
*
*
Sampai akhirnya, Siska mau tidak mau pulang dengan Darren. Diantar Bu Wasilah yang melambaikan tangan dengan senyum lebarnya.
Selama perjalanan, keheningan tentu saja terjadi. Apa yang bisa dibicarakan Siska dengan orang yang berwajah datar dan irit bicara di sebelahnya?
Tapi, tidak semata-mata hening, masih ada Uni yang sesekali berseru senang melihat jalanan didepannya. Ada kalanya juga melihat kuda dengan andong, kedua tangannya bertepuk tangan senang.
Tapi yang tak disangka Siska, Darren selalu menanggapi seruan kecil Uni. Siska merasa hatinya tidak nyaman, seperti ah ada apa ini? Tapi ia menutupinya, diam sepanjang jalan.
Sampai akhirnya, Darren menghentikan mobilnya. Tapi bukan di depan rumah Siska. Masih jauh jarak ke rumahnya tersebut. Membuat Siska menatap Darren horor.
"Tuh, kan, aku bilang sedari awal juga tidak usah sok sekali mau mengantarku. Akhirnya malah menurunkanku ditengah jalan seperti ini. Ingat, 3 masalah. Akan kuperhitungkan satu-satu nanti." Ucap Siska kesal. Ia kemudian membuka seatbelt nya dan hendak turun.
Darren menahan Siska. Kemudian menyentil dahi Siska yang selalu berpikiran negatif padanya. Membuat Siska makin kesal, mengomeli Darren.
"Aku janji mau membelikan Uni dan Uqi mainan. Bantu aku memilih." Ucap Darren setelahnya. Kemudian turun dan berputar, membukakan pintu mobil di sebelah Siska.
Siska tertegun. Oke, lagi-lagi ia malu pada dirinya sendiri. Karena lagi-lagi salah mengira perlakuan Darren padanya. Tapi Siska kemudian berdehem menenangkan dirinya sendiri. Dan menurunkan kakinya.
Sebelum keluar, Darren mendekat dan mengambil Uni dari gendongan Siska, agar Siska tidak kesusahan. Alhasil, Siska lagi-lagi harus menenangkan dirinya sendiri mendapat perlakuan tiba-tiba dari Darren.
Wajar saja jika Siska salah mengira, kan? Darren ini tidak mau menunjukkan perasaannya, pelit ekspresi, irit bicara. Jadi, pikirannya benaran susah ditebak.
"Jalan disampingku." Ucap Darren seraya menatap Siska yang tertinggal di belakangnya.
__ADS_1
Siska tidak banyak bicara, ia langsung menyusul Darren dan berjalan di sampingnya, sesuai ucapannya. Siska kemudian menatap Darren dan meminta Uni dikembalikan padanya, tapi Darren menolak, ia menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
Kesal, lagi.
Tapi Siska menghela nafas, menekan emosinya yang setiap saat ingin meluap jika bersama Darren. Siska jadi berpikir, kenapa dia dulu tidak sadar jika Darren ini menyebalkan? Tapi akhirnya sadar, dulu ia hanya bertransaksi, untuk sekadar keamanan di pasar.
"Uqi juga minta action figure kura-kura ninja, kan? Beli saja sekalian." Ucap Darren, begitu keduanya ada di bagian mainan laki-laki, ada beberapa action figure disana selain kura-kura ninja.
Tapi Darren menunjuk kura-kura ninja, memberitahukannya pada Siska.
Sebelum Siska menjawab, Darren pergi meninggalkan Siska, tak lama ia kembali dengan troli yang di dorongnya. Uni juga sudah ada di atas troli, ia tertawa-tawa senang saat ini.
"Mbuuu, ngengg..." Seru Uni dengan kedua tangan direntangkan ke depan.
Siska yang sedang menimang untuk membeli action figure sekarang atau tidak, langsung menoleh dan mendapati Uni yang sangat ceria di atas troli yang di dorong Darren.
"Masih belum memilih?" Tanya Darren pada Siska.
Siska mendongak dan menatap Darren, kemudian menggelengkan kepalanya. "Uqi masih belum sembuh, aku tidak mau memanjakannya. Nanti saja, ketika sembuh baru belikan, sesuai janjiku." Balas Siska.
