. Ketika makan siang berlangsung secara bergiliran tadi, sebetulnya pekerjaan setiap orang yang menggantikannya, menjadi kewalahan, karena pelanggan yang datang hari ini, tidak seperti kemarin. Yang sempat kosong selama satu jam an.


Hari ini, kedai penuh, setiap jam diisi pelanggan baru begitu pelanggan lama pergi. Jadilah hari kedua adalah hari yang semakin sibuk dibanding kemarin.


Sampai akhirnya, tepat pukul 4, teman-teman Ergan datang, dan menggantikan shift dari ketiga pelayan shift pagi. Bersamaan dengan Ergan dan Geri. Deri dan temannya yang lain tidak datang seperti hari pertama. Tapi beberapa teman dari kelas lain datang ke kedai barunya, begitu mendengar respon positif dari teman-teman yang dibawa Deri kemarin.

__ADS_1


Jadilah Kedai menjadi semakin penuh, beberapa tidak kebagian tempat duduk, dan mau tidak mau hanya bisa menunggu di parkiran.


Ergan dan Geri tidak pergi ke bank, karena Bank memang sudah tutup begitu Ergan pulang sekolah. Jam operasionalnya hanya sampai pukul 3 saja. Dan Siska lupa hal ini, tidak sempat memberitahu adiknya. Tapi untungnya, Deri memberitahu Ergan. Jadi Ergan langsung datang ke kedai untuk membantu.


Sampai pukul 7 malam, kedai terpaksa ditutup, karena semua bahan dasar menunya telah habis terjual. Meski tutup lebih awal, tapi semua orang lebih kelelahan dibanding kemarin. Semuanya langsung menelungkup kan kepala di atas meja begitu gerbang kedai ditutup.


"Semuanya, hari ini kita harus makan malam, jangan seperti kemarin, oke?" Ucap Siska seraya tersenyum, ia sama lelahnya dengan yang lain, tapi ia harus tetap mengutamakan perut semua orang, jangan sampai ada yang sakit.


"Baik!" Seru semuanya dengan kompak.


Siska mengangguk puas, kemudian ia lagi-lagi pergi ke kedai di samping. Dan membeli makan dengan porsi yang sama, sebanyak 300 ribu. Tapi karena ia punya hutang makan malam kemarin, masing-masing pekerja yakni teman Ergan, Siska belikan ayam bakar 1 dibagi 3 untuk dibawa pulang. Tidak jadi memberi uang, karena Siska pikir akan terlihat sedikit jika diberikan uang. Ia berubah pikiran.


Tapi kali ini, Siska mendapat cibiran kecil dari kasir yang melayaninya. Ia mencibir dengan suara pelan, tapi tetap saja terdengar oleh telinganya. Katanya, 'bukankah punya kedai sendiri? kenapa pula harus membeli disini. Apa mau pamer, kedai sebelah sangat laku?'


Begitulah kira-kira cibiran yang Siska dengar. Siska tidak membalasnya, hanya tersenyum kecil diam-diam. Dan meneguhkan dalam hati, lainkali, ia tidak akan lagi membeli makanan disini. Tidak peduli apapun yang terjadi, lebih baik membeli ke tempat jauh sekalian jika tidak bisa memasakkan makan siang dan makan malam sendiri.


Siska jadi mengingat ucapan pemilik kedai sebelumnya, memang betul kedai sebelah itu tidak pemilik tidak pegawai, sama-sama sombong minta ampun. Ah tapi, pemiliknya masih belum pasti, sih. Tapi untuk saat ini, Siska sangat tidak suka pada kedai di sebelahnya.


Si paling merasa hebat.


Siska kemudian membayar makanannya, dan mengambil kresek yang disodorkan kasir tersebut. Ia tetap menunjukkan senyum ramah, meski dibalas senyum judes olehnya. Aiyo, sabar, sabar, pikir Siska. Ini terkahir kalinya, jadi semangat menahan perasaan sebal dihati. Siska harus lebih sabar menghadapi hal semacam ini kedepannya. Karena mungkin, kedepannya juga ia akan menghadapi beberapa pembeli yang kurang menyenangkan seperti kasir di depannya ini.


Setelah keluar dari kedai sebelah bersama Ergan, Siska yang hendak kembali ke kedainya, melihat bos penguasa yang masih stand by menjaga kedainya. Membuat Siska menyapanya dengan ringan.

__ADS_1


"Bos, kau masih disini? Kedaiku sudah tutup, jadi tidak apa-apa jika kalian mau pulang." Ucap Siska tersenyum.


"Tunggu semua pulang." Balasnya.


"Ah, kalau begitu, ayo masuk kita makan malam bersama. Kalian belum makan malam, kan?" Tanya Siska.


Darren sudah mau menolak, tapi dua anak buahnya menyerobot ucapannya, dan langsung menyetujuinya. Membuat Siska terkekeh kecil.


"Ayo, bos, tidak apa-apa. Lihatlah, dua bawahanmu juga sudah lapar." Ucap Siska.


"Tidak, aku sudah mau pulang." Balas Darren seraya pergi meninggalkan Siska, dan menaiki motornya.


Siska tercengang di tempat, tapi kemudian sadar ketika dua anak buah Darren berteriak memanggil bosnya. Dan keduanya pun mengikuti Darren pergi, setelah berpamitan pada Siska.


"Adik, apa aku menyeramkan?" Tanya Siska pada Ergan.


Ergan mengedipkan bahunya, "Mungkin iya, mungkin tidak." Balas Ergan yang terdengar menyebalkan di telinga Siska. Membuat Siska menepuk kepalanya dari belakang.


Siska mendengus kesal, kemudian pergi mendahului Ergan, masuk ke kedai dengan perasaan jengkel. Apa dirinya memang semenyeramkan itu? Tanyanya dalam hati.


Tapi kemudian ia mengedikkan bahunya, untuk apa memikirkan hal yang tidak ia pahami? Lagipula Sika bos penguasa memang seperti itu sedari awal, harusnya Siska juga tidak kesal, kan? Karena dirinya juga sudah terbiasa oleh sikap dinginnya.


"Huh! Percuma saja wajah tampannya itu." Cibir Siska.

__ADS_1


*


*


__ADS_2