Darren menatap Siska dengan diam, membuat Siska mengernyit. Tak lama, Darren mendekat dan mengambil action Figure di belakang Siska. Membuat Siska berhadapan dengan dada berlapiskan kemeja Darren.
Siska sampai menahan nafas, harum parfum Darren bahkan menusuk hidungnya. Dan mau tak mau ia memejamkan matanya.
Beberapa saat, Darren kembali memundurkan dirinya. Kemudian memasukkan lima action figure kura-kura ninja ke dalam Troli. Menatap Siska memejamkan mata, ia tersenyum kecil.
"Bernafaslah." Bisik Darren, kemudian mendorong troli menjauhi Siska, yang langsung menghembuskan nafasnya dan membuka mata.
__ADS_1
Siska ingin sekali mengumpati Darren. Tolong. Kenapa dia semenyebalkan ini? Lalu, apa dia itu anak remaja sampai berlaku seperti ini?! Pikir Siska. Tanpa sadar jika dirinya juga berlaku seperti remaja. Perilaku malu-malunya lah yang seperti anak remaj, juga, gerutuan dan sifat cerewetnya.
Siska mengepalkan kedua tangannya. Ia memejamkan mata kemudian membukanya seraya menghembuskan nafas. "Kau bisa, Siska." Gumamnya menyemangati diri sendiri.
Kemudian berbalik dan mengejar Darren yang sudah jauh di depan dengan Troli di dorongnya, ke area boneka. Giliran Uni yang membeli mainan. Jadi ia pindah. Dalam Troli juga ada beberapa mainan lain yang ternyata dimasukkan Darren. Robot dan Mobil termasuk di dalam.
Siska menghela nafas, kemudian melihat ke kiri dan ke kanan, ada lorong dengan bagian peralatan kecantikan. Membuat Siska berbinar kecil. Semenjak dirinya hidup kembali, ia belum sempat merawat diri. Membuat Siska tertarik.
Ia kemudian berbelok ke lorong tersebut. Meninggalkan Darren yang masih berjalan ke area mainan untuk Uni. Daripada mengikuti Darren, lebih baik ia memilih belanjaan sendiri, bukan? Sekalian membelikan alat elektronik yang berguna untuk ibu dan ayahnya.
Begitu sampai, matanya makin berbinar. Alat kecantikannya sangat lengkap. Sampai ke alat pijat muka juga ada.
Siska mengambil 4 set skincare dengan merk yang bagus, yang sudah BPOM. Yang khasiatnya juga sudah terbukti oleh banyak orang. Mengambil 4 set yakni untuk Dirinya, ibunya, dan dua kakak iparnya. Ah ia juga mengambil satu set tambahan untuk Ergan. Ke depannya ia perlu merawat diri, karena setiap harinya semakin dikenal orang.
Selain skincare, Siska juga membeli 3 set make up. Untuk dirinya dan kakak ipar Saja. Sebab Ibunya diperkirakan akan sangat jarang bahkan tidak mau memakainya. Jadi cukuplah nanti pakai yang Siska saja jika mau bepergian.
Lalu, ia juga membeli beberapa masker kertas dan masker badan untuk semua orang di rumah. Yang khusus adalah ia membeli alat pijat untuk ayah dan ibunya yang sudah tua. Sebab, di malam hari keduanya sering mengeluh sakit punggung dan pinggang.
Kebetulan di samping lorong kecantikan, ada alat tersebut, alhasil Siska tidak menahan diri dan langsung membeli dua. Masing-masing akan punya satu nantinya. Siska juga membeli alat kebutuhan dapur seperti blender, dan lainnya. Untuk memudahkan ibunya, ia juga membeli alat pengupas buah dan sayur.
Siska sudah membawa Troli baru sebelumnya, jadi ia memasukkan semuanya ke dalam Troli tersebut sekaligus.
Jika tahu mau belanja begini, kenapa ia tidak belanja di tempat Bu Wasilah tadi? Dapat diskon pula. Ah, ia menyesal tidak masuk dan melihat-lihat ke dalam.
Tapi, yasudahlah, siapa suruh Darren menggiringnya masuk kemari. Yang namanya perempuan, apalagi punya banyak uang, kalap sudah jika berbelanja.
*
__ADS_1
*